persahabatan segitiga antara Tobia, seorang laki-laki tampan cekatan dan penyayang yang sudah bekerja sebagai perawat dengan Mada, seorang gadis periang yg masih kuliah semester 5, mereka tumbuh bersahabat sejak Mada pindah rumah saat usianya 9 tahun. Akankah persahabatan ini berubah menjadi rasa lain atau akankah persahabatan ini menjadi aneh karena kehadiran dokter Harun diantara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HAL POSITIF
Sore ini... Tobia buru-buru pulang kerja,tanpa mampir nongkrong ataupun mampir cari makan. Tobia berjalan lunglai menuju kediamannya.
"Hari ini tak banyak pasien darurat. Tapi entah kenapa capeknya luar biasa." gumamnya sambil menatap pemandangan sawah di sisi kanan jalan.
Dering ponsel menghentikan langkah kakinya. Tangan kanannya merogoh saku celana, dan mengambil Ponsel lalu melihat siapa si pemanggil.
"Hallooow...." Sapa Tobia dengan ramah.
"Jangan lupa nanti malam hadir loh ya Mas." ucap Tanisha dari sebrang.
"Iya... Baru juga jam 3. Masih 4 jam lagi. Masih sempat buat tidur." kelakar Tobia.
"Nggak boleh terlambat. Tamu utama Dateng terlambat, kacau party-ku nanti. Hahahah..." kalimat Tanisha terdengar renyah.
"Dasar. Kalau bukan karena ku anaknya atasanku, aku malas buat hadir. Hahahah...." Tobia membalas candaan Tanisha.
"Ih, jahat. Mana bisa begitu. Mau nggak mau,siap nggak siap, pokoknya harus dateng tepat waktu. Kalau perlu,Dateng sejam sebelum acara dimulai."
"Buat apaan? Hahahaha...." Tobia terkekeh.
"Ya buat ngobrol dulu. Sekaligus bantuin cek persiapan. Hehehe..."
"Sialan.... Udah, aku masih dijalan, ngomong sendirian macam orang gila."
"Mungkin memang sudah. Hahahaha..."
"Uh,,, dasar!!! Udah, aku tutup teleponnya." kata Tobia sambil terbahak.
"Oke!!! Jangan lupa datang.!!! Hahahah..." jawab Tanisha dengan nada seru, namun bercanda.
"Oke!!!!" Tobia pun mengimbangi.
Mereka mengakhiri panggilan. Tobia terkekeh sesaat, lalu kembali berjalan menuju asramanya.
Baru beberapa langkah ia berjalan, pandangannya tertuju pada seseorang di pinggir sawah. Lelaki paruh baya itu tampak pucat, sambil menepuk-nepuk dada dengan tangan kanan, dan tangan kiri memegangi perut.
"Bapak kenapa?" Tobia sigap mendekat.
"Rasanya mual,Mas. Sudah muntah dua kali." jawab si lelaki paruh baya yang mengenakan kaos oblong warna merah,celana pendek sebatas lutut. Dengan kaki penuh lumpur hampir menutupi sampai keatas mata kaki.
Tobia melihat sekeliling pria itu. Tak ada petani lain yang dekat. Ada beberapa orang, tapi jauh ditengah sawah. Mereka sedang sibuk dengan aktivitasnya, tak ada satupun yang menoleh ke arah Tobia.
"Bapak terakhir makan atau minum sesuatu atau tidak?" tanya Tobia perlahan sambil mengeluarkan air putih dari dalam ranselnya.
"Saya belum makan. Tadi menepi untuk makan, tapi baru minum sedikit air putih, perut langsung perih. Saya pikir karena lapar. Saya makan baru beberapa suap. Tapi langsung mual,dan muntah." jawab si petani.
"kepala Bapak pusing?" Tanya Tobia sbil menepuk-nepuk pelan punggung si petani.
"Tidak ,Mas. Mual sama perih saja di perut." kata si petani, lalu muntah lagi.
Tobia melihat dan memeriksa bungkus makanan bekal si petani. Namun dari baunya, semua terlihat normal. Bahkan Tobia mencicipinya, nun baginya semua pun normal.
"Bapak coba rileks,,, Bapak berbaring sebentar ya." Tobia mengarahkan dengan sabar lalu melepas jaket nya, menggelarnya di rerumputan, sebagai alas untuk kepala dan sebagian tubuh bagian atas si petani.
Tanpa banyak protes dan bertanya, petani itu menurut pada Tobia. Mungkin juga setelah melihat Tobia masih mengenakan seragam perawatnya, membuat si petani tak banyak bertanya.
"Bapak tidur miring ke kiri, sambil mengunyah permen karet ini. Bapak rileks saja, saya lari sebentar mencari air putih hangat."
Tobia bergegas berlari ke arah rumah makan tak jauh dari tempat si petani yg muntah itu.
"Bu, permisi, boleh minta sedikit air panas?" kata Tobia pada pemilik kedai sambil menyerahkan termos mini dari dalam ranselnya.
"Boleh, Mas." jawab wanita paruh baya bertubuh singset dengan celemek yang bertuliskan nama kedai itu.
Tak lama Tobia menunggu,ia dapatkan kembali termos mininya sudah penuh dengan air hangat.
"Bekelnya air hangat,Mas? kata orang-orang, memang bagus minum air putih hangat untuk menjaga metabolisme darah." kata si pemilik kedai.
"Iya,Bu. Tapi ini emergensi. Untuk menolong pak tani yang sepertinya asam lambungnya sedang naik."
"Oh, dimana? Siapa?" tanya si pemilik kedai lagi.
"Yang rumahnya paling ujung ,Bu. Saya tidak hapal namanya. hehehe...." jawab Tobia sambil menyerahkan selembar uang 20ribuan.
"Sudah tidak perlu bayar. Cuma air putih. Gratis,mas. Lagian mau kamu pakai untuk nolong orang." si pemilik kedai mendorong pelan tangan Tobia yang memegang uang, sebagai isyarat sopan menolak pembayaran.
"Wah, terima kasih ya ,Bu. Maaf saya buru-buru." kata Tobia langsung berbalik setengah berlari menuju si petani tadi.
Si pemilik kedai mengikuti Tobia, dengan langkah sedikit mengimbangi Tobia.
"Pak,,, Bapak sudah lebih baik?" tanya Tobia pada petani yang masih terbaring ke sisi kiri,sesuai arahan Tobia.
"Masih perih ,Mas. Tapi mual ya sudah mulai berkurang." jawab pak Tani dengan sedikit lemas dan mulut setengah mengunyah permen karet.
"Sekarang, bapak buang dulu permen karetnya, bapak duduk rilek, sandaran ke pohon disebelah Bapak." Dengan perlahan,dan sabar, Tobia membantu si petani.
"Bapak minum air hangat ini dulu." kata Tobia lagi sambil menyerahkan tutup termos, sebagai gelas,yang sudah ia tuangi dengan air hangat.
Si petani menenggak perlahan air hangat yang diberikan Tobia.
"Bapak minum obat ini." Tobia menyerahkan sebutir obat maag pada si petani.
"Mas Tobia ini bener-bener selalu siap siaga ya." kata si pemilik kedai yang sudah sampai di TKP dengan nafas terengah.
"Ah, cuma kebetulan, masih tersimpan,Bu. Kemarin sisa membelikan obat maag untuk kawan saya."
"Terima kasih banyak,Mas." kata si petani masih dengan suara lemah.
"Sama-sama,Pak. Bapak rileks dulu. Kalau sudah membaik, saya bantu antar pulang." kata Tobia sangat memperhatikan kondisi pak Tani.
"Ada apa ,Mas? Kamu kenapa pak Jon?" beberapa petani lain yang sedari tadi sibuk di tengah sawah, mendekat.
"Ah, ini, sepertinya si Bapak asam lambungnya naik. Sudah terkondisikan baik kok. Kita jaga beberapa saat, kalau sudah membaik, kita bantu antar pulang." jawab Tobia sigap.
"Wah, mas Tobia ini selalu siap sedia memberikan pertolongan pertama." seru seorang petani lain.
"Iya, selalu peduli dengan orang-orang sekitar " kata yang lain lagi.
"Sikap anak muda yang patut dicontoh ya." si ibu pemilik kedai pun menambahkan.
"Ah, sudah sepantasnya kita saling peduli kan. Tidak perlu sungkan. Saya juga hanya membantu sebisa saya." jawab Tobia dengan sopan sedikit tersipu.
"Saya sudah lebih baik. Saya bisa jalan pulang." si petani Jon berdiri perlahan.
"Biar aku antar. Kalau pingsan di tengah jalan kan repot." kata salah satu petani,mendekati sepeda motor miliknya yang terparkir tak jauh dari sana.
Semua sudah terkondisikan dengan baik berkat kesigapan Tobia dan ras pedulinya yang selalu tanpa pamrih.
Tobia tersenyum lega setelah melihat kondisi pak Jon semakin membaik.
"Mas Tobia bonceng saya saja. Tapi naik traktor. hahahaha..." kata salah satu petani.
"Wah, terima kasih banyak ,pak. Ini pengalaman pertama saya naik traktor. Hehehe..." jawab Tobia tanpa kesombongan sedikit pun.
"Mas Tobia ini suka jalan kaki. Padahal kan punya mobil." komentar yang lain.
"Ah,hemat Pak. Lagian juga jarak dari tempat tinggal sampai rumah sakit cuma dekat. Sekalian olahraga." kata Tobia ramah.
Sore itu terasa begitu ramah. Rasa lelah yang tadi menumpuk, menghilang bersama rasa bangga pada diri sendiri.
"Ah, masih sempat istirahat." Tobia merebahkan badannya di sofa setelah mengatur alarm di hapenya.
...****************...
To be continue........😁😁
ah tapi lucu
Makasih bang yosh,kereen novelnya
habis ini otw baca yang lainnya... apalagi yang burn out tuh,bikin penasaran 😄😄
maauu dong Tobia buat aku aja😂😂