NovelToon NovelToon
Aku Pergi, Mas!

Aku Pergi, Mas!

Status: tamat
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Danie A

Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.

"Aku pergi, Mas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Celsi menunduk dalam, mencoba menyembunyikan gemetar di tangannya.

"Ko..." suaranya parau. "Kenapa harus aku? Kenapa harus sebegitunya?"

"Karena aku sayang kamu, Cel. Jelas banget kan alasannya?" jawab Aska lembut namun tegas.

Celsi menggeleng pelan, air mata mulai menggenang. "Tapi aku belum siap, Ko. Aku benar-benar belum siap buat mulai semuanya dari nol lagi. Aku takut..."

"Apa yang kamu takutin? Aku di sini. Aku jagain kamu."

"Kamu nggak ngerti, Ko!" potong Celsi sedikit lebih keras, lalu suaranya melemah lagi. "Aku udah pernah sakit. Aku udah pernah ngerasain gimana rasanya dikhianati. Tiga tahun aku nikah, aku berusaha semaksimal mungkin, tapi akhirnya aku juga ditinggal. Karena aku nggak bisa kasih apa yang dia mau. Karena aku dianggap kurang."

Aska terdiam. Dia tahu Celsi pernah menikah dan bercerai, tapi dia tidak pernah tahu detail rasa sakitnya sedalam ini.

"Jadi tolong..." Celsi menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk melukai hati pria yang menyelamatkan nyawanya itu. "Tolong cari perempuan lain yang lebih baik. Yang lebih pantas buat Koh Aska. Aku mohon, nyerah aja ya. Jangan nungguin aku. Aku nggak bisa kasih harapan apa-apa."

Keheningan panjang menyelimuti teras kecil itu. Angin sore berhembus pelan, terasa dingin menusuk kulit. Aska menatap Celsi, matanya menyimpan seribu pertanyaan dan kekecewaan yang tak terucap, tapi tidak ada amarah di sana. Dia tidak memaksa. Dia tidak marah. Dia hanya terlihat... sedih.

"Jadi itu keputusan kamu?" tanya Aska pelan.

Celsi mengangguk meski hatinya terasa remuk. "Iya Ko. Maafin aku."

Aska menarik napas panjang, lalu berdiri perlahan. Dia merapikan bajunya, menatap Celsi untuk terakhir kali sebelum pamit.

"Oke. Aku ngerti," ucap Aska datar. "Aku pulang dulu."

Dia berbalik, melangkah menuju mobilnya. Namun sebelum masuk, dia menoleh lagi. Tatapannya kembali tegas, penuh keyakinan yang tak tergoyahkan.

"Tapi ingat satu hal ya Cel. Apa pun jawaban kamu, apa pun alasan kamu, keputusan aku tetap sama."

Celsi menatapnya tak berkedip.

"Aku tidak akan menikah... jika bukan dengan kamu."

Kalimat itu terucap dingin namun penuh makna. Aska masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Celsi yang berdiri mematung di teras, dengan air mata yang akhirnya jatuh membasahi pipi.

 

Hari demi hari berlalu. Celsi berharap setelah penolakan itu, Aska akan menjauh. Berharap pria itu akan marah atau kecewa lalu mencari pengganti. Namun nyatanya, Aska tetaplah Aska.

Dia tidak berubah. Dia tetap datang seperti biasa. Tetap humble, tetap tersenyum ramah, tetap membantu jika ada barang yang perlu diangkat atau listrik yang bermasalah. Dia tetap ada setiap kali Celsi butuh, meski kini ada jarak tipis yang tercipta di antara mereka. Celsi yang semakin berusaha mandiri, melakukan segalanya sendiri, menolak bantuan sekuat tenaga agar Aska tidak merasa berhak atas hidupnya. Tapi Aska? Dia hanya diam, mengamati, dan tetap ada di sana tanpa banyak menuntut.

Hingga suatu hari, giliran Aska yang meminta bantuan.

"Cel, temenin aku ke resepsi pernikahan temanku ya. Minggu depan," kata Aska suatu sore saat mampir membeli makan.

Celsi tertegun. "Aku? Kenapa aku, Ko? Kan Koh bisa pergi sendiri atau sama teman lain."

"Aku pengennya sama kamu. Lagian kan kamu juga sering minta bantuan aku, kan? Sekarang giliran aku minta. Nggak enak kan kalau aku terus-terusan bantuin kamu tapi kamu nggak mau bantuin aku sekali aja," bujuk Aska santai, senyumnya mengembang membuat Celsi tak kuasa menolak.

Celsi menghela napas, rasa tidak enak hati mulai muncul. "Ya sudah... iya deh."

 

Hari pernikahan tiba. Suasana pesta sangat meriah dan megah. Celsi awalnya merasa canggung, tapi teman-teman Aska sangat ramah. Mereka menyambutnya dengan hangat, memuji mereka berdua sangat serasi.

"Wih, ini pasti cewek yang sering diceritain Aska ya?"

"Gokil, cocok banget sih kalian. Kapan nyusul?"

"Aska itu laki-laki baik lho Mbak, dijaga ya."

Celsi hanya bisa tersenyum canggung dan mengelak, "Ah bukan, kami cuma teman." Tapi tatapan orang-orang di sekitar seolah tidak percaya.

Acara berjalan lancar hingga momen pelemparan buket bunga. Para wanita lajang berdesakan di depan, berteriak bersemangat ingin mendapatkan buket itu sebagai pertanda akan segera menikah. Celsi hanya berdiri mematung di pinggir, bersandar di tiang. Dia tidak tertarik. Bagi dia, pernikahan adalah hal yang jauh dari bayangannya.

Aska berdiri tepat di sebelahnya, tidak ikut berteriak juga.

"Nggak mau ambil?" tanya Aska pelan.

"Nggak ah, males berdesakan. Lagian buat apa juga," jawab Celsi sinis kecil.

Tiba-tiba sang pengantin melempar bunga dengan cukup kuat. Buket itu melayang tinggi, melewati kepala orang-orang yang berdesakan, dan anehnya... meluncur lurus ke arah Celsi dan Aska.

Tanpa sadar Aska mengulurkan tangannya dan menangkap buket itu dengan mudah.

Suara 'Wah' terdengar dari sekeliling. Aska menatap bunga di tangannya, lalu menoleh ke arah Celsi yang juga terbelalak. Dengan senyum tipis yang penuh makna, Aska menyerahkan buket itu ke tangan Celsi.

"Rejeki kamu kayaknya," bisik Aska.

Celsi memegang buket itu kaku. Warnanya cantik, wanginya semerbak, tapi rasanya begitu berat.

 

Setelah pesta selesai, mereka pun pulang. Langit yang tadi cerah kini berubah gelap gulita. Mendung tebal menyelimuti langit, dan tak lama kemudian hujan turun dengan sangat deras. Air menghantam atap mobil dengan suara gaduh, jarak pandang terbatas hanya beberapa meter saja. Sangat berbahaya untuk terus memaksakan diri melaju kencang.

"Visibilitas jelek banget. Kita berteduh dulu ya di sini," kata Aska sambil membelokkan mobil masuk ke area sebuah resto terbuka yang memiliki saung-saung kayu.

Mereka duduk di salah satu gazebo yang cukup tertutup, memilih duduk di kursi meja daripada lesehan. Aska memesan teh hangat, kopi, pisang goreng panas, dan kentang goreng untuk mengusir dingin.

Suara hujan yang lebat menciptakan suasana yang anehnya tenang dan intim. Hanya ada mereka berdua di bawah atap itu, ditemani suara gemericik air dan cahaya lampu temaram.

Mereka mengobrol santai, tertawa mengingat kelakuan teman-teman Aska di pesta tadi. Namun perlahan percakapan mereda, berganti menjadi keheningan yang manis.

Celsi menatap air hujan yang turun membasahi dedaunan. "Hujannya deras banget ya."

"Iya," jawab Aska pelan.

Saat Celsi menoleh untuk menatap Aska, dia sadar betapa dekatnya jarak mereka sekarang. Sangat dekat. Hawa tubuh pria itu terasa hangat, menyaingi dinginnya malam. Tatapan Aska berubah, menjadi dalam dan mendesak.

Celsi ingin mundur, ingin memberi jarak, tapi kakinya seakan terpaku di lantai kayu. Jantungnya berdegup kencang, sama kencangnya seperti saat dia dikejar orang jahat dulu, tapi kali ini rasanya berbeda. Ini rasa takut bercampur rindu yang tak bisa dibohongi.

Sebelum Celsi sempat menjawab, Aska perlahan mendekatkan wajahnya. Tanpa pikir panjang, tanpa rasa ragu, bibir mereka bertemu.

Ciuman itu lembut di awal, penuh tanya dan penantian panjang. Namun saat Celsi sadar, tangannya secara refleks mencengkeram baju Aska. Dia tidak menolak. Bahkan lebih dari itu, dia membalasnya.

1
sunaryati jarum
Hubungan diawali kurang baik akan berakhir kurang baik juga, sungguh sangat adil
Lyeend
menantu? bukankah aska husband nya celsi,🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
sunaryati jarum
Sifat iri kok piara Bu Weni,buang yang jauh toh cari Syukur , hidupmu akan nyaman
Susilawati Arum
kan bukannya Aska pernah bertemu sebelumnya dengan Rangga dan Vena..kok Aska nggak tau kalau itu Rangga
sunaryati jarum
Nah kan kecebong Aska sudah ada yang tumbuh di rahim Celsy,dia nggak ngalami tanda- tanda kehamilan
Dilla Fadilla
lanjut thor yg bnyk 💪
sunaryati jarum
Nah ketahuan jika kau memalsukan hasil tes kesuburan Rangga dan Celsi.
Ambo Nai
hamil kembar
sunaryati jarum
Semoga Chelsi hamil
sunaryati jarum
Nah benar perkiraan emak, yang mandul itu Rangga.Anak dulu yang dituduhkan anaknya, ternyata jebakan
sunaryati jarum
Ayo semangat buat adonan bayi Koh Aska,benih anda semoga tok cer langsung tumbuh Walau difonis mandul siapa tahu ada kesalahan.Dan kandungan Vena bukan benih Rangga.
Syahdu: Gak akan bosen deh, Novel ada chat lucunya😆 di I Love you Brutally. Cewek yang naksir kakak kelas secara terang-terangan! Terima kasih dukungannya🤍🫶🏻😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Bagus
sunaryati jarum
Nah ,sadar diri gitu Rangga.Prnyesalan tidak ada gunanya.Apalagi entar kamu sama Vera tak kunjung punya anak,tapi Celsi yang langsung hamil.Emak ingin tahu reaksi kamu dan ibumu.
Ma Em
Rangga kamu sdh menceraikan Celsi dan kamu sdh ada Vena perempuan pilihan mu sekarang Celsi sdh dapat pengganti mu jauh lbh baik seorang pengusaha properti yg sukses .
Lyeend
omongan yang mantap dan padu😂😂
sunaryati jarum
Ingin hati memprovokasi dan membatalkan pernikahan.Celsi ,belum keluar ucapannya sudah dikunci ,Asaka.Bravo Aska, sepertinya kamu tahu siapa yang mengaku Rian.
sunaryati jarum
Astaga saudara kok kaya gitu , tidak menghargai kakaknya,bukan itu anaknya yang merebut mantan suami Celsi
sunaryati jarum
Kukira tetangga julid ternyata baik malah memberi nasehat walau melalui candaan, segera menikah ya
sunaryati jarum
Ayo Celsi gugup ta, orang yang kau rindu menepati janjinya
sunaryati jarum
Ayo Celcy, terima .Toh kamu juga sudah ada rasa sama Aska
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!