Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Kamar utama safe house Sentul kini berubah fungsi menjadi pusat komando dadakan, penuh dengan laptop medis yang masih memantau indikator vitalitas Jihan serta tumpukan dokumen taktis mengenai aliran dana Bramantyo Corporation.
Di ruangan inilah, sebuah turning point besar terjadi pada mental Darren Bramantyo.
Kehadiran Jihan yang nyata di pelukannya,
ditambah penjelasan taktis dari Deacon, perlahan mengikis kabut hitam yang selama sebulan ini mengunci kewarasan Darren.
Sisa-sisa trauma dan kondisi linglungnya hilang seketika, digantikan oleh kesadaran penuh yang murni.
Darren memandangi istrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Meski matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa, ada rasa heran yang menggelitik benaknya.
"Sayang, kenapa kamu jadi cantik seperti ini? Aku rindu dengan Jihan yang dulu," bisik Darren polos, merindukan sosok istrinya yang bertubuh subur dan menggemaskan.
Mendengar celetukan suaminya di tengah situasi menegangkan ini, Jihan tidak bisa menahan diri. Ia tertawa terbahak-bahak, suara tawa renyah yang sudah sangat dirindukan Darren.
"Mas ini ada-ada saja. Di saat seperti ini masih sempat-sempatnya protes," ujar Jihan sambil melangkah menuju meja medis untuk mengambil obat dan segelas air putih untuk suaminya.
"Ini semua berkat bantuan Deacon dan operasi darurat di Toronto. Sudahlah, yang penting sekarang aku sehat."
Setelah meminum obat yang diberikan Jihan, perubahan drastis menjalar ke seluruh tubuh Darren.
Tatapan matanya yang semula kosong dan layu mendadak berubah menjadi setajam elang.
Aura dingin, berwibawa, dan mengintimidasi kembali menguar dari tubuhnya.
Jiwa "Singa Bisnis" Darren yang kejam dan tegas telah bangkit kembali dari tidurnya.
Darren berdiri tegak dari ranjang, tidak lagi membutuhkan guling untuk bersandar.
Ia melangkah mantap, menatap Deacon dengan sorot mata penuh kilatan amarah yang terukur.
"Dua bajingan itu mengira aku sudah mati dan gila," ucap Darren dengan suara baritonnya yang berat, terdengar begitu mutlak dan tanpa ampun.
"Mari kita tunjukkan bagaimana cara seorang ayah menghukum anaknya."
Deacon yang berdiri di dekat meja taktis tersenyum sinis, menyukai penguasa Bramantyo yang asli telah kembali.
Mantan perwira itu melangkah maju dan menyerahkan sebuah tablet militer ke tangan Darren.
"Kalau begitu, mulailah dengan ini," ucap Deacon dingin.
"Tablet ini berisi seluruh rekaman suara dan bukti penyadapan rencana pembunuhan serta pemalsuan dokumen yang dilakukan oleh Riko dan Andre. Mereka menjebakmu, dan sekarang kita punya semua kartu as untuk menyeret mereka ke neraka."
Darren menerima tablet itu, jemarinya mencengkeram pinggiran gawai tersebut hingga berderit.
Detik itu juga, vonis mati bagi takhta palsu Andre dan Riko resmi dijatuhkan.
Di dalam kamar yang sunyi, suara rekaman percakapan Riko dengan sang eksekutor bayaran berputar melalui pelantang tablet di tangan Darren.
Buat seolah-olah dia murni tewas karena serangan asma akut atau gagal jantung. Jangan sampai ada bekas luka luar yang mencurigakan...
Suara anak kandungnya sendiri terdengar begitu dingin di dalam rekaman tersebut.
Angela yang berdiri di sudut ruangan langsung membekap mulutnya, menahan tangis menyadari betapa iblisnya sang kakak. Namun, reaksi Darren sungguh di luar dugaan.
Bukannya sedih atau terpukul karena dikhianati oleh darah dagingnya sendiri, Darren justru tersenyum kejam. Sebuah seringai dingin terukir di wajah tegasnya.
Jiwa yang dulu membangun kedigdayaan Bramantyo Corporation dari nol kini menyusun rencana yang jauh lebih mengerikan.
Ia tidak akan langsung memanggil polisi untuk menangkap mereka.
Baginya, jeruji besi terlalu instan dan nyaman untuk dua bajingan yang telah membuangnya ke jalanan dan berniat membunuhnya.
Darren ingin "bermain-main" dulu dengan mental mereka, menghancurkan kewarasan Andre dan Riko perlahan-lahan hingga mereka memohon untuk ditangkap.
"Menangkap mereka sekarang terlalu membosankan," ucap Darren, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan ancaman mematikan.
"Aku ingin mereka merasakan ketakutan yang sesungguhnya. Merasakan bagaimana rasanya diburu oleh bayangan."
Deacon yang langsung menangkap arah pemikiran taktis Darren, melirik ke arah putranya dengan tatapan penuh arti.
"Sebuah perang psikologis. Aku suka caramu bermain, Darren."
Tanpa membuang waktu, Deacon segera membalikkan tubuh dan menghadap ke arah Jonas.
"Jonas, gerakkan jaringanmu. Sebarkan rumor palsu di kalangan informan hitam dan preman jalanan Jakarta bahwa Darren terlihat luntang-lantung dalam kondisi gila, membawa guling basahnya di sekitar area pelabuhan tua dan gudang terbengkalai pada malam hari."
Jonas menegakkan tubuhnya, mengangguk patuh.
"Baik, Pa. Dalam hitungan jam, rumor ini akan sampai ke telinga Riko dan Andre. Mereka pasti akan langsung terpancing untuk datang dan menyelesaikan 'pekerjaan' mereka yang tertunda."
Darren berjalan mendekati jendela, menatap kegelapan malam ke arah Jakarta.
Umpan telah disebar, dan singa tua itu kini sedang bersiap menyergap mangsanya di dalam kegelapan labirin yang ia buat sendiri.
Suasana di dalam kamar taktis itu mendadak mendingin hingga ke titik beku ketika Jihan melangkah mendekati Darren.
Wajah cantiknya yang semula tenang kini mengeras, memancarkan sisa-sisa trauma yang mendalam dari malam kecelakaan maut yang hampir merenggut nyawanya.
"Mas..." panggil Jihan, suaranya bergetar namun sarat akan penekanan yang tajam.
"Ada satu hal yang hampir kulupakan karena fokus pada rencana pembunuhanmu."
Darren menoleh, menatap istrinya dengan kening berkerut.
"Ada apa, Jihan?"
"Tentang kecelakaan maut yang menimpa kita di desa. Itu sama sekali bukan kecelakaan tunggal atau nasib buruk," ucap Jihan, matanya berkilat penuh dendam.
"Albert, mantan kekasihku di masa lalu. Dialah eksekutor di balik truk yang menghantam mobilku hingga terjun ke jurang."
Deg.
Angela yang mendengar nama Albert langsung terkesiap, sementara Deacon menyipitkan matanya, mencerna informasi baru ini.
"Dan yang lebih menjijikkan lagi," lanjut Jihan, giginya mengatup rapat menahan amarah yang membakar dada, "Andre dan Riko, kedua anakmu itulah yang telah membayar Albert untuk melenyapkanku dari kehidupanmu, Mas. Mereka memanfaatkan masa lalu Albert denganku untuk membersihkan jejak mereka!"
Mendengar fakta yang teramat kejam itu, atmosfer di dalam ruangan seketika terasa mencekam.
Darren terdiam, namun aura di sekitarnya berubah menjadi begitu pekat dan menakutkan.
Krek!
Darren mencengkeram erat tangannya sendiri hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol tajam dan buku-buku jarinya memutih.
Amarah yang bergemuruh di dalam dadanya kini telah mencapai puncaknya.
Jika sebelumnya ia mengira anak-anaknya hanya serakah akan harta, kini ia tahu bahwa Andre dan Riko adalah monster berdarah dingin yang telah menumpahkan darah istrinya demi ambisi pribadi.
"Albert... Andre... Riko..." desis Darren dengan suara bariton yang teramat rendah, layaknya geraman singa yang siap mengoyak mangsanya.
"Kalian tidak hanya mengkhianatiku, tapi kalian juga mencoba membunuh wanita yang paling kucintai."
Darren menatap Deacon dengan sorot mata yang mengerikan.
"Deacon, ubah rencananya. Jangan biarkan dua bajingan itu mati dengan mudah. Aku ingin Albert, Andre, dan Riko merasakan neraka jahanam di dunia ini sebelum mereka benar-benar membusuk!"