Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepertiga Malam dan Ketukan yang Berbeda
Malam kian menua di Jombang kota. Angin malam yang berembus dari celah-celah pohon mangga terasa kian menusuk tulang, membawa sisa-sisa hawa dingin pasca-gerimis yang membasahi pelataran ndalem. Di dalam kamar paviliun samping yang biasanya digunakan untuk menyambut tamu-tamu kiai sepuh, Gus Arsalan terbaring telentang di atas ranjang kayu.
Kedua tangannya terlipat di belakang kepala, menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang temaram. Kamar ini bersih, wangi kayu cendana menyeruak menenangkan, dan kasurnya jauh lebih empuk daripada lantai semen tempat ia menggelar karpet seminggu yang lalu. Namun, batin Arsalan sama sekali tidak menemukan ketenangan.
Kalimat-kalimat tenang namun menghujam dari Humaira di teras samping tadi terus berputar-putar di dalam kepalanya laksana kaset rusak.
"Sejak kapan Njenengan peduli dengan siapa kulo berbicara, Gus? Bukankah selama berbulan-bulan di Kediri, Njenengan mboten pernah peduli apakah kulo kesepian..."
Setiap kata itu laksana mata pisau yang menguliti hatinya sendiri. Arsalan memiringkan tubuhnya ke kanan, menatap dinding pembatas yang memisahkan paviliun ini dengan bangunan utama ndalem, tempat di mana Humaira mungkin saat ini sudah terlelap dalam tidurnya. Rasa cemburu yang sempat membakar dadanya saat melihat Reyhan tadi kini telah sepenuhnya menguap, berganti dengan rasa bersalah yang teramat masif.
"Saya yang keterlaluan, Humaira... Saya yang membuatmu sekaku ini," bisik Arsalan pada kesunyian kamar. Pria itu memejamkan mata, memeluk rasa sesak yang kian menghimpit dadanya hingga larut malam benar-benar menenggelamkan pesantren dalam keheningan total.
Tepat pukul tiga dini hari, alarm batin Gus Arsalan terbangun. Sudah menjadi kebiasaannya sejak menempuh studi di luar negeri, dan kian diperketat sejak ia pulang ke pesantren, untuk tidak pernah melewatkan sepertiga malam terakhir. Arsalan bangkit dari ranjang, melangkah menuju kamar mandi paviliun untuk mengambil air wudu.
Air sumur Jombang yang sedingin es menyentuh kulit wajahnya, seketika membasuh sisa-sisa kantuk dan lelah fisik akibat perjalanan Kediri-Jombang beberapa jam lalu. Setelah merapikan sarung tenunnya dan mengenakan kopiah hitam, ia menggelar sajadah beludru hijau di sudut kamar.
Malam itu, di dalam kesunyian paviliun yang sepi, Gus Arsalan menuangkan seluruh jiwanya dalam setiap rakaat salat Tahajud. Suara baritonnya saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an terdengar bergetar, sarat akan kerendahan hati seorang hamba yang sedang mengetuk pintu arsy.
Pada sujud terakhirnya, Arsalan menahan posisi tubuhnya teramat lama. Di dalam sujud yang khusyuk itu, air matanya luruh tanpa bisa dibendung lagi, membasahi kain sajadah di bawahnya.
"Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim... hamba mengakui segala kezaliman dan keangkuhan hamba di masa lalu. Hamba telah menyia-nyiakan amanah suci yang Engkau titipkan melalui kalimat-Mu. Jika Engkau takdirkan Ning Humaira sebagai pelengkap iman dan penuntun surga hamba, maka lunakkanlah hatinya yang telah hancur karena perbuatan hamba. Berilah hamba kesempatan untuk memuliakannya, Ya Allah..."
Doa yang dipanjatkan dari lubuk hati terdalam itu terus mengalir hingga waktu menunjukkan pukul setengah empat pagi. Setelah menutup witirnya dengan istighfar yang tak putus, Arsalan melipat sajadahnya. Ia merasa dadanya sedikit lebih lapang, seolah sebagian beban berat yang menghimpitnya sejak semalam telah diangkat oleh Sang Pemilik Hati.
Arsalan memutuskan untuk keluar dari paviliun, berniat menuju masjid utama pesantren untuk menantikan waktu subuh sekaligus melaksanakan salat berjamaah. Namun, saat kakinya melangkah melintasi koridor penghubung antara paviliun dan dapur belakang *ndalem*, ia melihat seberkas cahaya lampu yang sudah menyala terang dari arah dapur.
Sayup-sayup, terdengar suara dentingan pelan perabotan masak yang beradu dengan wastafel. Arsalan menghentikan langkahnya, menajamkan pandangan. Di sana, di balik sekat kayu dapur, sosok Humaira tampak sedang sibuk sendiri. Istrinya sudah mengenakan gamis rumahan berwarna biru dongker lengkap dengan khimar instan putih yang menutup dada.
Humaira rupanya sedang merebus air dan memotong beberapa sayuran, menyiapkan kebutuhan sarapan lebih awal agar tidak keteteran saat para santri khidmah bangun ba'da subuh nanti.
Arsalan berdiri terpaku selama beberapa saat, menikmati pemandangan teduh di depannya. Ada dorongan kuat di dalam dadanya untuk mendekat, bukan untuk menuntut atau bersikap cemburu seperti semalam, melainkan murni untuk menawarkan bantuan sebagai wujud nyata dari janjinya untuk memulai semuanya dari nol.
Arsalan melangkah pelan, sengaja membuat suara langkahnya terdengar agar tidak mengejutkan istrinya. "Assalamualaikum, Humaira..."
Humaira yang sedang mengiris wortel di atas talenan kayu seketika menghentikan gerakan pisau tangannya. Ia sedikit tersentak, lalu menoleh ke arah asal suara. Mengetahui bahwa suaminya sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan wajah yang tampak jauh lebih segar pasca-wudu, Humaira mengembus napas pelan untuk menetralkan keterkejutannya.
"Waalaikumsalam, Gus," jawab Humaira dengan nada datar yang menjadi ciri khasnya selama seminggu terakhir. Ia kembali memfokuskan pandangannya pada potongan wortel di depannya. "Njenengan sudah bangun? Salat subuhnya taksih kurang setengah jam lagi."
"Iya, saya sudah bangun sejak jam tiga tadi," ucap Arsalan lembut sembari melangkah masuk ke dalam area dapur yang hangat karena uap air rebusan. Ia menggulung lengan kemeja kokonya hingga sebatas siku. "Ada yang bisa saya bantu, Humaira?"
Humaira menghentikan pisaunya lagi, menatap suaminya dengan dahi sedikit berkerut heran. "Mboten usah, Gus. Niki urusan dapur, urusan perempuan. Mboten pantes seorang Gus ikut campur di dapur belakang seperti niki. Njenengan nunggu di masjid saja atau istirahat lagi di paviliun."
Arsalan menggeleng pelan, seulas senyuman tulus yang teramat jarang ia perlihatkan kini terukir di wajah tegapnya. "Di hadapan Allah, saya ini suamimu, Humaira. Bukan seorang Gus yang harus dilayani terus-menerus. Dulu, Rasulullah juga sering membantu pekerjaan rumah tangga istri-istri beliau. Jadi, tolong jangan larang saya untuk meneladani beliau, setidaknya dimulai dari membantu mengupas sayur ini."
Mendengar argumen Arsalan yang membawa nama baginda Rasulullah dengan begitu tawadu, Humaira kehilangan kata-kata untuk membantah. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya yang beku, meskipun ego dan rasa sakitnya langsung berusaha menepis perasaan itu jauh-jauh.
Humaira menggeser sebuah wadah plastik berisi kentang dan sebuah pisau kecil ke ujung meja yang kosong. "Kalau memang Njenengan bersikeras... tolong kupaskan kentang-kentang niki saja, Gus. Tapi kulo mohon, pelan-pelan saja, jangan sampai tangan Njenengan terluka."
"Enggeh, maturnuwun, Humaira," jawab Arsalan dengan binar mata yang mendadak cerah laksana mendapat hadiah berharga.
Laki-laki itu mengambil posisi duduk di kursi kayu kecil di hadapan wadah kentang. Dengan telaten dan penuh kehati-hatian, jemari tegap yang biasanya digunakan untuk memegang kitab tebal atau menandatangani berkas penting pesantren itu kini mulai mengupas kulit kentang satu per satu.
Suasana di dapur belakang *ndalem* itu mendadak hening, hanya menyisakan suara gesekan pisau dan gemuruh air yang mendidih di atas kompor. Namun, keheningan kali ini terasa sangat berbeda dengan keheningan mencekam di teras semalam. Ada rasa canggung yang manis, sebuah kedekatan fisik yang perlahan-lahan mulai mengikis jarak batin yang sempat membentang laksana samudra di antara mereka.
Humaira sesekali mencuri pandang ke arah suaminya yang tampak begitu serius mengupas kentang, bahkan dahi Arsalan sampai berkerut saking fokusnya agar potongannya tidak terlalu tebal. Ada rasa tidak percaya yang membayangi benak Humaira; benarkah pria yang sedang duduk di kursi dapur kecil ini adalah Gus Arsalan yang sama dengan pria yang mengabaikannya di malam pertama pernikahan mereka?
"Humaira..." panggil Arsalan tanpa mengalihkan pandangannya dari kentang di tangannya.
"Wonten menopo, Gus?"
"Mengenai kejadian semalam... dengan Mas Reyhan," Arsalan menjeda kalimatnya, meletakkan kentang yang sudah bersih ke dalam baskom berisi air, lalu mendongak menatap lurus ke dalam manik mata teduh Humaira. "Saya benar-benar minta maaf. Saya tidak memiliki maksud untuk meragukan adabmu, apalagi menuduhmu yang tidak-tidak. Saya tahu kamu adalah wanita beradab yang selalu menjaga kehormatan diri dan keluargamu."
Arsalan mengembus napas panjang, sorot matanya tampak begitu jujur memancarkan kerendahan hati. "Saya hanya... jujur, ego saya sebagai laki-laki terusik saat melihat ada orang lain yang bisa berbicara begitu akrab dan membuatmu tersenyum, sementara saya sendiri selama berbulan-bulan ini hanya bisa memberikan luka dan air mata untukmu. Saya cemburu pada kebaikan adab Mas Reyhan yang mboten saget saya berikan kepadamu selama niki."
Humaira tertegun mendengarkan kalimat pengakuan dari suaminya. Ia meletakkan pisau dapurnya, membiarkan jemarinya bertumpu pada pinggiran talenan. Air mukanya yang semula dingin perlahan melunak, digantikan oleh tatapan sendu yang sarat akan kedewasaan berpikir.
"Gus..." ucap Humaira dengan suara yang teramat lembut namun berbobot. "Kulo dan Mas Reyhan mboten memiliki hubungan apa-apa selain rekan perjuangan untuk pondok sepuh niki sejak kami kecil. Abah dan kiai sepuh sepakat bahwa silaturahmi antar pesantren harus tetap dijaga. Jadi, kulo mohon... Njenengan mboten usah memelihara prasangka buruk di dalam pikiran Njenengan."
Humaira menarik napas dalam-dalam, menatap lurus mata suaminya. "Kulo taksih memegang teguh janji kita di taman dua malam lalu, Gus. Tiga bulan niki adalah masa bagi Njenengan untuk merubah diri di Al-Anwar, dan masa bagi kulo untuk menyembuhkan luka di mriki. Kulo mboten badhe mengkhianati ikatan suci niki selama waktu tiga bulan itu taksih berjalan. Tolong hargai proses niki dengan saling percaya."
Arsalan menundukkan kepalanya dengan takzim, merasakan kelegaan yang luar biasa mendengar ketegasan sekaligus jaminan dari lisan istrinya. "Enggeh, Humaira. Saya mengerti. Terima kasih karena sudah meluruskan pikiran bodoh saya semalam. Saya berjanji akan belajar untuk lebih percaya dan menjaga hati ini dengan lebih bijaksana."
Tepat saat obrolan mereka selesai, suara azan subuh mulai berkumandang dengan merdu dari arah menara masjid utama Pesantren Sepuh, membelah kegelapan malam yang perlahan memudar berganti dengan fajar yang shadiq.
Humaira segera merapikan sisa sayuran di atas meja. "Gus, sampun azan. Njenengan bergegaslah ke masjid, Abah biasanya selalu mencari Njenengan kalau waktu salat jamaah tiba."
"Enggeh, Humaira. Saya pamit ke masjid dulu. Kentangnya sudah selesai semua saya kupas," ucap Arsalan sembari berdiri dan merapikan letak sarungnya. Sebelum melangkah keluar dari dapur, ia menatap Humaira dengan tatapan penuh kehangatan. "Selamat beraktivitas, Istriku. Semoga berkah hari-harimu di sini."
Kalimat "Istriku" yang diucapkan dengan begitu tulus tanpa beban sandiwara itu seketika membuat pipi Humaira merona merah di balik khimar putihnya. Ia hanya bisa mengangguk tipis sembari menundukkan kepala, mengantar kepergian suaminya menuju masjid dengan debaran jantung yang mulai terasa berbeda dari biasanya.
Prosesi salat Subuh berjamaah di masjid utama berjalan dengan sangat khidmat. Kiai Syamsuddin yang bertindak sebagai imam melantunkan ayat-ayat suci dengan nada yang begitu menggetarkan jiwa. Gus Arsalan berada di saf terdepan, tepat di belakang mertuanya, menunaikan ibadah dengan kekhusyukan yang seutuhnya.
Selesai salat dan wirid bersama para santri, Kiai Syamsuddin menepuk bahu Arsalan, mengajak menantunya untuk berjalan bersama kembali menuju ndalem. Di sepanjang pelataran masjid yang mulai diterangi sinar matahari pagi, Kiai Syamsuddin melirik menantunya dari samping.
"Le, Arsalan," panggil Kiai Syamsuddin dengan suara baritonnya yang sepuh namun berwibawa.
"Enggeh, Abah. Wonten menopo?" jawab Arsalan takzim.
"Semalam... Abah dengar dari Ummi kalau kamu sempat tegang saat melihat Nak Reyhan bertamu ke sini?" tanya Kiai Syamsuddin dengan senyuman tipis yang penuh arti, membuat Arsalan seketika merasa salah tingkah dan menundukkan kepalanya dalam-dalam karena malu.
"Nyuwun pangapunten yang teramat sangat, Abah... Arsalan kemarin malam sempat khilaf dan berpikiran sempit," aku Arsalan dengan jujur, tidak berani menyembunyikan apa pun dari mertuanya.
Kiai Syamsuddin terkekeh pelan, menepuk-nepuk punggung Arsalan dengan hangat. "Mboten nopo-nopo, Le. Cemburu itu tanda kalau di dalam hatimu sudah mulai tumbuh rasa memiliki yang besar untuk Humaira. Itu hal yang wajar bagi seorang suami. Tapi ingat... cemburunya seorang ahli ilmu itu harus dibarengi dengan adab dan tabayun, bukan dengan amarah yang meledak-ledak."
Beliau menghentikan langkahnya di dekat pintu masuk ndalem, menatap menantunya dengan pandangan kebapakan yang teramat dalam. "Humaira itu dididik di sini dengan Al-Qur'an dan akhlak, Le. Dia tahu betul mana batas suci yang tidak boleh dilewati oleh seorang istri. Percayalah pada istrimu, maka dia akan memberikan seluruh ketaatan dan cintanya kepadamu dengan cara yang paling mulia."
"Enggeh, Abah. Dawuh Abah badhe Arsalan tanamkan di dalam hati," jawab Arsalan dengan penuh rasa takzim.
Pagi hari di ndalem Jombang ditutup dengan acara sarapan bersama yang terasa jauh lebih hangat daripada minggu lalu. Meskipun Humaira tetap memilih untuk duduk di samping Ummi Fatimah dan menjaga jarak bicaranya, ketegangan dingin yang sempat membeku di antara sepasang suami istri itu perlahan-lahan mulai mencair, terbawa oleh kehangatan sinar mentari pagi Jombang dan ketukan hidayah yang mulai mengubah arah takdir rumah tangga mereka dari titik nol.