NovelToon NovelToon
Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Komedi
Popularitas:916
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.

━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Langit masih gelap ketika Slamet terbangun.

Bukan karena dia rajin bangun pagi, melainkan karena rasa sakit di kaki kirinya semakin mengganggu. Panas dari luka yang melepuh menjalar hingga ke betis dan membuat tidurnya tidak nyenyak sejak tengah malam.

Ia duduk di atas tumpukan karung goni sambil mengucek mata, lalu menunduk memeriksa kakinya.

Kulit di sekitar luka mulai mengelupas. Lapisan merah muda yang masih mentah terlihat di bawahnya, lembap dan sedikit bernanah di dekat jari kelingking. Slamet tidak tahu apakah itu tanda infeksi atau bagian dari proses penyembuhan. Ia juga tidak terlalu peduli.

Ia tidak memiliki obat.

Tidak memiliki perban.

Dan tidak memiliki kebiasaan merawat luka dengan benar.

Setelah beberapa saat, ia berdiri.

Kaki kirinya terasa kaku, tetapi masih bisa digunakan berjalan. Sandal jepit yang tersisa di kaki kanan juga masih bertahan meski tali karetnya semakin tipis. Cepat atau lambat sandal itu pasti putus, tetapi ia tidak memiliki cadangan maupun uang untuk membeli yang baru.

Jadi selama masih bisa dipakai, itu sudah cukup.

Di luar tenda, para relawan mulai beraktivitas.

Beberapa orang menyalakan kembali api unggun yang hampir padam, sementara yang lain memeriksa perlengkapan dan persediaan untuk hari itu.

Seorang pria botak bertubuh kekar berdiri di dekat api sambil memegang daftar tugas.

"Neia!" serunya. "Kurirmu yang baru itu di mana? Pos timur butuh suplai tali busur. Sudah seminggu belum ada kiriman."

Neia yang sedang duduk dengan buku catatan di pangkuannya mengangkat kepala.

Matanya langsung menemukan sosok Slamet yang baru keluar dari tenda logistik dengan rambut kusut dan wajah mengantuk.

"Di sana."

Pria botak itu mengikuti arah pandang Neia.

Matanya mengamati Slamet dari atas sampai bawah.

Pakaian lusuh.

Sandal jepit sebelah.

Tanda hitam di jidat.

Dan langkah yang sedikit pincang.

"Dia kelihatan tidak sehat," gumamnya. "Jalannya aneh."

"Tapi dia tidak pernah mangkir," jawab Neia. "Dan tidak pernah mengeluh."

Pria itu mendengus.

"Itu bukan selalu pertanda baik. Orang yang tidak pernah mengeluh biasanya sedang menahan sesuatu."

Neia tidak membalas.

Mungkin pria itu benar.

Atau mungkin Slamet memang sudah terlalu lelah untuk mengeluh.

Apa pun alasannya, mereka tetap membutuhkan tenaga.

"Biarkan dia bekerja," kata Neia akhirnya.

Pria botak itu menghela napas lalu berjalan menghampiri Slamet.

"Hei, kurir."

"Iya."

"Pos timur. Mereka butuh suplai tali busur."

Ia menyerahkan sebuah kotak kayu berukuran sedang.

Kotak itu tidak terlalu berat, tetapi tetap terasa mengganggu bagi seseorang yang baru bangun tidur.

"Jangan sampai terlambat."

Slamet mengangguk.

"Jalannya?"

"Ikuti sungai kecil yang membeku ke arah timur. Setelah sampai di persimpangan, belok kanan. Kau akan melihat pos dengan bendera hijau."

"Hm."

Tanpa bertanya lagi, Slamet langsung berangkat.

Suara langkahnya kembali terdengar di jalan yang membeku.

Plak.

Plok.

Plak.

Plok.

Pria botak itu memperhatikan punggungnya yang semakin menjauh.

"Dia memang aneh."

Neia tidak menjawab.

Perhatiannya tertuju pada cara berjalan Slamet yang tampak semakin pincang dibandingkan kemarin.

Entah karena sakit.

Entah karena lukanya memburuk.

Atau mungkin karena ia memang mengabaikan kondisi tubuhnya sendiri.

Apa pun alasannya, Slamet tetap berjalan tanpa mengeluh.

Pos timur sebenarnya lebih dekat dibandingkan pos selatan.

Masalahnya, kondisi jalannya jauh lebih buruk.

Gerobak-gerobak berat yang melintas setiap hari meninggalkan bekas roda yang membeku. Salju tipis menutupi lubang-lubang kecil di tanah, sementara pecahan kayu dari gerobak yang rusak berserakan di beberapa tempat.

Slamet berjalan perlahan melewati jalur itu.

Setiap langkah membuat luka di kaki kirinya terasa semakin perih.

Rasa sakit menjalar dari telapak kaki hingga ke mata kaki setiap kali kulit yang terluka menyentuh tanah yang membeku.

Meski begitu, ia terus berjalan.

Tidak ada alasan untuk berhenti.

Kotak harus diantar.

Itu saja yang penting.

Ketika pos tujuan mulai terlihat di kejauhan, Slamet menyadari ada beberapa orang berdiri di depan gerbang kayu.

Mereka bukan tentara.

Bukan pula paladin.

Pakaian mereka lebih sederhana, terdiri dari jubah tebal berwarna cokelat dan topi bulu untuk melindungi diri dari dingin. Beberapa orang bahkan mengenakan lambang yang tidak dikenalnya.

Slamet tidak tahu siapa mereka.

Dan tidak merasa perlu mencari tahu.

Ia terus berjalan.

Seorang perempuan berambut pirang yang diikat ke belakang menoleh ke arahnya.

Di tangannya tergenggam gulungan perkamen yang belum sepenuhnya digulung.

"Ada seseorang datang," katanya pelan.

Pria berjanggut tipis di sampingnya ikut menoleh.

"Kurir?"

"Sepertinya."

Mereka mengamati sosok yang mendekat.

Pakaian lusuh.

Sandal jepit sebelah.

Tanda hitam di jidat.

Dan langkah yang tampak sedikit pincang.

"Penampilannya aneh."

"Tapi dia membawa kotak," jawab perempuan itu. "Mungkin kiriman yang sedang kita tunggu."

Mereka tidak menghentikannya.

Tidak mengajukan pertanyaan.

Hanya memperhatikan saat Slamet berjalan melewati mereka menuju gerbang pos.

Di depan gerbang, seorang penjaga menerima kedatangannya.

"Paket untuk pos timur."

Penjaga itu mengambil kotak kayu, memeriksa stempel pada sisinya, lalu mengangguk puas.

"Ini yang kami tunggu. Terima kasih."

"Sama-sama."

Slamet segera berbalik dan berjalan pergi.

Kaki kirinya terasa semakin sakit, tetapi ia tidak menunjukkan reaksi apa pun.

Di belakangnya, perempuan berambut pirang tadi masih memperhatikan.

Pria itu tidak bertanya siapa mereka.

Tidak bertanya tujuan mereka berada di sana.

Tidak menunjukkan rasa ingin tahu sedikit pun.

Ia hanya datang, mengantar barang, lalu pergi.

Aneh.

Namun bukan itu yang membuat perempuan tersebut terus memperhatikannya.

Yang mengganggunya adalah mata Slamet.

Kosong.

Bukan kosong karena putus asa.

Bukan pula kosong karena ketakutan.

Melainkan kosong seperti seseorang yang sudah terlalu lelah untuk peduli terhadap apa pun di sekitarnya.

Perempuan itu mengembuskan napas pelan.

"Masuk saja," katanya kepada rombongannya. "Kita tunggu di dalam. Di luar terlalu dingin."

Saat matahari mulai turun, Slamet kembali ke kamp utama.

Ia masuk ke tenda logistik dengan pakaian yang lebih kotor dibandingkan pagi tadi.

Wajahnya terlihat pucat.

Langkahnya juga semakin pincang.

Neia yang sedang menulis laporan langsung menyadarinya.

"Sudah sampai?"

"Sudah."

"Ada masalah?"

"Enggak. Jalannya jelek, tapi masih bisa dilewati."

Neia mengangguk dan kembali menulis.

"Besok ke pos barat. Ada kiriman makanan untuk para relawan."

"Oke."

Slamet berjalan ke sudut tenda dan menjatuhkan diri di atas tumpukan karung goni.

Kaki kirinya terasa panas.

Ia tidak membersihkan luka itu.

Tidak memeriksanya.

Tidak melakukan apa pun selain berbaring dan memejamkan mata.

Semoga besok masih bisa dipakai jalan.

Itu sudah cukup.

Dari balik meja, Neia memperhatikannya sejenak.

Slamet tidak pernah mengeluh.

Tidak pernah meminta bantuan.

Tidak pernah membicarakan rasa sakit atau kelelahan yang dirasakannya.

Ia hanya berangkat, mengantar barang, kembali, lalu tidur.

Rutinitas itu terus berulang setiap hari.

Neia tidak benar-benar memahami pria itu.

Namun ada satu hal yang mulai ia sadari.

Jika ada pekerjaan yang harus selesai, Slamet hampir selalu melakukannya tanpa banyak bicara.

Dan dalam situasi seperti sekarang, orang seperti itu jauh lebih berharga dibandingkan mereka yang pandai berbicara tetapi tidak pernah muncul saat dibutuhkan.

Dengan pikiran itu, Neia kembali menulis laporannya.

Sementara di sudut tenda, Slamet sudah tertidur sebelum langit benar-benar gelap.

1
🏵YI FENG🐲
Anjay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!