Kecelakaan membuat nyawanya masuk dalam tubuh seorang anak SMA yang menjadi korban saat menolong seorang gadis saat terjebak tawuran siswa.
Mengetahui dirinya telah meninggal, Dom tidak bisa menerima hal itu. Terutama saat dia mulai sering bermimpi buruk yang membuatnya tidak nyaman.
Dom yang seorang dokter bedah ternama, sekaligus dokter peneliti obat obatan, yang memiliki laboratorium, serta pewaris tunggal dinasti dari keluarga yang bergerak di bidang farmasi, harus bisa menerima kenyataan bahwa raganya telah tiada.
Dom menjalani kehidupan sebagai anak SMA, sambil menyelidiki kematiannya sendiri.
Dalam perjalanannya menyelidiki, banyak hal yang tak terduga dialaminya.
Penghianatan, rahasia keluarga, dan teman membuat hidup Dom yang sebagai Arthur semakin berwarna.
Ikuti terus kisahnya hanya di sini.
Jangan lupa like dan komentarnya, baca secara urut juga ya.
Terima kasih 😘💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dee Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan
"Hai Lucy, aku sudah membeli tiket untuk kita. Ayo kita berangkat!" Nick mengajak Lucy untuk berkencan dengan menonton film di bioskop.
"Kamu tahu, aku menyukai Wonder Woman?" Lucy terlihat gembira.
"Wah, kebetulan sekali, aku juga suka film superhero." Sahut Nick tersenyum lebar.
Nick dan Lucy menuju pada bagian camilan di bioskop.
"Kamu mau minum apa?" Tanya Nick sambil menoleh pada Lucy.
"Cola saja."
"Oke."
Nick maju dan memesan dua kotak popcorn dan cola.
Lucy tersenyum lebar sambil menerima cola dari Nick, lalu meminumnya.
"Terima kasih, Nick."
Keduanya saling tersenyum sambil mengobrol. Sesekali tertawa.
"Aku pikir, kamu pacaran sama Arthur. Aku lega, saat kamu mau jalan denganku hari ini."
Mereka berjalan menuju ruang studio tiket mereka.
"Kami hanya berteman. Lagi pula, dia bukan tipeku." Sahut Lucy sambil menyedot minumannya.
Mereka masuk ke studio, dan mencari tempat duduk mereka.
"Sungguh kamu yang mendepak Matt?" Bisik Nick.
"Dia tidur dengan Rachel saat masih denganku. Sudah lah, Nick. Kita nikmati saja film ini." Lucy menatap Nick sejenak, lalu matanya tertuju pada layar di depannya.
Lampu studio mulai redup, perlahan mati, berganti dengan layar yang mulai memutar film Wonder Woman.
"Aku sangat suka bagian ini." Gumam Lucy.
"Pada bagian ini, menjelaskan dia ada di masa lalu, dan tak bisa mati, karena keturunan Dewa." Sahut seseorang di samping kanan Lucy, padahal Nick ada di sebelah kiri Lucy.
Perlahan Lucy menoleh ke sisi kanan, betapa terkejutnya dia, saat mengetahui, Arthur sudah di sana.
"Bagaimana kamu bisa di sini? Kamu mengawasiku!" Omel Lucy sambil berbisik.
"Hanya kebetulan saja." Jawab Dom singkat.
Perlahan tangan Nick bergerak ke belakang Lucy, lalu bergeser mendekati Lucy.
"Kamu pernah melakukan hal yang menantang saat sedang menonton film?"
Bisik Nick pada Lucy.
Lucy menoleh Nick, sambil menggelengkan kepala.
Nick memajukan wajahnya mencium Lucy, namun Lucy segera mengelak, hingga yang kena adalah pipinya.
"Apa apaan kamu Nick?" Lucy mendorong tubuh Nick.
Dom memajukan tubuhnya sehingga terlihat oleh Nick.
Saat melihat sosok Arthur, Nick mendengus kesal.
Lucy berdiri dari kursinya, lalu pergi meninggalkan studio diikuti oleh Dom. Nick makin terlihat sangat kesal, beberapa kali dia mengumpat karena tujuannya gagal mendapatkan Lucy.
"Ini makanlah!" Dom menyodorkan burger yang baru saja dibelinya pada sebuah penjual pinggir jalan di taman kota.
Lucy menerimanya, lalu menggigit burger perlahan.
"Tolong jangan ceramahi aku! Aku sedang tidak ingin mendengarkan orang ceramah malam ini!" Ucap Lucy sambil terus menggigit dan mengunyah burger.
Dom juga menikmati burger ditangannya.
Dom hanya diam, sesekali menatap Lucy yang terlihat merenung.
"Aku telah memeriksa DNA ku dan ibuku, cocok. Tinggal, mencari sosok ayah kandungku."
Dom mengalihkan pembicaraan.
Lucy seketika menatap Dom.
"Berarti, kamu tinggal mencari siapa sosok ayahmu."
Dom mengangguk pasti.
"Tapi, aku khawatir." Ucap Dom lirih sambil tertunduk.
"Ada apa?"
"Aku khawatir saat mengetahui kenyataannya nanti."
"Arthur. Sebaiknya kamu bertanya langsung pada ibumu saja, jika seperti ini. Untuk memastikan, kamu hanya memerlukan sampel satu orang lagi, bukan?"
Dom mengangguk.
"Ibumu pasti memiliki alasan sendiri saat melakukan ini semua. Sama seperti mamaku. Yang memutuskan untuk mempertahankan aku, dan melahirkan aku. Lalu, menikah dengan Dokter itu."
Lucy berkata sambil menyindir kehidupannya.
Keduanya diam, tenggelam dengan pikiran masing masing.
"Sudah aku bilang, Nick playboy! Tapi, kamu masih ngotot mau menerima ajakan kencan dengannya!" Dom menggelengkan kepalanya sambil mendengus kesal.
"Heh, sudah aku bilang, aku tidak mau mendengar ceramahmu, Tuan Arthur!" Protes Lucy sambil menatap Dom dengan kesal.
"Astaga Lucy, lihat itu!" Dom menunjuk sepasang muda mudi.
"Casey dan Sam?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Aku pikir, Casey berpacaran dengan Darren."
Lucy tertawa terpingkal pingkal.
"Sungguh pemikiran yang sangat polos sekali Arthur. Casey memang sudah lama dengan Sam. Apa kamu tidak memperhatikan, setiap hari mereka saling bertemu usai latihan?"
Dom menggelengkan kepala.
"Darren dekat dengan anak kelas seni. Lagi pula, Casey itu sepupu Darren, jadi mereka dekat karena bersaudara." Lucy tertawa geli.
Dom ikut tertawa ketika menyadari dirinya salah paham selama ini.
Dom menatap wajah Lucy. Cantik paripurna seeprti biasa. Entahlah, jantung Dom selalu berdetak kencang ketika menatap wajah Lucy seperti saat ini.
Dom selalu berusaha menepis perasaannya pada Lucy selama ini karena berpikir, bahwa itu hanyalah naluri milik Arthur. Dom berusaha menutup perasaannya dari rasa cinta. Dia takut perasaan pada Lucy hanya pelarian dari rasa kehilangan Jane, seperti kisahnya dengan Stella.
"Arthur, papaku sudah melakukan transaksi dengan Tuan Zed. Dokter Stella juga telah mengundurkan diri dari rumah sakit. Aku tak sengaja melihatnya berpamitan tadi."
"Tuan Zed memiliki reputasi yang buruk. Dia terkoneksi dengan salah satu mafia, yang rumornya gembong narkoba, dan mungkin obat terlarang yang dijual di toko obat tempo hari berasal dari mereka. Makanya itu, alasan Dokter Erick dan Stella bisa terlibat."
"Apakah kamu tahu, jika Dokter Dominic itu meninggal karena dibunuh, bukan karena kecelakaan?"
Sontak, Dom tercenung. Dia langsung menoleh pada Lucy dan menatap tajam padanya.
"Selama ini Dokter Hana menyelidiki kematian putranya yang janggal. Aku tadi tak sengaja mendengar saat Dokter Hana berbicara dengan detektif polisi yang menyelidiki kasus kematian Dokter Dominic."
"Jadi selama ini, kamu hobinya menyelinap, ya?" Sindir Dom.
"Mungkin, aku terlahir untuk menjadi mata mata."
"Dasar suka berkhayal!"
"Biarin!" Lucy menjulurkan lidahnya meledek Dom.
Dom mengejar Lucy yang ada di depannya.
Dua remaja itu berkejaran sambil tertawa.
Dom meraih lengan Lucy dan menariknya, hingga keduanya sangat dekat.
Dom tersentak sejenak, bagai sengatan listrik ribuan volt, ketika Lucy berada dalam dekapannya dan mereka saling berpandangan delam kondisi tubuh sangat dekat seperti ini.
Dom menepis kembali perasaan itu, dan hanya mengira itu naluri alamiah biologis dari tubuh Arthur ketika berdekatan dengan lawan jenis.
Tiba tiba Lucy menautkan bibirnya pada bibir Dom.
Dom melotot terkejut, lalu mendorong tubuh Lucy, dan terlihat salah tingkah.
"Ayo kita pulang!" Ajak Dom sambil berjalan di depan Lucy.
Lucy hanya senyum senyum sendiri melihat reaksi Dom yang terlihat salah tingkah.
Lucy berlari mendekati Dom dan berjalan di sampingnya.
*
*
"Arthur, apa yang kamu pikirkan?"
Tanya Lucy sambil mendekat ke sofa Dom.
"Tidak ada." Jawab Dom bohong.
Dom memikirkan ucapan Lucy tentang kematiannya yang tidak wajar, seolah menjawab mimpi buruknya selama ini. Tapi, apa alasannya? Benar kah Stella di balik semua ini? Untuk apa?
Lucy hanya mengenakan kaos milik Dom yang kebesaran, seolah jadi daster, dan selalu menjadi pakaian favorit Lucy saat tidur.
Perlahan Lucy menghampiri Dom, dan duduk di atas Dom.
Dom bagai terbius oleh pesona Lucy, hanya bisa meneguk air liurnya sendiri.
"Kamu menyukaiku Arthur?" Lucy bertanya seolah memancing.
Dom tak menjawab, hanya diam.
Lucy kembali menautkan bibirnya pada bibir Dom, kali ini Dom benar benar membalas ciuman gadis remaja itu.
Lucy sempat terkejut saat Dom membalas ciumannya, lalu tersenyum.
Dom mengangkat tubuh Lucy dan mendorong ke tempat tidur.
"Aku tak tahu ini sebuah perasaan atau hanya kegilaan kita saja, Lucy. Apa kamu menyukaiku?" Dom bertanya balik pada Lucy.
Kali ini, tubuh Lucy berada di bawah dalam kungkungan Dom.
"Entahlah, namun dari semua kegilaan yang telah kita alami, aku sepertinya mulai menyukaimu." Jawab Lucy sambil membelai lembut wajah Dom.