NovelToon NovelToon
Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Anak Haram Sang Istri
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: riena

Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 12. Perhitungan di Balik Tirai Jendela.

Pagi-pagi sekali, tirai kamar utama rumah besar tersingkap beberapa sentimeter. Ubay berdiri di balik kaca, masih mengenakan kaos oblong hitam polos dan celana pendek selutut. Rambut gondrongnya yang biasa dikuncir rapi kini berantakan mencuat ke sana kemari khas orang baru bangun tidur. Matanya yang masih agak sepet memperhatikan halaman belakang.

Di seberang sana, Nadia baru saja keluar dari paviliun. Gadis itu sudah rapi dengan kemeja kuliahnya. Namun, begitu kakinya menapak tanah, Nadia tampak meringis kecil. Langkahnya masih sangat kentara pincang dan terseok-seok saat berjalan menuju pintu gerbang samping.

Ubay hanya memperhatikan dalam diam tanpa niat untuk keluar dan menyapa, apalagi menawari tumpangan. “Biarinlah, lagian kalau dia gue bonceng pakai motor yang knalpotnya sekencang petir begitu, yang ada pas sampai kampus rambutnya langsung berdiri semua kayak abis kesetrum,” batin Ubay dalam hati, mencoba merasionalisasikan kemalasannya bergerak sepagi ini.

Setelah bayangan Nadia hilang di tikungan gang, Ubay meregangkan otot-otot lehernya hingga berbunyi krek. Ia berbalik menatap ruang tengah yang kemarin sore sudah disulap menjadi super bersih oleh Nadia. Bersihnya rumah itu mendadak membuat Ubay merasa agak asing sekaligus risih dengan dirinya sendiri.

“Busret, ini rumah kenapa jadi mengkilap begini ya? Kalau lantainya sebersih ini, gue jalan kaki telanjang aja berasa berdosa banget ninggalin daki,” gerutu Ubay dalam hati sambil terkekeh pelan.

Ia lalu melangkah ke area dapur dan membuka pintu kulkas satu pintunya yang sudah lama tidak dibersihkan. Begitu pintu kulkas terbuka, Ubay langsung mengusap wajahnya kasar. Isinya benar-benar menyedihkan. Hanya ada sebotol air dingin setengah kosong, satu sachet saus sambal sisa beli ayam goreng bulan lalu, dan sebutir telur ayam yang entah sudah berapa minggu bertapa di sana sampai Ubay ragu apakah telur itu sudah berubah jadi fosil atau belum.

“Parah banget ini kulkas, lalat aja mikir dua kali kalau mau nyari makan di sini,” batinnya lagi, menggeleng-gelengkan kepala.

Mengingat kemarin Nadia sudah berbaik hati membuatkannya teko air minum dan menulis surat kecil, Ubay tiba-tiba merasa punya tanggung jawab moral. Lagipula, kalau rumahnya mau dibersihkan terus, perlengkapan tempurnya harus lengkap. Siapa tahu juga, gadis itu berbaik hati memasakkan sesuatu untuknya kalau bahan makanannya ada.

“Gue mending ke pasar sekarang deh. Sekalian beli sabun, pembersih lantai, sama bahan makanan. Kali aja itu bocah kalau pulang kuliah lihat kulkas penuh langsung terketuk hatinya buat masakin gue sarapan atau makan siang. Kan lumayan, daripada gue makan mi instan mulu sampai usus gue keriting,” pikir Ubay sambil tersenyum geli sendiri.

Satu jam kemudian, Ubay sudah berada di pasar tradisional. Penampilannya kembali ke mode awal, jaket usang bergaya berandalan, kemeja santai, dan tatapan lempeng yang membuat para pedagang sayur segan. Tapi ironisnya, tangan kekar bertato tipis di pergelangan itu kini sedang menenteng sebuah kantong plastik besar berisi penuh belanjaan domestik.

"Eh, Mas Ubay! Tumben belanja sayur sendiri, Mas? Mau nyayur apa hari ini?" sapa salah satu ibu-ibu penjual sayur langganan neneknya dulu.

Ubay menghentikan langkahnya di depan lapak, wajahnya tetap lempeng tanpa ekspresi. "Biasa, Bu. Isi kulkas. Kasih saya telur satu krat, ayam potong yang sudah dibersihkan, sama bumbu dapur yang komplit."

"Wah, mau masak besar ya, Mas? Apa sudah punya calon istri ini makanya rumahnya mulai diisi?" canda si ibu penjual sambil membungkus belanjaan.

Ubay hanya mendengus pelan, menerima kantong plastik tersebut. “Calon istri opo... yang ada di rumah gue cuma ada mahasiswi pincang yang kalau jalan mirip pinguin terdampar,” sahut Ubay dalam hati, menahan tawa agar wibawa ‘preman pasarnya’ tidak runtuh di depan publik.

Setelah memastikan detergen, sabun mandi, pembersih lantai, minyak goreng, dan segala kebutuhan pokok dapur terbeli, Ubay segera mengikat kantong-kantong besar itu di jok belakang motor RX-King-nya. Dengan sekali sentakan kaki, mesin motornya menderu garang, siap membawa pulang ‘amunisi’ baru untuk mengisi rumah tuanya yang kini mulai terasa hidup lagi.

**

Sesampainya di rumah, Ubay langsung memarkirkan motor RX-King-nya di samping teras. Ia menenteng tiga kantong plastik besar berisikan belanjaan dari pasar tadi ke dalam dapur. Suasana rumah masih sepi, menandakan Nadia belum pulang dari kampusnya.

Ubay meletakkan belanjaan itu di atas meja makan yang kemarin dibersihkan Nadia, lalu mulai mengeksekusi misinya. Ia menggulung lengan kemejanya dan mulai membuka satu per satu bungkusan plastik.

“Nah, telur fosil yang kemarin mending gue buang aja deh, daripada merusak pemandangan,” batin Ubay sembari menyingkirkan sebutir telur lama dari dalam kulkas.

Dengan telaten, meski gerakannya agak kaku karena tidak terbiasa, Ubay menyusun satu krat telur ayam baru ke dalam rak kulkas. Ayam potong yang sudah dibersihkan ia masukkan ke dalam freezer, disusul dengan bumbu-bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, cabai, hingga sayur-sayuran segar di rak bagian bawah. Kulkas yang tadinya melarat dan bikin lalat minder, sekarang mendadak kelihatan makmur seperti kulkas keluarga harmonis.

Tak lupa, Ubay menata botol minyak goreng baru, kecap, saus, hingga detergen dan cairan pembersih lantai di kolong meja dapur agar Nadia tidak bingung mencarinya.

Setelah semua barang tersusun rapi, Ubay berdiri berkacak pinggang memperhatikan hasil kerjanya. Perutnya tiba-tiba berbunyi pelan. Mengingat dia harus segera pergi lagi untuk mengawasi rute gerobak kopi motor listrik birunya, tidak ada waktu bagi Ubay untuk memasak sendiri.

Ia melirik teko air kaca yang kemarin disiapkan Nadia. Ubay tersenyum tipis. Ia mengambil selembar kertas kosong dari dalam laci, lalu meraih pulpen yang tergeletak di dekat TV tabung. Dengan tulisan tangan yang agak cakar ayam, kontras sekali dengan tulisan Nadia yang anggun. Ubay menuliskan beberapa baris kalimat singkat di atas meja makan.

{Kalau kamu sedang tidak punya duit, pakai saja bahan makanan di kulkas buat masak. Hasilnya kita bagi dua. Nggak usah sungkan. Ubay.}

Ubay menindih kertas catatan itu dengan gelas kosong di atas meja makan, tepat di tempat Nadia meletakkan suratnya kemarin. Pendek, padat, dan langsung pada intinya, tipikal Ubay yang gengsian tapi sebenarnya berhati lembut.

“Nah, gini kan adil. Dia dapat makan gratis, gue juga terbebas dari siksaan mie instan tiap malam. Win-win solution namanya,” gumam Ubay dalam hati sambil terkekeh pelan.

Ubay segera merapikan pakaiannya, menyambar helm hitamnya, dan melangkah keluar rumah. Tak lama kemudian, suara raungan mesin RX-King-nya kembali memekakkan telinga, menderu menjauhi gang sepi itu menuju kerasnya jalanan kota. Rumah besar itu kembali hening, bersiap menyambut kedatangan Nadia yang sebentar lagi pulang kuliah dengan kejutan baru di dalam dapurnya.

**

Nadia melangkah turun dari angkot dengan helaan napas lega. Hari keduanya kuliah dengan kondisi kaki pincang benar-benar menguras tenaga. Sebelum menunaikan tanggung jawabnya di rumah depan, Nadia memilih kembali ke paviliunnya terlebih dahulu untuk mengisi perut yang sudah keroncongan sedari siang.

Menu makan siangnya sangat sederhana, namun terasa luar biasa nikmat di tengah keterbatasan. Nadia menceplok sebutir telur ayam, meletakkannya di atas sepiring nasi hangat, lalu mengucurinya dengan kecap manis kental dan ditambah remukan kerupuk putih. Setelah menghabiskan makanannya dan mengganti baju kuliahnya dengan pakaian rumahan yang lebih santai untuk bergerak, Nadia mengambil kunci kuningan dari dalam tas.

Dengan langkah yang masih agak terseok, ia berjalan ke rumah depan. Rasa tanggung jawab yang besar tertanam di dadanya. Ubay sudah sangat baik memberikan tempat bernaung gratis, jadi Nadia harus memastikan rumah ini selalu dalam kondisi terbaik.

Klik.

Pintu jati besar itu terbuka. Nadia masuk dan langsung menuju area dapur untuk menaruh ember dan bersiap menyapu. Namun, gerakannya terhenti tepat di depan meja makan. Pandangannya terpaku pada selembar kertas yang ditindih gelas kosong. Nadia mendekat, lalu membaca tulisan tangan yang agak berantakan di sana.

{Kalau kamu sedang tidak punya duit, pakai saja bahan makanan di kulkas buat masak. Hasilnya kita bagi dua. Nggak usah sungkan-Ubay.}

Membaca baris kalimat yang singkat dan blak-blakan itu, kedua sudut bibir Nadia perlahan terangkat. Ia tidak bisa menahan senyum tipis yang mendadak terbit di wajahnya. Nadia sangat mengerti maksud di balik tulisan itu. Ini bukan sekadar izin memakai bahan makanan, tapi secara tidak langsung, Ubay sedang ‘minta dimasakkan’ sesuatu agar dia tidak perlu jajan di luar lagi setelah lelah bekerja seharian.

Nadia melangkah mendekati kulkas dan membukanya. Matanya seketika membelalak takjub melihat pemandangan di dalam rak. Kulkas yang kemarin melarat kini penuh sesak oleh amunisi segar. Ada ayam potong yang sudah bersih, satu krat telur baru, sayur-sayuran segar, hingga bumbu dapur yang sangat lengkap. Di kolong meja pun sudah berjejer botol minyak goreng dan kecap baru.

"Mas Ubay... tampangnya saja yang seram seperti preman jalanan, tapi ternyata hatinya peka sekali," gumam Nadia pelan dengan dada yang mendadak dipenuhi rasa syukur.

Bagi Nadia, diberikan tumpangan tinggal di paviliun belakang tanpa perlu membayar sepeser pun, itu sudah lebih dari cukup untuk menyambung hidupnya yang sempat hancur. Ditambah dengan perhatian tersembunyi seperti ini, Nadia merasa harga dirinya sebagai manusia kembali dihargai.

Tanpa membuang waktu, Nadia langsung mengikat rambutnya ke belakang. Rasa lelah akibat kuliah seketika menguap digantikan semangat baru. Setelah menyelesaikan tugas menyapu dan mengepel ruang tengah dengan cepat, Nadia langsung menguasai area dapur. Ia mulai mengupas bawang, memotong ayam, dan menyiapkan bumbu. Nadia bertekad malam ini, saat pemuda gondrong itu pulang membelah dinginnya angin jalanan, sebuah hidangan hangat yang nikmat sudah akan menyambutnya di atas meja.

***

1
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
orang kan cuma bisa menilai dari luar, mereka gak perlu tau kebenarannya,sudah nad jgn terlalu dipikirkan
Safitri Agus
jadi terharu kan nad,😊
Safitri Agus
gak apa-apa nad, jangan sungkan 😊
tati st🌼🌼
banyak yg tertipu dan berpikir buruk sama penampilan ubay,padahal dia baik
S.R ciplux
nadia. km jg jujur sama ubay kalo tadi km keceplosan. kasian ubay gk tau apa2
Anna Annawaliana
untung Nadia punya teman Keysha yang baik hati ,,biarin Nadira temanmu mau bilang apa tentang Ubay ,yang penting di kampus sudah aman nanti perutmu semakin beras ada mas Ubay ,
Afternoon Honey
ide ceritanya bagus ⭐
Afternoon Honey
the best Ubay ⭐💖👍
Enisensi klara
Ubay bertanggung jawab sama kamu Nadia ,jadi jgn sungkan ya 😇😇😇😇Ubay kasihan kamu sendirian 😇
Enisensi klara
Ikut aja Nadia dianterin mas ubay ke kampus sekalian sarapan bareng kasihan baby utunnya laper loh ,mas ubay mau jadi suami siaga 😍😍
Anna Annawaliana
mas Ubay lama" berubah cinta sama Nadia .
Enisensi klara
Makanya Ubay temanin Nadia dong saat ngidam kasihan dia sendirian😓
Enisensi klara
makasih up nya kk rie 😇
partini
dikit dikit lama" jadi something between two of them so sweet
Sriharyanti 80
Bagus banget ceritanya dan bikin penasaran/Heart/
Sriharyanti 80
Bagus banget ceritanya dan bikin penasaran
Rini Muharni
Makasih ya Mas Ubay, udah mau nurutin Drama Ngidam Tengah Malam Nadia.. 🤭
Safitri Agus
terimakasih mas Ubay 🙏🥰
Safitri Agus
wes kelamutan 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!