Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.
Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1
Senja yang biasanya menumpahkan warna jingga keemasan di ufuk barat, kini tampak kelabu di atas tanah pemakaman. Angin berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan yang mengelilingi deretan nisan. Suasana hening yang biasa menenangkan, justru terasa begitu menyesakkan bagi seorang gadis berusia delapan belas tahun bernama Amara. Gadis itu berlutut di samping sebuah makam dengan tanah yang masih merah dan basah.
Kedua matanya sembab karena terlalu banyak menangis, air matanya terus mengalir tanpa mampu ia bendung. Jemarinya yang gemetar, mengusap perlahan kelopak bunga mawar yang menutup gundukan tanah tempat sang papa kini beristirahat untuk selama-lamanya.
Tak ada kata yang terucap, pikirannya carut marut dipenuhi pertanyaan, kecewa, dan duka, tengah singgah bersamaan. Ingin ia tidak mempercayainya dan berkata, 'ini semua hanya mimpi' namun gundukan tanah merah dan kelopak bunga yang bertebaran di atas tanah merah di hadapannya adalah nyata.
"Kenapa papa lakukan ini? Kenapa papa tega?" Tangis kembali ditumpahkan Amara, ia bersimpuh di samping nisan dengan bibir yang meracau.
Ditengah tangis pilunya sebuah tangan halus mengusap lembut lengannya. "Mara, kita pulang sekarang!" Sonia yang sedari tadi hanya berdiri mematung di samping Amara, kini menunduk mengusap lengan putri sambung yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri. Matanya yang sembab ia sembunyikan dibalik kacamata hitam yang sedari awal memasuki area pemakaman tadi sudah dikenakannya.
Amara menghentikan isakannya, gadis remaja itu mendongak menatap wajah tanpa raut sang mama yang seolah sudah membeku sedari mendapatkan kabar kecelakaan maut itu tadi pagi. "Mama...." Panggilnya dengan bibir bergetar, "Maafkan papa." Lirihnya pilu. Malu pada perempuan yang telah membesarkannya dengan tulus, dan kecewa pada sang papa bercampur menjadi satu.
Mendengar ucapan Amara, Sonia memalingkan wajah. Ia berusaha menyembunyikan airmata yang kembali luruh. Sesaat, perempuan empat puluh tahun itu memejamkan mata menelan ludahnya susah payah. Namun tak lama kemudian ia kembali bersuara. "Ayo pulang, sebentar lagi Maghrib." Ucap Sonia mengulang kalimatnya. Tanpa banyak bicara, Amara pun berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan sang mama kemudian mengangguk.
Di belakangnya, Azarine dan Aziel mengekori dibimbing Pradana sang om.
Senja kian meredup menyelimuti area pemakaman dengan nuansa muram. Setelah para pelayat dan kerabat pulang dari setengah jam yang lalu, suasana di sana menjadi begitu lengang. Hanya derap langkah berat Sonia beserta ketiga putra putrinya termasuk Amara, yang perlahan meninggalkan area pemakaman menuju mobil di parkiran.
Dibelakang mereka yang berjarak sekitar dua meter, sosok laki-laki yang tak lain adalah Pradana mengikuti langkah mereka tanpa berkata sepatah pun. Sesekali pria itu menengok ke belakang lalu menarik napas dalam-dalam, duka dan kecewa terlihat nyata dalam sorot matanya.
Sesampainya di parkiran tepatnya di samping mobil, Sonia berhenti. Menunggu Pradana kemudian menoleh kembali ke area pemakaman, ia menatap letak makam suaminya Reno. Lagi-lagi perempuan itu menarik napas panjang, 'istirahatlah dengan tenang, hatiku sakit dan kecewa padamu mas. Bahkan aku pun enggak tahu kedepannya harus melakukan apa.'
"Ayo masuk!" Seruan Pradana menghentikan racauan Sonia, bahkan tanpa sepengetahuannya adik iparnya itu sudah masuk ke dalam mobil. Dengan berat Sonia ayunkan kakinya melangkah naik ke mobil, ia duduk di samping kemudi sedangkan Amara, Azarine, dan Aziel duduk di kursi belakang. Ketiganya tak ada yang bersuara padahal biasanya saat mereka bersama, suasana selalu gaduh oleh keributan-keributan yang terjadi antara Azarine dan Aziel.
"Pra..."
"Ya," sahut Pradana tanpa menoleh, tatapannya fokus ke depan membelokkan mobilnya ke arah jalan raya.
Sonia terdiam sesaat, namun tak lama kemudian ia kembali membuka suara. "Nanti malam aku mau minta tolong, antar aku ke rumah sakit." Ucap Sonia pelan namun penuh tekanan.
Pradana terlihat kaget mendengar permintaan Sonia, namun dengan cepat pria itu segera menormalkan kembali wajahnya. "Apa enggak sebaiknya besok saja? hari ini kamu lelah mbak, apalagi nanti malam kan ada acara pengajian."
"Hari ini tidak ada acara apa-apa di rumah, acara pengajian baru akan dimulai besok malam. Aku lebih capek diam di rumah, meredam pertanyaan yang hampir membuatku gila Pra!"
"Oke, baiklah." Sahut Pradana akhirnya menyerah, ia sangat tahu bagaimana perasaan Sonia saat ini. Kehilangan, kecewa, dan terluka secara bersamaan. Ia ditinggalkan secara mendadak oleh Reno sebelum mendapat jawaban.
Di belakang, Amara yang sedari tadi terdiam kini bersuara. "Ma, aku mau ikut ke rumah sakit." Ucapnya mengiba.
"Enggak boleh! Ini urusan orang tua, kamu di rumah jagain adik-adikmu." Jawab Sonia cepat dan tegas tak ingin di bantah. Amara seketika mengunci mulut, ia menunduk menyembunyikan bulir yang kembali menggenang di pelupuk matanya.
--
Mobil yang ditumpangi Sonia dan ketiga anaknya, baru saja berhenti di halaman rumah ketika sebuah mobil lain ikut memasuki pelataran. Sonia yang mengenali mobil tersebut segera membuka pintu, sedangkan Pradana tetap tenang sembari mematikan mesin mobilnya.
Di saat yang bersamaan, mobil yang baru saja berhenti seketika pintunya terbuka, menampilkan sosok Aristya yang tak lain sahabat dan teman kerja Sonia di kantor.
Tya melangkah lebih dulu menghampiri Sonia, sedangkan Abimanyu berjalan di belakangnya. Keduanya baru bisa datang saat ini dan tak bisa menemani Sonia karena urusan pekerjaan yang tak bisa di tinggalkan, sebagai orang yang memiliki jabatan penting Abimanyu dan Tya sangat memegang teguh aturan, memberikan contoh pada bawahannya.
"Son..." Panggil Tya lirih sembari meraih tangan sahabatnya erat. Matanya berkaca-kaca melihat kondisi Sonia yang terlihat begitu rapuh, sungguh membuatnya tak kuasa menahan airmata terlebih membayangkan sahabatnya yang harus menerima dua kenyataan pahit di saat yang bersamaan.
"Maaf aku dan Abi baru bisa datang sekarang. Kami, terutama Abi... Tahu sendiri gimana kalau akhir bulan, jadinya enggak sempat mengejar prosesi pemakaman." Lanjutnya dengan suara penuh penyesalan.
Abimanyu yang berdiri di belakang Tya maju selangkah, kemudian menganggukkan kepala pelan. "Son... Kami turut berduka cita atas kepergian Reno, ini benar-benar mengejutkan kita." Abimanyu menghela napas sesaat, "Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, dan semoga kamu serta anak-anak diberi kekuatan menghadapi semua ini."
Sonia hanya mampu mengulas senyum tipis yang di penuhi kepedihan. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian bergelut dengan kenyataan pahit yang belum sepenuhnya bisa ia terima. "Terimakasih sudah datang," ucapnya pelan nyaris seperti bisikan.
Tya memeluk Sonia. Untuk beberapa saat tak ada kata yang terucap, hanya keheningan yang dipenuhi rasa kehilangan. Sementara di belakang mereka, Amara berdiri dengan tangan yang memegangi Aziel dengan erat, sedangkan Azarine lebih dulu masuk ke dalam rumah.
Melihat dua remaja itu, Abimanyu melangkah pelan menghampirinya kemudian tanpa ragu ia memeluk Aziel. "Ziel kuat ya... Do'akan papa nya biar tenang dan bahagia di sana." Ucapnya tulus mengusap lembut puncak kepala anak berusia sepuluh tahun tersebut.
"Makasih om." Ucap Ziel terisak sembari mengangguk.
Abimanyu pun melakukan hal yang sama pada Amara, bujang matang itu memeluk Amara seperti yang dilakukannya pada Ziel. Entah kenapa batinnya lebih teriris saat menatap Amara, mata sembab remaja itu menunjukkan duka, kecewa dan kebingungan.
"Mara yang kuat ya! Om tahu ini tidak mudah, tapi om percaya Amara bukan gadis yang lemah."
Amara tak mampu berucap, gadis itu hanya mengangguk dengan bahu yang bergetar.