NovelToon NovelToon
RAHASIA WINTER

RAHASIA WINTER

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Masalah Pertumbuhan / Tamat
Popularitas:163.6k
Nilai: 4.7
Nama Author: Mae_jer

Winter melakukan kesalahan fatal! Ia menabrak orang dan kabur begitu saja. Ia merasa dirinya adalah orang paling egois dan jahat di dunia ini. Tapi ia terlalu takut untuk mengaku.

Suatu hari, ia bertemu Daffin Prakasa, sosok cowok populer dikampus yang juga merupakan kakak kandung dari gadis yang ditabraknya.Tanpa diduga ia malah jatuh cinta pada pria itu.

Seiring berjalannya waktu, keduanya makin dekat. Namun ancaman demi ancaman mulai menghampiri hidup Winter. Yang membuat Winter harus memilih, mengakui kesalahannya atau menjauh dari kehidupan Daffin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

"Daffin maaf, boleh bicara sebentar?" tanya Lira. Lalu ia menoleh ke arah

tiga pria lain di situ dan tersenyum manis. "Aku harap kalian tidak keberatan." katanya lagi.

"Aku sedang menunggu seseorang, tidak ada waktu bicara denganmu." tolak Daffin langsung. Ia memang sedang menunggu Winter. Lagipula dia juga tidak tertarik bicara dengan wanita itu.

"Sebentar saja Daffin. Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting, aku mohon." pinta Lira dengan wajah penuh harap.

"Ayolah Daffin, turuti saja apa maunya. Apa kau tega menolak gadis cantik itu?" Daffin melemparkan tatapan tidak sukanya ke Bian. Ia lalu melirik ke arah toilet. Entah apa yang dilakukan Winter di dalam sana sampai belum muncul-muncul juga. Ia ingin menolak Lira lagi namun Dillan tiba-tiba berbisik pelan ditelinganya.

"Pergilah. Melihat keadaan Lira sepertinya dia akan terus memaksa meski kau berkali-kali menolak. Aku akan menunggu Winter di sini dan menjaganya untukmu."

Daffin tampak berpikir. Hatinya masih berat, tapi akhirnya ia menuruti kata Dillan juga. Meski dengan setengah hati. Lira langsung berubah sumringah karena Daffin akhirnya setuju bicara dengannya. Ia membawa Daffin ke tempat yang cukup sepi. Tak ada orang lain dan tidak begitu terdengar bunyi musik yang keras seperti dalam pesta tadi.

Daffin merasa tidak leluasa berdua dengan gadis itu di tempat seperti ini. Entah apa yang dipikirkan Lira ketika membawanya ke sini.

"Katakan cepat, seseorang masih menungguku." kata Daffin datar.

"Siapa? Anak Sastra yang datang bersamamu tadi?"

"Mm." raut wajah Lira berubah. Tampak tidak senang.

"Apa hubungan kalian? Kamu menyukainya?" mata Daffin menyipit.

"Menurutku kau tidak pantas bertanya seperti itu. Aku menyukainya atau tidak, bukan urusanmu. Karena kau bukan siapa-siapa." kata pria itu menohok.

"Tapi aku menyukaimu Daffin. Sudah lama. Aku tidak ingin kamu bersama perempuan lain. Aku mohon Daffin, terima aku, jadilah kekasihku." Daffin cepat-cepat mendorong tubuh Lira ketika gadis itu hendak memeluknya. Apa-apaan ini? Ia memang tahu Lira menyukainya, tapi dia tidak suka perempuan yang agresif. Dia juga tidak pernah ada perasaan lebih ke wanita itu selain menganggapnya hanya sebatas teman biasa.

Lira merasakan rasa sakit dibagian punggungnya saat menabrak tembok akibat dorongan kuat Daffin. Sampai sebegitukah pria itu tidak mau bersentuhan dengannya?

"Dengar, aku tidak pernah menyukaimu. Aku menghargaimu sebagai teman. Tapi kalau sampai kau melakukan sesuatu yang diluar batas seperti tadi lagi, jangan salahkan aku bersikap kasar seperti tadi. Aku akan menganggap kejadian tadi tidak pernah terjadi." ucap Daffin tegas. Lalu meninggalkan tempat itu dengan langkah panjangnya.

Tak lama setelah kepergian Daffin, Lira menangis. Dia sakit hati. Sakit hati karena Daffin menolaknya dengan kasar. Tanpa mempertimbangkan perasaannya sedikitpun. Pria itu benar-benar tega.

                                  ***

Di mana Daffin? Winter  tidak melihat pria itu di mana-mana. Winter mengembuskan napas dengan keras. Yah, kalau dipikir-pikir, dalam

suasana seperti ini, kemungkinan besar Daffin akan berjumpa dengan banyak teman-temannya dan mereka akan berbincang-bincang. Semua orang terlihat sedang bersenang-senang. Semua orang,

kecuali Winter sendiri.

Ia memijat pelipisnya sejenak. Tidak bisa, ia harus keluar sekarang. Ia akan mencoba menelepon Daffin dan bilang akan menunggu pria itu di luar. Karena di dalam sini terlalu sesak dan musiknya sangat kuat. Telinganya terasa sakit.

Winter berbalik dan berjalan kembali ke tempat ia meninggalkan Daffin

bersama temannya tadi untuk terakhir kali. Mungkin saja kalau ia kembali, ia akan melihat Daffin di sana. Tetapi apa yang dilihat Winter sedetik kemudian membuat

langkahnya mendadak terhenti.

Daffin memang masih berdiri di sana, namun kini ia tidak lagi sedang berbicara dengan temannya yang bule tadi. Kini yang berdiri di hadapannya adalah wanita lain. Daffin berdiri memunggunginya, jadi Winter hanya bisa melihat wajah wanita asing itu yang tersenyum

lebar kepada Daffin. Dan itu bukan pemandangan yang menyenangkan. Winter tahu mungkin dirinya yang terlalu berpikir berlebihan, tapi tetap saja ia merasa perasaannya tidak baik-baik saja.

"Winter, kenapa berdiri di sini seperti orang bingung?" tanya Dillan yang tiba-tiba saja sudah muncul di sampingnya. Winter tersentak dan menoleh. Ia langsung mengenali Dillan.

"Hai Dillan, tidak apa-apa." Dillan segera melihat penyebabnya. Ia tersenyum pada Winter dan bertanya,

"Dia adalah adiknya teman wanitanya Douglas, pria bule yang berdiri didepannya. Jangan khawatir. Kamu mau aku bilang agar wanita itu menjauh dari Daffin?"

Winter menggeleng. "Tidak apa-apa, aku tidak mau mengganggu pembicaraan mereka. Kebetulan kau ada di sini."

"Ada apa?"

"Aku ingin pulang lebih dulu. Tolong sampaikan kepada Daffin.

"Kenapa?"

Winter tersenyum kecil.

"Kepalaku agak pusing. Musiknya terlalu kuat, jadi aku merasa tidak terlalu nyaman di sini."

Dillan berpikir sejenak, lalu berkata,

"Baiklah. Tunggu sebentar di sini. Aku akan memanggil Daffin. Dia pasti tidak akan setuju kau pulang sendirian.

"Tidak usah," Winter cepat-cepat menyela. "Daffin sepertinya masih sibuk mengobrol dengan temannya. Aku tidak mau merepotkan." gadis itu   kembali melirik Daffin. Kini sudah bertambah dua pria lain yang tampak berbincang dengannya.

"Em, kamu yakin tidak apa-apa pulang sendiri?"

"Ya." Winter mengangguk pasti. "Aku akan menelpon sahabatku untuk menjemput. Kau tidak perlu cemas.

Dillan menggeleng. "Tidak. Aku sudah janji akan memanggil Daffin saat melihatmu. Tunggu di sini. Aku akan memberitahu Daffin dan setelah itu kamu bisa pulang bersamanya." Dillan tetap kekeuh. Karena ia yakin Daffin pasti akan marah padanya kalau membiarkan gadis itu pulang sendirian.

Winter mendesah pasrah ketika Dillan berbalik pergi. Tetapi ia juga tidak mau menunggu lebih lama lagi di sini. Kenapa ia harus merepotkan Dillan dan kenapa pula ia harus menunggu Daffin mengantarnya pulang? Daffin tampak sibuk. Ia tidak mau merepotkan. Ia bisa pulang sendiri.

Sambil menarik napas, Winter pun berbalik dan berjalan ke arah

tempat penitipan barang. Ia menitipkan syalnya di sana tadi. Namun tempat itu kosong. Di mana penjaganya? Winter berdiri sebentar di meja penjaga sambil menoleh ke kiri dan kanan, mencari sih penjaga tempat penitipan tapi di rluh

Setelah beberapa menit berdiri di sana dan si penjaga belum kembali, Winter memutuskan untuk masuk dan mencari jaketnya sendiri.

Sementara mencari jaketnya, bayangan Daffin dan wanita tadi  kembali tebersit dalam otaknya.

Winter cepat-cepat menggeleng untuk menyingkirkan pikiran itu. Mereka hanya mengobrol biasa. Dan wanita itu adalah pasangannya teman Daffin. Kenapa ia harus kesal melihat Daffin

mengobrol dengan wanita lain? Lagipula mereka hanya ngobrol biasa. Tapi, tadi wanita itu tersenyum lebar ke arah Daffin. Apakah Daffin juga membalas senyumnya? Posisi Daffin berdiri tadi membelakanginya, jadi Winter tidak bisa melihat bagaimana ekspresi pria itu. Apa dia juga tersenyum? Ah sudahlah Winter. Jangan terlalu berlebihan. Gumam gadis itu akhirnya.

1
Ari Nuryanti
memang jodohmu bang
Ari Nuryanti
lhooooo pite kihhhh
Ari Nuryanti
mampir aq thorrrrr
sr
konfliknya terlalu beratt🙂
Dewi Anggraeni
Kenapa gak ada lanjutannya thor ... Diketerangan ditulis End...
Husniati
kok gk lanjut.
Syifa Fauziah
author tanggung jawab inii.. ko gak ada kelanjutan nya.. masih menunggu update cerita winter nih kak
Vie
ih... padahal ceritanya seru lih.. kenapa ga diterusin kak.... gak kalah seru juga sama cerita2 yang lainya.... aku penasaran la njutanya, padahal bakalan seru skali kalau dilanjutin. nanti akhir ceritanya winter sama siapa, kan aku penasaran banget. ya mjngkin ini awal2 kak autorhnya berkarya, jadi masih diawal2 berkarya... mungkin belum seramai sekarang yang bacanya... apalagi cerita2 yang on going banyak sekali yang minat baca... aku selalu suka cerita kakak ini, makanya aku bacanya jadi mundur ke karya2 lama nya yang lain, karena yang lama belum selesai semua ku baca...
Ayiek Sundoro
ayuuk doonk dilanjutin uda bikin penasaran banget lhoo
Ayiek Sundoro
Bagus banget isi & alur ceritanya jd kenapa ga dilanjutin Mae... ini masih blm keluar konflik utamanya, ayuk dooonk Mae semangaat lanjutin 🥰🥰🥰🌹🌹🌹
Rosny Didin Toba: lanjuttt
total 1 replies
Erniati Zega
Kecewa
𝓡𝓲𝓪𝓷𝓲 ☆ミ
up dong thor
Apthiana Devi
Luar biasa
uchie
sepertinya thornya binggung sm ceritanya hahaha mknya gak up2..hahahaa
As Ri
Lumayan
Dwija
yah gantung juga yaa ga da kelanjutan nya
Rita
hmmm
Rita
maaf keinginan mu tdk terkabul mlh terbalik
Rita
diketawain pula gondok ngga tuh
Rita
dah disimpan mukamu winter😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!