Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.
Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya Setuju
Arsen kemudian menoleh ke arah Aira, tatapan matanya melembut, seolah menyalurkan kekuatan yang membuat dada Aira mendadak hangat.
"Namun, Aira adalah wanita yang terhormat. Saya tidak ingin menikahinya secara sembunyi-sembunyi atau terkesan terburu-buru seolah ada hal yang kami sembunyikan.... Saya ingin menghargai Aira, menghargai Ibu Astri dan Bapak Hilman dengan mengadakan pernikahan yang sah secara agama dan negara, yang dihadiri oleh keluarga dengan persiapan yang layak," ucap Arsen.
Pak Aldi tersenyum bangga mendengar jawaban putranya, lalu ikut menyambung pembicaraan dengan bijak. "Benar apa yang dikatakan Arsen, Pak Karwo, Pak Hilman. Kami ingin menjadikan Aira menantu kami dengan cara yang paling terhormat, mengenai kekhawatiran Pak Karwo tentang pekerjaan Aira...," belum sempat Pak Aldi menyelesaikan perkataannya, Pak De Karwo sudah kembali bersuara.
"Yasudah, kalau kamu nggak mau nikahi Aira sekarang. Lamarannya kami tolak, sebagai keluarganya, kami tidak akan memberikan restu," potong Pak De Karwo.
Ucapan Pak De Karwo yang memotong perkataan Pak Aldi laksana bom yang meledakkan seluruh kedamaian di dalam ruangan tersebut. Suasana seketika mencekam, Aira mendongak dengan wajah pucat pasi. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini benar-benar luruh membasahi pipinya. Rasa malu, kecewa, dan amarah bercampur menjadi satu di dalam dadanya.
"Bagaimana Hilman?" tanya Pak De Karwo.
"Benar, kalau memang Arsen serius sama anak saya, kamu harus menikahinya sekarang. Nikah siri dulu nggak apa-apa, nanti kalian bisa daftarkan pernikahan kalian," ucap Bapak Hilman.
Ruangan itu mendadak hening sepekat malam tanpa bintang, tuntutan beruntun dari Pak De Karwo dan Bapak Hilman membuat suasana di dalam rumah bambu itu terasa begitu mencekik.
Aira menatap Ayahnya dengan pandangan tidak percaya, Aira rasa malu dan kecewa yang teramat dalam. Pria yang dulu meninggalkan Aira dan Ibunya demi wanita lain, kini tiba-tiba datang dan mencoba mendikte hidupnya seolah-olah ia adalah barang dagangan yang harus segera dilepas.
"Bapak... Pak De..., Aira nggak setuju dengan perkataan Bapak dan Pak De. Aira nggak mau nikah siri," Suara Aira bergetar, sarat akan luka.
"Halah, kamu itu diam saja, Aira! Ini demi kebaikanmu!" bentak Pak De Karwo, wajahnya memerah karena merasa otoritasnya ditantang.
"Demi kebaikan Aira atau demi kebaikan Bapak dan Pak De," ucap Aira.
"Aira! Ini demi kebaikan kamu, kalau memang pria ini tidak mau menikahi kamu sekarang... Bapak akan menikahkan kamu dengan pria lain," ucap Bapak Hilman.
Ibu Astri yang sejak tadi menangis, perlahan bangkit dan memegang lengan baju Bapak Hilman. "Hilman... sudah, Cukup. Jangan siksa Aira lagi. Kamu sudah meninggalkannya saat dia susah, kamu tidak ada saat dia luntang-lantung cari kerja. Sekarang, saat ada pria baik dari keluarga terhormat yang mau memuliakannya, kenapa kamu malah mau menghancurkannya?" ratap Ibu Astri dengan suara serak.
"Diam Astri! Kamu itu sebagai Ibu nggak berguna sekali ya, aku melakukan ini untuk Aira," bentak Bapak Hilman.
Aira bangkit berdiri, tidak memedulikan lagi aturan sopan santun tatap muka yang sedari tadi ia jaga, tatapannya lurus penuh keberanian menantang dua pria paruh baya di depannya.
"Pria lain? Pria seperti apa yang Bapak dan Pak De maksud? Pria duda yang kasar, yang satu desa tahu kalau dia memukul istrinya sampai meninggal? Itu yang Bapak sebut demi kebaikan Aira!" suara Aira melengking, bergetar hebat menahan amarah yang telah menggunung selama bertahun-tahun.
Bapak Hilman tersentak, wajahnya memerah antara malu dan terkejut karena borok rencananya dibongkar di depan calon besan kaya raya. Pak De Karwo ikut berdiri, berkacak pinggang dengan wajah menyalang.
"Jaga mulutmu, Aira! Kurang ajar kamu ya, sudah dikuliahkan jauh-jauh malah jadi pembangkang! Mau jadi perawan tua kamu di sini?!" bentak Pak De Karwo, tangannya terangkat menunjuk wajah Aira.
"Cukup." Satu kata itu diucapkan tidak dengan teriakan, melainkan dengan nada bariton yang begitu dalam, dingin dan sarat akan ancaman mutlak.
Arsen bangkit berdiri dari posisinya, langkah kakinya yang tegap maju satu langkah dan menempatkan tubuh besarnya tepat di depan Aira, memblokir pandangan dan telunjuk Pak De Karwo dari calon istrinya.
Aura cuek Arsen yang dulu ditakuti di kampus kini berganti menjadi aura intimidasi yang pekat, matanya yang tajam menatap Pak De Karwo tanpa berkedip. Pak De Karwo yang tadinya berapi-api, mendadak menelan ludah, nyalinya berkejaran mundur melihat sorot mata anak muda di depannya.
"Saya rasa, kehadiran Anda berdua di sini bukan sebagai wali yang menginginkan kebaikan, melainkan sebagai pihak yang sedang mencari keuntungan," ucap Arsen, setiap katanya ditekankan dengan artikulasi yang sangat jelas dan menusuk.
"Nak Arsen, lancang sekali kamu berbicara begitu di rumah ini!" gertak Bapak Hilman.
"Saya tidak lancang, saya mengatakan apa yang seharusnya saya katakan dan apa yang sedang terjadi sekarang," ucap Arsen.
Suasana di dalam ruang tamu yang sempit itu semakin mencekam, tatapan mata Arsen yang sedingin es seolah mengunci pergerakan Pak De Karwo dan Bapak Hilman. Keheningan yang tercipta begitu pekat, hingga suara napas Aira yang tersengal karena menahan tangis terdengar begitu jelas.
Pak Aldi, perlahan bangkit berdiri. Meskipun wajahnya tetap tenang, guratan wibawa seorang pengusaha besar tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya terhadap sikap keluarga Aira.
"Pak Hilman, Pak Karwo. Kami datang jauh-jauh dengan niat baik untuk memuliakan putri Anda. Namun, melihat bagaimana Anda berdua memperlakukan Aira seperti sebuah komoditas, saya rasa martabat keluarga kami juga sedang diuji di sini," ujar Pak Aldi, suaranya berat namun bergema penuh penekanan.
"Lho, kami tidak bermaksud begitu, Pak Aldi! Kami hanya ingin kepastian!" kilah Pak De Karwo, meskipun nyalinya sudah menciut setengah.
"Kepastian?" Arsen menyela, sebuah senyum sinis terukir di sudut bibirnya. Ia memutar tubuhnya sedikit, menatap lurus ke arah Bapak Hilman.
"Jika pernikahan hari ini yang Anda jadikan alat untuk mengancam masa depan Aira dan jika itu satu-satunya cara untuk melepaskan Aira dari cengkeraman rencana buruk Anda... maka saya terima tantangan Anda," lanjut Arsen.
Aira mendongak dengan mata membelalak, "Sen, kamu ngomong apa sih?" bisiknya panik, jemarinya refleks menarik ujung kemeja batik Arsen.
Arsen tidak menjawab Aira dengan kata-kata. Ia justru meraih tangan Aira, menggenggam jemari yang gemetar dan dingin itu dengan sangat erat, seolah menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki.
"Saya setuju untuk menikahi Aira. Hari ini juga," tegas Arsen, suaranya lantang tanpa keraguan sedikit pun.
Bapak Hilman dan Pak De Karwo saling pandang, seulas binar kepuasan yang serakah mendadak terbit di wajah mereka, mereka mengira telah berhasil memojokkan anak muda kaya raya ini.
"Dan... setelah Aira menjadi istri saya, Aira adalah tanggungjawab," ucap Arsen.
"Nggak, aku nggak mau nikah siri," tolak Aira.
.
.
.
Bersambung.....
baru nikah di atas kertas donk namanya..
jangan di tunda lagi,mank malam pertama harus wow gtu keadaan dan tempatnya..
walaupun nikah dadakan tapi kan sudah saling Nerima...
salut aja udah sebulan 😆😆😆
mati aja sana...
udah nggak ada membantu anak,anak dapat suami kaya malah mau morotin...
biar tambah panas hati para ibuk2 julidin🤣🤣🤣
hati" buanykkkkkk ular kadut menggatal