Austin 'tak peduli. Dia mencintai Jasmine. Walaupun perut wanita itu membuncit di usia hampir trimester tiga kehamilannya. Tidak ada yang salah dengan hubungan keduanya. Jasmine tak bersuami. Kehamilannya adalah hasil tragedi penculikan yang justru menimbulkan simpati di hati Austin.
Tapi bagaimana jika suatu waktu, pria yang melakukan penculikan itu tiba-tiba datang.
Akan bagaimana hubungan mereka ke depannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Deru sungai terdengar deras. Hujan di sore kemarin rupanya masih menyisakan sisa air yang cukup meluap.
Koper merah kecil itu masih setia berdiri menemani Jasmine di sampingnya. Menemani wanita itu menempuh ajalnya--mungkin saja begitu.
Dengan tangis yang masih deras berderai, dengan napas yang menyentak dada dan menyesakkan, Jasmine berdiri di tepi jembatan dengan pagar besi dua jejer yang hanya setinggi pinggang. Putus asa telah menyerangnya melebihi sakitnya tertusuk pedang.
Dan detik ini, sedikit demi sedikit, kaki Jasmine semakin mendekat, semakin dekat, lalu membentur pagar. Sepasang matanya lurus tertuju pada arus sungai yang nampak lancar menghanyutkan segala sesuatu yang terbuang di dalamnya.
"Mungkin ini yang terbaik," ucapnya pahit. "Selamat tinggal Lily, selamat tinggal Ben," ia mulai meracau. "Ibu ... Ayah ... dan Sandy ... tunggu aku di sana." Sandy adalah nama adik laki-laki Jasmine yang juga meninggal bersama kedua orang tuanya.
Jasmine mulai menaikan dua kakinya pada satu bilah pagar paling dasar. Posisinya sudah cukup riskan dan membuat ngilu siapa pun mungkin yang melihat.
Sedikit sesak karena air sungai untuk mengantarkannya pada kematian, mungkin akan cukup untuk menebus kesalahannya pada Lily, Austin, juga Oma Lissa, pikir dangkal Jasmine yang serius kacau.
Ia jelas telah kehilangan akal sehatnya.
Harapan apa lagi? .... Semuanya ... pupus.
Kini bilah besi kedua mulai dinaikinya. Habis sudah, tinggal sekali hentak dan dorongan hati, maka deras sungai akan cepat menelannya.
Jasmine mulai memejamkan mata. Sebagai manusia biasa, ia tentu takut. Namun rasa tak ingin hidup, lebih kuat dan terus mendorongnya untuk melakukan tindakan tolol dan konyol seperti yang akan dilakukannya sekarang.
"Mudahkan kematianku, Tuh--"
Ucapannya sontak terjegal, ketika tiba-tiba ....
"WOYYYY!! JANGAN GILA, LU!!"
GEPP!
BRUKK!
Tubuh Jasmine terpental ke belakang. Cukup mengejutkannya.
Seseorang tanpa diduga, datang dan menggagalkan niat matinya.
Seraya menegakkan tubuhnya untuk duduk, Jasmine menoleh orang itu. Terlihat sosok itu tengah mengusap-usap lengan bajunya yang kotor terkena genangan air keruh di tengah jalan.
Dilihat dari penampilan urakan serta gitar yang dibawanya, sepertinya dia adalah seorang pengamen.
"Sial! Baju gue! Basah semua, 'kan!” gerutu kesalnya.
"Kamu siapa? Kenapa kamu halangin aku?" Jasmine mengeluarkan suara seraya menancapkan tatapnya pada orang itu.
Dengan delikan malas, pengamen itu lalu menjawab, "Lo pikir idup gue bakal tenang, abis liat orang bunuh diri depan gue?!" hardiknya ngegas. Dia sudah berdiri saat ini. “Lagi lu ngapain bunuh diri sih? Kagak sayang nyawa banget. Lu pikir abis lu mati semua kelar?! Kagak! Ketemu gada malekat ngibrit lu!”
Jasmine tak menggubris.
Satu telapak tangan si pengamen terjulur ke arah Jasmine--membantu wanita itu berdiri.
Walaupun lumayan kesal karena orang itu menggagalkan niatnya, Jasmine akhirnya menerima uluran tangan itu. Ia berdiri lalu berjalan ke tepi jembatan.
"Eh, mau ngapain lagi lu?" tanya orang itu kaget kedua kali.
Jasmine datar saja menanggapi tanpa menoleh. "Ngambil koper. Kalo aku lanjut bunuh diri, aku cemas kamu kena epilepsi menahun nantinya."
Bibir orang itu menganga lebar. "Cablak lu barokah juga ya."
Hanya lirikan sekilas saja pada sosok itu, Jasmine turun mendudukan diri di tepian trotoar. Ekspresinya kembali kelam. Kesedihan yang mendalam, disertai selaksa bayangan kejadian beberapa waktu lalu di rumah Dayhan, kembali menyiksa perasaannya.
Malam ini seolah lengkap susah hatinya. Pertemuannya di pesta dengan Austin juga tragedi kemunculan Alexa, seperti sudah terencana dan disiapkan sebagai hukuman untuknya.
Melihat kemuraman Jasmine, pengamen itu lantas mendekati. Gitar bolong lusuh miliknya sudah terselempang kembali di balik punggung. "Kalo mati uda pilihan akhir, gua yakin masalah lu gak sederhana."
*****
"Nih, di sini gue tinggal."
Bangunan yang hanya selebar tiga meter di bagian depan, dan sekitar empat atau lima meter memanjang ke belakang, berdiri berdempetan dengan satu bangunan serupa di kanannya.
"Cuma kontrakan!"
Jasmine tersenyum tipis menanggapi kicau orang yang telah menghentikan aksi bunuh dirinya di jembatan itu.
"Ini cukup nyaman," komentarnya sederhana saja.
Ya!
Pada akhirnya Jasmine mengalah pada ajakan tinggal, dari pada mati ditelan sungai.
"Ya udah, ayo masuk. Gue udah ngantuk banget, nih!" kata orang itu seraya menyibak daun pintu tunggal yang kunci dan lubangnya baru saja ia jodohkan.
"Umm ... Didy!" Jasmine memanggilnya ragu.
"Apaan?"
"Gak kenapa-napa aku ikut bareng kamu di sini? Aku perlu izin gak sama yang punya kontrakan?" tanya Jasmine memastikan.
"Gampang! Biar jadi urusan gue!"
𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚒𝚗 𝚕𝚊𝚑 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚋𝚘𝚗𝚞𝚜2 𝚗𝚐𝚊𝚙𝚊𝚊𝚊𝚊
yasalaaaaaaammmmm
skrg jan celap celup lagi
halalin satu Le trus elu celup smp mampus 🤣🤣🤣
tobat napa Le Le
kok malah khilap
pusing eke
..