NovelToon NovelToon
I Love You, Kak

I Love You, Kak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Basket / Cintamanis / Teen
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anggun Kartika Mundikasih

Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LONG DISTANCE RELATIONSHIP (LDR)

Pengaruh ‌Nara ‌setelah ‌pergi ke Amerika Serikat untuk kuliah memang terasa kuat pada Naya. Naya yang dulu kurang serius soal latihan renang akhirnya memutuskan untuk sungguh-sungguh, sampai ikut perlombaan saat naik ke kelas XI. Ia merasa terdorong ingin menguasai tidak hanya pelajaran tapi juga hal lain di luar itu, ingin setidaknya bisa menandingi Nara dengan segala kelebihannya, paling tidak mempertahankan peringkat sepuluh besar angkatannya yang sudah ia perjuangkan sampai sekarang.

Dan sekarang ia berdiri di sini, mewakili SMA Perguruan TA di Olimpiade Olahraga Siswa Nasional tingkat kota untuk nomor renang gaya dada. Renang memang bukan ekstrakurikuler yang paling populer di sekolah itu dibanding basket, tapi karena pemilik kompleks sekolah memang sengaja menyediakan fasilitas lengkap untuk semua cabang olahraga, dengan harapan bisa mengasah bakat, minat, kepribadian, dan karakter siswa. Berkat keinginan kuat sang pemilik yayasan, siswa yang berbakat jadi punya kesempatan lebih besar untuk berprestasi.

Tak ada yang menyangka namanya akan masuk daftar favorit perenang. Senior-seniornya pun tak menduga, begitu Naya naik ke kelas XI, perkembangan dan kecepatannya melonjak begitu cepat. Tekniknya masih sama, tapi kecepatannya sudah berbeda, bahkan mengalahkan unggulan sebelumnya.

Ini panggung pertamanya mewakili sekolah di tingkat kota. Lawannya datang dari sekolah-sekolah yang sudah biasa tampil di turnamen antarklub atau kejuaraan daerah. Tapi Naya tak peduli. Ini pertarungan melawan dirinya sendiri, ingin menunjukkan pada dunia bahwa Nayanika bisa, sampai namanya muncul di media sosial sebagai peraih medali emas pertama untuk sekolahnya di cabang renang.

Semuanya merayakan perubahan Naya. Keluarga, Nara, dan sekolahnya. Tapi di balik itu ada sesuatu yang diam-diam berisik di dalam hatinya. Kesibukan yang semakin padat di kelas XI mungkin ia gunakan untuk meredam kegaduhan di dada yang mulai muncul dan mengganggu. Orang jarang bicara tentang sisi tidak enaknya hubungan jarak jauh. Yang melelahkan bukan cuma jarak kilometer atau selisih waktu yang memaksa begadang atau bangun pagi-pagi sekali. Rindu yang datang tiba-tiba pun masih bisa ditahan.

Yang benar-benar menggerus adalah imajinasi. Kalau tak dikendalikan, ia bisa membawa pemiliknya ke overthinking yang berujung pada rusaknya hubungan. Saat orang yang disayangi berada ribuan kilometer jauh, banyak bagian hidupnya yang tak terlihat. Dan kepala manusia, dengan kebiasaan buruknya, suka sekali mengisi kekosongan itu dengan skenario paling menakutkan.

Naya baru benar-benar paham beberapa bulan setelah Nara menetap di California. Awalnya semuanya baik-baik saja, hubungan mereka bahkan terasa lebih matang. Naya sudah berhenti menuntut telepon setiap hari, Nara jadi lebih jujur soal jadwalnya. Perlahan mereka menemukan pola: chat pendek, foto kegiatan, video call panjang tiap akhir pekan, atau kadang hanya kalimat singkat sebelum tidur seperti “Semoga hari kamu baik” atau “Jangan lupa makan.” Kelihatannya sepele, padahal itu benang halus yang menjaga dua hidup tetap tersambung meski terpisah di dua benua.

Hingga sosok Sabrina dan Setra muncul, menjadi bagian cerita baru dalam hubungan LDR mereka.

Jadwal kuliah Nara di California semakin padat seiring penyesuaian dirinya yang awalnya sempat mengalami culture shock. Perlahan ia mulai bisa mengikuti ritme kampus, paham gaya mengajar dosen, hafal tempat makan yang sesuai seleranya, belajar memasak sendiri kalau kangen masakan rumah, dan tahu perpustakaan mana yang nyaman untuk belajar sampai malam. Yang paling terasa, ia mulai punya lingkungan pertemanan sendiri bersama mahasiswa dari berbagai budaya dan negara, termasuk Sabrina di dalamnya.

Sabrina pertama kali muncul di foto yang Nara posting di media sosial. Seorang gadis seumuran Nara, berambut pirang, cantik dan modis, merangkul pundak Nara meski foto itu sebenarnya bersama teman-teman lelaki Nara yang lain setelah mereka menyelesaikan misi perjalanan mereka ke Yosemite National Park, tempat dengan tebing batu raksasa El Capitan, air terjun tinggi, dan hutan sequoia purba.

Dulu Naya tak pernah peduli seberapa ramah Nara dengan lawan jenis yang jadi fansnya di klub basket, karena Nara selalu ada di sampingnya, nyata di depan mata dan membuktikan jati dirinya yang sebenarnya tidak perlu mendapatkan validasi kepopulatisan jika ada Naya bersamanya. Namun kali ini berbeda. Ada rasa khawatir yang tak bisa diungkapkan, seolah sedikit kehilangan percaya diri menyusup di hati Naya. Ia merasa Nara agak jauh untuk dijangkau, padahal selisih usia mereka hanya dua tahun.

Menurut Nara, kehadiran Sabrina tak pernah jadi masalah. Mereka beberapa kali satu kelompok, asrama mereka dekat, sering mengerjakan proyek bersama, dan cara belajar mereka mirip. Bagi Nara, Sabrina hanyalah teman lawan jenis pengganti posisi Ekky. Selesai.

Nara sudah menjelaskan bahwa Sabrina hanya teman kampus, tak lebih. Tapi rasa cemburu yang Naya ungkapkan justru membuat Nara merasa lega, kapan lagi ia melihat kekasihnya sendiri cemburu. Artinya dirinya benar-benar selalu ada di benak dan hati Naya.

Mereka lupa, hubungan jarak jauh punya aturan tak tertulis yang berbeda. Kadang yang membuat segalanya tak sederhana bukan apa yang benar-benar terjadi, melainkan apa yang sudah kelihatan duluan.

Sementara Setra, pemuda itu sebenarnya bukanlah anak baru. Sejak kelas X ia sudah di sekolah dan klub renang yang sama, hanya dipisah untuk putra dan putri, serta pemilik peringkat satu angkatannya. Naya selama ini tak pernah benar-benar dekat dengannya, sehingga Nara tak menangkap ada yang perlu dikhawatirkan. Tahun lalu mereka berbeda kelas, Naya sendiri sibuk dengan dunianya bersama Nara. Itu saja sudah cukup membuat mereka hanya saling tahu nama. Dan saat naik ke kelas XI, mereka kini di satu kelas yang sama.

Setra tipe anak yang mudah akrab tapi tak berisik seperti Nara saat mendekati Naya. Ia juga tak menutup diri. Nilai akademisnya bagus, terutama Matematika, yang sampai sekarang masih jadi momok besar bagi Naya. Padahal ada Fisika yang lebih susah, tapi bagi Naya Matematika tetap menduduki tahta pertama dari tingkat kesulitan.

Obrolan pertama yang benar-benar panjang terjadi karena tugas presentasi dan pembagian kelompok oleh guru. Empat nama, satu kelompok: Naya, Setra, Kimi, dan Daniel.

Kimi yang tetap sekelas dan sebangku dengan Naya berbisik pelan, “Lumayan.”

Naya melirik. “Apanya?”

“Setra.”

Naya menatap datar. “Kenapa dengan Setra?”

“Pintar.”

“Terus?”

“Juara satu seangkatan.”

“Aku peringkat kelima. Terus?”

“Ya lumayan juga.”

Naya mulai menangkap maksudnya. “Kimi.”

“Apa?”

“Jangan mulai. Kamu kan tahu aku masih mingle meski LDR.”

Kimi menahan tawa. “Aku enggak bilang apa-apa.”

“Kamu terlalu banyak bicara.” Dengus Naya menangkap Kimi yang berusaha mengelak. “Mentang-mentang kamu dan Kak Ekky berada di zona waktu yang sama, bukan berarti seenaknya mengurusi hubunganku dengan Kak Nara.”

Dari meja lain Setra menoleh. “Kalian membicarakan tugas dari Pak Guru?”

Kimi buru-buru menjawab, “Iya.”

Naya menatap Kimi tajam karena merasa abai dengan peringatannya.

Setra yang duduk bersebelahan dengan Daniel merasa mendapat kode dari Kimi untuk menggeser kursi mendekat. “Oke, kita bagi bagian masing-masing?”

Dan sejak hari itu, tanpa rencana, Setra perlahan menjadi bagian dari kehidupan sekolah Naya.

Sore itu di Indonesia, Naya duduk di perpustakaan sekolah bersama Setra. Beberapa buku terbuka di atas meja, sementara Kimi dan Daniel mencari referensi lain di rak.

Setra menunjuk bagian laporan kelompok mereka. “Yang ini kurang data.”

Naya menunduk mengikuti arah jari telunjuknya. “Yang grafik?”

“Iya.”

“Aku sudah cari tambahan data di buku ini untuk menjelaskan grafik tadi. Ternyata masih kurang ya?”

“Coba sumber ini.” Setra menggeser laptop.

Naya maju sedikit. “Yang ini?”

“Iya.”

“Oh.”

Ia membaca beberapa detik. “Ini bagus.”

“Makanya aku bilang.”

“Tumben berguna, Tuan Juara Pertama seangkatan.”

Setra menatap. “Jahat.”

Naya tertawa cekikikan.

Mereka tak sadar Kimi sudah kembali dari rak buku, dan dengan sikapnya yang suka hal apa pun terkait kegiatan sekolah termasuk gosip, mereka jadi sasaran empuk untuk diabadikan.

Klik.

Naya yang sadar spontan menoleh. “Kamu ngapain?”

“Dokumentasi kerja kelompok,” jawab Kimi sambil melihat hasilnya.

“Hapus.” Protes Naya.

“Kenapa? Enggak ada yang aneh.” Elak Kimi.

“Pokoknya hapus.”

“Bagus kok.”

Di foto itu Naya dan Setra terlihat saling menatap layar laptop, tersenyum seolah menikmati waktu berdua. Tak ada yang aneh. Tak romantis. Hanya momen biasa. Tapi dengan wajah tak bersalah dan kepala batunya, beberapa jam kemudian Kimi memasukkan foto itu ke unggahan kegiatan kelompok dan story chat-nya. Kimi tak sadar bahwa foto itu bisa secepat kilat sampai ke Nara, karena ia memutuskan mem-publish-nya. Apakah Kimi lupa bahwa nomor kontaknya juga disimpan oleh Nara sebagai kekasih sahabatnya, Ekky?

Sekitar jam sebelas malam ponsel Naya berbunyi. Sudah ia tebak pasti Nara, manusia mana lagi yang akan menghubunginya jam segitu kalau tak punya hubungan istimewa dan tak mau ambil risiko kena omelan.

“Siapa yang duduk sebelah kamu?” Muncul wajah Nara dengan ekspresi menahan amarah.

Naya menghela napas panjang berusaha menahan kantuknya karena langsung tahu foto mana yang dimaksud. “Setra.”

Beberapa detik hening. “Teman sekelas?”

“Iya.”

“Sering bareng?”

Naya menyengir kecil. Terima kasih kepada Kimi yang tak sombong dan rajin menabung, sehingga ia harus menyisihkan sisa energi untuk menjelaskan pada Nara. Lucu juga. Untuk kesekian kalinya Nara cemburu pada kedekatannya dengan lawan jenis, tapi setidaknya Nara mengikuti permintaannya dulu sehingga peristiwa terhadap Reksa dan Dimas tak terjadi lagi hanya karena alasan tak masuk akal itu.

“Lagi tugas kelompok.”

Nara membalas dalam satu kata. “Oh…”

Dan Naya tahu “oh” itu bisa berarti apa saja. Ia mengetik lagi. “Kak Nara cemburu?”

Tak ada balasan hampir semenit.

“Enggak.”

Naya ketawa pelan. “Bohong.”

“Sedikit.”

“Kak Nara-ku sayang, dia hanya teman sekelas yang kebetulan satu kelompok denganku. Terima kasih kepada Pak Guru Kimia karena membagi anggota kelompoknya di mana ada aku dan Setra di dalamnya.”

Nara membalas. Kalimat itu terdengar familiar, Naya langsung menangkap sindiran soal Sabrina.

“Jangan balas dendam.”

Naya tertawa. “Siapa yang balas dendam?”

Malam itu semuanya masih ringan, bahkan jadi bahan bercanda saat video call. Naya tak tahu, setelah itu nama Setra akan lebih sering mengganggu di kepala cerdas Nara.

***

1
Wawan
Salam kenal untuk Naya 💪✍️
Ayunda Permata
Sukses Selalu Thor 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!