NovelToon NovelToon
Skandal Di Balik Layar

Skandal Di Balik Layar

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: Rizaidhan Luthfian

Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Lesung Pipit dan Kopi yang Salah Seduh

Atmosfer tegang yang tadinya menyelimuti kebun cengkeh mendadak menguap, digantikan oleh keheningan yang... sangat canggung.

Juli, sang Kembang Desa, melangkah mendekati Ajo sambil memegang nampan kayu berisi tiga cangkir kopi hitam panas. Wajah manisnya yang merona karena terik matahari sore berpadu sempurna dengan senyum ramah yang terkembang di bibirnya.

"Diminum dulu kopinya, Mas-mas dari kota," ujar Juli renyah. Suaranya yang merdu seperti musik alami di tengah kebun.

Adam, yang baru saja mengusap air mata harunya setelah momen rekonsiliasi emosional dengan Ajo, perlahan mendongak. Pandangannya beradu tepat dengan mata bulat nan jernih milik Juli. Lesung pipit di kedua pipi wanita itu tampak mekar sempurna saat ia menyodorkan cangkir kopi ke arah Adam.

DEG.

Dunia Adam seolah berhenti berputar. Efek drama tragis, penyesalan mendalam, dan beban skandal miliaran rupiah yang tadi menggelayut di kepalanya mendadak lenyap seketika, digantikan oleh suara bayangan slow-motion yang konyol.

Adam terpaku. Matanya tak berkedip, mulutnya sedikit terbuka, dan nampan berisi cangkir kopi di tangan Juli ditatapnya seolah itu adalah benda paling ajaib di alam semesta. Sebagai pria yang terbiasa dikelilingi supermodel bertumit tinggi di Jakarta, kepolosan dan kecantikan alami Juli menghantam ulu hati Adam tanpa ampun.

"Mas? Ini kopinya diterima dong, kok malah melamun?" tegur Juli sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Adam.

"E-eh! Ah, iya! Ter-terima kasih, Nona... eh, Mbak... eh, Ibu?" gagap Adam panik. Pria yang biasanya sangat elegan dan percaya diri itu mendadak gagap total. Wajahnya yang tirus langsung memerah padam sampai ke ujung telinga.

Dengan tangan gemetar hebat karena salah tingkah (salting) setengah mati, Adam mengulurkan tangannya untuk mengambil cangkir kopi. Namun karena matanya tetap menatap lekat-lekat pada lesung pipit Juli, bukannya memegang gagang cangkir, jari Adam justru memegang telunjuk Juli!

"Aduh, Mas! Cangkirnya yang dipegang, bukan jari saya!" pekik Juli kaget tapi tertawa kecil.

"A-ampun! Maaf! Tangan saya otomatis! Eh, maksudnya refleks!" seru Adam semakin panik. Ia buru-buru menarik tangannya seolah tersengat listrik, membuat kopi di cangkir berguncang dan sedikit menyiprat ke kemeja polosnya.

Jimi yang berdiri di sampingnya sampai menepuk jidat melihat tingkah konyol sahabatnya itu. "Astaga, Adam... wibawa jenderalmu jatuh ke dalam parit kebun," bisik Jimi sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Ajo yang melihat kejadian itu tak sanggup lagi menahan tawa. Tawa lepas yang sangat renyah meledak dari dadanya, membuat warga desa di sekitar ikut terkekeh melihat sang mantan bos kota bertingkah seperti anak SMA yang baru pertama kali jatuh cinta.

"Jul, kenalkan, ini Adam," potong Ajo sambil menepuk bahu Adam yang masih kaku bagai patung. "Mantan miliarder Jakarta, tapi sekarang sepertinya otaknya korsleting terkena pesona Kembang Desa Gunung Salak."

"Ajo! Diam kau!" bisik Adam setengah berteriak, matanya melotot pada Ajo sambil berusaha merapikan rambutnya yang agak acak-acakan menggunakan jemarinya yang makin gemetar. Wajahnya kini sudah semerah buah tomat matang.

Juli hanya tertawa geli, menggelengkan kepala melihat tingkah Adam yang menggemaskan, lalu melangkah pergi kembali ke bale-bale. Mata Adam terus mengekor pada langkah Juli sampai wanita itu hilang di balik pohon petai, meninggalkan Adam yang senyum-senyum sendiri sambil memegang cangkir kopi panasnya tanpa sadar.

Kafe Sunyi di Jakarta: Benang yang Mulai Terurai

Sementara suasana konyol dan penuh gelak tawa menghiasi tanah perkebunan di desa, atmosfer berbeda yang sarat akan haru dan air mata terjadi di sebuah kafe tersembunyi di sudut Jakarta Selatan.

Elsa duduk di sudut ruangan yang remang. Kacamata hitam besar dan topi bucket masih menutupi sebagian wajah cantiknya yang pucat. Matanya sembap, dan tangannya tak berhenti meremas tisu yang sudah basah oleh air mata. Seminggu dalam buruan media dan tanpa kejelasan dari Ajo telah menguras seluruh kekuatan jiwanya.

Pintu kafe berdenting. Rina—sekretaris Ajo sekaligus istri Jimi—melangkah masuk dengan cepat. Rina menyapu pandangan, lalu bergegas duduk di hadapan Elsa.

"Nona Elsa..." panggil Rina lembut, matanya menyiratkan rasa prihatin yang amat dalam.

Elsa mendongak, matanya berbinar panik. "Mbak Rina! Di mana Ajo?! Tolong beri tahu aku, Mbak! Apakah Ajo baik-baik saja? Kenapa dia meninggalkanku sendirian di tengah semua kebohongan ini?!" Suara Elsa bergetar parau, menahan tangis yang siap meledak kembali.

Rina menggenggam erat kedua tangan Elsa yang dingin. "Dengarkan saya baik-baik, Nona Elsa. Pak Ajo tidak pernah berniat meninggalkan Anda karena jahat. Beliau pergi untuk melindungi Anda."

Elsa tertegun, air matanya menetes melintasi pipinya yang tirus. "Melindungiku...?"

Rina mengangguk pelan, lalu mengeluarkan sebuah salinan dokumen rahasia dan membeberkan segalanya. Rina menceritakan skenario jahat yang dirancang oleh Maya sejak awal—bagaimana Maya meretas sistem Gala Premiere, memalsukan dokumen, mengadu domba Ajo dan Adam, hingga fakta bahwa Maya-lah yang kini menguasai perusahaan film Ajo dan menghancurkan bisnis Adam.

"Pak Ajo sengaja menghilang ke rumah masa kecilnya di desa agar perhatian publik dan racun Maya tidak terus menghantam Nona Elsa," terang Rina, suaranya sarat akan emosi. "Pak Ajo menanggung seluruh beban skandal itu sendirian di bahunya hanya agar nama Anda tetap bersih."

Dada Elsa berguncang hebat. Tangisannya yang selama seminggu ini tertahan oleh rasa bingung dan sakit hati, akhirnya pecah sepenuhnya di meja kafe yang sunyi itu. Rasa ragu yang sempat mengikis hatinya lenyap seketika, berganti menjadi gelombang kerinduan dan cinta yang amat dalam pada Ajo. Pria bertangan dingin itu tidak pernah berubah; di balik sikap kakunya, Ajo selalu siap menjadi perisai jiwa bagi Elsa.

"Ajo... dasar pria bodoh..." tangis Elsa terisak-isak, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Kenapa dia selalu merasa harus menanggung semuanya sendiri..."

"Karena beliau mencintai Anda melebihi karier dan nyawanya sendiri, Nona Elsa," bisik Rina penuh ketulusan. "Dan sekarang, Tuan Adam dan Suami saya, Jimi, sudah menyusul Pak Ajo ke desa. Tiga Jenderal telah bersatu kembali. Mereka sedang menyusun rencana untuk merebut kembali rumah produksi dan membersihkan nama Anda."

Elsa mengusap air matanya dengan tegas. Pendar di matanya yang tadinya redup kini menyala kembali dengan keberanian yang tak tergoyahkan. Ia menatap Rina lurus-lurus.

"Bawa aku ke tempat Ajo, Mbak Rina," ujar Elsa mantap, suaranya tak lagi bergetar. "Aku tidak akan biarkan dia bertarung sendirian lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!