SEQUEL MY HANDSOME TEACHER
SEASON 1
Berawal dari pertemuan pertama mereka disebuah sirkuit. Hingga berlanjut pada pertemuan-pertemuan berikutnya yang tidak bisa dikatakan sebuah kebetulan.
Agyan merasa hidupnya semakin berwarna. Begitupun Freya yang selama ini kekurangan kasih sayang, dari keluarga maupun pacarnya.
Bagaimana jika ternyata mereka memiliki takdir untuk bersatu? Akankah keadaan berpihak pada mereka?
Atau halang rintang justru menghadang ketika sebuah fakta dari masa lalu mencuat ke permukaan?
16 Juli 2020
SEASON 2
Zeinn Ethan Maheswari tidak menyukai dunia entertaint sejak kecil. Tapi sang ayah memaksanya untuk mengurus perusahaan agensi dan membuatnya terjebak skandal dengan salah satu aktris yang bernaung di agensinya.
Hidup dan Citra Zoya Hardiswara yang semula tentram dalam menjalani kariernya sebagai aktris harus ternoda ketika ia tidak sengaja terjebak skandal dengan CEO perusahaan agensi yang menaunginya.
Mengharuskan keduanya terjebak sebuah pernikahan demi memperbaiki reputasi perusahaan.
31 Januari 2021
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Yulian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Sakit
"Serius?"
"Agyan ih!"
"Apa Sayang, apa. Aku udah bilang semuanya."
"Iya. Tapi kamu nggak serius!"
"Taunya aku nggak serius?"
"Aku nggak percaya kamu kaya gitu."
Agyan terdiam, ia memberhentikan mobilnya tepat saat lampu lalu lintas berwarna merah. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Obrolan di sekolah terpotong saat para siswa masuk ke kelas disusul dengan guru yang mengajar, Freya menjeda rasa penasarannya sampai jam istirahat. Tapi sialnya, saat jam istirahat tiba Agyan malah sengaja bermain basket dan mengabaikan Freya, juga rasa penasarannya.
Rasa penasaran Freya masih membara, sehingga ia ingin terus menanyai Agyan seputar mantannya.
"Gyan,"
"Apa?"
"Bilang dong, apa salahnya, sih. Aku kan cuma pengen tau doang mantan kamu itu." gadis itu mulai memelas.
Agyan menghela nafas, ketika lampu lalu lintas berwarna hijau, ia lantas melajukan mobilnya.
"Tapi harus jujur!" sambung Freya.
"Iya."
"Namanya Fera Agisna, aku akrab panggil dia Gisna. Temen-temennya juga panggil dia Gisna, sih." Agyan masih saja bercanda.
"Terus?"
"Ya terus apa, kita pacaran!"
"Secepet itu?"
Agyan menoleh sekilas. "Jangan bahas itu, yah. Bahas yang lain aja,"
Freya menatap Agyan. Kali ini wajah pemuda itu terlihat serius dan justru membuat Freya semakin penasaran dengan mantan Agyan.
Alasan mereka berpacaran, ketertarikan apa yang membuat Agyan jatuh cinta pada Gisna dan mengapa mereka putus?
"Aku, 'kan udah pacar kamu sekarang. Yah,"
Freya memilih mengangguk meski hatinya tidak demikian. Astaga, ia semakin penasaran dengan bagaimana gaya pacaran seorang Agyan.
Mobil berhenti tepat di parkiran rumah sakit, Cherry, Gavin, Braga, Morgan dan Vina juga sudah turun dari mobil. Vanesh akan menyusul setelah rapat OSIS-nya selesai. Sementara Desty sudah meluncur lebih dulu.
"Ini rumah sakit keluargaku, Gisna magang di sini."
Pernyataan tiba-tiba Agyan membuat Freya seketika menoleh pada pemuda yang sedang membuka seatbeltnya.
"Kamu nggak papa, 'kan kalo ketemu dia?" sambungnya. Freya hanya bisa mengangguk pasrah, memang ia bisa apalagi selain itu.
"Gyan."
"Kenapa?"
"Tapi kamu nggak ada perasaan apapun lagi sama dia, 'kan?"
"Enggak ada!"
"Kenapa aku nggak yakin sama jawaban kamu?"
"Kamu harus belajar buat percaya sama aku, yah." ucap Agyan, serius.
"Sekarang turun, yang lain udah pada nunggu."
Freya menghela nafas, Agyan sudah turun lebih dulu. Ia juga turun setelah melepas almamater dan merapihkan rambutnya.
Berjalan bersisian dengan Agyan ke arah kawan-kawan mereka yang sedang menunggu untuk masuk ke rumah sakit.
"Lama amat," Vina mencibir, ia berat harus membawa keranjang buah untuk Brandon. Agyan hanya tersenyum sambil menaikan alisnya, kemudian berjalan duluan dengan para cowok sementara Freya Dengan Cherry dan Vina.
"Mayan nih, kalo ketemu Kak Gisna,"
Seketika Freya menoleh pada Cherry yang menyebut nama mantan Agyan.
"Kemaren gue ketemu, pas di mall. Dia lagi jalan sama mamanya."
"Harusnya, sih, Kak Ghisna nggak putus sama si Gyan, yah berhubung—"
"Frey," tiba-tiba saja Cherry beralih pada Freya yang hanya menjadi pendengar diantara mereka.
"Loe sama Gyan—?"
"Kenapa?"
"Gue rasa Gyan suka sama loe,"
"Masa?" Freya pura-pura tidak tau saja.
"Dia kalo suka sama cewek, tuh, keliatan banget!" timpal Vina yang mendapat dua acungan jempol dari Cherry. Sementara Freya hanya tersenyum saja.
Awalnya ia iseng penasaran tentang mantan Agyan, tapi kenapa justru sekarang gadis itu semakin menonjol, dan nampaknya kawan-kawan Agyan juga akrab dengan Gisna.
Mereka masuk ke ruang mawar sesuai arahab Cherry, Desty tampak sudah di sana dan selesai menyuapi Brandon makan siang.
"Wah, new cauple mesra-mesraan, nih." seloroh Morgan yang membuat Desty mencebikan bibirnya.
Sungguh, ia menolak keras keinginan Brandon yang ingin disuapi makan, tapi pemuda itu memelas dengan kata-kata yang menyentuh hati. Sampai akhirnya membuat Desty tidak mampu menolak.
"Pajak jadian, dong. Traktir apa kek," Vina menimpali. Desty hanya mengangkat bahu, kemudian mengambil posisi berdiri di samping Freya.
"Tuh, ke Gyan sama Freya!" ujar Brandon sambil menunjuk dua orang itu dengan dagunya, ia sudah tau hal itu dari Desty. Seketika pandangan semua orang mengarah pada dua nama yang disebut Brandon tadi.
Cherry melotot dengan dahi berkerut. Bukan tidak percaya, hanya saja ia merasa tidak enak karena tadi membahas perempuan lain di depan Freya, apalagi mantan Agyan.
"Biasa aja kali, cuma jadian bukan kencan turu," sahut Agyan dengan wajah tanpa dosa, Freya hanya menggeleng kecil, diikuti gelengan kepala dari kawan-kawannya juga umpatan kecil yang tidak diperdulikan oleh Agyan.
"Loe bener udah nggak papa Brand?" tanya Braga yang kemudian mendeket ke brangkar Brandon. Mengabaikan pembahasan kawan-kawannya mengenai pajak jadian.
"Udah nggak papa, kata bokap sore juga udah bisa pulang, kaki doang mayan sakit."
"Sakitnya mayan, untungnya itu loh, enaaak bettt!" Sindir Cherry yang tau lebih dulu bagaimana Brandon menjebak Desty agar menjadi pacarnya.
"Apaan, gak usah nebar fitnah disini! Pulang loe sono!"
"Dih, sorry ya, abis ini juga gue pulang, mana betah gue di rumah sakit lama-lama. Kecuali kalo di—"
"Rumah sakit jiwa?" sela Morgan, Braga dan Agyan secara bersamaan. Gadis itu menggerutu, mengerucutkan bibirnya dengan kesal, yang mendapat usapan kepala dari Gavin meski pemuda itu juga melempar tatapan menertawakan padanya.
"Terus orang yang nyerepet loe, gimana?"
"Gak ketangkep. Biar aja, ntar juga dapet kurma."
"Wah, enak dong!"
Tak lama, seorang dokter—Tama, masuk ke ruangan tersebut dengan istrinya, disusul seseorang di belakang mereka.
Mendadak suasana sedikit berbeda kalau saja Tama tidak mencairkan keheningan yang tiba-tiba saja tercipta.
Cherry dan Vina juga terlihat canggung untuk menyapa Gisna setelah tau status hubungan Agyan dengan Freya.
"Kalian repot-repot datang kesini." ucap Tama pada para anak muda yang ia sudah hafal semua dari mereka, kecuali Freya tentunya.
"Ini, Om. Pake sakit segala, 'kan ngerepotin mesti dijenguk." Morgan berkomentar tanpa sungkan.
Chrystena hanya tersenyum, ia tau jika anak tunggal Mona dengan Bima itu memang hanya bercanda.
"Gisna, tolong kamu ganti infusnya, ya."
"Baik, Dok."
Gadis yang sejak tadi hanya diam itu mengangguk dan berjalan melewati para cowok yang berdiri di sisi kiri Brandon saat sang Dokter memerintahkannya.
"Kak Gisna, makin cantik aja." goda Morgan yang mendapat sikutan dari Gavin. Sementara Gisna yang sedang mengganti infus Brandon dengan hati-hati hanya tersenyum menanggapi godaannya.
"Kalian pulang sekolah langsung pada kesini?" tanya Chrystena setelah meletakan keranjang buah yang baru saja diserahkan Vina.
"Iya, Tan. Langsung aja, kalo nunggu besok nanti keburu pulang Brandonnya."
"Kalo yang ini—?" Tama memperhatikan Freya yang berdiri di samping Desty.
"Ini Freya, Dad. Yang sering Cherry ceritain, itu loh, yang model followersnya banyak." sahut Cherry sedetail mungkin.
"Oh, cantik yah." pujinya. Freya hanya tersenyum sambil mengangguk sopan. sesekali ia memperhatikan Gisna yang sekarang berdiri di samping Morgan dan tampak berbincang kecil dengan mereka, termasuk juga dengan Agyan.
Freya merasa panas sendiri, sebelumnya ia tidak pernah merasa minder. Tapi, kenapa Gisna begitu tak biasa, ia terlihat berbeda dan sederhana. Atau justru itulah daya tariknya.
Dengan jas dokter berwarna putih, rambut pirang sebahu yang diikat rendah, tatapan matanya tegas dan senyumnya terlihat manis.
Meski Freya seorang perempuan, tapi ia dengan terang-terangan mengakui kecantikan Gisna.
**
"Kepalanya udah nggak pusing, Brand?" tanya Tama pada putranya itu.
"Sedikit, Dok." ia menyahut singkat dengan formal yang membuat kawan-kawannya tersenyum.
"Yasudah kalau begitu, nanti sore kamu sudah boleh pulang."
"Boleh nambah dua hari lagi, nggak?"
"Kalau mau uang jajan dipotong selama satu bulan, ya bisa."
"Auto ngancem!"
Gelak tawa pecah disana, sementara itu Tama pamit setelahnya karena ada beberapa pasien yang harus ditanganinya. Bersamaan dengan Vanesh yang muncul dengan wajah semringah.
"Om Tama, apa kabar?" sapanya dengan ceria.
"Baik, kamu sendiri. Bagaimana?"
"Sehat dong,"
"Kemaren baru disuntik campak Om." Vina nyeletuk asal.
"Enak aja loe!" Vanesh tidak terima, sementara Tama hanya menggeleng saja. Ternyata bukan hanya kedua anaknya yang tidak pernah akur, dua anak dari rekannya pun sama saja.
"Yasudah, Om duluan. Ya."
"Oke,"
Vanesh berjalan mendekat pada semua orang, matanya berbinar melihat Gisna di sana. Melihat yang lain, sih, dia sudah muak dan bosan rasanya.
"Kak Gisna,"
"Hay, Vanesh. Apa kabar?"
"Baik, Kakak masih magang di sini?"
"Iya, dua minggu lagi beres, do'ain ya."
"Pasti dong."
"Yasudah, aku duluan."
"Kapan-kapan kita ngobrol banyak, yah. Kak,"
Gisna mengangguk dengan tersenyum.
"Semuanya, duluan ya." pamitnya pada semua orang yang berada di ruangan.
Mereka mengangguk, gadis itu berlalu. Diam-diam Freya memerhatikan ekspresi Agyan, Freya merasa tidak ada yang aneh. Agyan bersikap biasa saja seperti biasanya.
"Yang ketemu mantan terindah!" sindir Vanesh sambil mengangkat dagunya pada Agyan. Agyan mengacak puncak kepala gadis itu.
Freya masih memperhatikannya. Ia tidak cemburu dengan Vanesh yang memang dekat dengan Agyan. Hanya saja Freya merasa gadis itu seperti tidak menyukainya.
"Anak kecik tau, apa!"
"Enak aja anak kecil, udah gede yah."
"Udah gede tapi belum bisa nyetir mobil."
"Punya SIM dapet nembak aja bangga!" gadis itu tidak mau kalah. Dan Agyan memilih mengalah dari pada memperpanjang masalah.
"Masih pada mau disini?"
"Enggak ada niat mau pulang, gitu?" tanya Vanesh kemudian pada orang-orang yang mulai asik sendiri.
"Loe baru nyampe ngusir-ngusir!" cibir Cherry, yang membuat Vanesh mengerucutkan bibirnya.
"Tante, tadi Vanesh mau beli buah, tapi lupa. Itu buah bawaan mereka, 'kan? Barengan aja ya,"
Chrystena hanya tersenyum dan mengangguk mendengar penuturan gadis itu.
"Loe hutang ke gue, goceng!" Morgan mengangkat lima jari tangannya.
"Ke gue juga!" Agyan ikut-ikutan.
"Gue juga!"
"Ke gue sama!"
"Gue juga, nih!"
Tampak hanya Freya dan Braga yang tidak berkata demikian. Freya hanya menggeleng pada gadis itu.
"Ke Kak Braga aku utang berapa, nih?"
"Gak perlu," Braga menyahut seperti biasanya. Seperlunya, santai dan kelewat kalem.
"Kak Braga emang idaman. Sekalian bayarin utangku sama mereka aja, gimana?"
"Ngerayu apa meres, loe?" Vina tidak terima. Vanesh mengabaikannya, ia justru bersikap ala cold girl dalam cerita novel.
Keseruan dan kehebohan terus terjadi di ruangan itu. Sesekali gelak tawa terdengar, sampai menjelang petang. Mereka berpamit pulang. Freya dan Agyan berjalan bersisian dibarisan paling belakang diantara kawan-kawannya.
"Gisna cantik," komemtar Freya yang membuat Agyan menoleh sekilas padanya, kemudian menyahut singkat. "Iya."
"Dia juga dewasa banget keliatannya."
"Iya."
"Kamu masih ada perasaan sama dia."
"Iy—"
Agyan seketika menoleh saat Freya menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba.
"Jawaban kamu iya?"
"Enggak!"
"Enggak apa?"
"Enggak ada perasaan apa-apa lagi!"
"Terus tadi?"
"Aku nggak fokus, kamu nanyanya random."
"Nyalahin aku?"
"Bukan-bukan, aku yang salah karena nggak fokus!"
Freya terdiam, ia melanjutkan langkahnya setengah kesal pada Agyan. Tepatnya cemburu, baru saja ia berpacaran dengan Agyan. Justru perasaannya sudah diuji dengan kecemburuan luar biasa.
Iya, Freya memang mudah cemburu. Tepatnya, ia takut orang yang bersamanya pergi dan lebih memilih orang lain. Ia takut Agyan berpaling dan kembali pada mantannya.
Pelan tapi pasti, Agyan mengganggam kelingking Freya, sejenak membuat gadis itu menoleh dan memilih tidak perduli.
"Frey,"
"Hm"
"Kamu lagi datang bulan?"
"Gak!"
Agyan tertawa pelan, mengecup punggung tangan gadis itu dengan cepat, kemudian menyatukan jari-jemarinya dengan Freya, diam-diam membuat Freya tersenyum meski gadis itu berusaha tidak memperlihatkannya.
"Nanti, kapan-kapan aku cerita soal Gisna kalo kamu mau."
"Asal kamu harus siap hati,"
"Kenapa?"
"Aku nggak mau kalo hati kamu patah."
Freya hanya tersenyum. Ia tidak terlalu menganggap serius ucapan Agyan. Tapi ia juga penasaran dengan Gisna, mantan Agyan.
Keduanya sampai di mobil Agyan, yang lain sudah pada terbang. Hanya kepulan debu dari parkiran rumah sakit yang terlihat.
Agyan dan Freya masuk mobil. Melajukan mobil dan meninggalkan rumah sakit. Mobil terus melaju menembus jalanan ibu kota, di bawah langit sore berwarna jingga.
TBC
Segini dah crazy up, yah❤