Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Adrian dan Kayla berada dalam satu mobil. Mereka duduk berdua berdampingan Adrian sang tuan muda terkenal dengan ketegasannya sekarang malah tak berdaya berada disamping kayla, ingin memulai pembicaraan namun bibirnya kelu.
“Terima kasih, hari ini sudah membelaku,” ucap Kayla memecah keheningan.
“Aku ini suamimu, sudah seharusnya aku melindungimu,” jawab Adrian tegas. “Ke depan, apa pun yang akan kamu lakukan harus memberitahuku.”
Kayla sebenarnya masih belum yakin apakah dia sudah benar-benar menikah atau belum. Mereka saja masih menikah kontrak, jadi dia belum siap menjalani kehidupan suami istri yang sebenarnya. Bagaimanapun Adrian dan dirinya beda kasta, perbedaannya bagaikan langit dan bumi,
Ponsel Adrian berdering. Adrian mengangkatnya.
“Ada apa, Nek?” tanya Adrian.
“Bawa Kayla ke Toko Mas Mahkota sekarang,” ucap Maharani.
“Baik, Nek.” Adrian menjawab, lalu sambungan terputus.
“Nenek minta ketemu di Toko Mas Mahkota,” ucap Adrian sambil menatap Kayla.
“Baik,” jawab Kayla pelan.
Mobil melaju membelah jalanan kota. Hujan turun rintik-rintik. Kayla sesekali melihat Adrian dengan tatapan malu-malu, masih tak percaya apakah lelaki itu serius dengan pernikahan mereka atau tidak. Sejak kecil diperlakukan buruk oleh keluarga membuat Kayla selalu waspada kepada orang yang tiba-tiba baik padanya. Dalam pikirannya sudah tertanam bahwa seseorang yang berbuat baik pasti ada maunya.
Tak lama kemudian, mobil sampai di sebuah pertokoan mewah. Adrian menggenggam tangan Kayla erat. Kayla perlahan merasa terlindungi.
Di sebuah toko perhiasan, Maharani sudah menunggu tak sabar.
“Kayla, bagaimana keadaan kamu? Baik-baik saja?” tanya Maharani sambil memegang pundak Kayla, melihatnya dari atas ke bawah untuk memastikan kondisinya baik-baik saja.
“Aku baik-baik saja, Nek. Jangan khawatir,” jawab Kayla.
“Kayla, ke depan kalau ada yang menghina kamu jangan diam saja. Kamu harus melawan. Terakhir mendengar kamu dipukuli oleh keluarga kamu, hampir saja aku terkena serangan jantung. Kamu harus bisa melawan. Tenang saja, keluarga Wijaya akan selalu membela kamu,” ucap Maharani tulus.
Kayla merasakan kehangatan, hampir saja air matanya menetes dari pelupuk matanya.
“Terima kasih, Nek,” ucap Kayla dengan suara agak serak menahan haru.
“Kayla,” ucap Maharani tulus, “pesta pernikahan kamu harus segera dilakukan dengan meriah.”
Kayla buru-buru menjawab, “Nenek, aku dan Adrian tidak akan…”
“Tidak akan melakukan pesta pernikahan ala Barat. Kita akan melakukan pesta pernikahan tradisional, Nek.”
Kayla melihat Adrian tak percaya sambil bergumam dalam hati, “Bukankah pernikahan kita akan dirahasiakan? Kenapa harus mengadakan pesta?”
“Oh, baguslah,” ucap Maharani dengan senyum sumringah. “Kayla akan sangat cocok memakai kebaya tradisional. Nanti aku akan carikan desainer ternama untuk merancang gaun pernikahan kamu.”
“Terima kasih, Nek,” ucap Kayla, walau dengan perasaan heran.
“Sekarang kamu pilih perhiasan mana yang kamu suka. Ini hadiah dari Nenek karena mau menikah dengan cucu nakal Nenek ini,” ucap Maharani sambil menunjuk beberapa etalase.
Kayla melihat beberapa perhiasan di dalam etalase. Semuanya bagus-bagus dengan harga mahal. Paling murah saja dibanderol 50 juta untuk sebuah cincin mungil.
“Yang itu saja, Nek,” tunjuk Kayla, memilih perhiasan paling murah.
“Selera kamu bagus sekali, itu sangat cocok untuk kamu,” ucap Maharani.
“Kalian, tolong bungkus yang itu,” tunjuk Maharani pada perhiasan yang dipilih Kayla.
Namun Maharani tidak berhenti di situ. “Sekalian ini, yang ini,” katanya sambil menunjuk sebuah perhiasan paling mewah. “Dan ini… pokoknya semua yang ada di etalase bungkus semua.”
Mata Kayla terbelalak. Maharani memborong semua perhiasan yang ada di toko.
“Nenek, jangan berlebihan. Tanganku hanya dua, jariku hanya sepuluh. Bagaimana aku menggunakannya?” seru Kayla heran.
“Kamu bisa pakai bergiliran. Setiap hari kamu harus memakai perhiasan yang berbeda. Lagipula emas itu bukan pemborosan, tapi investasi, dan ke depan bisa diwariskan pada anak kamu,” jelas Maharani santai.
“Kalian,” ucap Maharani sambil menatap para penjaga toko, “tolong hitung semuanya ya.”
“Baik, Nyonya besar,” jawab penjaga toko dengan senyum sumringah. “Anda beruntung sekali. Biasanya pengantin hanya mendapat satu set perhiasan, tapi Anda dibelikan satu toko.”
Kayla terdiam. Dia masih syok melihat perhiasan sebanyak itu.
Tak lama kemudian, petugas selesai menghitung. “Jumlahnya 20 miliar.”
“Adrian, bayar,” perintah Maharani tanpa ragu.
Adrian tersenyum bangga, sama sekali tidak terbebani dengan angka sebesar itu. Tanpa ragu, ia mengeluarkan dan menyerahkan kartu black card miliknya kepada petugas.
Petugas segera menggesek kartu tersebut, dan pembayaran pun berhasil. Kayla terperangah. Sekali belanja langsung 20 miliar. Itu adalah jumlah uang yang bahkan tidak pernah berani ia bayangkan sebelumnya.
“Nenek, ini terlalu banyak,” ucap Kayla lagi.
“Tenang saja, aku rela kok kamu menghabiskan semua uang Adrian,” jawab Maharani santai.
Maharani lalu menatap petugas toko. “Aku pesan mahkota pernikahan untuk cucuku. Lapisi dengan berlian, ya. Nanti saat pernikahan, mahkota itu harus sudah jadi.”
Tentu saja petugas itu tersenyum ceria mendengar permintaan tersebut. “Baiklah, baik, Nyonya besar,” katanya.
Kemudian Maharani mengeluarkan sebuah kartu black card lain dan menyerahkannya kepada Kayla. “Kayla, ini untuk kamu. Saldonya mungkin sekitar 2 miliar. Kamu harus habiskan, ya.”
“Nenek, ini berlebihan,” ucap Kayla sambil berusaha menolak.
“Kayla,” bisik Adrian pelan, “tolong terima saja, biar Nenek tidak sedih.”
Dengan tangan gemetar, Kayla akhirnya menerima kartu itu. Ia bahkan bingung harus menggunakannya untuk apa, apalagi menghabiskannya.
“Kalian ini pengantin baru harus sering menghabiskan waktu berdua. Adrian, ajak jalan-jalan Kayla. Nenek mau pulang dulu,” ucap Maharani kemudian. Ia pun berpamitan dan meninggalkan mereka berdua.
Setelah Maharani pergi, Kayla mengulurkan tangannya sambil memberikan kembali black card milik Maharani.
“Aku tidak bisa menggunakan ini,” ucapnya.
“Itu untuk kamu. Kalau kamu menolaknya, berarti kamu tidak menghargai Nenek,” jawab Adrian tegas.
Kayla bingung. Ia menikah dengan Adrian hanya untuk memberi status pada anak yang ia kandung. Namun jika Adrian dan keluarganya terlalu loyal padanya, ia takut akan timbul masalah di kemudian hari. Di sisi lain, ia juga tidak ingin menyakiti hati Nyonya Maharani. Akhirnya, ia memasukkan kartu itu ke sakunya.
“Lalu untuk pesta pernikahan kita bagaimana? Kita kan sudah sepakat untuk merahasiakan pernikahan ini,” tanya Kayla.
Adrian menghela napas panjang. “Nenek sangat suka padamu, apalagi kamu mengandung keturunan Wijaya, kembar lagi. Jadi wajar kalau beliau ingin mengadakan pesta.”
“Tapi kita sudah sepakat, kan?”
“Ya sudah kalau begitu,” ucap Adrian dengan wajah lelah. “Aku akan bilang ke Nenek kalau pernikahan kita hanya kontrak. Aku juga akan siapkan dokter terbaik dan ambulans, karena aku takut Nenek kena serangan jantung kalau tahu yang sebenarnya.”
“Jangan… jangan disembunyikan lagi. Lakukan saja keinginan Nenek, kita ada pesta pernikahan” ucap Kayla spontan.
Dalam hati, Adrian terlonjak bahagia. Ternyata Kayla sangat menghargai Neneknya