Justin menarik tangan Jihan, mereka lalu menaiki balon udara itu. Para genk abatasa membantu pelepasan balon udara. Perlahan lahan balon udara itu bergerak keatas, tinggi dan semakin meninggi. Semua yang menyaksikan dibawah sangat terpesona melihat Justin dan Jihan diatas.
"Hore.. Justin.. Jihan"
"Justin.. Jihan.. bahagia selalu kalian"
Orang orang dibawah kompak menyuarakan teriakkan kebahagiaan untuk Justin dan Jihan.
"Aku yang menyiapkan kejutan ini untuk kamu jihan"
"Justin kamu romantis banget" ucap Jihan, kedua matanya berkaca kaca
Justin tersenyum berdiri mendekati Jihan.
"Boleh kah aku memelukmu, Jihan?"
"Silakan Justin, peluk aku semau mu, karena sekarang aku sudah sah jadi istri kamu"
Justin memeluk Jihan dengan waktu yang lama, tangan Jihan pun merangkul erat tubuh Justin. Kedua nya sama sama terpejam, Justin lalu melepaskan pelukan nya dan mengecup kening Jihan di udara. Kemudian mereka duduk berdampingan menatapi awan awan. Jihan menyadarkan kepalanya dipundak Justin.
Jangan lupa Like, Comen, Vote, Tip Dan Rate 5 nya ya guys, semoga suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za N_STAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Dengan sabar Justin menunggu sate-sate itu matang. Setelah selesai Justin lalu membayar ke si abang sate dan langsung mengantarkannya pada Jihan. Justin sengaja membeli banyak karena sekalian diberikan untuk abi Akbar dan umi Linda.
Sesampainya didepan pagar rumah abi Akbar Justin kembali menelepon Jihan. Dengan sigap Jihan keluar kamar dan membuka pintu depan rumah, ia terus berjalan dan lalu membukakan pagar agar mobil suaminya bisa masuk. Justin lalu keluar dari pintu mobil sambil membawa tentengan plastik kresek hitam besar yang berisi 50 tusuk sate ayam. Jihan tersenyum tanpa memakai cadarnya melihat suaminya datang menghampiri.
"Ini pesanan kamu sayang. Sekalian buat abi sama umi!"
Jihan langsung memeluk Justin.
"Terima kasih sayang yang udah bikin repot kamu. Sebenarnya aku engga terlalu pengin sate ayam, aku cuma kangen sama kamu!"
Justin mengharu, ia memahami perasaan Jihan sambil membelai-belai lembut kepala istrinya kemudian mengecup ubun-ubun yang diselimuti kerudung hitam.
"Iya gapapa sayang. Aku juga kangen sama kamu, kita masuk kedalam yuk!"
Jihan dan Justin masuk kedalam rumah setelah menutup pagar dan mengunci. Dengan pelan Jihan mengetuk kamar abi dan umi meski ia tidak enak hati. Umi Siti sempat kaget ketika Jihan membangunkan dan memberikan beberapa tusuk sate. Setelah mendengar penjelasan dari Jihan barulah umi siti mengerti. Abi Akbar hanya tersenyum-senyum kecil sambil duduk diatas tempat tidurnya setelah mendengar celotehan dari keponakannya itu.
Jihan kembali masuk kamar, Justin sudah duduk menunggunya di bawah tempat tidur sambil memegang setusuk sate ayam.
"Ayo makan sayang, aku suapin," ucap Justin.
Jihan duduk menghadapi suaminya, ia tersenyum lalu menyuap sate itu yang di ulurkan dari tangan Justin. Tak luput Jihan pun menyuapi setusuk sate kemulut Justin.
"Kamu juga makan yah sayang ..."
"Aku udah kenyang sayang, tadi habis makan!"
"Enggak! Pokoknya kamu harus makan juga, masa cuma aku aja!"
Justin menghargai istrinya, ia lalu menyuap sate itu.
Selesainya makan sate, Justin berterus terang kepada istrinya tentang kedatangan Cici kerumahnya tadi.
"Tadi Cici datang kerumah, dia bawa makanan terus bantuin beres-beres rumah. Katanya dia cuma sekedar membantu dan sebagai tanda terima kasihnya sama aku. Habis itu dia pulang kekontrakannya sama taksi online. Sumpah, kedatangan Cici tadi tidak berpengaruh apa-apa buat hati aku. Karena hatiku cuma ada kamu, Jihan. Istriku ..."
Jihan kembali memeluk erat suaminya.
"Aku percaya sama kamu sayang. Dari pertanda itu pula kenapa aku mendadak pengin dibelikan sate dan menyuruh kamu kesini, karena aku kangen dan ingin dimanja sama kamu malam ini," tutur Jihan.
Sebelum keberangkatan Justin kekantor, Jihan sekali lagi meminta izin kepada suaminya bahwa siang nanti ia akan pergi ke madrasah yang berjarak tak jauh dari rumah abi Akbar untuk bantu mengajar anak-anak pengajian.
"Sayang, bener kan nanti kamu mengizinkan aku ngajar di madrasah Darul Salam?"
"Iya, sayang. Aku izinin kok, tapi kamu kan lagi hamil apa engga ganggu fisik kamu?"
"Malah kalo perempuan hamil itu memang harus banyak dibawa gerak sayang biar peredaran darah lancar, lagian aku juga bosan kalo gak ada kegiatan!"
"Iya deh, terserah kamu yang penting kamu jaga diri dan anak kita yang ada dalam perut kamu baik-baik!"
"Oke tuanku Justin!"
Justin mengusap-usap canda kepala Jihan, kemudian Justin berpamitan pergi kekantor dengan mobil pribadinya. Abi Akbar dan Umi Linda tersenyum menyaksikan dari dalam rumah memandanginya dari dalam kaca jendela.
"Syukurlah kalo mereka rukun, mudah-mudahan Justin dan Jihan selalu bisa melewati ujian-ujiannya dengan selalu teguh dan istiqomah ya, Bi!" tutur umi Linda.
"Iya, umi. Abi selalu bangga sama mereka, Justin dan Jihan adalah suami istri yang mempunyai aqidah yang baik. Mereka selalu menjadikan Al-quran dan sunah rosulullah sebagai panutan kehidupan rumah tangganya!"