Hati sejatinya tak bisa terbagi...
Cinta tak seharusnya menyakiti...
Tapi ... Kenapa aku berani membagi hati?
Kenapa aku menyakiti dua lelaki yang mencintaiku? Bahkan dengan gila-nya aku mencintai sama rata mereka berdua!
__Simak aja yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pamer.
Erza masuk dengan lesu ke dalam kamarnya, dia mengambil ponselnya. Dia mengirim pesan lewat WA.
[ Deva, bisakah besok kita bicara? Aku ingin menjelaskan soal tadi siang. Nama perempuan itu Delia, dia hanya temanku. Aku hanya ingin memanasimu, membuatmu cemburu... Beri aku kesempatan bicara padamu. Maaf...]
Erza masih setia menatap WA-nya, menunggu balasan dari Devara tapi perempuan itu hanya membacanya tanpa membalas.
"Hahhhhh... " akhirnya Erza menaruh ponselnya lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh lengketnya.
Di atas tempat tidur sederhananya, Devara membaca ulang pesan WA dari Erza. Dia ingin membalas tapi rasa kesalnya pada pria itu masih menohok hatinya. "Membuatku cemburu? Huh! Memangnya zaman sekarang meraih hati seseorang masih zaman ya bikin orang gerah!"
Devara menyipitkan matanya, "Apa aku harus membuat Erza kepanasan juga sebelum aku menerima dia? Sony sudah punya pacar belum ya, lumayan buat manasin Erza."
Pikiran konyol itu terbesit begitu saja dalam benak perempuan yang masih kesal itu.
Esoknya mobil Erza sudah nangkring pagi-pagi di depan gerbang, Devara mendorong gerbang ke samping seperti biasa. Bola matanya membulat melihat Erza sudah rapi dengan setelan kantorannya sedang berdiri bak foto model di samping mobil begitu bergaya.
"Ngapain pagi-pagi?" Devara langsung nyamber.
"Pagi-pagi jangan galak-galak, Beb. Aku ingin bicara sebelum bekerja, biar hatiku adem." Jawab Erza seraya berjalan mendekat.
Lelaki itu nyelonong aja masuk melewati jalan gerbang yang terbuka, dia lalu duduk begitu saja di kursi teras.
"Enak kayaknya kalau ngopi dulu, Va. Bikinin calon suamimu ini kopi dong," ujar pria yang sedang tahap mengambil kembali hati wanitanya.
"Enggak ada kopi, lagi kosong." Jutek Devara.
"Su su cokelat hangat, boleh juga," celetuk Erza lagi.
"Nggak ada, kosong."
Erza menatap geli pada Devara bukannya kesal, "Kalau gitu, teh?"
"Enggak ada juga!"
"Air putih deh, air mentah dari kran juga boleh."
"Ish! Kamu, Za!"
"Deva, suguhin aja kopinya. Kopi banyak di dapur, Mama udah belanja kemarin," sang Mama keluar karena mendengar keributan di depan rumah.
Erza berdiri mendekat lalu bersalaman, "Pagi, Tante. Saya Erza, teman kerja Deva di kantor."
"Oh, temannya. Ya, ampun... Nak Erza maafin putri Tante ya, Deva emang kadang-kadang pikirannya kayak anak kecil. Pasti kalian lagi marahan, makanya Deva jutek sama kamu," Mama Deva sangat ramah dan welcome.
Erza tersenyum senang ternyata calon mertuanya sangat baik, PD aja dulu! Calon mertua! Ahayy!
"Iya Tante, jutek banget nih Deva. Padahal saya udah minta maaf, terus sengaja datang kesini subuh-subuh. Belum sarapan, minum segelas air putih aja belum," Erza membuat wajahnya semenyedihkan mungkin mencari simpati dari camer-nya.
"Idih!
"Deva, bawa masuk tamunya ke dalam. Nggak baik ada tamu dateng nggak disuguhin."
"Tapi Mah, Deva harus berangkat kerja. Entar telat gimana."
"Aku akan telepon kepala divisi kalau kamu bakal datang telat, tenang aja Deva," Erza mengedipkan sebelah matanya.
"Loh, kok nak Erza yang telepon. Harusnya Deva yang minta ijin," Mama Deva belum mengerti.
"Saya sebenarnya atasan Deva di Perusahaan, Tante. Jabatan saya masih diatas kepala divisi di kantor Deva, hehe..." cengirnya.
Mata sang Mama terbelalak.
"Pameerrrr..." Deva masuk ke dalam tak ingin lebih dimarahi Mamanya. Ia berjalan ke dapur membuat kopi, tak lama ia kembali ke ruang tamu.
"Ini, kopinya. Kalau pahit ambil sendiri gulanya," Deva masih betah dengan kejutekannya.
Dia mempunyai ide, buru-buru dia menelepon nomer Sony yang sudah ia save di ponselnya.
"Halo?" suara serak berat terdengar dari ujung sana.
"Halo, Mas Sony... aku Devara. Bisa ketemu nanti siang?"
"Ketemu?"
"Untuk membahas sesuatu?"
Lama tak ada jawaban dari si penerima telepon. "Oke, kirim saja alamat pertemuannya."
"Oke," Devara mematikan panggilannya, saat berbalik Erza sedang menatapnya dengan tatapan menusuk.