Apakah sesulit itu kau mencintai aku. Sehingga aku bagaikan bayangan dimatamu. Aku ingin kau melihat ku sekali saja, melihatku sebagai kekasihmu.sebelum aku mulai menyerah dan memilih pergi dengan sikap dingin mu itu. Kapan es itu mencair? Dan kapan senyum terbit di bibirmu? senyum untuk ku.
_Yuna Delisia Putri-
Aku tak menganggap mu sebagai kekasih ku, Walaupun kau adalah kekasih ku. Bahkan aku ingin kau pergi dari hidupku, Pergi jauh dari hidupku.
_Alfran Mahendra_
Apakah Yuna sanggup bertahan dengan Alfran yang tak menganggap ia sebagai kekasih. Dan apakah Alfran akan mencintai Yuna setelah Yuna ingin mulai menyerah dan melepaskan Afran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafitri wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
...Happy reading...
*****
Angga tidak tega melihat adiknya lemas seperti ini sehabis melakukan kemoterapi yang membuat adiknya itu mual dan muntah. Bahkan Yuna masih bisa tersenyum tipis dengan mata yang berkaca-kaca ketika melihat rambutnya yang mulai rontok, efek dari kemoterapi yang membuat Yuna mungkin kehilangan rambut indahnya. Bagi Angga adiknya itu masih terlihat sangat cantik walau tanpa rambut sedikit pun, ia mengelus pipi Yuna dengan penuh sayang. Jika bisa Angga ingin sekali menggantikan posisi adiknya yang sekarang, lebih baik Angga yang sakit dari pada Yuna yang sakit seperti ini. Kakak kandung mana yang tega melihat adik kandungnya sakit parah dan tak berdaya seperti ini? Apalagi ketika mendengar suara lirih Yuna mengatakan sakit ketika melakukan kemoterapi. Angga tahu apa yang di rasakan adiknya tersebut, hingga Angga memejamkan mata dan tak sadar air matanya menetes begitu saja ketika mendengar suara kesakitan Yuna.
"Kak?" panggil Yuna dengan lirih kepada Angga yang masih terdiam di sampingnya sebenarnya ayah dan bunda mereka berdua sudah berada di luar ruangan, tetapi Angga mengatakan kepada orang tuanya agar jangan menemui Yuna terlebih dahulu karena kondisi Yuna yang belum stabil apalagi dapat di pastikan sang bunda akan menangis yang membuat Yuna akan berpikir sedih yang akan mempengaruhi kesehatannya tersebut.
"Iya, Dek." Angga bersuara dengan mengelus rambut Yuna dengan lembut.
"Ayah dan Bunda enggak tahu kan Yuna melakukan kemoterapi?" tanya Yuna dengan lirih.
Angga terdiam yang membuat Yuna langsung mengerti jika kedua orang tuanya sudah tahu keadaanya. "Aku enggak mau membuat Ayah dan Bunda bertambah sedih, aku enggak mau Kak!" ucap Yuna dengan lirih.
"Heyy... Tidak ada orang tua yang tidak bersedih melihat keadaan anak kesayangannya seperti ini. Tapi kamu harus membuktikan kepada Ayah dan Bunda kalau kamu bisa bangkit dan membuat mereka tersenyum lagi. Mana Yuna yang Kakak kenal hmm?" ucap Angga meyakinkan adiknya bahwa ia harus semangat.
"Tapi aku enggak yakin bisa bertahan lama," ucap Yuna dengan mata yang berkaca-kaca.
Ponsel Angga yang terhubung dengan kedua orang tuanya membuat Angga merasakan nyeri di hatinya karena dapat di pastikan Bunda Yuliza sudah menangis di luar sana karena mendengar ucapan Yuna yang sangat menyayat hati mereka. Angga tidak bisa berkata apa-apa saat adiknya berucap seperti itu seakan bibirnya keluh.
"Aku mau pulang!" ucap Yuna dengan lirih menatap Angga dengan wajah memelasnya. Ia sudah tidak betah berada di rumah sakit, Yuna ingin di rawat di rumah seperti biasa.
"Kak, Yuna mau pulang! Kenapa Kakak diam saja?" ucap Yuna yang ingin duduk namun langsung di cegah oleh Angga.
"Iya kita akan pulang, tapi kamu harus janji akan sehat seperti biasa ya, Dek."
"Yuna enggak bisa janji, Kak. Tapi Yuna akan terus berusaha agar Yuna bisa sembuh walau harapan itu sangat tipis sekali."
"Jangan menyerah, Dek. Kakak akan berusaha semampu Kakak untuk bisa menyembuhkan kamu dengan izin Allah dan kamu harus yakin semua itu."
"Iya, Kak. Bagaimana dengan Clara? Apa Kakak sudah bertemu dengan Clara?" tanya Yuna yang memang sangat mengkhawatirkan sahabatnya tersebut yang sama sekali tidak ada kabar.
"Kakak belum bisa menemuinya bahkan ponselnya saja tidak aktif," jawab Angga dengan lirih.
"Kakak cari Clara di apartemennya ya? Siapa tahu Clara ada di sana."
"Iya besok Kakak akan cari Clara sekarang Kakak ingin bersama kamu. Kamu juga mau pulang kak, Dek?" ucap Angga dengan tersenyum walau dalam hati ia mengkhawatirkan Clara yang hanya tinggal sendiri tanpa orang tua. Angga takut terjadi sesuatu dengan Clara saat dia tidak bisa menemani gadis itu.
"Aku enggak apa-apa, Kak. Kakak cari aja Clara dan aku pulang bersama Ayah dan Bunda. Aku tahu mereka ada di sini, kan?"
"Kamu yakin, Dek?"
"Aku yakin, Kak. Kakak enggak mau kan terjadi sesuatu dengan Clara di luar sana?Terlebih Clara hanya tinggal sendiri, Kak. Pasti dia sedang banyak pikiran karena kedua orang tuanya bercerai, aku enggak mau terjadi sesuatu dengan Clara, Kak."
"Iya Kakak akan cari Clara sekarang tapi setelah mengantar kamu pulang bersama dengan Ayah dan Bunda."
Bagi Yuna. Clara bukan hanya sekedar sahabat tetapi saudara yang akan menjadi kakak iparnya karena ia tahu Angga sangat mencintai Clara.
********
Sehabis mengantarkan Yuna dan kedua orang tuanya pulang, Angga benar-benar mencari Clara di apartemen gadis itu. Angga tahu password kamar Clara karena apartemen ini juga pemberiannya untuk Clara. Angga masuk ke apartemen Clara, suasana sepi sangat terasa bahkan lampu sama sekali tidak menyala. Angga menyalakan lampu dan betapa kagetnya ia ketika melihat apartemen yang biasanya rapi kini sangat berantakan sekali. Angga juga sudah memghubungi ponsel Clara tetapi sampai sekarang tidak aktif membuat Angga sangat khawatir dengan Clara. Ia mulai membereskan apartemen Clara walau ia lelah tetapi tak mungkin membiarkan semuanya berantakan begitu saja.
"Dimana kamu Sayang?" gumam Angga yang semakin Khawatir hingga ia mendengar suara pintu terbuka menampilkan wajah lelah Clara. Gadis itu juga tak tahu kehadiran Angga di apartemennya hingga suara deheman Angga membuat Clara terlonjak kaget dan membelalak matanya karena harus bertemu dengan Angga sekarang juga.
"Dari mana kamu?" tanya Angga dengan dingin membuat Clara takut dengan tatapan Angga padanya yang begitu sangat mengimidasi.
Angga semakin mendekat ke arah Clara, tatapannya semakin menyelidik ke arah Clara yang menggunakan baju seperti pelayan cafe tersebut.
"Dari mana kamu?" tanya Angga sekali lagi dengan nada yang semakin dingin membuat Clara semakin ketakutan.
"Kamu kerja?"
"Jawab aku Clara!" ucap Angga dengan membentak Clara yang membuat gadis itu memejamkan matanya karena takut atas kemarahan Angga padanya.
"Aku capek, Kak. Sebaiknya Kakak pulang," ucap Clara dengan nada gemetar.
"Kamu seenaknya menyuruh Kakak pulang? Kamu tahu gak kalau kakak tidak ada istirahat sedari tadi karena mengkhawatirkan kamu yang tidak ada kabar sama sekali. Kamu tahu Kakak sangat khawatir dengan keadaan kamu saat ini, tapi kamu seenaknya mengusir Kakak?"
Angga mengusap wajahnya dengan kasar ia ingin sekali berteriak sekarang untuk meredamkan rasa kesal dan khawatirnya saat ini.
Bughh...
"Arghhhhhh."
Darah segar mengalir dari tangan Angga setelah meninju tembok dengan kerasnya Clara yang tadinys memejamkan mata menjadi histeris saat membuka mata dan melihat darah sudah bercucuran dari tangan Angga.
"Kak itu tangannya," ucap Clara dengan cemas ia ingin memegang tangan Angga. Namun, langsung di tepis oleh pria itu.
"Ini gak sakit sama sekali! Saya mau pulang, kamu istirahat," ucap Angga dengan datar dan mulai melangkah keluar dari apartemen Clara. Ia merasa kecewa dengan sikap Clara saat ini.
Grep...
Angga merasakan tangan Clara memeluknya dari belakang, gadis itu semakin erat memeluknya tanpa bisa Angga lepaskan akhirnya Angga membiarkan Clara memeluknya hingga suara gadis itu yang membuat sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman tipis.
"Jangan pergi, Kak!"