Nada Aruna Lya seorang perempuan dewasa terpaksa menikah dengan Fardanu Satya Aji seorang bocah SMA hanya karena kesalahan satu malam yang tak sengaja mereka perbuat, mereka terpaksa terjebak dalam suatu hubungan pernikahan yang menurut Nada sangatlah absurd karena dalam kamusnya tak ada pernikahan dengan seorang laki-laki yang umurnya berada dibawahnya.
Akankah pernikahan mereka akan terjalin selamanya? Ataukah hanya sementara waktu?
"Gue enggak nyangka gue bisa nikahin bocah ingusan kayak lo!!" sentak Nada kesal, namun Danu hanya menatap Nada tenang seakan tak terpengaruh akan perkataan Nada yang mengejeknya.
"Bocah ingusan yang kamu bilang ini bisa memberikanmu kepuasan loh, apa kamu lupa?" Danu tersenyum menatap Nada yang kini melotot.
Penasaran dengan kisah mereka? Ayo dibaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Simiftahul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Mau Liburan
Tak terasa Danu sudah menyelesaikan semua ujian yang ada disekolahnya, mereka diliburkan selama satu minggu karena disekolah tengah ada persiapan untuk acara graduation kelas XII. Danu sih senang-senang saja dia libur, tapi dia inginnya libur bersama istri tercinta. Rasanya suntuk sekali berada dirumah yang terlihat sepi ini, istrinya itu masih bekerja dikantornya. Untuk apa coba dia libur begini kalau tidak bisa kemana-mana, tadi sebelum sang istri pergi dia berpesan pada Danu bahwa pria itu tidak boleh keluar tanpa seizinnya. Lah kok rasanya kebalik gini sih? Dimana-mana tuh ya istri yang izin pada suaminya mau pergi kemana. Kalau dia? Harus selalu wajib lapor pada sang istri, katanya Nada takut kalau sampai Danu diculik terus dijual organ dalamnya. Ada-ada saja, mana ada sih yang mau menculik Danu dengan tubuh sebesar dirinya ini.
Menghabiskan waktu sambil menunggu istri tercinta pulang akhirnya Danu memutuskan bermain play station diruang keluarga, daripada bermain dikamar nanti kalau ada setan lewat gimana coba? Bisa digondol dirinya nanti. Sedang asyik-asyiknya bermain PS, suara bel pintu berbunyi membuat dia menghentikan permainannya. Bi Siti tengah sibuk didapur, mana mungkin dia merepotkan wanita paruh baya itu hanya untuk membukakan pintu bagi tamu.
"Iya sebentar!!" Teriak Danu.
Sepertinya yang datang itu bukan tamu, tamu mana coba yang langsung masuk kedalam rumah dengan lancang padahal si tuan rumah belum mengizinkan masuk. Mereka adalah teman-teman Danu termasuk si James, pria yang dikatai istrinya bocah genit karena sering menggelendot manja padanya. Danu sih sudah biasa mendapat perlakuan anggapan rumah sendiri dari temannya, toh dia juga kalau pergi kerumah temannya juga begitu.
"Haus banget gue, minta minum Dan..." Itu si Beni yang berkata seenak jidatnya sambil mendudukan dirinya disofa yang tadi Danu duduki.
"Bikin sendirilah sana, biasanya kan begitu." Dengus Danu kesal karena dia itu tidak suka diperintah-perintah.
"Tapi status lo kan beda, gak lagi lajang. Lo masih ingetkan apa yang dilakukan istri lo saat gue lancang masuk dapur?" Dan perkataan Beni itu sukses membuat pikiran Danu melayang ke kejadian beberapa minggu yang lalu.
Ah iya Danu masih ingat sekali, istrinya itu marah-marah sambil mengomeli Beni dengan tangan yang bertengger manis ditelinga pria itu sambil mengatakan 'Tamu itu harus tau sopan-santun, lo kok gak ada akhlaknya main nyelonong masuk kedapur orang hah!!?' mereka auto ngakak melihat Beni yang urakan itu dijewer oleh Nada yang galak.
"Iya deh iya, gue panggilin Bisa Siti dulu suruh ambil minuman." Danu akan beranjak namun suara teman yang lainnya menghentikannya.
"Minuman yang segar ya, pake es batu. "
"Eh jangan lupa bawa cemilan juga, masa cuma cemilan doang?"
"Keripik singkong harus ada pokoknya."
"Eh iya, buah-buahan ada gak?"
"Yang banyak ya..." Danu berbalik untuk menatap kelima tengahnya yang tengah menyengir.
"Kalian pikir rumah gue supermarket apa? Segala macam makanan harus ada, suka-suka gue dong mau kasih kalian apa. Kalau perlu gue tambahin sianida aja biar ****** lo pada." Jengkel Danu yang hanya dibalas cengiran kelima temannya.
"Danu jangan marah dong, kita semuakan cuma minta. Kalau Danu sabar Mbak Nada pasti makin cinta deh." James menghampiri Danu untuk mengelus lengannya manja membuat Danu segera menepis tangan itu.
"Kata Nada lo gak boleh sentuh gue, dia jijik pegang-pegang gue kalau tau gue disentuh lo." Bukannya tersinggung, James malah tertawa ngakak.
"Sensi amat si Tante, udah sana lo bawain minuman. Tamu itukan harus dilayani layaknya raja? Betul gak teman-teman?"
"Betul..."
Danu mendengus kesal sebelum meninggalkan teman-temannya menuju dapur, kalau saja mereka bukan temannya sudah Danu kasih beneran sianida didalam minuman mereka. Sampai didapur, dia melihat Bi Siti tengah memasak.
"Bi..." Panggil Danu membuat Bi Siti menoleh.
"Iya Tuan?"
"Tolong buatkan minuman untuk teman-teman Danu ya Bi? Bawakan cemilan juga apa aja deh terserah Bibi." Setelah mendapatkan anggukkan Bi Siti, Danu kembali menuju ruang keluarga dimana teman-teman laknatnya tengah disana.
"Eh mana Dan? Lo kok cuma bawa diri lo sih? Minuman sama cemilan kita mana?" Tanya Adi beruntun ketika Danu telah tiba dihadapan mereka.
"Rio, lo bisa beliin gue lakban gak? Gue pengen nutup mulut kalian semua yang bisanya berisik terus." Ucap Danu pada Rio yang hanya diam, diantara mereka berlima Rio memang orang yang paling pendiam. Kadang Danu heran, mulut Rio itu gunanya apa sih kalau bukan untuk ngomong? Masa cuma buat makan doang.
"Hahaha... Kasihan lo gak ditanggepin, Rio yang lempeng gitu lo ajak ngomong." Ucap Beni menertawakan Danu yang memberengut kesal.
"Benar kata istri gue kalau kalian itu tamu gak beradab, kalau aja dia ada disini udah dijewer semua telinga kalian sampai copot." Sungut Danu kesal ketika mereka semua menertawakan Danu.
"Eh Dan, lo mau ikut kita gak?" Tanya Feri tiba-tiba.
"Kemana?"
"Rencananya kita mau liburan ke Bali, ya jalan-jalan gitu setelah berbulan-bulan mengalami masa suntuk." Danu sih mau liburan tapi apa istrinya itu mengizinkan ya?
"Gue sih mau aja, tapi- ...."
"Ah lo pasti mikirin istri lo, tenang lo boleh kok ajak dia. Soalnya kita semua juga pada bawa pacar." Mata Danu membulat mendengarnya.
"Gila lo pada ngajakin anak gadis orang liburan, jangan bilang kalau kalian semua juga nanti tidurnya sekamar sama pacar kalian." Tuding Danu.
"Ya enggak lah, Nanti cewek-cewek satu kamarnya dua orang atau tiga orang sama kayak yang cowok terus kalau lo mau sekamar sama istri lo ya silahkan." Danu terlihat menimbang.
"Gue izin dulu deh nanti, dia mau apa enggak." Teman-temannya berdecak mendengar ucapan Danu.
"Pake izin segala sih lo? Mau apa enggak nih? Lo tuh suami harusnya istri lo yang apa-apa izin kalau mau ambil keputusan, bukannya kebalik gini." Omel Adi gemas dengan tingkah Danu.
"Tapi kata istri gue kalau dia yang jadi kepala rumah tangga, sedangkan gue yang jadi babu rumah tangga hanya bisa menurut dan izin kalau mau kemana." Sontak teman-temannya melongo mendengar perkataan Danu, temannya ini polos atau pintar sih? Kok otaknya itu kayak gak dipake buat mikir, mau aja dikibulin istrinya.
"Danu, bagaimanapun juga lo tuh suami jadi lo yang jadi kepala rumah tangga bukannya malah istri lo. Gue gak habis pikir kenapa lo mau nurut-nurut aja sama perkataan istri lo astaga!! Lo terlalu bucin ternyata." Kali ini James yang bersuara dengan tingkah yang berlebihan, Danu mendengus melihatnya.
"Kayak kalian gak bucin aja kalau sama pacar kalian, coba kasih tau gue siapa ya yang mau-maunya nganter pacarnya setiap hari ke mall padahal duitnya udah menipis? Siapa ya yang mau-maunya nyemplung empang karena ikan kesayangan pacarnya tenggelam disana? Coba kasih tau gue siapa dia?" James dan Adi langsung diam karena memang mereka sebucin itu pada pacarnya.
"Padahal masih pacar belum tentu juga nikah, contoh nih gue suami yang penuh kasih sayang sama istrinya." Ucap Danu membanggakan dirinya sendiri membuat yang lainnya mendengus karena telah skakmat.