Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 6- Antara hidup dan mati
Ep. 6- Antara hidup dan mati
TIT... TIT... TIT... TIT... BEEEEEEEP!
Suara monitor detak jantung dari dalam ruang Critical Care melengking nyaring, memotong keriuhan di sekitar UGD bagai alarm kematian.
Suara monitor itu mendadak berubah menjadi nada datar yang memanjang, sebuah pertanda mengerikan bahwa detak jantung seseorang telah terhenti.
"Pasien di Bed 1 mengalami cardiac arrest! Tekanan darah merosot tajam! Ambilkan alat defibrilator sekarang!" teriakan seorang dokter pria menggema dari balik pintu kaca yang tebal.
Seketika, suasana di lorong itu menjadi sangat kacau. Beberapa dokter dan perawat berlarian setengah melompat melintasi lorong tempat Kirana berdiri.
Derap langkah kaki yang terburu-buru, gemerincing alat-alat medis besi di atas troli, dan instruksi-instruksi bernada panik saling bersahutan membelah keheningan malam.
"Siapkan epinefrin satu miligram! Cepat!"
"Jalur infus tersumbat, cari akses intravena baru!"
"Irama jantung Ventricular Fibrillation! Isi daya defibrilator ke dua ratus joule!"
Kirana tersentak hebat dari posisinya. Darahnya serasa berhenti mengalir. Bed 1, itu adalah tempat Rendra ditangani sebelum dipindahkan ke ruang operasi.
"Mas Rendra...?" gumam Kirana dengan suara serak yang bergetar.
Ketakutan luar biasa yang amat sangat menyergap hati Kirana, menggantikan rasa sakit hatinya dalam sekejap.
Mengabaikan rasa lemas di lututnya, Kirana melangkah maju dengan tergesa-gesa. Ia berusaha mendekati pintu ruang perawatan yang kini terbuka lebar, tempat para medis berkerumun mengelilingi tubuh Rendra yang terbaring kaku.
"Suster! Suster, ada apa dengan suami saya?!" jerit Kirana panik saat seorang perawat keluar dengan tergesa-gesa membawa kantong cairan infus baru.
Kirana memegang pergelangan tangan perawat itu dengan erat, matanya membelalak dipenuhi ketakutan yang tak tertahankan. "Apa yang terjadi pada Mas Rendra, Suster?! Kenapa monitornya berbunyi seperti itu?!"
Perawat itu menghentikan langkahnya sejenak, lalu menatap Kirana dengan raut wajah yang amat prihatin namun berusaha tetap profesional.
"Ibu Kirana, mohon tenang dulu, ya," tutur perawat itu dengan nada tegas namun lembut, lalu berusaha melepaskan genggaman tangan Kirana secara perlahan. "Kondisi Pak Rendra tiba-tiba mengalami penurunan drastis sebelum kita sempat memindahkannya ke ruang operasi. Terjadi pendarahan hebat di dalam rongga dadanya yang menekan paru-paru dan jantung."
"Lalu... lalu bagaimana nasib suami saya, Suster?! Mas Rendra bisa selamat, 'kan?! 🥺🥺😣" tangis Kirana akhirnya pecah. "Tolong dia, Suster! Tolong selamatkan dia! 😫😫😭"
"Tim dokter kami sedang melakukan tindakan pemulihan detak jantung (CPR) dan kejut jantung secara maksimal, Bu. Saya mohon Ibu tunggu di luar dan tetap berdoa. Percayakan semuanya kepada kami," bisik perawat itu menenangkan, lalu bergegas kembali masuk ke dalam ruangan dan menutup rapat pintu kaca tersebut.
BAM!
Pintu tertutup. Kirana ditinggalkan sendirian di luar, berdiri gemetar di atas lantai hospital yang dingin. Melalui kaca bening pintu yang buram, Kirana bisa melihat siluet dokter yang sedang menekan dada Rendra secara berulang-ulang dengan ritme yang cepat dan kuat.
"Satu... dua... tiga... tekan!"
"Isi daya! Kejutkan!"
Tubuh Rendra terlihat melompat kecil di atas tempat tidur saat sengatan listrik defibrilator dihantamkan ke dadanya. Namun, monitor di dalam sana masih memancarkan garis lurus yang mematikan.
Kirana menyandarkan dahinya pada dinding lorong. Kedua tangannya meremas rambutnya sendiri. Air matanya mengalir deras tanpa henti hingga membasahi wajahnya yang sudah sangat pucat.
Di dalam pikirannya yang liar, ingatan-ingatan masa lalu berputar bagai kaset rusak yang memutar memori paling membahagiakan sekaligus paling menyakitkan.
Kirana teringat hari di mana Rendra mengucap akad nikah di hadapan ayahnya tujuh tahun lalu, betapa tegas suara pria itu berjanji untuk menjaganya seumur hidup.
Kirana teringat malam-malam di mana Rendra terbangun hanya untuk menenangkan Keisya yang menangis sewaktu bayi, dan betapa hangatnya pelukan pria itu setiap kali Kirana merasa lelah.
"Kenapa harus berakhir seperti ini, Mas?," jerit Kirana dalam hatinya, dadanya pun sesak seperti dihantam batu besar. "Kenapa kamu harus mendua kalau kamu tau betapa besarnya cinta kami padamu? Kenapa kamu menyembunyikan wanita itu dan anak itu dari kami?! Tapi... Tuhan... tolong jangan ambil dia sekarang. Jangan hukum dia dengan cara seperti ini! Kasihanilah Keisya... Keisya sangat mencintai papanya..."
Bersambung...
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗