NovelToon NovelToon
Jerat Tiga Sisi

Jerat Tiga Sisi

Status: tamat
Genre:Action / Perjodohan / CEO / Tamat
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

✦ JERAT TIGA SISI ✦

"Pilih dengan bijak, Azira Anandya Gunawan. Menikahi CEO pilihan Papahmu, lari ke pelukan sahabat doktermu, atau kembali menjadi milikku seperti dulu?"

Azira terjebak di antara tiga pria yang memiliki cara berbeda untuk mengurungnya.

Sisi Pertama — Baskara Yudistira Prayoga. Pria berjas mahal yang angkuh. Ia memandang Azira sebagai kewajiban kontrak, namun tatapan matanya perlahan mulai menuntut hak yang lebih dari sekadar status.

Sisi Kedua — Farhan Nalendra. Pria berjas putih dengan senyum hangat yang selalu menyembuhkan luka Azira. Sosok yang kini berani melangkah keluar dari friendzone demi melindungiku.

Sisi Ketiga — Gavin Mantiez. Dan yang paling berbahaya... teman masa kecil Azira sekaligus mimpi buruk yang kembali dengan tatapan penuh kepemilikan gila.

Tiga pria, tiga cara mencintai yang ekstrem, dan satu hati milik Azira yang diperebutkan. Siapakah yang akhirnya akan mendampingi AZira di garis akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jerat Tiga Sisi dan Bayang Masa Lalu

Satu jam sebelum Baskara melangkah masuk ke dalam ruang perawatan VIP, sebuah drama pembalasan yang dingin baru saja pecah di area lobi utama Rumah Sakit Pusat Jakarta.

Tante Shafira dan Sendy berjalan diseret oleh empat petugas kepolisian berseragam lengkap dengan tangan yang terkunci borgol besi. Penampilan kedua wanita yang biasanya gila hormat itu kini hancur berantakan.

Riasan wajah Tante Shafira luntur oleh keringat kepanikan, sementara Sendy terus menangis meraung-raung, meratapi tas-tas bermerek dan paspor mereka yang telah disita sebagai barang bukti pelarian di bandara tadi.

Saat berpapasan dengan Baskara yang berdiri tegap di dekat lift eksekutif, langkah Tante Shafira mendadak terhenti. Matanya berkilat penuh kebencian dan keserakahan yang belum mati.

"Baskara! Kamu tidak bisa melakukan ini pada kami! Aku ini ibu tiri tunanganmu!" jerit Shafira histeris, suaranya melengking memenuhi lobi hingga memicu perhatian pengunjung hospital.

"Azira itu anak durhaka! Dia membiarkan ibunya ditangkap setelah semua yang keluarga Gunawan berikan padanya! Lepaskan kami, Baskara, atau aku akan menuntutmu lewat media!"

Baskara tidak bergerak satu inci pun. Ia perlahan memutar tubuhnya, menatap Tante Shafira dengan sepasang mata elang yang begitu kosong, dingin, dan mematikan. Ia melangkah mendekat, menciptakan aura tekanan psikologis yang membuat petugas polisi sekalipun menahan napas.

"Satu kata lagi keluar dari mulut kotor itu, Nyonya Shafira..." desis Baskara, suaranya begitu rendah namun sarat akan ancaman mutlak.

"Aku pastikan sel penjara tempatmu membusuk tidak akan pernah melihat sinar matahari seumur hidupmu. Nikmati sisa usiamu di balik jeruji besi tanpa sepeser pun uang tersisa di rekeningmu. Seret mereka keluar dari pandanganku."

Mendengar vonis dingin dari sang penguasa Prayoga Group, nyali Shafira runtuh seketika. Tubuhnya lemas dan ia nyaris terjatuh ke lantai saat petugas polisi menarik paksa lengannya menjauh dari lobi, menyisakan Sendy yang terus berteriak ketakutan membayangkan masa depan mereka yang hancur dalam semalam.

Kini, atmosfer beralih ke dalam koridor ruang VIP yang sunyi dan berbau antiseptik pekat. Di dalam ruangan, Azira terbaring lemah di atas bangsal dengan wajah yang masih pucat. Pergelangan tangannya yang lecet dan memar keunguan akibat gesekan tali nilon tebal dari penyekapan Gavin kini telah dibersihkan dan dibalut rapi dengan perban putih bersih oleh Dokter Farhan.

Farhan berdiri di sisi ranjang, memeriksa kantong cairan infus yang mengalir lambat ke pembuluh darah Azira. Wajah sang dokter tampak sangat kelelahan setelah menerobos badai di Laut Utara, namun sepasang matanya memancarkan kehangatan yang tak pernah pudar saat menatap sahabat wanita yang paling ia jaga di dunia ini.

"Semua luka fisikmu sudah diobati dan disterilkan, Ra. Efek trauma psikologisnya mungkin butuh waktu untuk sembuh, tapi aku berjanji... aku akan selalu menemanimu di setiap prosesnya," bisik Farhan dengan suara bariton yang lembut, memberikan komitmen rasa aman yang selalu ia tawarkan sejak mereka masih remaja.

Azira tersentak dan tersenyum sangat tipis, matanya berkaca-kaca menatap ketulusan Farhan. "Terima kasih, Han. Kamu selalu ada saat duniaku berada di titik paling hancur."

Tepat pada momen intim itu, pintu ruang VIP terbuka tanpa ketukan. Sosok Baskara melangkah masuk dengan aura dominan yang seketika mengintimidasi seluruh penjuru ruangan. Ia telah menanggalkan mantel hitamnya yang basah oleh air laut, menyisakan kemeja abu-abu gelap yang melekat pas di tubuh tegapnya.

Sorot mata tajamnya langsung mengunci sosok Azira, melacak setiap inci tubuh tunangannya demi memastikan tidak ada luka baru yang terlewat dari pengawasannya.

Farhan menegakkan tubuhnya, melangkah mundur satu langkah untuk memberikan ruang, namun sepasang matanya tetap tegas menantang kedatangan sang CEO.

"Gavin sudah resmi diserahkan ke tim psikiatri forensik dibawah pengawasan ketat kepolisian," ujar Farhan, memecah keheningan dengan nada profesional namun dingin.

"Dengan seluruh bukti penculikan, penguntitan, dan penyerangan bersenjata yang kita miliki, seharusnya dia tidak akan pernah bisa keluar atau menyentuh Azira lagi seumur hidupnya."

Baskara mengangguk dingin, matanya beralih menatap semangkuk bubur hangat yang baru saja diantarkan oleh perawat ke meja samping ranjang.

Tanpa memedulikan tatapan menyelidik dari Farhan, sang CEO arogan itu menarik kursi besi, duduk tepat di sisi bangsal Azira. Tangannya yang kekar perlahan mengambil mangkuk bubur dan sendok tersebut.

Gestur Baskara tampak kaku dan sedikit kikuk—sebuah pemandangan ganjil bagi seorang pria yang biasanya hanya memegang pena Montblanc miliaran rupiah atau berjabat tangan dengan investor asing.

"Buka mulutmu. Kau harus makan agar infusnya bekerja cepat," perintah Baskara dengan nada datar, namun tangannya meniup perlahan bubur hangat di sendok tersebut sebelum mengarahkannya ke bibir Azira.

Azira tertegun, matanya membelalak kecil melihat perubahan drastis pria dingin ini. Semburat rona merah tipis mendadak muncul di pipinya yang pucat. Dengan canggung, Azira membuka mulutnya, menerima suapan dari Baskara dalam keheningan yang mendebarkan.

Farhan yang menyaksikan kedekatan itu mengepalkan tangannya di balik saku jas putihnya. Dadanya terasa sesak oleh rasa cemburu yang bergejolak. Ia melangkah mendekat, memecah momen manis tersebut.

"Tuan Baskara, Azira butuh ketenangan psikologis saat ini," sindir Farhan dengan nada menyengat yang halus.

"Jika kita bicara soal akar masalah, seluruh kekacauan, pembekuan saham, hingga aksi nekat Gavin dan Shafira hari ini terjadi karena lingkaran kekuasaan finansialmu yang terlalu berisik. Duniamu terlalu berbahaya untuk wanita selembut Azira."

Gerakan tangan Baskara yang hendak menyuapi Azira untuk ketiga kalinya mendadak terkunci di udara. Ia perlahan menurunkan sendoknya kembali ke dalam mangkuk, lalu mendongak menatap Farhan. Sorot matanya drop menjadi sangat tajam dan mengintimidasi.

"Kau pikir duniamu yang tenang bisa melindunginya, Dokter?" balas Baskara, suaranya sangat rendah namun menohok tepat di ulu hati Farhan.

"Jika hari ini Azira hanya mengandalkan apartemen lantai tigamu atau jaringan rumah sakitmu, dia saat ini sudah berada di pulau terpencil di Laut Utara dan kau tidak akan pernah bisa melihatnya lagi.

Duniamu yang tenang tidak memiliki helikopter tempur, tidak memiliki pasukan taktis, dan tidak memiliki kekuatan hukum untuk memenjarakan Tante Shafira dalam hitungan jam. Jangan pernah mengukur batas kemampuanku untuk menjaga apa yang sudah menjadi milikku."

"Dia bukan barang milikmu yang bisa kau beli dengan kontrak, Baskara!" potong Farhan, emosinya mulai tersulut di sisi ranjang.

"Hentikan... Tolong, jangan bertengkar di sini..." rintih Azira lemah dengan suara yang serak, memotong perdebatan sunyi yang kian memanas di antara kedua pria tersebut.

Mendengar suara Azira, baik Baskara maupun Farhan seketika meredam ego mereka. Baskara meletakkan mangkuk buburnya kembali ke meja, sementara Farhan menarik napas dalam demi menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat.

Di titik itulah, dilema hebat yang sesungguhnya mulai merayap masuk, mencengkeram sudut hati Azira dengan sangat erat.

Azira memandang bergantian dua pria yang berdiri di sekeliling hidupnya saat ini. Di sebelah kanannya ada Farhan—sahabat dokter yang selalu menggunakan hati murni, yang rela melompat dari dermaga menantang maut demi mengejar kapalnya, dan selalu menjadi rumah yang menyembuhkan lukanya sejak dulu tanpa pernah meminta imbalan finansial apa pun.

Namun di sebelah kirinya ada Baskara—CEO dingin yang semula sangat ia benci karena keangkuhannya, namun pria dominan ini justru meruntuhkan seluruh gengsi kelaki-lakiannya di dermaga, menawarkan seluruh harta kekayaannya kepada Gavin demi menukar nyawanya, dan memberikan jaring perlindungan megah yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun di dunia ini.

Bahkan saat ini, tangan besar Baskara kembali bergerak, menggenggam jemari Azira yang bebas dari infus dengan kelembutan yang sangat tulus.

Kedua pria ini baru saja menerobos neraka taruhan nyawa di tengah laut bersama-sama hanya untuk membawanya pulang dengan selamat.

Jantung Azira bertalu-talu dengan ganjil dan tidak keruan di dalam dadanya. Perasaan nyaman dan tenang yang biasa ia rasakan saat bersama Farhan kini mulai bergeser, berbenturan keras dengan getaran hebat yang meletup di sekujur tubuhnya setiap kali kulitnya bersentuhan dengan tangan hangat Baskara.

Dinding es yang selama belasan bab ini ia bangun untuk membenci Baskara telah terkikis habis tanpa sisa, digantikan oleh rasa ketergantungan yang mendalam dan menakutkan.

Namun di sisi lain, Azira juga tidak sanggup membayangkan betapa hancurnya hati tulus Farhan jika ia harus memilih Baskara di garis akhir ini.

Kontrak pernikahan di atas meja mungkin berawal dari paksaan kertas, namun perasaan di dalam dadanya kini sudah melebur di luar kendali logisnya. Ia benar-benar terjebak di dalam jerat tiga sisi yang sesungguhnya:

memilih ketenangan masa lalu yang tulus, atau perlindungan masa depan yang megah dan menggetarkan seluruh jiwanya.

Farhan yang menangkap riak kebingungan di wajah Azira, serta bagaimana jemari sahabatnya itu tidak menolak genggaman erat Baskara, hanya bisa terdiam kaku di sudut ruangan.

Ada rasa perih yang menusuk dalam di ulu hati? Menyadari sebuah kenyataan pahit bahwa ruang kecil di hati Azira yang selama bertahun-tahun ini ia jaga rapat-rapat, perlahan tapi pasti, mulai dikuasai sepenuhnya oleh pesona Baskara Prayoga.

...----------------...

(PLOTWIST)

(Sisi Gelap Rumah Sakit Jiwa)

Sementara itu, dua puluh empat jam setelah konfrontasi di ruang VIP, atmosfer yang jauh lebih dingin dan mencekam sedang merayap di Sayap Barat Rumah Sakit Jiwa Pusat Grogol—sebuah paviliun dengan tingkat keamanan maksimum tempat Gavin Manzies diisolasi.

Gavin duduk meringkuk di sudut ruangan berlapis busa putih. Setelan jas mahalnya telah diganti dengan baju pasien putih yang kaku. Rambutnya berantakan, dan tatapan matanya kosong menatap lurus ke lantai marmer, sesekali bergumam lirih menyebut nama Azira dan janji gerimis delapan belas tahun lalu yang telah hancur.

Cklek.

Suara kunci pintu besi berat itu berputar. Langkah kaki yang teratur dan berwibawa terdengar mendekat. Namun, itu bukan langkah kaki perawat atau psikiater forensik berseragam medis.

Seorang pria bertubuh tegap melangkah masuk ke dalam sel isolasi. Pria misterius itu mengenakan setelan jas hitam custom-made berpotongan sangat rapi tanpa kerutan, dipadukan dengan dasi sutra gelap dan jam tangan kronograf platinum yang berkilau mahal di bawah lampu neon.

Penampilannya yang terlalu elegan mengindikasikan dengan jelas bahwa dia adalah utusan dari entitas kekuasaan yang sangat besar—bukan sembarangan orang.

Pria berjas hitam itu berdiri di depan Gavin yang masih meringkuk, lalu melemparkan sebuah map dokumen tebal berlambang segel emas ke atas lantai.

"Tuan Gavin Manzies," suara pria misterius itu terdengar sangat datar, formal, namun sarat akan otoritas yang dingin.

"Kondisi mental Anda saat ini dinilai tidak layak untuk menjalani persidangan pidana biasa oleh tim psikiatri forensik kepolisian. Dan itu... adalah skenario terbaik yang sudah kami rancang sejak awal."

Gavin perlahan mendongakkan kepalanya. Manik matanya yang layu bergetar kecil melihat dokumen di depannya. "Siapa... siapa kau?"

Pria misterius itu membenarkan letak manset kemejanya dengan gestur tenang, tanpa menunjukkan rasa jijik sedikit pun pada kondisi Gavin.

"Siapa saya tidak penting. Yang penting adalah siapa yang mengutus saya," jawab pria itu dengan senyum tipis yang penuh teka-teki.

"Seseorang di atas sana telah menebus seluruh sanksi finansial Anda. Hari ini, dokumen pemindahan medis Anda ke fasilitas sanatorium privat di luar negeri telah ditandatangani oleh otoritas tertinggi. Kami di sini untuk membawa Anda pergi dari tempat terkutuk ini."

Gavin terkekeh getir, suaranya parau. "Membawaku pergi? Untuk apa? Duniaku sudah hancur... Azira sudah memilih Baskara..."

Pria misterius itu membungkuk sedikit, menatap langsung ke dalam mata gila Gavin dengan kilat manipulasi yang tidak kalah pekat.

"Kehancuran dinasti Prayoga Group baru saja dimulai, Tuan Gavin. Dan obsesi Anda terhadap wanita bernama Azira itu... adalah bidak catur yang terlalu berharga untuk dibiarkan membusuk di sini. Mobil kami sudah menunggu di jalur evakuasi belakang. Mari kita pergi, dan bersiaplah untuk merebut kembali apa yang Anda sebut sebagai hak absolut Anda."

Di luar jendela sel yang berjeruji besi, langit Jakarta mendadak mendung tebal, mengantarkan gulungan awan hitam baru yang menandakan bahwa badai psikologis yang jauh lebih besar dan berbahaya sedang mengintai takdir Baskara dan Azira dari kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!