NovelToon NovelToon
Cintai Aku

Cintai Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Orang Disabilitas
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.

Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. ​Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Satu minggu pertama berlalu tanpa kendala berarti, Nadia bekerja sesuai dengan yang ia pelajari. Meskipun ia memiliki kekurangan, ternyata di tempat ini tidak ada yang peduli, selama Nadia bekerja dengan benar, maka Nadia akan diperlakukan layaknya orang normal.

​"Nadia!" panggil Vina, salah satu pelayan senior.

"Iya?" tanya Nadia.

"Antar minuman ini ke Ruang VIP 7! Cepat ya, tamu di dalam sudah minta!" perintah Vina.

"Tapi, Nadia harus antar minuman ke meja lain," ucap Rima, salah satu pelayan.

"Biar gue aja yang anter minuman yang dibawa Nadia," ucap Vina, lalu menukar minuman yang ia bawa.

Nadia pun menerima nampan berisi dua botol minuman keras mahal dan beberapa gelas kristal, lalu melangkah naik menyusuri tangga berkarpet merah menuju lorong VIP lantai dua yang remang-remang.

"Kok lo minta tuker sih?" tanya Rima.

"VIP 7, ada Tuan Anjas," bisik Vina.

"Vin, lo gila ya! Masa Nadia yang lo suruh ngadepin Tuan Anjas. Kalau Nadia kenapa-napa gimana?" tanya Rima.

"Udah biarin aja sih, gue dulu juga pernah dipukul sama Tuan Anjas, sekarang biar Nadia juga tau lah rasanya. Udah deh, gue anter minuman dulu," ucap Vina, lalu pergi.

Rima hanya menatap punggung Nadia dari kejauhan, "Semoga lo baik-baik aja ya, Nad," gumam Rima.

Disisi lain, ​Nadia sampai didepan pintu ruangan dan ia pun mengetuk pintu secara sopan tiga kali, lalu mendorong pintu tersebut perlahan.

​Di dalam ruangan berukuran luas dengan sofa kulit berwarna gelap itu, asap rokok tebal mengepul di udara berpadu dengan aroma alkohol yang pekat, musik berdentum pelan dari speaker dinding.

Di tengah sofa utama, duduk seorang pria muda mengenakan kemeja bermerek yang kancing atasnya terbuka, dikelilingi oleh dua wanita berpakaian minim. Pria itu adalah Anjas, seorang putra pengusaha kaya yang terkenal berandalan, temperamental dan sering membuat kekacauan.

​Nadia melangkah masuk dengan pandangan menunduk sopan dan menjaga tata kramanya, ia mendekati meja kaca di tengah ruangan, lalu berlutut perlahan untuk menata botol dan gelas kristal di atas meja.

​Saat Nadia hendak berdiri dan mundur membelakangi meja, mata Anjas yang sudah setengah mabuk terantuk pada sosok Nadia. Anjas menatap kemeja putih panjang yang rapi dan tertutup rapat yang dikenakan Nadia, sebuah pemandangan yang amat kontras dengan wanita-wanita seksi di sekelilingnya.

​"Eh, tunggu dulu," igau Anjas dengan nada suara serak dan senyum nakal yang menjijikkan.

Anjas menyandarkan punggungnya dan menatap Nadia dari bawah ke atas, "Tampang baru nih di sini? Kok seragamnya beda?" tanyanya.

​Anjas tertawa bersama teman-temannya di dalam ruangan, ​Nadia yang tidak dapat mendengar artikulasi kata-kata Anjas dengan jelas hanya menangkap bahwa tamu tersebut sedang mengajaknya berinteraksi.

Sesuai dengan standar pelayanan, Nadia tidak ingin membuat tamu tersinggung. Ia merapatkan kedua tangannya di depan dada, lalu memberikan senyuman ramah disertai anggukan kepala yang sangat sopan lalu bersiap untuk berbalik keluar.

Namun, reaksi Nadia yang hanya tersenyum dan diam justru disalahartikan oleh Anjas yang sedang di bawah pengaruh alkohol sebagai sebuah penghinaan dan sikap acuh tak acuh.

​"Hei! Lo budek apa gimana!" bentak Anjas secara mendadak, raut wajahnya berubah menjadi murka dalam hitungan detik.

​Sebelum Nadia sempat melangkah keluar, Anjas berdiri dari sofanya dengan cepat dan mendorong bahu Nadia secara kasar hingga tubuh Nadia limbung dan menabrak pinggiran meja kaca.

​Prang! Sebuah gelas kristal di atas meja tersenggol dan jatuh pecah berkeping-keping di lantai.

​Nadia terkejut luar biasa, rasa sakit menjalar di bahunya. Namun, yang paling mengerikan adalah perubahan aura kegelapan di dalam ruangan tersebut. Anjas melangkah maju dengan mata merah penuh amarah, tangannya terulur dengan sangat kasar dan menarik kerah kemeja putih panjang Nadia, menyejajarkan wajah mereka secara paksa.

​"Lo punya telinga nggak sih? Gue ajak bicara malah senyum-senyum nggak jelas, terus mau pergi gitu aja! Lo pikir lo siapa, heh!" teriak Anjas tepat di depan wajah Nadia.

​Nadia yang ketakutan setengah mati berusaha melepaskan cengkeraman tangan Anjas di kerahnya. Dalam kepanikan yang luar biasa, kedua tangan Nadia bergerak dengan cepat di udara, membentuk bahasa isyarat memohon maaf dan meminta Anjas untuk melepaskannya.

​"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa berbicara. Tolong lepaskan saya," gerak jemari Nadia yang begitu cepat dan memohon.

​Anjas terpaku sejenak melihat gerakan tangan Nadia yang aneh dan cepat di depan dadanya. Lalu, ketika menyadari bahwa gadis di hadapannya sama sekali tidak mengeluarkan suara kata-kata dari mulutnya, tawa Anjas justru meledak, sebuah tawa yang sangat kejam dan melukai kebanggaan jiwa.

​"Anjir! Ternyata lo bisu! Pantas dari tadi cuma diem aja kayak orang bodoh! Hahaha! Kelab kelas atas kayak gini kok punya pelayan cacat!" gelak Anjas dengan nada mengejek yang amat kencang.

​Anjas makin mempererat cengkeraman jarinya di kerah kemeja putih Nadia hingga kancing paling atas kemeja itu terlepas, "Gue bayar mahal di sini bukan buat dilayani sama cewek bisu kayak lo! Cacat ya cacat aja, nggak usah belagu di depan gue!" bentaknya.

​Hinaan demi hinaan terlontar dari mulut Anjas, menghantam pendengaran samar dan perasaan Nadia. Air mata ketakutan dan kehinaan menggenang di pelupuk mata Nadia, namun ia tetap menatap Anjas dengan sisa-sisa keberaniannya dan mencoba mendorong dada pria itu agar melepaskan kemejanya.

​"Masih berani melawan lo!" bentak Anjas semakin kalap.

Pria itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara, mengepalkan tinjunya dan siap melayangkan pukulan keras ke wajah Nadia yang tak berdaya. ​Nadia memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap menerima rasa sakit yang akan menghantam wajahnya.

​Bumm!

​Suara benturan keras bergema di dalam ruang VIP tersebut. Namun, rasa sakit yang dibayangkan Nadia tidak pernah hinggap di wajahnya.

​Nadia membuka matanya perlahan. ​Di hadapannya, Anjas sudah tersungkur jatuh ke atas sofa kulit dengan sudut bibir yang berdarah dan mata terbelalak kaget, sebuah pukulan mentah dan sangat telak baru saja mendarat tepat di pipi kiri Anjas.

Di antara Nadia dan Anjas, berdiri sesosok pria berbadan tegap dengan balapan kemeja hitam yang tergulung rapi di lengan. Pria itu berdiri bagaikan dinding karang yang tak tergoyahkan, napasnya teratur namun dari balik matanya terpancar kilatan dingin yang mampu membekukan darah siapa saja yang menatapnya.

​Tanpa disadari oleh siapapun di dalam ruangan itu, sedari tadi, sejak Nadia melangkah masuk membawa nampan, seorang pria yang duduk di remang-remang ujung kursi panjang sudut ruangan telah mengamati seluruh perlakuan kasar Anjas terhadap gadis itu.

​Pria berkemeja hitam itu perlahan mengibaskan kepalan tangannya yang baru saja menghantam Anjas, lalu menolehkan wajahnya sedikit ke belakang dan menatap Nadia yang masih berdiri gemetar dengan kerah kemeja yang terlepas.

.

.

.

Bersambung.....

1
Raisha
kluarga dari pihak Nadia apa gak di kabari & undang ya Thor,kok gak di ceritain? bibinya apa kabar, jadi mo jual rumahnya Nadia? serasa dia ahli warisnya aja,main jual rumah ayahnya Nadia sembarangan, dah kena karmanya lom bik?
Aidil Kenzie Zie
lumayan katanya tapi sampai ludes🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ada yang masih kangen nich 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ah akhirnya Aksa mau juga 🥰🥰🥰
erviana erastus
rajin pulang kerumah aksa eh 🤭
falea sezi
lanjut
falea sezi
anak kuliahan klo ada hutang minta bukti. hutang klo asal ngomong gk ada hitam di atas putih itu sama aj nipu😒
falea sezi
moga aja nadia
erviana erastus
ih aksa 🤣 tuh kan terpesona kamu sama nadia makax jgn sok² nolak gtu 🤭 demi apa coba tetiba mau tidur dirumah 🤣
Raisha
moduuuuuuss...kamu dah gak bisa tahan pengin dekat² Nadia kan meski otakmu menolak tp hatimu berkata lain😂😂...untungnya papamu tau & ngerti apa yg kamu inginkan,makanya kamu gak boleh tinggal di rumahnya lagi...sabar Aksa, tunggulah sampai waktunya tiba
Naufal Affiq
buat emosi bacanya
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
lanjut kak,seru ceritanya
erviana erastus
kalo jodoh nggak kemana kan aksa🤣
Rizky Manik
Aksa, kau yg ngajak Nadia nikah ya awas aja kalo kau gkbisa cintai Nadia, bakal kukutuk kau jadi batu😏🤣
Raisha
kalimatnya typo lg Thor🙏🤭....bukan "...teman anak Papa..." harusnya "...anak teman Papa..." krn yg othor tulis itu artinya temannya anak Papa pdhal Nadia kan anak temannya Papa,gitu kan maksudnya? Maaf kalo salah 🙏😃
elaretaa: Siap Kak, nanti author revisi lagi ya🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Sartini 02
bagus ceritanya dan selalu ditunggu
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Raisha
sampai di bab ini,masih banyak typo Thor 🙏...seperti kalimat "....dg balapan kemeja hitam yg tergulung....", artinya kata "balapan" itu apa?🤔,aku kurang faham. Maaf ya Thor 🙏😃
Raisha: sama² Thor.... terimakasih untuk ceritanya ini, semangat nulisnya ya Thor 🙏😍😂
total 2 replies
Evi Rachmawati
wadidaw aska... uangku banyak....
Aidil Kenzie Zie
E e e Aksa dijodohkan sama perempuan bisu nggak mau ini malah jadi pahlawan terus 🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!