NovelToon NovelToon
Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Status: tamat
Genre:Balas dendam. / Perubahan Hidup / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.

Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.

Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 019: Menuju Martapura

"Kalau Surabaya membuatmu terkenal, Martapura akan menguji apakah nama itu bisa makan."

Pak Gunawan mengatakannya sambil menyerahkan nomor telepon seorang kenalan.

Tiga hari setelah makan malam Wibowo, Bayu dan Hendra terbang ke Banjarmasin. Dari jendela pesawat, sungai-sungai Kalimantan tampak seperti urat cokelat yang membelah hijau. Hendra menempelkan dahi ke kaca dengan kegembiraan seorang anak.

"Yu, kalau dari atas begini, semua tanah kelihatan punya rahasia."

"Kamu mulai bicara seperti pedagang batu."

"Aku mulai bicara seperti orang yang berharap ongkos pesawat balik modal."

Di bandara, seorang pria berpeci hitam dan berkemeja sasirangan menunggu mereka dengan senyum lebar. Tubuhnya tidak tinggi, tetapi matanya cepat membaca orang.

"Bayu Prasetyo? Saya Udin. Orang sini panggil saya Pak Udin kalau mau sopan, Udin kalau sudah rugi sama saya."

Hendra langsung tertawa. "Kalau untung?"

"Kalau untung, biasanya panggil saya saudara."

Mobil mereka bergerak menuju Martapura. Di kiri kanan jalan, toko batu, bengkel potong, rumah makan Banjar, dan suara azan dari masjid kecil berganti-ganti seperti tanda bahwa mereka memasuki dunia baru. Pak Udin berbicara tanpa henti, tetapi setiap kalimat membawa informasi.

"Di Martapura ada tiga jalur besar. Berlian lokal, akik dan batu warna, lalu barang impor yang diputar lewat jaringan. Orang luar biasanya kalah karena tidak tahu kapan harus diam. Di sini, harga ditentukan oleh barang, pembawa, penjamin, dan nama orang yang ikut jatuh kalau barangnya jelek."

"Jadi kami harus bayar uang sekolah?" tanya Hendra.

Pak Udin melirik lewat kaca spion.

"Semua orang luar pertama kali bayar. Bedanya, ada yang bayar dengan rugi kecil, ada yang bayar sampai tutup toko."

Bayu mendengarkan lebih banyak daripada bertanya.

Di Cahaya Bumi Selamat, pasar berdenyut sejak siang. Etalase berkilau, suara tawar-menawar memantul di antara kios, dan aroma kopi bercampur debu halus batu. Ada berlian kecil di kotak kaca, akik mentah dalam baki plastik, batu hijau impor, dan meja potong yang terus menyala.

Mata Dewa menyala perlahan.

Bayu tidak mencari keajaiban. Ia mencari peta.

Barang bagus di etalase hanya sebagian kecil. Kira-kira tiga dari sepuluh memang layak beli jika harga cocok. Tetapi lebih banyak cahaya emas justru berdenyut dari belakang tirai, dari kotak yang tidak dibuka kepada sembarang orang, dari tas kecil yang hanya keluar setelah nama penjamin disebut.

"Tujuh puluh persen barang serius ada di belakang," kata Bayu pelan.

Pak Udin berhenti berjalan.

"Mas Bayu belum masuk belakang."

"Saya melihat cara orang menjaga barangnya."

Pak Udin tertawa kecil, tetapi kali ini matanya lebih hati-hati.

Mereka tidak langsung mengejar barang besar. Bayu memilih satu lapak akik yang dikerumuni pembeli lokal. Pemiliknya, seorang lelaki kurus dengan kopiah putih, menaruh beberapa bongkah kusam di atas kain.

"Ini bahan biasa, Mas. Untuk latihan potong."

Bayu mengambil satu bongkah cokelat kehitaman. Dari luar, retak halus membuatnya tampak buruk. Di dalam, Mata Dewa melihat warna padat tanpa pecah besar. Daging batu memenuhi hampir seluruh tubuhnya.

"Berapa satu tumpuk ini?"

"Empat puluh juta. Ambil semua, saya kasih murah."

Hendra batuk. "Latihan potong kok empat puluh juta."

Pak Udin tidak ikut campur. Ia memperhatikan tangan Bayu.

"Saya ambil," kata Bayu. "Transfer, dan tulis kuitansi bahan akik campur. Tidak pakai klaim kualitas."

Pemilik lapak mengangkat alis, lalu tersenyum. "Orang Surabaya ternyata cepat."

Potong uji dilakukan di bengkel kecil belakang pasar. Tukang potong menurunkan mata pisau sambil menggumam doa pendek. Ketika belahan pertama terbuka, warna cokelat madu yang rapat keluar di bawah air.

"Full body," kata tukang potong, terkejut. "Retak luarnya saja."

Beberapa orang mendekat. Potongan kedua menguatkan hasil. Tidak ada rongga besar. Tidak ada pecah menyilang. Dalam waktu kurang dari satu jam, seorang pemilik toko lokal menawar seluruh lot Rp160 juta. Orang kedua menaikkan menjadi Rp190 juta.

Bayu menunggu.

Pak Udin akhirnya berbicara kepada salah satu kenalannya. "Kalau mau ambil, ambil bersih. Orang ini tidak main panjang."

Harga berhenti di Rp200 juta, pembayaran tercatat, barang dibawa setelah kuitansi dibuat. Laba bersih sekitar Rp160 juta.

Hendra menatap layar transfer.

"Yu, ini namanya bayar uang sekolah atau buka sekolah?"

"Ini baru ujian masuk," kata Bayu.

Sejak itu, cara orang memandang mereka berubah, meski rasa hormat belum datang begitu saja. Beberapa kepala mulai menoleh lebih lama. Dua pedagang menawarkan kopi. Seorang tukang potong bertanya apakah Bayu datang untuk lelang tertutup besar.

Pak Udin membawa mereka ke warung soto Banjar dekat pasar saat sore turun.

"Tiga hari lagi ada lapak tertutup," katanya pelan. "Orang sini menyebutnya lelang batu, walau cara mainnya macam-macam. Sistemnya penawaran tertutup. Tulis harga, masukkan, harga tertinggi ambil. Uang yang berputar bisa ratusan miliar dalam satu hari."

Hendra hampir tersedak jeruk.

"Ratusan miliar? Aku datang pakai sandal yang harganya tidak sampai dua ratus ribu."

"Sandal tidak masalah. Hati yang masalah." Pak Udin menatap Bayu. "Tahun lalu ada orang luar terlalu percaya diri. Kalah sampai jual toko. Di sini batu tidak kasihan pada orang yang hanya punya nama."

Hendra tidak tinggal diam. Dalam dua jam ia sudah berbicara dengan sopir travel asal Madura, pemilik warung yang punya sepupu di bengkel potong, dan seorang penjaga parkir yang mengenal kurir beberapa bos lokal. Dari sana ia tahu satu hal penting: orang baru tidak bisa masuk lelang tertutup hanya dengan uang.

"Harus ada penjamin, Yu," katanya ketika kembali ke meja. "Deposit masuk rekening panitia, tapi nama yang menjamin lebih penting. Kalau bikin masalah, penjaminnya ikut malu."

Pak Udin menunjuk dadanya sendiri.

"Besok pagi saya daftarkan kalian. Tapi dengar baik-baik. Kalau menang, bayar bersih. Kalau kalah, jangan ribut. Martapura ingat dua hal: orang yang menepati janji dan orang yang mempermalukan penjamin."

Rasa dingin tipis menyentuh leher Bayu.

Ia menoleh ke seberang jalan. Seorang pria berjaket hitam berdiri dekat kios pulsa, pura-pura melihat ponsel. Sejak pasar, wajah itu muncul tiga kali. Tidak mendekat, tidak mengancam. Hanya mencatat.

"Orang itu mengikuti kami," kata Bayu.

Pak Udin melihat sekilas, lalu menyesap teh.

"Mereka orang suruhan Haji Mahmud. Tuan rumah lelang ingin tahu siapa tamu baru yang bikin akik empat puluh juta jadi dua ratus. Perampok biasanya tidak serapi itu."

Hendra menurunkan suara.

"Itu kabar baik atau buruk?"

Pak Udin tersenyum.

"Di Martapura, kalau tidak ada yang melihatmu, berarti kamu belum dianggap ada."

Bayu menatap pasar yang mulai menyalakan lampu. Di balik etalase, di balik tirai, di balik senyum orang-orang yang menghitung untung dan rugi, ada peta baru yang sedang terbuka.

Surabaya memberinya nama.

Martapura akan menanyakan harganya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!