Wanita mana pun pasti akan terbawa perasaan saat mendapat perlakuan yang sangat baik dari pria tampan yang menjadi idola banyak wanita.
Perhatian, kemewahan dan semua hal yang diidamkan wanita, Meisya dapatkan dari Jack. Namun ada satu yang tidak Meisya dapatkan, yaitu pengakuan cinta.
Berulang kali Meisya mengungkapkan cintanya, tetapi tak juga mendapatkan balasan dari Jack, hingga akhirnya Jack menunjukan sesuatu yang menjadi jawaban atas semua pertanyaan Meisya selama ini.
Apakah itu? Ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Fi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Kesedihan Jack semalam yang tertidur di kamar Meisya, sayup terdengar dari arah dapur yang memang terbiasa setiap pagi menjadi kebiasaan yang didengar oleh telinga Jack ketika dia baru membuka mata. Jack tersenyum penuh semangat karena kesedihan semalam hanyalah mimpi belaka, karena buktinya pagi ini di dapur terdengar seseorang sedang beraktivitas sama seperti yang biasa dilakukan oleh Meisya untuk menyiapkan sarapan paginya.
"Kau benar-benar kembali, Mei. Aku percaya sekali jika kau tidak akan mungkin pergi jauh dariku, kau akan tetap kembali padaku." Jack tersenyum penuh kemenangan karena dia meyakini jika Meisya pasti akan kembali dan pergi hanya marah sekejap.
Buru-buru Jack mandi masih di dalam kamar Meisya, barulah setelah itu dia akan menuju ke dapur memeluk Meisya dari belakang seperti yang biasa dilakukan oleh Jack saat wanita itu sedang memasak, akhirnya Jack tidak akan kehilangan momen-momen indah seperti itu lagi karena Meisya sudah kembali sibuk dengan rutinitas hariannya.
Setelah selesai mandi, Jack buru-buru keluar dari kamar Meisya dan menuju ke dapur dengan senyum sumringah dan juga penuh semangat. Dia berjalan pelan seolah akan mengejutkan Meisya dengan memeluk wanita itu dari belakang, tapi saat kakinya mulai melangkah ke arah dapur senyum mengembang di bibir Jack langsung menghilang.
Ternyata orang yang sedang berada di dapur bukanlah Meisya melainkan pelayan, Jack mengurungkan niatnya pergi ke dapur tapi dia berbelok menuju ke kamarnya dan bersiap untuk pergi ke kantor. Tanpa sarapan terlebih dahulu meskipun sudah disiapkan oleh pelayan, Jack langsung saja pergi ke kantor dengan wajah kesal karena ternyata Meisya benar-benar pergi dari rumah dan tidak kembali lagi.
Sementara di apartemennya, Meisya baru saja selesai bersiap dan dia akan langsung berangkat ke kantor. Mungkin ini hari pertamanya dia harus menjaga sikap dan juga menjaga jarak dari Jack, sekarang Meisya hanyalah bekerja sebagai asisten pribadi, yang tidak merangkap sebagai kekasih dari pria itu. Sehingga Meisya harus sadar diri dan menjaga sikapnya hanya sebatas atasan dan juga bawahan.
"Ayo, Meisya. Kau pasti bisa. Kontrak kerjanya sudah kau tandatangani tidak bisa begitu saja ditinggalkan, jadi mulai hari ini bersikaplah secara profesional kepada Jack yang merupakan atasan di kantor." Meisya membisikkan kata-kata itu dalam hatinya.
Karena tidak mungkin Meisya langsung keluar dari kantornya Jack, terlebih ada kontrak yang sudah disepakati dan juga ditandatangani olehnya. Jadi sekarang pandai-pandai Meisya saja bagaimana dia harus bersikap kepada Jack, meskipun itu mungkin akan sulit tapi Meisya akan berusaha.
Sampai di kantor, Meisya langsung menuju ke meja kerjanya. Dia berusaha bersikap biasa saja ketika berpapasan dengan Jack dan hanya menyapa sekilasnya saja selayaknya seorang bawahan pada atasannya, tidak ada senyum tidak ada keceriaan yang ditunjukkan Meisya kepada Jack.
Sikap Meisya yang seperti itu membuat Jack kesal, karena cek benar-benar tidak menyukai sikap Meisya yang menunjukkan seperti atasan dan juga bawahan. Maka Jack harus tetap berusaha agar Meisya kembali seperti dulu lagi dan bersikap manis kepadanya.
"Ke ruanganku sekarang juga." Ujar Jack dengan tegas melalui sambungan telepon.
Meisya menaruh gagang telepon tersebut, dia harus kuat mental menghadapi pria karena biar bagaimanapun juga Jack adalah atasannya sehingga Meisya harus tetap patuh dan juga bekerja dengan baik agar tetap bertahan, karena Meisya tidak bisa mencari kerja ke tempat lain sehingga mau tidak mau mese harus tetap berada di kantor itu menjadi sekretaris Jack.
"Tuan memanggil saya? Ada yang bisa saya bantu?" Meisya bersikap layaknya bawahan Jack ketika dia baru saja masuk ke ruang kerja pria itu.
Jack menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Meisya kepadanya, wanita itu benar-benar membuat Jack kesal dia sendiri tidak menyukainya.
"Berhenti bersikap formal seperti itu, Mei. Bersikaplah seperti biasanya, Aku tidak suka dengan sikapmu yang seperti itu." Jack tetap dengan ketegasannya sebagai atasan meskipun suaranya tetap rendah akan tetapi dia benar-benar menunjukkan jika tidak suka dengan cara sikap Meisya.
"Maafkan saya Tuan. Saya hanya melakukan pekerjaan saya sebagai asisten tidak lebih dari itu, jadi apa ada yang bisa saya bantu?" Meisya tetap tidak memperdulikan mengenai teguran Jack karena sikapnya itu.
Jack hanya menarik nafasnya dalam-dalam karena dia pun tidak bisa memaksa jika Meisya sudah menginginkannya seperti itu, sebagai atasan tentu saja Jack punya kuasa untuk memberikan perintah kepada Meisya dan juga sebagai asisten pribadinya tentu saja Meisya harus menuruti perintah dari atasannya.
"Temani aku keluar makan siang, sekarang juga. Aku tidak menerima penolakan." Jack berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar ruang kerjanya.
Mendengar perintah dari Jack membuat Meisya harus tetap bersikap formal layaknya bawahan pada atasannya, dia tidak akan membiarkan hatinya luluh lagi oleh pria itu yang sudah menghancurkannya tidak tersisa.
"Maafkan saya, Tuan. Sepertinya itu bukan bagian dari pekerjaan saya, apalagi pekerjaan saya masih banyak yang belum diselesaikan. Sekali lagi saya minta maaf." Dengan tegas Meisya menolak ajakan Jack yang memintanya untuk menemani pria itu makan siang di luar.
Penolakan Meisya membuat Jack kesal, padahal segala cara sudah dilakukan oleh Jack dengan memerintahkan Meisya agar wanita itu bisa dekat lagi dengannya, tapi tetap saja sikap Meisya begitu acuh dan juga cuek serta nampak terlihat begitu formal seperti bawahan pada umumnya.
Padahal Jack sangat berharap sekali jika Meisya bersedia menemaninya makan siang di luar, tapi ternyata wanita itu benar-benar kecewa dan juga marah padanya sehingga membangun tembok begitu tinggi dan juga jarak yang begitu jauh, sehingga Jack kesulitan untuk menggapai Meisya kembali padanya.
Dering ponsel membuat Meisya segera meraih benda pipih tersebut yang dia pegang, Jack hanya melihatnya saja tanpa berani bertanya siapa yang menghubungi Meisya di jam makan siang seperti ini.
"Saya permisi dulu Tuan." Meisya keluar dari ruang kerja Jack, pria itu masih berdiri di ambang pintu ruang kerjanya dan menggeser sedikit tubuhnya untuk memberikan jalan agar bisa keluar.
Meisya terlihat sedang berbicara di telepon dan wajah itu tersenyum, senyuman yang sudah tidak lagi bisa dilihat oleh Jack dan tidak lagi diberikan padanya. Melihatnya membuat Jack semakin marah dan juga kesal kepada dirinya sendiri.
"Halo, Meisya. Apa kau sedang sibuk? Kita makan siang di luar bisa?" Tanya seseorang di seberang telepon sana kepada Meisya.
"Tentu saja bisa, aku akan kesana sekarang juga." Jawab Meisya dengan tersenyum saat bersedia menerima tawaran dari seorang pria yang menelponnya barusan.
Pria tersebut adalah Richard, dia mengajak Meisya untuk makan siang di luar dan wanita itu pun bersedia.