NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Sinar matahari sore yang keemasan menyapu lembah saat rombongan Sekte Pedang Taixuan akhirnya tiba di gerbang utama. Kabut tipis masih melayang di antara puncak gunung, tetapi suasana di depan gerbang jauh lebih hidup dari biasanya.

Puluhan murid sekte telah berbaris rapi menyambut kedatangan mereka. Genderang kecil ditabuh pelan, sorak-sorai penuh semangat menggema, dan bendera biru khas Taixuan dikibarkan tinggi-tinggi. Kabar bahwa sekte mereka berhasil meraih peringkat kedua di Turnamen Jiuyang telah menyebar cepat, membawa angin segar di tengah masa sulit yang mereka alami.

“Selamat datang kembali, para senior!” teriak murid-murid junior dengan antusias. “Peringkat dua! Taixuan bangkit!”

Lin Chen menarik gerobak perbekalan di barisan paling belakang, wajahnya tetap tenang dan biasa saja. Ia melihat Master Gu Changfeng berdiri di depan dengan senyum bangga, meski sorot matanya masih menyimpan sedikit kelelahan. Beberapa sesepuh juga ikut menyambut, memberikan tepuk tangan hangat kepada para murid yang berprestasi.

Su Qingxue berjalan di barisan depan dengan sikap anggun dan tenang seperti biasa. Wajah dinginnya tak banyak berubah, tetapi Lin Chen bisa menangkap sedikit kelegaan di kedalaman matanya. Peringkat kedua adalah hasil yang luar biasa mengingat kondisi sekte saat ini.

Namun, sambutan meriah itu tidak bertahan lama.

Begitu rombongan memasuki halaman utama, suasana langsung membeku. Di bawah atap Aula Utama, berdiri tiga sosok berjubah merah tua dengan lambang naga bersayap di dada — utusan resmi Kekaisaran Shenghuang.

Sorak-sorai pelan langsung lenyap. Murid-murid saling pandang dengan gelisah. Kehadiran utusan istana di saat seperti ini jelas bukan pertanda baik.

Lin Chen hanya melirik sekilas sambil terus menarik gerobaknya. Dengan Mata Dewa Kekacauan, ia sudah menangkap ketiga aliran energi asing itu sejak tadi. Energi mereka dikendalikan sangat rapi, disembunyikan dari deteksi biasa. Ketiganya sudah berada di sekte lebih dari sehari.

‘Tamu penting,’ batinnya dingin. ‘Dan mereka datang bukan karena hasil turnamen.’

Master Gu Changfeng cepat menguasai situasi. Ia melangkah maju dengan senyum tenang, menyambut ketiga utusan dengan sikap hormat.

“Utusan kehormatan dari Kekaisaran Shenghuang, terima kasih telah menunggu kedatangan kami. Mari kita bicarakan segalanya di dalam Aula Utama.”

Salah seorang utusan — pria paruh baya dengan janggut tipis — mengangguk sopan. “Kami datang atas perintah Kaisar. Tidak perlu terburu-buru. Silakan istirahat dulu setelah perjalanan panjang.”

Meski kata-katanya sopan, tekanan yang tak terucap terasa jelas di udara. Murid-murid yang tadinya gembira kini berbisik-bisik khawatir. Beberapa sesepuh juga mengerutkan kening.

Lin Chen tetap diam. Ia menurunkan barang-barang dari gerobak dengan gerakan biasa, seolah kedatangan tamu kekaisaran bukan urusannya. Namun dalam hati, ia sudah menghubungkan segalanya.

‘Mereka berangkat sebelum turnamen selesai. Artinya ini bukan soal peringkat. Ini soal yang lebih pribadi.’

Setelah semua murid diperbolehkan masuk untuk beristirahat dan membersihkan diri, seorang murid junior mendekati Lin Chen yang sedang menyusun karung di gudang.

“Tuan Lin Chen,” panggilnya pelan. “Master Sekte berpesan, setelah makan malam nanti, Tuan diminta menghadap di ruang utama Aula.”

Lin Chen berhenti sejenak, lalu mengangguk pelan.

“Baiklah. Sampaikan terima kasih saya.”

Murid itu pergi. Lin Chen melanjutkan pekerjaannya sendirian di gudang yang mulai gelap. Lentera kecil di dinding menyala redup.

Ia menyeka keringat di dahi, lalu tersenyum tipis yang tak terlihat siapa pun.

“Peringkat dua… cukup bagus untuk menarik perhatian istana,” gumamnya pelan. “Tapi rupanya perhatian itu datang lebih cepat dari yang kuduga.”

Malam itu, pertemuan dengan Master Gu Changfeng pasti akan membawa angin baru — entah berkah atau badai.

Pada tengah malam, suasana di dalam Aula Utama terasa lebih sunyi dan berat dari biasanya. Hanya dua lentera besar yang menyala, menerangi meja panjang di tengah ruangan sementara sudut-sudut lain tenggelam dalam bayangan.

Di atas meja tergeletak sebuah amplop tebal yang tersegel rapat dengan lilin merah tua. Di atas segel itu terukir lambang naga berkepala lima yang melingkar — tanda surat resmi langsung dari Istana Kekaisaran Shenghuang.

Lin Chen melangkah masuk perlahan dan menutup pintu di belakangnya tanpa suara. Ia berdiri di tengah ruangan dengan sikap sempurna seorang pelayan — tangan disilangkan di depan, punggung lurus, kepala sedikit tertunduk.

“Pelayan Lin Chen datang menghadap, Tuan Master Sekte,” ucapnya tenang.

Gu Changfeng duduk tegak di kursinya, menatap pemuda di hadapannya selama beberapa saat seolah sedang mempertimbangkan kata-kata yang akan diucapkan. Akhirnya ia mengangkat tangan dan menunjuk kursi kosong di sisi kirinya.

“Duduklah.”

Lin Chen terdiam sesaat sebelum mengangguk pelan dan duduk dengan sikap yang tetap sopan, namun tidak lagi terlalu membungkuk seperti pelayan biasa.

Gu Changfeng mendorong amplop yang tersegel itu sedikit ke tengah meja.

“Surat ini tiba tiga hari lalu, tepat sehari setelah kalian meninggalkan Kota Jiuyang,” ucapnya dengan suara hati-hati. “Secara tertulis, surat ini ditujukan kepadaku sebagai pemimpin sekte. Namun isinya sebenarnya adalah undangan resmi langsung dari Kaisar Shenghuang… ditujukan kepada Pangeran Kesembilan untuk kembali ke Istana dalam waktu tiga puluh hari ke depan.”

1
Ihya Ilmi
Semangat thor
Ihya Ilmi
Lanjutkan thor, jangan kasih kendor, crazy UP thor👍👍
Hindra Hin: siap, masih di garap nihh 🙏👍👍👍
total 1 replies
Ihya Ilmi
Thor, 7 hari katanya tp knp MC nya bisa check in 2x?
Hindra Hin: terimakasih atas komentarnya, sangat membantu 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ihya Ilmi
Koreksi thor, " Enam Bulan?" atau "30 hari?", soalnya di sinopsis sebulan sekali.
Hindra Hin: baik, Terimakasih atas koreksinya 🙏🙏🙏
total 1 replies
Pecinta Gratisan
hiatus gak nih thor cerita nya
Hindra Hin: update terus bang tiap hari aman. nantikan aja🙏🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hindra Hin: makasih bro👍👍
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up 💪
Hindra Hin
Jangan lupa di komen Bro kalau ada kata yg salah kritik aja biar ada masukan🫵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!