Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Yang Di Teguhkan
Setelah dokter selesai memeriksa ayah, ia berjalan keluar ruangan. Ibu segera mengikutinya, dan aku pun menyusul di belakang. Begitu sampai di ambang pintu, dokter berhenti, menarik napas panjang, lalu menatap kami dengan wajah serius:
“Kondisi ayahmu makin memburuk dari tadi. Saya sangat menyarankan operasi dilakukan secepatnya, bahkan kalau bisa hari ini juga. Demi keselamatan pasien, tolong segera urus pembayaran ke bagian administrasi agar kami bisa melanjutkan tindakan.”
Mendengar itu, tubuh ibu terasa lemas seketika. Matanya terbelalak, dan butiran air mata langsung berkumpul di pelupuk matanya. Pikirannya berputar kacau — hanya satu pertanyaan yang terus bergema: Dari mana lagi kami dapat uang sebanyak itu? Sebenarnya ia sempat tergoda menjual rumah tempat kami tinggal, tapi nilainya pun masih terlalu jauh untuk menutupi biaya sebesar itu.
Begitu dokter pergi, ibu duduk terkulai di kursi terdekat, menatap kosong ke arah ruangan tempat ayah terbaring. Air matanya akhirnya jatuh membasahi pipi, tak sanggup lagi ditahan. Aku berdiri di sampingnya, lidah terasa kelu, hatiku pun terasa remuk dan bingung. Namun saat melihat wajah ibu yang penuh keputusasaan, membayangkan ayah yang makin lemah, perlahan sebuah keputusan tegas tumbuh di dalam hatiku — tak ada lagi jalan lain.
Aku membalikkan badan, melangkah cepat menuju lift turun ke lantai dasar. Begitu sampai di luar, aku berjalan tergesa sampai tiba di tempat yang teduh di halaman depan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku merogoh saku baju, mengeluarkan ponsel dan mencari kartu nama yang diberikan Adrian tadi pagi.
Sesaat aku hanya memandangi tulisan di atasnya, jantung berdegup kencang, lalu dengan hati yang mantap akhirnya aku menekan nomor itu. Tak lama terdengar nada panggil, dan sekitar semenit kemudian suara berat dan tegas menyapa dari seberang:
“Jadi, apa jawabanmu?”
Suaraku sedikit bergetar — campuran antara sedih dan secercah harapan — saat menjawab: “Saya setuju… tapi bolehkah kita bertemu sekarang juga? Saya benar-benar membutuhkannya segera.”
“Baiklah,” jawabnya singkat, tanpa tambahan apa pun, lalu sambungan terputus.
Di tempat lain, di balik ruangan kantor yang luas namun cahayanya agak redup, Adrian duduk sendirian. Cahaya yang tak terlalu terang itu justru membuatnya makin terlihat gagah dan penuh rahasia: mengenakan jas hitam yang pas di tubuh, jam tangan berkilau melingkar di pergelangan tangannya, rambut pirang keemasannya tampak sedikit berkilau saat terkena cahaya, dan matanya yang biru bening memancarkan wibawa yang sulit ditandingi. Begitu mendengar jawabanku, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum samar — sulit dibaca, seolah semuanya berjalan persis seperti yang ia harapkan. Tanpa membuang waktu, ia berdiri, berjalan keluar, lalu segera berangkat menuju tempat yang disepakati dengan dikawal sopir pribadinya.
Tak lama kemudian, aku sudah kembali duduk di tempat santap mewah dekat rumah sakit, tempat kami pertama kali bertemu. Saat Adrian tiba, ia langsung duduk di hadapanku dan meletakkan selembar kertas perjanjian di tengah meja.
“Silakan baca baik-baik isinya,” katanya tenang namun tegas. “Kalau ada yang kurang jelas atau ada hal lain yang ingin kau minta, sampaikan sekarang.”
Setelah itu ia diam sejenak, lalu mengambil cangkir kopi hitam yang masih mengepul asapnya. Aku menarik kertas itu dan membacanya pelan, mencoba memahami setiap kalimat agar tidak ada yang terlewat:
📜 Isi Perjanjian:
- Selama satu tahun ke depan, kita harus tampil seperti pasangan biasa di hadapan orang lain, tanpa mencurigakan.
- Tidak ada kewajiban untuk berhubungan intim seperti suami istri sesungguhnya.
- Selama masa ini, aku tidak boleh menjalin hubungan asmara dengan orang lain.
- Urusan pribadi masing-masing tetap dijalani sendiri, tidak saling mengganggu kecuali diperlukan.
- Aku harus menghormati dan menuruti permintaannya selama masih dalam batas wajar.
- Di depan umum, tetaplah tenang dan terlihat bahagia, apa pun yang terjadi.
- Sebagai gantinya: seluruh biaya pengobatan, kebutuhan ayah, dan tempat tinggal layak untuk keluargaku ditanggung sepenuhnya. Setelah satu tahun berakhir, aku akan menerima sebuah rumah sebagai tanda penyelesaian perjanjian ini.
Setelah selesai membaca, aku mengangkat wajah menatapnya. Mata kami bertemu — tatapannya tajam, dalam, dan penuh ketegasan, membuatku spontan menunduk seolah ingin membaca ulang lagi. Saat berani mengangkat pandangan kembali, terlihat seorang pria paruh baya berpakaian rapi berdiri di sisinya, membisikkan sesuatu pelan ke telinganya, lalu pergi begitu saja setelah mendapat anggukan singkat.
Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan jantung yang makin berdegup cepat, lalu berbicara dengan suara sedikit terbata tapi tetap jelas:
“Saya… saya menerima perjanjian ini. Tapi kapan dana itu bisa diserahkan? Kondisi ayah saya tidak bisa ditunda lebih lama lagi.”
Adrian menatapku sebentar, lalu menunjuk bagian bawah kertas itu: “Kalau sudah yakin, bubuhkan tanda tanganmu di sana.”
Tanpa ragu lagi, aku segera mengambil pulpen dan menandatanganinya dengan tulisan tangan yang agak tergesa karena gugup. Setelah itu ia juga membubuhkan tanda tangannya sendiri — tegas, lugas, dan terlihat pasti. Begitu selesai, ia langsung meraih ponsel dan menelepon seseorang. Aku tidak mendengar jelas apa yang dibicarakannya; pikiranku justru sibuk bergumam: Ayah akan selamat, tapi bagaimana aku memberitahu ibu? Ia pasti akan hancur mengetahui apa yang aku lakukan, meski ini satu-satunya jalan.
Saat aku masih tenggelam dalam pikiran itu, suara Adrian kembali terdengar — tenang dan meyakinkan:
“Sekretarisku akan mengurus semuanya sekarang juga. Dalam waktu singkat, administrasi dan biaya pengobatan ayahmu sudah selesai. Kau tak perlu khawatir lagi soal itu.”
Ia lalu berdiri dan mengulurkan tangannya kepadaku sebagai tanda persetujuan resmi. Aku berdiri dan menjabat tangannya dengan penuh rasa hormat. Di balik tatapannya, terlihat secercah kepuasan yang samar. Baru saat itu aku benar-benar memperhatikan sosoknya: gagah, berwibawa, dengan mata biru yang terlihat tajam namun entah kenapa terasa menyimpan sesuatu yang tak terungkap. Dalam hatiku bertanya-tanya: Mengapa aku baru menyadarinya sejelas ini sekarang?
“Jadi mulai hari ini, aku harus hidup berdampingan dengan pria ini sebagai istrinya selama satu tahun penuh,” gumamku pelan dalam hati. “Entah ini akan membawa kebahagiaan atau justru cobaan yang lebih berat. Tapi biarlah itu urusan nanti. Yang paling penting sekarang: nyawa ayah terselamatkan. Itu sudah cukup memberiku kekuatan untuk menjalani segalanya.”