Selama bertahun-tahun, Bee Catleen hidup sebagai putri kesayangan keluarga Luwis. Meskipun berstatus anak angkat, Bee selalu menerima cinta dan kasih sayang yang membuatnya merasa tidak pernah berbeda dari anggota keluarga lainnya.
Namun semuanya berubah ketika Jelita, putri kandung keluarga Luwis yang hilang selama lima belas tahun, akhirnya kembali.
Perlahan, perhatian yang dulu menjadi miliknya mulai beralih. Bee hanya bisa tersenyum dan berpura-pura bahagia demi melihat keluarganya kembali utuh. Di balik tawa ceria dan sifat humorisnya, Bee menyimpan luka yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Hari demi hari, Bee hidup dengan topeng kebahagiaan, hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang mampu melihat kesedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilihnya tanpa ragu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 IRI HATI.
Di dalam kelas. Bee dan Cristal sedang mengobrol pelan sebelum dosen datang, Tak lama kemudian, jelita masuk dengan wajah ceria seperti biasanya.
"Pagi lagi." sapanya ramah.
Bee mengangkat kepala. "Pagi."
Cristal hanya mengangguk singkat.
Jelita tidak menyerah Ia menarik kursi di depan Bee, lalu menoleh ke arah Cristal. "Cristal."
"Hm?"
"Aku boleh duduk di sini kan?"
Cristal mengangkat bahu. "Itu bukan kursiku."
Jelita tersenyum. "Makasih." Ia lalu mencoba membuka percakapan. "Cristal, kemarin kamu sama Bee ngerjain tugas sampai malam ya?"
"Iya."
"Wah, pasti capek."
"Enggak."
"Oh..." Jelita kembali tersenyum canggung.
Beberapa detik kemudian ia mencoba lagi.
"Nanti kalau istirahat kita makan bareng yuk."
Cristal tetap memasang wajah datar. "Lihat nanti."
"Kalau kamu mau..."
"Aku bilang lihat nanti." Jawaban singkat itu membuat senyum Jelita perlahan menghilang.
Bee yang melihat suasana mulai canggung segera menengahi. "Cris memang begitu kalau pagi."
Bee tersenyum kecil. "Nanti juga cerewet sendiri." Lanjut bee
Cristal langsung menoleh. "Eh, aku gak cerewet."
Bee terkekeh. "Iya, iya."
Jelita ikut tertawa kecil, berharap suasana kembali mencair.
Namun Cristal tetap bersikap dingin. Baginya, keramahan Jelita terasa tidak tulus.
Sejak gosip tentang Bee menyebar di kampus, kepercayaan Cristal terhadap Jelita sudah hilang.
Ia memilih menjaga jarak.
Sementara Bee hanya bisa menghela napas pelan.
Jam pelajaran berlangsung cukup lama.
Menjelang akhir kelas, dosen berdiri di depan sambil membawa beberapa map berisi berkas. "Baik, sebelum kelas selesai, saya ingin membahas mengenai program magang."
Semua mahasiswa langsung memperhatikan. Dosen mulai menjelaskan perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan kampus.
"Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, beberapa mahasiswa telah mengajukan tempat magang lebih awal." Beliau membuka salah satu map. "Lalu ada dua mahasiswa yang sudah lebih dulu diterima di perusahaan mitra dengan penilaian terbaik."
Seluruh kelas langsung penasaran.
"Bee Catleen."
Bee mengangkat tangan. "Hadir, Pak."
"Cristal Kyler."
Cristal ikut mengangkat tangan. "Hadir."
Dosen tersenyum. "Kalian berdua diterima di perusahaan milik rekanan kampus. Perusahaan tersebut juga memberikan uang saku yang cukup besar setiap bulannya."
Seketika terdengar tepuk tangan dari beberapa mahasiswa.
"Wah... keren."
"Pantes aja."
"Mereka memang mahasiswa berprestasi."
Bee hanya tersenyum malu.
Sedangkan Cristal menyenggol lengan Bee pelan. "Selamat, partner."
Bee membalas dengan senyum. "Selamat juga. Ini berkat kekuasaan kakakmu " bisik Bee
" kakakku memang hebat " Balasnya bangga.
Namun... Di sudut kelas, Jelita mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia sama sekali belum memikirkan tempat magang.
Apalagi perusahaan sebesar itu. Melihat Bee dan Cristal dipuji membuat hatinya dipenuhi rasa iri. "Kalau Bee bisa..." Gumamnya pelan "Aku juga harus bisa."
Dalam hati, Jelita sudah mengambil keputusan.
Nanti malam aku akan minta Papah memasukkanku ke perusahaan yang sama, Pokoknya aku harus magang bersama Bee dan Cristal.
Bel istirahat berbunyi.
Cristal langsung berdiri. "Ayo Bee, kita makan."
Bee ikut berdiri. "Ayo." Belum sempat mereka melangkah.
Jelita sudah berdiri di samping Bee sambil tersenyum. "Aku ikut ya."
Cristal langsung menghela napas pelan.
Bee yang tidak ingin memperpanjang masalah hanya mengangguk. "Iya, ayo."
Akhirnya mereka bertiga berjalan menuju kantin. Sepanjang perjalanan, Jelita terus menempel di sisi Cristal.
Bahkan tanpa izin, Jelita menggandeng lengan Cristal dengan akrab. "Cristal, kantinnya besar ya."
"Iya."
"Kamu biasanya makan apa?"
"Terserah."
"Besok kita makan bareng lagi ya."
Cristal hanya mengangguk seadanya. Dalam hati ia benar-benar merasa risih, Namun ia menahan diri demi Bee.
Sesampainya di kantin. Bee berdiri mengantre mengambil makanan.
Sementara Cristal dan Jelita menunggu di meja.
Tiba-tiba...
Seorang pria tinggi menghampiri Bee dari belakang. "Hai, Bee."
Bee menoleh. "Oh, Kriss."
Pria itu tersenyum lebar. "Semakin hari kamu semakin cantik aja."
Bee terkekeh kecil. "Kamu baru sadar ya?"
Kriss langsung mengusap tengkuknya sambil tertawa.
"Iya sih."
Saat itulah Cristal datang membawa minuman. "Kriss."
"Hm?"
"Ngapain kamu godain Bee terus?"
Kriss langsung nyengir. "Kan gak boleh?"
Cristal menyilangkan tangan. "Ingat ya. Kamu bukan tipe Bee."
Bee langsung tertawa kecil. "Cris."
"Apa?"
"Kasihan."
Kriss menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. "Ya gimana."
"Aku udah lama ngejar Bee. tapi Bee gak pernah peka."
Bee pura-pura berpikir. "Oh ya?"
"Iya."
"Kasihan juga."
Kriss langsung berbinar. "Berarti ada harapan?"
Bee tersenyum jahil. "Ada."
Kriss langsung mendekat. "Bener?"
"Harapan buat tetap jadi teman."
"Hancur sudah."
Bee dan Cristal langsung tertawa bersamaan.
Kriss hanya bisa menggeleng sambil ikut tertawa.
Ia memang sudah lama menyukai Bee. Namun Bee selalu memperlakukannya seperti teman biasa.
Tidak lebih.
Jelita memperhatikan mereka. Tatapan matanya berpindah dari Bee ke Kriss, Kemudian ke Cristal.
Mereka terlihat begitu akrab Bisa saling bercanda tanpa canggung.
Ada rasa iri yang perlahan muncul di dalam hatinya.
Namun seperti biasa... Ia menyembunyikan perasaannya di balik senyum manis.
Jelita kemudian berjalan menghampiri mereka. "Hai."
Kriss menoleh. "Oh, kamu teman Bee ya?"
"Iya. Aku anak kandung keluarga Lewis " Jawab Jelita dengan bangga. Jelita langsung mengulurkan tangan. "Aku Jelita."
Kriss membalas jabat tangannya dengan sopan. "Kriss."
Jelita langsung tersenyum ramah seolah mereka sudah lama saling mengenal. "Bee sering cerita tentang teman-temannya."
Bee sedikit terkejut karena ia merasa tidak pernah menceritakan Kriss kepada Jelita, Namun Bee memilih diam.
Jelita terus mengajak Kriss mengobrol dengan antusias.
Sementara Kriss hanya menjawab seperlunya karena perhatiannya tetap lebih sering tertuju kepada Bee.
Cristal memperhatikan semua itu tanpa berkata apa-apa. Ia hanya menghela napas pelan. Dalam hati, ia mulai merasa bahwa kehadiran Jelita perlahan mengubah dinamika di sekitar Bee.Dan ia bertekad...
Jika suatu saat Bee kembali disakiti, kali ini ia tidak akan tinggal diam.