NovelToon NovelToon
TO MARRY A REGEN

TO MARRY A REGEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: byKaru

“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”

Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Kendali

Victor menatap layar tabletnya dengan ekspresi marah. Rasa tidak senang dengan berita yang beredar membuatnya meletakkan tablet itu dengan kasar di atas meja.

"Terlalu banyak berita tidak benar," ucapnya.

"Itu benar," sahut Nathan datar.

Nathan tetap tenang, memotong steaknya tanpa menunjukkan sedikit pun emosi, seolah berita itu bukan tentang dirinya.

Andre yang duduk tepat di seberang Nathan, memberi pertanyaan dengan nada bicara ingin menyindirnya.

"Bukankah kau sedang dekat dengan Alia?"

Andre jelas sedang membicarakan putri Tuan Dison, berita kedekatan mereka belakangan ini terlalu sering menghiasi media.

Nathan tersenyum kecil tanpa menoleh ke arah Andre.

"Aku dekat dengan semua wanita."

Victor mengalihkan pandangannya ke Andre, sorot matanya tajam.

"Bukankah ini tanggung jawabmu?" Nada suaranya rendah, tapi menggigit. "Aku mempercayakan industri hiburan padamu, bukan untuk membiarkan skandal seperti ini menyebar," jelas Victor.

Andre menegakkan tubuhnya, wajahnya berubah serius.

"Berita itu bukan dari saluran kita Ayah. Bulan lalu aku sudah menutup beberapa laporan saat dia ada di klub malam bersama beberapa wanita. Tapi berita serupa kembali muncul dan dari jaringan luar." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

"Aku sudah meminta tim perusahaan untuk menghapus semua pemberitaan buruk yang menyangkut nama Regen. Tapi itu hanya bekerja jika masih dalam wilayah kita. Di luar sana, apapun yang berkaitan dengan Regen Corporation adalah tambang uang bagi mereka," jelas Andre.

Victor mengalihkan pandangannya kembali ke Nathan, matanya tak kalah tajam.

"Besok malam akan ada jamuan makan malam bersama Tuan Dison dan keluarganya. Semua akan hadir."

Perintah Victor tegas, tak memberi ruang untuk penolakan. Setelah itu, ia bangkit dari kursinya dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi.

Nathan menatap kepergian ayahnya tanpa berkata apa-apa. Ia meletakkan pisau dan garpu di tangannya dengan gerakan yang sedikit kasar dan itu cukup untuk menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap pertemuan yang baru saja diumumkan.

Tanpa menunggu lama, ia bangkit dari kursinya, meninggalkan steaknya yang belum habis, lalu berjalan pergi.

Ia bahkan tak melirik Andre yang masih duduk di sana.

...*****...

Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Regen Hotel. Kaca jendela yang terbuka lebar tak mampu meredakan amarah yang mendidih dalam dirinya.

Keputusan-keputusan sepihak yang terus-menerus ditetapkan oleh Victor membuat dadanya terasa sesak, seolah udara pun enggan masuk.

Tak butuh waktu lama, mobilnya berhenti tepat di depan lobi hotel. Dengan gerakan cepat, Nathan membuka pintu, menyerahkan kunci mobil kepada petugas valet yang sudah siap menyambut, lalu melangkah masuk tanpa mengucap sepatah kata pun.

Langkahnya cepat, mantap, dan penuh tekanan. Ia menuju lift tanpa menoleh sedikitpun. Aura dingin yang menyelimuti tubuhnya terasa begitu kuat, sampai-sampai para tamu dan staf hotel yang berpapasan dengannya otomatis menyingkir. Bahkan resepsionis yang berdiri di lobi pun bisa merasakan perubahan atmosfer yang tiba-tiba mencekam saat Nathan melewati mereka.

Beberapa saat kemudian, sekretaris Nathan berjalan mendekati meja resepsionis yang berada di depan kantor Nathan.

"Bagaimana suasana Pak Nathan saat masuk tadi?" tanyanya pelan.

"Suasana hatinya sedang buruk," jawab resepsionis itu hati-hati.

Jawaban singkat itu cukup membuat sekretaris tersebut menghela napas panjang. Karena hari ini ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani, dan juga informasi penting yang perlu disampaikan, tidak peduli betapa buruknya suasana hati atasannya saat ini. Setelah beberapa detik menimbang, ia akhirnya memutuskan untuk masuk.

"Beritahu beliau, saya ingin masuk."

Resepsionis itu segera mengangkat gagang telepon dan menekan sambungan internal ke ruangan Nathan.

"Pak, sekretaris Bapak ada di depan." Resepsionis itu menutup teleponnya dan memberi instruksi agar ia segera masuk.

"Selamat siang Pak," ucap sang sekretaris begitu memasuki ruangan. "Ada beberapa dokumen yang perlu Bapak tandatangani."

Ia berjalan ke depan meja Nathan dan meletakkan berkas-berkas tersebut rapi di hadapannya.

Tanpa banyak bicara, Nathan meraih pena dan langsung menandatangani dokumen-dokumen itu satu per satu. Ia sudah tahu isinya, tidak perlu membaca ulang.

"Pak, saya juga ingin menyampaikan sesuatu, Nona Arin sudah ditemukan."

Tangan Nathan terhenti sejenak. Nama itu, yang sudah beberapa hari ini ia lupakan. Tiba-tiba kembali terdengar.

"Bukankah aku sudah memintamu untuk berhenti mencarinya?" ucapnya tenang, sambil melanjutkan menandatangani halaman berikutnya.

"Benar, Pak. Saya memang sudah menghentikan pencariannya. Tapi hari ini, teman saya yang bekerja di Virelle Hotel memberitahu bahwa Nona Arin melamar di sana."

Nathan mengangkat wajahnya, menatap sekretarisnya.

"Virelle Hotel?"

"Benar, Pak."

Nathan menyelesaikan tanda tangan terakhirnya, lalu menggeser kembali dokumen-dokumen itu.

"Sudah selesai."

Sang sekretaris membungkuk ringan dan mengambil kembali berkas-berkas itu. Ia hendak melangkah pergi tapi suara Nathan menghentikannya.

"Virelle Hotel sedang membuka lowongan untuk Hotel Manager?"

"Untuk saat ini, tidak, Pak," jawabnya hati-hati. "Tapi mereka sedang mempertimbangkan Nona Arin karena pengalamannya di sini. Walau begitu, tidak ada jaminan dia akan diterima," lanjutnya.

"Kemungkinan ditolak?"

"Virelle punya sistem promosi internal, sama seperti hotel kita Pak. Mereka membentuk karyawannya dari bawah. Mengganti posisi tinggi dengan orang luar bukan kebiasaan mereka. Tapi, untuk kandidat sekelas Nona Arin, mereka pasti mempertimbangkannya dengan serius."

Nathan menatap lekat mejanya yang kosong. Cukup hening beberapa detik.

"Bisakah kau membantunya agar dia diterima?" tanya Nathan. "Dengan posisi yang sama saat dia di sini. Apa kau bisa?" lanjut Nathan.

"Tentu Pak. Jika Bapak menginginkannya, saya bisa membuatnya mendapatkan posisi yang sama seperti saat bekerja di sini," jawab sekretaris dengan yakin.

"Baiklah. Aku serahkan padamu," ucap Nathan singkat.

Sekretaris itu membungkuk sedikit, lalu keluar meninggalkan ruangan, membawa dokumen-dokumen yang telah ditandatangani.

Begitu pintu tertutup, ruangan kembali sunyi. Nathan bersandar di kursinya, menatap meja kerja dengan tatapan kosong.

"Membantunya seperti ini, aku rasa sudah cukup," gumamnya pelan, mengakhiri rasa bersalahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!