Dia datang untuk menemui saudara kembarnya tapi kenyataan pahit harus dia terima, saudara kembarnya sudah meninggal dua hari sebelum bertemu dengannya.
Lila meninggal karena kecelakaan, mobil yang dia kendarai masuk ke dalam jurang.
Luna hadir ke dalam keluarga tersebut, dan menyamar menjadi seorang pembantu, dan dia menemukan fakta bahwa saudara kembarnya meninggal tidak wajar. Ada sekelompok orang yang sengaja ingin melenyapkan nya.
Luna marah dan bersiap untuk balas dendam, satu persatu informasi dia dapat dan perlahan dia memberikan hukuman kepada para penjahat tersebut.
Bagaimana Luna membalas mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil?
"Ada apa nyonya berteriak? apa ada yang menyakiti anda?" tanya Luna sok perhatian.
"Itu...itu...." ucapnya menunjuk gorden dengan tubuh gemetar.
"Itu apa nyonya," tanya Bik Anne mengikuti arah pandang dan tangan Miranda.
Luna berjalan pelan seakan pura-pura memberanikan diri melihat kesamping, menyibak gorden dan teriak. "Aaaaaaa..."
"Ada apa?" Bik Anne mendekat
"Tidak ada apa-apa Bik," ucap luna lega
"Kamu tuh bikin kaget saja," ucap bik Anne lega, mereka kembali mendekati Miranda,
"Tidak ada apa-apa nyonya" ucap bik Anne
"Tapi tadi saya melihat lila, hantu lila..." ucap Miranda dengan tubuh gemetar.
"Mungkin nyonya hanya berhalusinasi, tidak ada apa-apa disana," ucap Luna lagi.
"Jika tidak percaya, nyonya bisa cek sendiri."
"Iya tidak ada siapapun nyonya, jika ada pasti para penjaga sudah menangkap mereka." timpal Bik Anne.
"Mungkin nyonya lelah, mari saya antar ke kamar anda." ucap bik Anne
Dengan patuh Miranda berjalan menuju kamarnya, "Mau saya antar sampai dalam?"
"Tidak, "
"Saya permisi nyonya" ucap bik Anne berlalu pergi.
Miranda membuka pintu dan masuk ke dalam rumah, dia sedikit kaget melihat tempat tidur, kosong.
Miranda bernapas lega, dengan cepat dia masuk dan menutup pintu lalu menarik selimut dah menutup tubuhnya rapat.
Satu jam kemudian Rena pulang kerumah. Baru saja dia membuka pintu kamarnya gadis itu sudah di kejutkan dengan tulisan yang terletak diatas tempat tidur.
"Kamu harus mati" kalimat itu tertulis besar-besar diatas kertas berwarna putih dengan pena darah.
Gadis itu berjingkat kaget, dan menjerit histeris.
Segera berlari keluar kamarnya namun seseorang yang berdiri didepan tangga membuatnya tak berkutik, wajahnya pucat. Bibirnya gemetar, tak lagi sanggup berbicara.
"Ka.... kau..." ucapnya gugup.
Lila terus berjalan maju dan Rena melangkah mundur, gadis itu terkejut saat dirinya membentur tembok, Lila terus maju dengan wajah datar dan tatapan tajam.
"Pergi...pergi...." usirnya
Lila tak mendengar kan, dia terus maju, karena panik Rena maju dan hendak mendorong Lila, sayangnya gadis itu bisa membaca gerakannya. Lila mengelak dan dia terjatuh ke bawah.
"A...aaaa"
brugh...
Lila tersenyum tipis dan segera bersembunyi di kamarnya.
Luna yang batu akan membaringkan tubuhnya, bangun dan membuka pintu.
Disaat yang sama pintu sebelah kamarnya juga sana, "Ada apa lagi Bik?"
"Ayo kita lihat non," ajak Bik Anne. Dia pun berlari di belakang Bik Anne yang telah lebih dulu berjalan.
"Rena ...." suara Miranda menangis histeris, membuat kedua wanita itu berlari, dan mereka berdua kaget melihat tubuh Rena tergeletak bersimbah darah.
"Lun, cepat panggil ambulance,"
"Lama, langsung bawa aja," ucap Luna
"Dengan sigap dua orang pria masuk, mereka menggendong tubuh Rena dan langsung membawanya ke rumah sakit, Luna ikut bersama dengan Miranda yang tak henti menangis.
"Tenanglah nyonya"
"Bagaimana mungkin dia bisa jatuh."
Miranda sampai tidak menyadari jika dia hanya menggunakan piyama.
Sesampainya di rumah sakit, Rena langsung ditangani. Miranda serta Luna menunggu dengan tak sabar diluar ruangan.
Tak lama kemudian seorang perawat keluar.
"Dengan keluarga Bu Rena?'
"Iya, saya ibu?"
"Ehm, begini Bu. saya ingin menyampaikan jika kecelakaan yang dialami Rena, berdampak fatal pada dirinya?"
"Maksud anda?"
"Rena lumpuh karena kakinya patah dan tak bisa lagi digunakan lagi untuk berjalan."
"Lumpuh?" tanya Miranda bingung dengan mata membulat sempurna.
"Iya satu lagi ? Maafkan kami karena gagal menyelamatkan cucu Anda."
"Apa? Cucu?" wanita itu bagai di tampar petir.
"Ha...hamil?" tanya Miranda dengan tergagap, dia sangat syok.
Dia tau hubungan Rena dan Daren, lalu bagaimana mungkin Rena sebodoh itu, dia mau saja dihamili pria brengsek dan bajingan seperti Daren.
"Siapa bapak nya?" tanya Miranda dalam hati.
"Aku yakin itu pasti Daren" batin Miranda dan juga Luna.
othor fokus 1 novel aja spy g salah, yg baca jd bingung & byk typo lho SMP part ini
hpmu jgn lupa diambil, lumayan merekam smua obrolan bs jd bukti
skip" obrolan pas nenek lampir & anak'a
siapa hayo yg kepoin Luna...