Sinopsis: Mati konyol akibat tersedak tutup pulpen saat mencoba pamer trik sulap di depan kucingnya, Raditya dilempar oleh Dewa Administrasi yang burnout ke Aethelgard—dunia fantasi purba yang super kejam dan mematikan.
Bukannya dibekali pedang suci atau sihir penghancur masal, Raditya hanya diberi sebuah Sistem Survival yang hobi menghujat, bermulut sarkas, dan gemar memberikan hadiah absurd seperti panci aluminium. Tanpa kemampuan bertarung, Raditya terpaksa mengandalkan logika Bumi yang pas-pasan, keberuntungan yang aneh, dan adu bacot dengan sistemnya sendiri demi tidak mati untuk kedua kalinya di dasar rantai makanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Teknik Melarikan Diri Sambil Membawa Panci Panas
KRETEK! BRAK!
Batang-batang pakis raksasa di seberang sungai patah jadi dua. Dari balik kegelapan semak, muncullah sesosok makhluk setinggi tiga meter dengan kulit berwarna hijau tua bertekstur kasar seperti lumut kering. Tubuhnya luar biasa kekar, dengan perut buncit yang bergelambir dan sepasang lengan panjang yang lengannya dihiasi kuku-kuku hitam setajam belati.
Itulah Ogre Lumut Kelana. Wajahnya yang pesek memiliki satu mata besar di tengah dahi yang menatap nanar ke arah api unggun kecil milik Raditya. Lebih spesifiknya, hidung besarnya yang penuh kutil itu sedang kembang-kempis, menghirup aroma magis "Soto Aether" yang menguar dari panci aluminium.
"Gwahahaha!
Raditya bersumpah dia mendengar monster itu meraung seperti itu, walau mungkin itu hanya halusinasi otaknya yang ketakutan. Air liur kental berwarna hijau menetes dari sela-sela gigi kuning Ogre tersebut, membakar lumut ungu di bawahnya dengan suara mendesis.
Ding!
[Pemberitahuan Taktis]: Ogre Lumut memiliki kecepatan lari yang setara dengan traktor rusak, namun daya hancurnya setara dengan buldoser. Dia sangat bernafsu dengan kuah soto buatan Anda. Jika Anda menyerahkan panci itu, Anda mungkin punya waktu 3 detik untuk kabur sementara dia menjilati pancinya.
"Tiga detik tidak cukup untuk menyelamatkan nyawaku, Sistem!" teriak Raditya dalam hati.
Dengan gerakan refleks yang lahir dari kepanikan tingkat dewa, Raditya menyambar gagang panci aluminium yang masih berada di atas api.
"ADUH! PANAS, SIALAN!"
Raditya menjerit. Kulit telapak tangannya hampir melepuh karena logam panci itu sangat panas. Namun, alih-alih menjatuhkannya, insting hematnya sebagai mantan anak kos di Bumi mendadak bergejolak. Roti sudah kadaluarsa, poin tinggal sepuluh, masa kuah soto berenergi ini harus ditinggal begitu saja?! Ogah!
Sambil menahan perih, Raditya merobek sisa kaus oblongnya yang sudah melar, membungkus gagang panci dengan kain tersebut, lalu mengangkatnya dengan satu tangan. Tangan satunya lagi menyambar korek api gas dan sisa roti di atas tanah.
Melihat "makanan berkuah"-nya hendak dibawa lari oleh seonggok daging manusia kecil, Ogre Lumut itu marah besar. Dia mengangkat sebuah batu besar seukuran mesin cuci dari tepi sungai dan melemparkannya ke arah Raditya.
WUSS! BLAAAM!
Batu itu menghantam tempat api unggun Raditya, membuat bara api dan tanah beterbangan ke segala arah. Raditya yang sudah mengambil langkah seribu langsung meloncat ke samping, berguling di atas lumut ungu sambil berusaha setengah mati menjaga agar air di dalam pancinya tidak tumpah.
"Sistem! Di mana bakat [Pelempar Sayur Profesional]-ku?! Apa tidak bisa dipakai untuk melempar monster ini?!"
Ding!
[Analisis]: Gelar [Pelempar Sayur Profesional] hanya meningkatkan akurasi lemparan Anda. Jika Anda melempar Ogre ini dengan sisa Jamur Batu Tawar di saku Anda, dia hanya akan merasa seperti dilempar kerupuk dan akan semakin bernafsu mengunyah Anda sebagai pelengkap.
"Oke, oke! Lari adalah satu-satunya jalan ninja!"
Raditya memacu kedua kakinya menembus lebatnya hutan purba. Di belakangnya, suara langkah kaki Ogre itu terdengar laksana gempa bumi kecil. DUG! DUG! DUG! Pohon-pohon muda tumbang ditabrak oleh tubuh raksasa itu. Jarak mereka berdua semakin mengikis. Dari lima belas meter, kini tinggal sepuluh meter.
Napas Raditya mulai habis. Paru-parunya kembali terasa terbakar oleh atmosfer padat Aethelgard. Otot pahanya menjerit minta ampun.
"Sistem... peningkat stamina... kuah soto ini... bagaimana cara meminumnya sambil lari?!" sela Raditya di antara deru napasnya yang putus-putus.
[Petunjuk Pemakaian]: Minum langsung dari panci panas saat berlari memiliki risiko 98% Anda akan tersedak (lagi) dan mati dengan rekor baru. Disarankan untuk menuangkannya sedikit demi sedikit ke mulut Anda, atau gunakan sedotan plastik dari bekas Aqua gelas di kantong Anda.
"Ide bagus!"
Raditya teringat dia masih mengantongi sedotan plastik bekas air mineral yang dia beli tadi. Dengan tangan gemetar karena berlari berguncang-guncang, dia meraba kantong celana, mengeluarkan sedotan, lalu mencelupkannya ke dalam panci panas yang dia jinjing.
Dia menyedot kuah kuning keperakan itu dengan cepat.
SLUURP!
"PANAAAASSS!" Lidah Raditya rasanya langsung mati rasa. Namun, sedetik kemudian, sebuah keajaiban fiksi terjadi.
Begitu cairan rasa soto itu mengalir ke lambungnya, sebuah gelombang energi hangat yang sangat kuat meledak dari dalam tubuhnya. Rasa lelah di kakinya lenyap seketika. Otot-ototnya yang tadinya lembek mendadak terasa seperti dialiri listrik tegangan tinggi. Pandangan matanya yang buram menjadi super tajam.
Ding!
[Efek Ramuan Aktif]: Anda telah meminum 'Soto Aether Amatir (Rasa Kaldu Ayam)'.
Efek: Memulihkan 100% Stamina secara instan dan meningkatkan kecepatan lari sebesar 30% selama 5 menit.
Efek Samping: Anda akan merasa sangat ingin makan nasi hangat dalam beberapa jam ke depan.
"Woooaaaah! Ini beneran cheat skill kearifan lokal!" Raditya berteriak girang.
Dengan kecepatan peningkat 30%, langkah kaki Raditya mendadak menjadi seringan angin. Dia melompati akar-akar pohon raksasa dengan kelincahan yang belum pernah dia miliki seumur hidupnya. Ogre Lumut di belakangnya yang tadi hampir bisa menggapai kerah baju Raditya, mendadak tertinggal jauh di belakang.
"Dadah, Muka Lumut! Cari soto di warung lain sana!" ejek Raditya sambil menoleh ke belakang dan menjulurkan lidahnya yang masih agak melepuh.
Namun, Raditya lupa satu hukum dasar dunia komedi: Jangan pernah sombong sebelum garis finis.
Karena terlalu asyik mengejek monster di belakangnya, Raditya tidak melihat medan di depannya. Di depan sana, vegetasi hutan mendadak habis, digantikan oleh hamparan kabut putih tebal yang menutupi sebuah... jurang.
Begitu Raditya menoleh kembali ke depan, posisinya sudah berada di ujung tebing batu. Kecepatannya yang bertambah 30% membuatnya tidak bisa mengerem mendadak. Sepatu kets murahnya tergelincir di atas batuan basah.
"Eh? Eh? JURAAAANG?!"
Ding!
[Peringatan Lingkungan]: Anda memasuki area 'Tebing Kabut Ratapan'. Persentase kemungkinan selamat dari jatuh bebas di sini adalah 0,02%. Selamat terbang.
"SISTEEEMMMM KURANG AJAAARRR!"
Tubuh Raditya meluncur indah melewati batas tebing, jatuh bebas ke dalam jurang yang tertutup kabut tebal, masih dengan tangan yang memegang erat panci aluminium berisi sisa kuah soto ayamnya. Sementara di atas tebing, Ogre Lumut yang mengejarnya hanya bisa mengerem di tepi jurang, menggaruk kepalanya yang bodoh karena makanannya baru saja melakukan aksi bunuh diri terjun payung tanpa parasut.