Alexandria Rigest tidak menyangka akan terjebak di antara baku tembak pendemo Sebagai jurnalis dia ingin mengupas tuntas sisi gelap prilaku oknum-oknum yang duduk di parlemen. Ketika terjadi demo serta baku tembak di salah satu gedung pemerintah, Alexa ikut terjaring. Dia sendiri diculik oleh beberapa orang yang berpakaian hitam- hitam dan disekap di ruangan bawah tanah. Alvaro Ady Mema, itu nama bos gangster yang menculiknya. Kehidupan Alexa di manipulasi dan Alexa menjadi budak nafsu Alvaro yang terkenal kejam tidak punya prikemanusiaan. Bisakah Alexa lepas dari cengkraman Alvaro? atau dia malah jatuh cinta kepada bos mafia itu?
****
Hallo readers yang selama ini sudah support aku, mampir ya...
jangan lupa kasi like, gift, vote dan favorit. Trimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LELAKI LAIN
Honduras, pria ganteng ajudan Alfredo, laki-laki itu dari tadi mondar mandir menahan geram ketika terjadi error, data perusahannya di hack. Dia tidak tahu I.T, makanya dia tambah pusing memikirkan semua kejadian ini. Baru kali ini terjadi dan kecurigaannya mengarah kepada Alvaro suami Margareta.
Sebagai kepercayaan Alfredo dia sangat antusias mengelola bisnis dunia hitam ini. Banyak keuntungan yang dia dapatkan dari sini. Kedudukan yang mapan, rumah mewah, mobil sport, dan uang melimpah. Setelah kematian Alfredo peluang untuk menguasai milik Margareta terbuka lebar.
Selama menjadi ajudan banyak tragedi sudah dia lewatkan, dia belajar dari setiap kegagalan dalam merintis usahanya. Bisnis di dunia hitam banyak resikonya, nyawa taruhannya.
Disamping ulet Honduras terkenal kejam dan arogan. Dia tidak pandang bulu kalau bertindak. Setiap bertarung melawan mafia kambuhan atau gangster yang sudah ternama, Honduras tidak pernah takut. Dia membunuh musuhnya dengan cara menyiksa dulu. Sangat sadis.
Umurnya sudah matang 32 tahun, tidak mau menikah dan tidak mau punya anak. Dia ingin menjadi mafia sejati tanpa mau terikat emosi dengan istri dan anak.
Dulu sewaktu Alfredo masih hidup, dia kerap datang ke kamar Margareta secara sembunyi-sembunyi untuk melepas hasrat. Margaretapun sangat terobsesi dengan Honduras. Sekarang Alfredo sudah meninggal, hubungannya dengan Margareta bisa diperjelas.
"Tuan data perusahan sudah pulih kembali. Kita tidak tahu apa ada kerugian dari kejadian tadi, atau sistem memang sedang error." kata Damian melapor. Dia adalah anak buah Alfredo bagian I.T.
"Syukurlah. Sekalian cek keuangan, juga saham dan yang berhubungan dengan perusahan."
"Seharusnya Tuan menjemput nona Margareta atau disuruh pulang untuk membereskan surat yang perlu ditanda tangani. Pelimpahan tanggung jawab bisa di bebankan kepada Margareta."
"Aku sudah biasa menangani semuanya sendiri, kalau ada Margareta malah dia menghambur-hamburkan uang."
"Bagaimanapun Tuan harus menghubungi nona Margareta." kata Damian.
"Aku akan hubungi." jawab Honduras mengalah, kemudian dia meraih ponselnya dan menelepon Margareta.
Honduras berkali-kali menghubungi Margareta, namun tidak diangkat oleh wanita itu. Margareta sendiri sedang merayu Alvaro berusaha menjinakkan hati Alvaro tapi belum juga Alvaro terangsang. Malah Alvaro sengaja terus minum supaya cepat mabuk.
"Aku tidak peduli kau istriku atau bukan, cintaku hanya untuk selirku. Wanita yang aku cintai.adalah Alexa." ketus Alvaro.
Dia terus minum sambil memandang foto Alexa digaleri. Margareta ikut duduk di sofa menemani Alvaro minum dengan kesal. Dia di cuekin oleh Alvaro.
"Semenjak ada Alexa kau aneh. Selir kesayanganmu sudah meninggal jangan di ingat lagi, dia sudah jadi sampah."
"Alexa masih hidup di hatiku."
"Aku tidak peduli kau cinta siapa aku cuma ingin kau puas, akupun juga puas." sahut Margareta mengelus dada bidang Alvaro.
"Aku sarankan supaya kau pulang mengurus bisnis Alfredo. Perasaanku tidak enak, bisa saja Honduras menipu dan memperkaya dirinya."
"Dia orang baik, tidak mungkin dia berkhianat padaku. Aku banyak berhutang budi dengannya."
"Dari tampangnya aku melihat kelicikan di wajahnya."
"Tidak usah di bahas lagi, mari kita bersenang-senang." kata Margareta mengambil gelas vodca dan menyesap isinya.
Alvaro membiarkan Margareta beraksi, wanita itu mulai mencium Alvaro dengan perasaan menggebu.
"Kita ketempat tidur sayank." ajak Margareta menarik tangan Alvaro. Tubuh kekar itu tidak kuat berdiri. Alvaro mabuk dia menjatuhkan diri ke sofa panjang. Margaret kecewa melihat tingkah Alvaro.
"Orangnya sudah mati masih saja kau ingat. Gembong mafia koq cemen." gerutu Margareta geram.
Margareta memakai pakaiannya kembali, dia ke luar dari kamar Alvaro dengan wajah masam.
"Kalian pindahin Tuan ke kasur dan suruh pelayan membersihkan kamar." perintah Margareta kepada dua pengawal yang berada di luar kamar.
"Siap nona."
Margareta menuju kamar pribadinya, dia mengambil ponselnya di nakas. Ada beberapa panggilan dari Honduras dan chat yang menyuruh dia pulang mengurus tanda tangan.
"Sayank kapan kau pulang, aku kangen padamu. Kau harus menanda tangani beberapa surat untuk kelancaran bisnis kita. Sekarang kau sudah menjadi pimpinan perusahan, berbanggalah. Kau bisa membeli apapun yang kau ingini tanpa kekurangan uang." tulis Honduras.
"Honduras, aku belum bisa pulang. Aku percaya padamu untuk mengelola bisnis kita. Bawa surat-surat yang harus aku tanda tangani kesini, kita bertemu di tempat biasa. Aku sangat rindu padamu." balas Margareta. Centang satu, perlu kesabaran menunggu balasan Honduras.
"Oke, aku akan ke Bandara sekarang, aku akan langsung ke Villa." setelah tiga puluh menit baru di balas oleh Honduras.
Margareta memasukan beberapa pakaian ke koper. Dia ingin honeymoon bersama Honduras. Daripada menunggu Alvaro lebih baik mengajak orang lain yang mau diajak bercinta. Honduras bukanlah orang baru di kehidupan Margareta, dia laki-laki super yang bisa memuaskan Margareta.
"Pengawal bawa koperku ke mobil." perintah Margareta kepada pengawalnya.
"Siap nona."
"Mulai sekarang kalian panggil aku "nyonya" aku disini berkuasa." kata Margareta kepada semua pengawal dan pelayan yang ada.
"Baik nyonya." jawab mereka serempak.
"Mulai sekarang layani aku seperti kalian melayani Tuan Alvaro. Aku sekarang adalah pimpinan mafia, jadi kedudukanku sama seperti Tuan. Siapkan empat pengawal untuk menemaniku kemanapun aku pergi."
"Kami akan selalu menemani nyonya, kemanapun nyonya pergi." empat orang pengawal maju memberi hormat kepada Margareta.
"Oke, kalian aku pilih." kata Margareta pura-pura, padahal mereka sudah membuat kesepakatan bersama. Ke empat pengawal ini adalah kaki tangannya yang dia suruh membunuh Alexa.
Margareta keluar dari Manssion tanpa sopir, dia dikawal dari belakang oleh empat pengawal dengan bawa mobil masing-masing. Mereka menuju Villa milik Alfredo.
Butuh waktu satu jam baru sampai di Villa Alfredo. Margareta merasa seperti jagoan karena akan menyandang pimpinan mafia Dulu Alfredo cukup disegani oleh kawan atau lawan karena pintar berbisnis.
Yang penting ada Honduras semua pekerjaan akan selesai. Pikir Margareta. Dia tidak mau pusing-pusing memikirkan pekerjaan, dia cukup minta uang untuk poya-poya. Disamping itu dia tidak mengerti bisnis di dunia hitam.
Honduras memasuki Villa dengan gaya macho. Dia langsung di bukakan pintu oleh empat pengawal dan di persilahkan masuk. Margareta langsung menubruk Honduras dan menciuminya.
"Aku sangat kangen sayank..." bisik Margareta menarik Honduras ke ranjang.
"Aku juga sangat merindukanmu." jawab pria itu ******* bibir Margareta dengan rakusnya.
"Pulanglah bersamaku." Honduras basa basi. Margareta menggeleng.
"Kau saja urus perusahannya, aku percaya padamu."
"Okelah kalau begitu. Aku yakin kau lebih betah disamping Alvaro daripada disampingku. Tapi tidak masalah aku akan tetap membutuhkanmu di ranjang." kata Honduras mulai membuka satu persatu pakaiannya.
Margareta tidak mau kalah, dia membuka seluruh pakaiannya. Honduras menubruk Margareta. Laki-laki itu mulai ******* bibir Margaret dan perlahan turun ke bawah. Margareta tidak mau kalah diapun menciumi seluruh tubuh laki-laki itu.
Mereka menggoyang ranjang dengan ganasnya. Seperti singa kelaparan.
*****