Nova adalah gadis cantik sekaligus ratu mafia, ia harus menutupi jati dirinya menjadi wanita yang baik baik bak seorang peri untuk melancarkan niatnya balas dendam kepada keluarga dari seorang polisi.
Ketika dendamnya mulai terbalaskan, justru ia merasa satu persatu masalah mulai muncul dan harus ia hadapi sendiri hingga membuat satu demi satu rahasia yang di sembunyikan oleh kakaknya terungkap oleh Nova.
Rencana balas dendam yang Nova kira bertujuan untuk menghancurkan hidup seseorang justru di tujukan kepada Nova agar hidup Nova hancur.
Nova yang menyadari hal itu menyesal sudah menuruti kakaknya. Ketika ia berusaha melepaskan diri dari semua itu, tiba tiba orang orang di masa lalunya kembali dan membuat hidup Nova semakin menderita.
Apakah kisah yang selanjutnya? Dan rahasia apa lagi yang di sembunyikan oleh Kakak Nova? Mampukah Nova menghadapi semuanya ataukah ia terburuk dan terjerat masalah yang ia hadapi?
Jangan lupa follow Ig: @julisaputra2004 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutraJuli1302, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ridwan Sadar
Hari yang di tunggu tunggu pun datang, dimana Ridwan yang saat itu tengah tidak sadarkan diri, akhirnya ia sudah sadarkan diri dan sudah kembali bisa membuka matanya. Melihat hal itu, raut muka bahagia tergambar jelas di raut muka ibu dan ayahnya, tak hanya mereka berdua Siska pun juga terlihat bahagia dengan kesadaran Ridwan.
Saat itu, suasana terasa mengharukan. Hal itu terjadi karena, Ibu Ridwan memeluk erat Ridwan sayang saat itu sudah dapat duduk di atas tempat tidurnya. Saat itu, Ibu Ridwan memeluk Ridwan dengan air mata yang terus berderai, ia juga bersyukur karena Ridwan sudah sembuh dan pulih.
"Ibu benar benar berterima kasih dengan Tuhan, Ridwan. Ibu sangat bersyukur, karena kamu sudah pulih dan bisa membuka mata kamu. Ibu kira, Ibu akan kehilangan kamu saat pertama kali ibu tahu kalau kamu terkena racun!" ucap Ibu Ridwan dengan mata yang di penuhi oleh air mata.
"Ayah juga bahagia melihat kesadaran kamu Ridwan," sahut Ayah Ridwan lalu ia melempar senyuman kecil di bibirnya.
Saat itu, Ridwan yang merasa masih lemah ia pun hanya menjawab orang tuanya dengan senyuman kecil di bibirnya. Beberapa saat kemudian, matanya melihat ke sana kemari seakan tengah mencari seseorang di ruangan itu. Menyadari hal itu, Ibu Ridwan pun bertanya kepada Ridwan apakah dirinya mencari Siska, namun saat itu Ridwan menggeleng kan kepalanya yang menandakan kalau dirinya tidak mencari Siska.
"Kalau kamu tidak mencari Siska lalu kamu mencari siapa?" tanya Ibu Ridwan dengan nada masih rendah.
"Nova!" jawab Ridwan dengan nada lirih dan masih terlihat lemah.
Mendengar ucapan itu, orang tua Ridwan dan Siska sangat terkejut. Mereka serasa tersambar petir di siang hari. Mereka terlihat sangat marah dengan Ridwan karena Ridwan masih mencari Nova, orang yang berusaha membunuh dirinya.
"Nova?! Kenapa harus Nova? Disini ada Siska, ada Mama dan ada Papa, lalu kenapa? Kenapa kamu masih tanya soal Nova?" ucap Ibu Ridwan dengan nada meninggi dan ia terlihat sangat marah dengan Ridwan. Begitupula Siska yang juga terlihat sangat marah.
"Iya Ridwan, kenapa sih kamu terus mencari Nova? Asal kamu tahu ya, Nova itu tidak akan pernah kemari! Karena apa? Karena dirinya itu di....,"
"SISKA!!!" bentak Ibu Ridwan kepada Siska karena Siska berusaha memberi tahu Ridwan kalau Nova berada di dalam penjara, mendengar bentakan itu Siska pun langsung menatap tajam Ibu Ridwan dan dirinya melihat Ibu Ridwan yang menggeleng kan kepalanya secara perlahan untuk memberi sebuah tanda agar Siska tidak memberi tahu tentang Nova kepada Ridwan.
Menyadari hal itu, Siska terlihat kesal dan marah.
"Ah!" desah kekesalan Siska yang melihat dirinya di larang memberi tahu Ridwan tantang Nova, setelah itu dengan kemarahannya Siska pun pergi dari ruangan itu dan meninggalkan mereka semua.
"Ma, Pa ada apa dengan Siska? Dan kenapa Mama memotong ucapan Siska ?" tanya Ridwan dengan tubuh yang terbaring di atas tempat tidur.
"Tidak ada Ridwan, emmm... Kamu bicara dulu sama Papa kamu, nanti Mama akan kemari lagi!" jawab Ibu Ridwan lalu ia tersenyum kepada Ridwan dan dirinya mengejar Siska keluar dari ruangan yang di tempati oleh Ridwan.
Di luar ruangan, terlihat Siska berjalan ke sana kemari dengan penuh emosi, karena dirinya tidak di izinkan memberi tahu tentang Nova yang masuk ke dalam penjara akibat berusaha meracuni Ridwan.
Beberapa saat kemudian, Ibu Ridwan keluar dari kamar yang di tempati oleh Ridwan. Ia menghampiri Siska yang terlihat cemas dan seakan ingin memberi tahu Ridwan tentang kebenaran tentang Nova.
"Siska, stop. Tante mohon dengarkan Tante," pinta Ibu Ridwan kepada Ridwan dengan berusaha menghentikan Siska yang terus berjalan ke sana kemari dengan mengatakan kalau ia harus memberi tahu Ridwan.
"Apa lagi yang harus di dengarkan Tante, saat ini adalah waktu yang tepat untuk memberi tahu Ridwan kebenaran tentang Nova, tapi kenapa? Kenapa Tante justru melarang aku untuk melakukan itu?" tanya Nova setelah dirinya menghentikan langkahnya di hadapan Ibu Ridwan.
"Tante tahu kamu ingin memberi tahu kebenarannya kepada Ridwan, tapi Tante melakukan ini demi kebaikan Ridwan. Kamu juga harus pikirkan keadaan Ridwan, maksud Tante.. kita akan beri tahu Ridwan, tapi bukan saat ini biarkan dia sedikit lebih baik lagi. Tante hanya takut, kalau kamu memberi tahu Ridwan saat ini, Ridwan akan kembali koma. Tante mohon kamu mengerti apa yang Tante ucapakan dengan kamu," ucap Ibu Ridwan dengan nada lirih dan seperti seseorang yang meminta kepada anaknya. Mendengar ucapan itu, Siska pun menurunkan amarahnya. Ia mengangguk kan kepalanya untuk mengiyakan apa yang di inginkan oleh Ibu Ridwan.
Setelah hal itu, akhirnya Siska dan Ibu Ridwan pun masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh Ridwan. Melihat hal itu, pandangan mata Ridwan langsung mengarah ke Siska dan ibunya.
"Ada apa?" tanya Ridwan kepada Siska dan ibunya.
"Tidak ada papa Ridwan," jawab Siska lalu ia berdiri di dekat Ridwan. Saat itu tatapan mata Ridwan masih terlihat terus mengarah ke arah Siska dan ibunya yang baru saj dari luar ruangan.
Di rumah Ridwan, terlihat Mbok Ijah, pembantu yang bekerja dengan Ridwan tengah menerima panggilan dari rumah sakit. Ia menerima kabar dari Tuan Panji, kalau Ridwan sudah sadar dan ia sudah mulai baik baik saja, walaupun dia masih lemah.
Mendengar hal itu raut muka Mbok Ijah terlihat sangat bahagia dan ia juga bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhan Ridwan.
Ketika panggilan sudah di tutup oleh Ayah Ridwan, raut muka yang saat itu bahagia tiba tiba sedih. Hal itu terjadi karena Mbok Ijah teringat dengan Nova, perempuan yang di cintai oleh Ridwan.
"Non Nova, Den Ridwan sudah baik baik saja. Non Nova, aku harap Non Nova baik baik saja di penjara. Sebenarnya, Mbok tahu kalau ini bukanlah salah Non Nova, dan ini juga bukan salah Pak Panji. Mungkin, memang Tuhan mentakdirkan hubungan Non Nova dan Den Ridwan berakhir di sini!" ucap Mbok Ijah dengan sedih. Setelah itu ia melanjutkan kegiatannya.
once we get married 💍 fb yu
siap mendukung kak 👍