NovelToon NovelToon
KAISAR 100.000 DUNIA

KAISAR 100.000 DUNIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tawaki

Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Terjebak di Kolam uap

Dua jam setelah serangan fajar, konvoi Akademi Langit Biru memasuki wilayah yang dikenal sebagai Celah Naga Hitam.

Sesuai namanya, celah ini adalah lembah sempit yang diapit oleh tebing-tebing batu vulkanik setinggi ratusan meter. Batu-batu di sini berwarna hitam pekat, berpori-pori, dan memancarkan hawa panas yang tidak wajar meskipun udara pagi seharusnya sejuk. Tidak ada pohon yang tumbuh di sini. Hanya lumut kuning pucat yang menempel pada retakan batu, tampak layu dan beracun.

Suasana menjadi sangat sunyi. Bahkan suara langkah kuda pun terasa tertelan oleh dinding batu yang menyerap bunyi.

"Hati-hati," kata Pengawas Chen, suaranya bergema pelan di antara tebing.

"Energi Qi di sini kacau karena aktivitas magma di bawah tanah. Jangan menghirup udara terlalu dalam tanpa filter. Dan juga jangan menyentuh dinding batu."

Lin Fan, yang berjalan di samping kuda Mei Ling, menyipitkan matanya. Ia mengaktifkan Persepsi Hampa-nya untuk menganalisis komposisi udara.

Bau belerang... amonia... dan sesuatu yang manis.

Matanya melebar sedikit. Ini bukan sekadar gas vulkanik alami. Ada jejak kimia buatan manusia yang dicampur ke dalam uap panas tersebut.

"Guru Chen," panggil Lin Fan tiba-tiba. "Apakah ada sumber air panas atau kawah aktif di dekat jalur ini?"

Pengawas Chen menoleh, wajahnya cemas. "Ya ada, sekitar satu kilometer lagi ada Kolam Darah Naga, sebuah danau asam alami. Tapi kita tidak akan melewatinya jika kita tetap di jalur utama."

"Jalur utama sudah terkontaminasi," kata Lin Fan tegas.

Ia menunjuk ke arah tanah di depan mereka. Di sana, lumut kuning pucat mulai mengeluarkan asap tipis berwarna ungu. "Uap dari kolam itu telah dialirkan ke celah ini melalui saluran bawah tanah buatan. Jika kita terus maju, paru-paru kita akan terbakar dalam sepuluh menit."

Para siswa lain panik. Xiao Yu mulai batuk-batuk kecil. Bao Da menggaruk lehernya yang mulai gatal.

"Lalu apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus kembali" tanya Zhang Wei, tangannya sudah siap di gagang pedang.

"tidak boleh. orang orang tadi pasti sudah melaporkan posisi kita. kalo mumdur sekarang kita ketemu mereka di mulut celah," jawab Lin Fan dingin.

"Kita harus cari jalan lain."

"Jalan lain?" Pengawas Chen mengerutkan kening. "Peta resmi tidak menunjukkan jalan lain. Celah ini buntu kecuali lewat jalur utama."

"Peta resmi tidak mencatat perubahan geologi mikro," kata Lin Fan. Ia berjalan menuju dinding tebing sebelah kanan. Ia meletakkan telapak tangannya pada batu hitam yang panas. Dengan Persepsi Hampa, ia merasakan aliran udara tipis yang keluar dari celah-celah kecil di batu.

"Di sini," kata Lin Fan. "Ada rongga angin di sini. Artinya, ada ruang kosong di balik dinding ini. Kemungkinan besar bekas saluran lava tua yang kering."

Ia mengambil batu kerikil, lalu melemparkannya dengan kekuatan terkonsentrasi ke titik tertentu di dinding.

BOOM!

Sebagian dinding batu yang rapuh hancur, mengungkapkan lubang gelap selebar dua meter. Angin segar—meski masih agak hangat—berhembus keluar dari dalamnya.

"Ini gila," gumam Bao Da. "Kita mau masuk ke dalam perut gunung?"

"Lebih baik masuk ke perut gunung daripada mati keracunan di luar," balas Lin Fan.

"Ikuti aku. Dan tutup hidung kalian dengan kain basah."

Mereka memasuki terowongan gelap itu. Lin Fan memimpin di depan, menggunakan sisa Air Spirit-nya untuk menciptakan bola cahaya kecil di ujung jarinya (teknik dasar manipulasi elemen air-cahaya yang ia ingat dari kehidupan lalu) untuk menerangi jalan.

Terowongan itu berkelok-kelok, turun semakin dalam ke perut bumi. Suhu meningkat drastis. Dinding-dindingnya bersinar merah redup.

Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh dari kejauhan. Bukan suara langkah kaki. Suara itu lebih dalam, lebih primitif. Seperti detak jantung raksasa.

Thump... Thump... Thump...

Tanah bergetar. Debu berjatuhan dari langit-langit terowongan.

" A.. Apa itu?" bisik Mei Ling, wajahnya pucat ketakutan.

Lin Fan berhenti. Wajahnya serius. "Itu suara Naga Tanah. Beast tingkat 3 yang tidur di kedalaman magma. Getaran langkah kita mungkin membangunkannya."

"Naga Tanah?!" teriak salah satu siswa dengan ngeri. "Beast tingkat 3 bisa membunuh kita semua dalam sekali hentakan!"

"Tenang," perintah Lin Fan. Suaranya tenang namun otoritatif, menenangkan kepanikan sejenak. "Naga Tanah buta. Ia mengandalkan getaran tanah untuk mendeteksi mangsa. Jika kita bergerak cepat dan ringan, kita bisa melewatinya."

Ia menatap teman-temannya. "Gunakan Langkah Awan Hening sebisa kalian. Jika kau tidak bisa, tempelkan tubuhmu ke dinding dan jangan bergerak sama sekali saat gemuruh itu datang."

Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Setiap kali suara Thump terdengar, mereka membeku seperti patung. Lin Fan memimpin dengan presisi mutlak, menghindari retakan tanah yang bisa memperbesar getaran langkah mereka.

Namun, nasib buruk menimpa.

Saat mereka hampir mencapai ujung terowongan, Xiao Yu, gadis kecil itu, tersandung akar tanaman liar yang tumbuh di celah lantai. Ia jatuh dengan suara bump yang cukup keras.

Seketika, gemuruh itu berhenti.

Hening mencekam selama tiga detik.

Lalu, dari kegelapan di depan mereka, dua mata merah raksasa terbuka. Sebesar roda kereta kuda. Panas menyengat menyembur dari mulut makhluk itu, disertai bau belerang yang membuat mata perih.

Naga Tanah itu telah bangun.

"Mundur!" teriak Pengawas Chen, menarik pedangnya. Tapi ia tahu itu sia-sia. Dalam ruang sempit ini, beast sebesar itu tidak bisa dihindari.

Naga itu membuka mulutnya, mengumpulkan bola api murni di tenggorokannya. Cahaya oranye menerangi seluruh terowongan, memperlihatkan sisik-sisiknya yang keras seperti baja.

Lin Fan berpikir cepat. Melawan? Mustahil. Lari? Terlalu lambat.

Ia melihat ke sekeliling. Di dinding terowongan, terdapat kristal-kristal biru muda yang berkilau. Kristal Es Bawah Tanah. Material langka yang terbentuk dari pertemuan energi panas magma dan air tanah dingin.

Ide gila muncul di benaknya.

"Bao Da! Zhang Wei! Lempar semua batu spirit yang kalian punya ke arah kristal-kristal itu!" perintah Lin Fan.

"Apa? untuk apa?" tanya Bao Da bingung.

"Lakukan sekarang! Ledakkan energinya!"

Tanpa bertanya lagi, Bao Da dan Zhang Wei melemparkan beberapa batu spirit rendah ke arah dinding kristal. Lin Fan kemudian mengarahkan jari telunjuknya, melepaskan sisa Qi-nya dalam bentuk tusukan tajam tepat ke tumpukan batu spirit tersebut.

BOOM!

Ledakan kecil terjadi. Namun, efek utamanya bukan pada Naga, tapi pada Kristal Es. Ledakan itu memecahkan struktur kristal, melepaskan gelombang dingin ekstrem yang bertabrakan dengan udara panas di terowongan.

Perubahan suhu drastis menciptakan kabut tebal instan—kabut uap super dingin.

Naga Tanah, yang mengandalkan indera panas dan getaran, tiba-tiba "buta" total. Kabut dingin itu mengacaukan sensor panasnya, sementara ledakan sebelumnya mengganggu sensor getarannya. Makhluk itu meraung bingung, menyemburkan api ke segala arah secara acak, mengenai dinding-dinding terowongan.

"Sekarang! Lari!" teriak Lin Fan.

Mereka melesat melewati Naga yang sedang mengamuk dalam kebingungan. Panas api menyambar jubah mereka, tapi mereka tidak berhenti. Lin Fan memimpin mereka menuju cahaya terang di ujung terowongan.

Dengan satu lompatan terakhir, mereka keluar dari mulut gua dan mendarat di lereng bukit hijau di sisi lain Celah Naga Hitam.

Di belakang mereka, terowongan runtuh sebagian akibat amukan Naga, menutup jalur kembali.

Mereka selamat.

Para siswa terkapar di rumput, napas tersengal-sengal, tubuh mereka penuh luka bakar kecil dan goresan. Tapi mereka hidup.

Pengawas Chen menatap Lin Fan dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Campuran antara rasa terima kasih, kekaguman, dan sedikit ketakutan. Remaja ini tidak hanya kuat. Dia licik, kreatif, dan berani mengambil risiko gila yang berhasil.

"Kau..." kata Pengawas Chen, suaranya serak. "Kau baru saja memanfaatkan reaksi termal alam untuk mengalahkan beast tingkat 3. Itu... itu pemikiran seorang Grandmaster Alkemi."

Lin Fan duduk, membersihkan debu dari wajahnya. Ia tersenyum lelah. "Hanya fisika dasar, Guru. Panas bertemu dingin menghasilkan kabut. Kabut menghasilkan kebingungan. Kebingungan memberi kita waktu."

Zhang Wei tertawa pendek, meski tubuhnya gemetar. "Fisika dasar? Kau hampir membunuh kami semua dengan ide 'dasar' itu."

"Tapi kami masih hidup," sahut Mei Ling, tersenyum lemah sambil membalut luka di lengannya. "Dan itu yang penting."

Bao Da menepuk punggung Lin Fan keras-keras. "Hebat! Lain kali ajari aku cara meledakkan kristal!"

Lin Fan memandang langit biru di atas mereka. Mereka telah berhasil melewati Celah Naga Hitam. Tapi ia tahu, Lin Zheng pasti sudah mendengar kabar kegagalan penyergapan pertama dan kebuntuan di celah.

Musuh berikutnya tidak akan mengirim bandit atau mengandalkan jebakan alam. Mereka akan mengirim seseorang yang bisa melawan Lin Fan secara langsung. Seseorang dari tingkat yang lebih tinggi.

Dan Lin Fan merasa, pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai.

* Hook: Mereka telah keluar dari celah, tapi masih jauh dari ibu kota. Siapa yang akan dikirim Lin Zheng selanjutnya? Apakah ada pengkhianat di dalam konvoi yang memberikan informasi lokasi mereka?

Cari tau di Bab Berikut nya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!