REYHAN, dia adalah anak angkat yang dituduh telah menghabisi orang tua yang mengadopsinya hingga pada usia 12 tahun memaksanya harus merasakan dinginnya tembok penjara.
tidak ada yang mengetahui jika anak kecil itu hanya difitnah karena pada hari kejadian orang-orang melihatnya memegang pistol yang diduga dipakai menghabisi nyawa orang tuanya. bahkan adik angkatnya pun sangat membencinya karena tragedi itu.
pembelaan yang dilakukan hanya sia-sia, saat diadili tanpa sengaja dia melihat pembunuh orang tua angkatnya ada di sana dia tersenyum pada Reyhan dengan menyeringai kemudian pergi begitu saja.melihat itu api dendam dalam dirinya menyala dan bersumpah akan menghabisi orang yang telah membunuh orang tua angkatnya kelak saat dia dibebaskan dari penjara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N_Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 meminta bantuan
Amelia terbangun setelah hampir tiga jam tidur di sofa, matanya langsung melihat ke segala ruangan mencari keberadaan Reyhan. "Selimut? Apa Reyhan yang melakukan semua ini. Tapi di mana dia? Kenapa rumah ini terlihat sepi?" batinnya bingung.
Ia lalu bangkit dan bergegas ke kamarnya, di saat yang sama Reyhan pun datang dan langsung melihat Amelia yang sudah bangun. Segera dia menaruh kantung belanjanya kemudian menyapa Amelia yang memang tak melihatnya.
"Kau sudah bangun," ucap Reyhan basa-basi. "Rey, kau dari mana? Kenapa tiba-tiba muncul di sana?" Amelia yang terkejut lantas berbalik dan merasa heran melihat Reyhan sudah ada di belakangnya.
Reyhan pun menjelaskan jika dirinya baru pulang dari minimarket untuk membeli persediaan karena di kulkas bahan makanan sudah menipis. "Hmm... aku minta maaf karena keluarga ku sudah sangat menyusahkan dirimu," ucap Amelia merasa tidak enak hati.
"Jangan berkata seperti itu, aku sama sekali tidak merasa seperti itu," jawab Reyhan tersenyum. Karena senyum itu, pipi Amelia memerah dan merasa salah tingkah, namun ia segera pergi sebelum Reyhan melihat pipinya yang merah padam seperti tomat. Reyhan pun terlihat bingung kenapa tiba-tiba gadis itu pergi, namun dia tidak terlalu memikirkannya.
......................
Di sisi lain, Tiger terlihat frustrasi karena para bodyguardnya belum berhasil menemukan orang yang telah membakar gudang minyaknya dan membuatnya rugi ratusan juta. "Tak ada yang becus, aku tidak bisa hanya diam dan menunggu informasi dari para bodyguard yang tidak berguna itu!" umpatnya.
Segera dia mengambil jaketnya lalu pergi tak tahu akan ke mana, kali ini dia pergi seorang diri. Cotu pun penasaran ke mana bosnya akan pergi, tapi dia tidak bisa mencari tahu akan hal itu.
Setelah sejam berkendara, Tiger pun tiba di sebuah rumah mewah di tengah kota. "Katakan pada tuan mu jika Tiger sudah ada di sini," ucapnya pada penjaga di depan pagar rumah tersebut.
Penjaga itu segera berlari masuk ke dalam rumah itu untuk melaksanakan perintah Tiger, lalu beberapa saat kemudian pintu pagar pun dibuka dan segera Tiger melajukan mobilnya masuk ke halaman rumah tersebut.
"Selamat datang, kawan," baru saja Tiger turun dari mobilnya, ia langsung disambut oleh seorang pria dengan hangat, bahkan mereka saling berpelukan seperti dua teman yang begitu akrab.
"Bagaimana kabarmu, kawan... Tuan Ferma," sapa Tiger kepada pria itu yang ternyata namanya adalah Ferma. "Aku baik, kawan. Bagaimana dengan dirimu?" jawab Ferma.
Tiger menghela nafas dengan ekspresi lesu, Ferma pun bingung dengan respon temannya itu. "Ada apa, kawan? Sepertinya kau sedang ada masalah?" tanya Ferma penasaran.
"Kau yang benar, kawan. Aku memang lagi ada masalah," jawab Tiger.
Tiger lalu menceritakan tentang gudang minyaknya yang kini hangus terbakar kepada sahabatnya tuan Ferma. Setelah mendengar curhatan Tiger, tuan Ferma berpikir sejenak.
"Ini tidak bisa dibiarkan Tiger, kala kamu memang yakin jika ada yang telah melakukan sabotase di gudang minyak mu, kamu harus segera menyelidikinya." ucap tuan Ferma. "Kau benar, aku tidak bisa tinggal terlalu lama, karena bisa saja orang itu akan melakukannya lagi pada bisnisku yang lainnya."
"kau tidak perlulah khawatir, aku bisa membantu mu untuk mencari pelakunya." ucap tuan Ferma mendukung.
Tiger merasa cukup lega menceritakan masalahnya pada tuan Ferma, karena selain rekan bisnis, tuan Ferma juga adalah sahabat yang paling di percayai.
......................
Di kediaman Adinda, Andika tengah menikmati kopi sambil membaca koran di taman belakang. Beberapa saat kemudian, Laila yang tanpa sengaja lewat seketika terpesona melihatnya.
"Ya Tuhan, kenapa Tuan Andika sangat tampan... Oh, apakah dia adalah jodoh yang Engkau kirimkan untukku?" Laila salah tingkah sambil menghayal.
Tiba-tiba Laila dikejutkan dengan kehadiran Adinda yang memergokinya memperhatikan Andika sambil senyum-senyum tidak jelas. "Ehemm... Bibi liatin apa?" tanya Adinda.
"N-Non, ah... itu Non saya sedang bersih-bersih di sini," jawab Laila terbata-bata. "Hahaha... Bibi ada-ada saja. Saya tahu jika Kak Andika memang tampan," ucap Adinda tahu apa yang sedang Laila pikirkan.
Setelah kepergian Laila, Adinda segera mendatangi Andika. "Kak, lagi asik ya baca korannya?" sapa Adinda.
"Ehh, Dinda, nggak juga sih. Loh, mau kemana rapi gini?" tanya Andika saat melihat sang adik berdandan rapi.
"Oh, ini kak aku mau ke tempat pamanku ingin ngambil lukisanku di sana," jawab Adinda. Andika yang mendengarnya pun merasa tertantang, ia pun menawarkan diri untuk mengantar sang adik, sekaligus ingin melihat Tiger.
"Bagaimana jika aku mengantar mu?" tanya Andika. "Apakah boleh?" tanya Adinda.
"Kenapa tidak? Kau kan adikku, jadi sudah kewajiban ku untuk mengantar mu ke mana saja sekaligus menjaga mu," ucap Andika. Adinda yang mendengarnya pun merasa sangat senang, ia pun setuju dan mereka pun bergegas ke tempat Tiger.
Dalam perjalanan menuju kediaman Tiger, Andika terus membayangkan tentang wajah masam Tiger karena kehilangan gudang minyak yang membuatnya rugi besar. "Loh, Kak, apakah kau pernah ke tempat Paman Tiger sebelumnya?" tanya Adinda bingung.
"Belum sama sekali, memangnya ada apa?" ucap Andika dengan santai. "Sungguh, tapi kenapa Kakak bisa tahu jalannya?" Mendengar itu, Andika sangat terkejut.
"Astaga, apa yang sudah aku lakukan?" batinnya kebingungan. "Benarkah... padahal tadi aku hanya iseng-iseng lewat sini, loh. Ehh, ternyata benar," ucapnya berpura-pura.
"Wah-wah, ternyata Kakak hebat juga bisa menebak pikiran," Dinda merasa sangat kagum. Andika hanya cengengesan sekaligus lega karena Adinda mempercayai ucapnya.
Setelah cukup lama berkendara, mereka akhirnya tiba di tempat tujuan. Saat memasuki tempat tersebut, Andika langsung tertuju pada sebuah ukiran batu yang bertuliskan nama Tiger berwarna emas.
"Non Dinda, apa kabar? Kenapa baru kesini lagi?" sapa Cotu saat melihat mereka. "Paman Cotu, aku baik-baik saja, Paman. Bagaimana keadaan di sini dan dirimu juga?" tanya Adinda.
Cotu tidak menjawab dan hanya tertunduk, Adinda pun tahu apa jawabannya sehingga dia tidak ingin mengikutinya lagi. "Oh iya... di mana Paman Tiger? Sepertinya saat ini dia sedang tidak ada?" Adinda pun mengalihkan pembicaraan.
"Memang betul, saat ini Bos Besar sedang tidak ada karena tadi pagi dia pergi dan tidak tahu ke mana," jawab Cotu.