Karena terdesak kebutuhan, Putri terpaksa menjadi ibu pengganti. Karena ada sepasang suami istri yang tengah program bayi tabung. Tetapi rahim sang istri tak kuat mengandung si bayi tabung tersebut. Untuk itulah sepasang suami istri itu rela membayar mahal untuk rahim yang mau dipinjamkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pratiwi Devyara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datang Lagi
Adnan kembali datang ke rumah sakit untuk mengecek keadaan Putri. Namun belum sempat langkah kakinya sampai di muka pintu ruangan, tempat dimana gadis itu berada. Tiba-tiba Adnan dipanggil oleh salah seorang perawat.
"Pak Adnan." Sapa perawat tersebut seraya mendekat.
"Iya, Adnan menoleh lalu menatap perawat perempuan itu.
"Dokter memanggil bapak ke ruangannya." ucap perawat itu lagi.
Maka Adnan pun mengikuti. Mungkin ada hal penting yang ingin dokter bicarakan padanya.
Ketika tiba di ruangan tersebut, dokter menjelaskan jika Putri mungkin membutuhkan psikiater.
Sebab ia mulai histeris di beberapa momen. Adnan jadi khawatir pada gadis itu.
"Gimana baiknya aja, dok. Asal dia bisa sembuh dan jiwanya nggak terguncang lagi." ujar Adnan.
Kemudian mereka berdua lanjut berbincang hingga beberapa saat ke depan. Setelah itu Adnan mengunjungi Putri di kamarnya.
Semua tampak baik-baik saja. Putri terlihat seperti orang normal pada umumnya.
Ia menyapa Adnan dengan baik dan ketika Adnan mengajaknya berbicara, ia menjawab seperti sebelum-sebelumnya.
"Nanti ada psikiater yang akan mendampingi kamu." ucap Adnan pada Putri.
"Kamu bisa bebas mengungkapkan apapun sama dia. Jangan takut untuk menceritakan semua yang kamu rasakan." lanjutnya lagi.
"Iya pak, terima kasih." jawab Putri.
"Katanya petugas kepolisian datang lagi?"
Adnan mempertanyakan hal tersebut pada Putri. Sebab dokter tadi ada menceritakan hal tersebut. Putri histeris dua kali katanya. Saat setelah petugas itu datang dan dimalam hari.
"Iya, pak. Mereka bilang...."
Suara Putri tercekat di tenggorokan. Ada keraguan yang menghalangi laju ucapannya.
"Mereka bilang apa?" tanya Adnan menanti kelanjutan dari kata-kata tersebut.
Putri diam, seperti ada hal berat yang ia pikirkan saat ini.
"Putri?"
"Pelaku mengaku kalau saya adalah cewek open B.O pak. Katanya saya datang atas kerelaan sendiri. Dan ketika bayaran nggak sesuai yang saya minta, saya pura-pura mau jadi korban perkosaan."
Air mata Putri menetes penuh emosi demi menceritakan hal tersebut. Adnan terasa begitu panas telinga dan hatinya.
Maka ia pun lalu mencoba mengatur nafas yang perlahan memburu karena marah.
"Udah kamu jangan nangis lagi!. Saya yang akan urus semuanya. Saya pastikan mereka dijerat oleh hukum yang berlaku." ucap Adnan.
Putri kian tersedu-sedu. Kemudian Adnan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Kita akan hukum mereka." ujarnya kemudian.
***
Dirumah Dira sangat gembira, karena ia akan menjalani perawatan kesuburan di rumah sakit mulai besok.
Ia mengabarkan semua itu kepada keluarga Adnan dan tentu saja keluarga Adnan sangat antusias. Mereka mendukung Dira sepenuhnya, terutama sang ibu mertua.
"Pokoknya Dira kalau mau ke dokter, terus Adnan nggak bisa menemani. Bilang aja sama mama. Mama akan temani kamu, mau itu sampai seharian pun mama rela."
"Iya ma, Dira terima kasih banget sama mama dan kakak-kakak. Dira senang kalian mau mendukung Dira dalam hal ini."
"Kamu itu istri Adnan, menantu mama. Sudah sepatutnya sebagai mertua, mama mendukung dan membantu kamu."
Dira merasa sangat diberkati demi mendengar semua itu. Selama ini juga keluarga Adnan memang tak pernah melepaskannya begitu saja. Mereka selalu memberikan bantuan serta dukungan setiap kali diperlukan.
"Adnan sudah kamu kasih tau mengenai hal ini?" tanya ibunya kemudian.
"Udah ma, mas Adnan udah tau dan di juga mendukung banget." jawab Dira.
"Ya udah, bagus kalau gitu. Kamu dirumah?" tanya sang ibu mertua.
"Iya, dirumah ma. Mama dimana?"
"Mama di rumah, tapi sebentar lagi mau pergi arisan."
"Oh gitu, udah mau berangkat?" tanya Dira.
"Iya, ini mau pergi."
"Oh ya udah, kalau gitu mama hati-hati di jalan ya." ucap Dira lagi.
"Iya sayang, kamu baik-baik ya sama Adnan."
"Iya ma."
Sesaat kemudian Dira pun menyudahi telpon tersebut. Ia kembali pada aktivitasnya dan sang ibu mertua pergi arisan.
Pas buka kok aq udh baca sampai bab 100an tapi baru liat judulnya ini dan kalo liat komen²-nya sih cerita yg kartu dokternya ketuker itu gegara namanya sama dan dokternya salah melakukan inseminasi. Judulnya kalo ga salah Rahim utk suami orang.
Dibikin cerita dan judul baru lagi ya, say?
ini aq baca ulang dr bab 1 lagi biar jelas, toh tetep ga pernah bosenin karya²-nya Kak Tiwi..