"Aku nggak akan jatuh cinta atau menikah lagi! Jadi aku akan selalu mengingatmu putriku, Khiana!" janji Kayla.
Kayla yang terpuruk karena kepergian putri kecilnya, Khiana Anindita, mengucapkan janji itu pada dirinya sendiri.
Akankah dia menjanda selama sisa hidupnya karena janji yang ia buat? Ataukah akan ada seseorang yang menggetarkan hatinya dan menggoyahkan keyakinannya hingga melanggar janjinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon black_smile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema
"Jadilah istriku,," Ucap Malik.
"Jadilah ibu untuk Kinara,," Ucap Ridwan.
Ridwan dan Malik mengucapkannya bersamaan dengan lantang dan mantap. Diana menghentikan langkahnya tepat di belakang kedua putranya. Ia menutup mulutnya yang menganga karena terkejut mendengar ucapan kedua putranya.
Kayla mematung. Waktu seakan berhenti berjalan seketika. Jantungnya pun seakan ikut berhenti seketika. Ia sangat terkejut mendengar ucapan dua laki-laki dihadapannya.
Ridwan dan Malik saling pandang. Keduanya sama-sama terkejut. Mereka bahkan tak janjian untuk mengatakan itu bersamaan.
"Ridwan, Malik!" Bentak Diana.
Suara Diana mengalihkan perhatian semua orang. Semua orang menoleh ke arah Diana. Wajahnya nampak marah dan kesal karena ulah dua putranya barusan.
"Maaf, saya permisi!" Kayla segera berjalan menjauh menuju arah pintu masuk gedung sambil terus tertunduk. Lama-lama ia mulai berlari.
"Tanteee,," Panggil Kinara. Ia sungguh tak mamahami situasi yang sedang terjadi.
"Tantee Kaylaa,," Kinara berteriak makin keras.
"Tanteeeeee,,"
Kayla tak menghiraukan panggilan Kinara. Ia tetap berjalan tak menoleh sedikitpun. Hatinya sungguh berkecamuk. Ia tak menyangka akan dilamar oleh dua orang sekaligus di saat bersamaan. Bahkan mereka adalah kakak beradik.
Tapi yang lebih mengusik hatinya, adalah ucapan sang kakak, Ridwan. Hati kecilnya berteriak bahagia. Karena mungkin rasa cintanya terbalas. Tapi di sisi lain, ia tak mungkin memgingkari janjinya sendiri. Dan lagi, akan ada satu hati yang akan sangat terluka jika ia menerima lamaran salah satu dari dua kakak beradik itu.
Kayla memilih menuruni tangga karena tak ingin terkejar jika ia menunggu lift terbuka. Ia berhenti sejenak karena badannya mulai kelelahan dan lemas. Nafasnya mulai tak beraturan. Pandangannya mulai berkabut.
"Astaghfirullah, apa ini Ya Allah?" Gumam Kayla sendiri saat ia menuruni tangga.
Kayla akhirnya keluar dari tangga darurat. Ia menuju lift, ia tak sanggup jika kembali berlari. Beruntung lift segera terbuka dan dalam keadaan kosong. Kayla segera masuk dan memencet tombol lantai 1. Ia lantas terduduk lemas di bawah deretan tombol yang ada di dalam lift. Badannya benar-benar lemas. Keringat dingin membasahi tubuhnya yang demam.
Sedang di rooftop, Ridwan dan Malik masih berusaha mengatasi keterkejutan mereka masing-masing. Kinara sudah mulai menangis karena ditinggal pergi Kayla.
"Kejar Kayla!" Bentak Diana marah. Ia langsung memeluk cucunya dan mengajaknya mengejar Kayla.
Ridwan dan Malik segera berlari. Ridwan pun segera meminta Doni membantu mencari Kayla. Ia ingat kondisi Kayla yang sedikit pucat. Malik memilih mengejar Kayla melalui tangga. Karena ia sempat melihat Kayla berlari menuju tangga tadi. Sedang Ridwan memilih memakai lift bersama Diana dan Kinara.
Saat sampai di lantai satu, Kayla mengumpulkan lagi sisa tenaganya. Ia berlari menuju tempat ia biasa menyendiri selain masjid. Tempat yang jarang dikunjungi para karyawan. Parkir basement lantai bawah.
Dea tak sengaja melihat Kayla berlari sedikit sempoyongan. Ia lalu mengejar Kayla dengan segera.
"Ya Allah, apa ini hukuman karena aku telah melanggar janjiku untuk tidak akan pernah jatuh cinta?" Rintih Kayla saat ia sudah terduduk lemas di sudut ujung tangga menuju parkir basement lantai bawah.
Kayla beberapa kali ke sana ketika ia sedang ingin menyendiri atau bersembunyi dari Kinara.
"Ampuni hamba Ya Allah! Hiks, hiks,,"
"Maafkan Bunda Khiana,, maaf! Bunda tak pernah bermaksud menggantikan posisimu dengan yang lain." Ucap Kayla sembari menatap ponselnya yang telah ia buka menu galerinya. Dan menampilkan foto Khiana yang sedang tidur bersamanya.
Tubuh Kayla mulai roboh. Ia menangis dalam posisi tegeletak di lantai yang dingin sembari memeluk ponselnya.
"Maafkan Bunda Khiana, maafkan Bunda!"
"Kay! Kayla!" Suara Dea sedikit menggema. Langkah kaki Dea pun semakin jelas terdengar oleh Kayla.
"Kayla!" Dea segera berlari ketika melihat Kayla tergeletak begitu saja.
"Kamu kenapa Kay?" Tanya Dea panik seraya membangunkan tubuh Kayla yang sudah lemas agar bersandar pada tubuhnya.
"Aku salah De! Aku sangat bersalah!" Ucap Kayla tak karuan dalam tangisnya. Ia memeluk erat Dea.
"Kamu kenapa Kay? Katakan! Kamu pulang saja ya! Badanmu panas sekali Kay." Dea berusaha menenangkan Kayla.
"Aku dihukum karena melanggar janjiku pada putriku sendiri. Maafkan Bunda Khiana, maafkan Bunda!" Kayla meracau. Dea kebingungan mendengar ucapan Kayla.
Klothak. Ponsel Kayla terjatuh ke lantai. Dan bersamaan dengan itu, tubuh Kayla menyandar sempurna ke tubuh Dea. Dea hampir terjatuh karena tak siap menyangga Kayla.
"Kay, Kay, Kayla!"
"Kayla! Bangun Kay!" Dea semakin panik karena Kayla kini telah pingsan.
"Gimana aku minta tolong? Ah iya, aku telfon aja."
Dea pun segera merogoh ponselnya dan menguhubungi Doni. Ia meminta tolong pada kekasihnya agar menyusulnya segera.
Dea mencari ponsel Kayla. Ia melihat foto yang terpampang di layar. Foto Khiana kecil.
"Putriku? Apa ini putri Kayla? Apa dia sudah pernah menikah?" Dea bergumam sendiri sembari mengingat ucapan Kayla tadi. Ia juga masih berusaha menyadarkan Kayla.
Di lobi kantor.
"Di tangga, parkir basement lantai bawah." Ucap Doni saat bertemu Ridwan di depan lift setelah berlarian kesana-kemari.
"Apanya?" Tanya Ridwan bingung.
"Kayla pingsan di sana." Sahut Doni geram.
"Apa? Sial!" Ridwan langsung berlari di ikuti Doni.
"Ambil mobil! Bawa kesana!" Pinta Ridwan sembari melempar kunci mobilnya pada Doni.
Doni pun segera berlari menuju parkiran mobil Ridwan. Malik yang sempat mendengar ucapan dua orang itu, juga ikut berlari untuk menghampiri Kayla.
"Kay! Kayla! Kayla, sadarlah!" Ridwan segera merebut tubuh Kayla dari Dea. Dea terkejut bukan main.
Ridwan segera mengangkat tubuh Kayla dan membawanya masuk dalam mobil saat Doni tiba. Dea pun ikut masuk ke mobil Ridwan untuk menemani Kayla. Ia juga sangat mencemaskan kondisi Kayla. Sedang Malik, memilih segera mengambil mobilnya dan menyusul Ridwan ke rumah sakit bersama Kinara dan Diana setelah ia melihat Ridwan membawa Kayla masuk mobilnya.
"Kenapa kamu sampai seperti ini Kay?" Gumam Ridwan sembari mengusap wajah pucat Kayla.
"Tadi pagi sudah aku ingetin buat libur aja karena dia nggak enak badan, tapi dia maksa berangkat." Jelas Dea jujur dari kursi depan.
"Bodoh kamu!" Umpat Ridwan sambil tetap memandangi wajah yang sedang ia pangku.
Butuh hampir tiga puluh menit untuk sampai di Ibrahim Medical Center. Lalu lintas sedang padat, hingga jalanan macet tak karuan. Dan saat sampai di rumah sakit, Kayla masih belum sadar. Ia segera mendapatkan pertolongan dari petugas medis.
Bahkan hingga dokter selesai memeriksa kondisi Kayla, ia masih belum sadar. Badan yang sedang sakit, kondisi tubuh Kayla yang sedang puasa dan ditambah kelelahan karena berlari, membuat kondisi Kayla benar-benar lemah. Apalagi batinnya sempat tertekan karena ulah kakak beradik yang tak tahu tempat tadi. Satu jarum infus langsung terpasang di salah satu tangannya.
Malik tiba bersama Diana dan Kinara saat dokter selesai menangani Kayla. Dokter menjelaskan kondisi Kayla pada Ridwan, Doni dan Dea. Ia menanyakan beberapa hal juga pada mereka. Sementara Malik, Diana dan Kinara memilih melihat kondisi Kayla.
Tak lama Kayla mulai sadar. Ia melihat Diana dihadapannya ketika membuka mata.
"Kamu kenapa Sayang?" Ucap Diana lembut.
Kayla yang masih belum sadar sempurna, masih belum bisa menjawab. Ia melihat sekelilingnya. Ada Malik dan Kinara. Dea pun terlihat mendekatinya ketika baru saja masuk.
"Kamu sudah sadar Kay? Makanya, kalau dibilangin jangan ngeyel! Jadi harus ke rumah sakitkan sekarang." Gerutu Dea.
Kayla baru menyadari kalau dia kini sedang ada di rumah sakit. "Aku kenapa disini?" Tanya Kayla lirih.
Dea pun menceritakan yang ia ketahui. Ingatan Kayla mulai kembali. Ia lalu mencari sosok yang tak ada di sekitarnya. Yang telah membuatnya galau gundah gulana. Ridwan.
Ridwan memilih menjauh dari Kayla. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena membuat Kayla kebingungan. Ia harusnya tak mengatakan hal itu tadi. Ia harusnya bisa menepati janjinya, dan membiarkan Kayla bersama dengan Malik. Ia akhirnya mengurus administrasi Kayla dan membiarkan Malik menemaninya.
Dokter mengatakan bahwa Kayla tak perlu rawat inap. Ia hanya butuh banyak istirahat untuk memulihkan kondisinya. Ridwan segera menghubungi Doni dan memintanya kembali ke kantor lebih dulu bersama Dea. Ridwan pun meminta Malik untuk mengantar Kayla pulang setelah kondisinya membaik.
Ridwan. Dia hanya melihat dari tempat yang tak terlihat oleh Doni dan Malik ketika mereka meninggalkan rumah sakit.
"Maafkan aku Kay!" Gumam Ridwan kala melihat Kayla memasuki mobil Malik bersama Diana dan Kinara.
Ridwan memilih keluar berjalan-jalan sendiri dengan taksi. Ia menuju taman yang dulu biasa ia kunjungi bersama Dewi.
"Maafkan Mas, Wi! Mas melanggar janji Mas sendiri. Maaf telah membagi hati ini pada yang lain. Mungkinkah itu teguran darimu bahwa aku harus menepati janjiku? Maafkan Mas, Wi! Maaf."
Suara hati Ridwan menyeruak begitu saja bersama hembusan angin sore yang menyejukkan taman. Canda tawa serta riuh suara pengunjung menjadi teman bagi Ridwan menghabiskan sorenya di taman itu sendirian.
Keesokan paginya, Kayla benar-benar tak berangkat bekerja. Ia mengajukan izin libur selama tiga hari sesuai anjuran dokter.
Sekitar pukul delapan pagi, Malik datang ke rumah Kayla sendirian. Ia ingin memastikan kondisi Kayla sudah membaik. Ia juga sekalian berpamitan, karena ia harus kembali ke Surabaya karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.
"Kamu harus jaga kesehatan! Oke?" Pinta Malik.
"In shaa Allah Mas. Terima kasih bantuannya kemarin." Sahut Kayla canggung.
"Maafkan aku mengatakan itu kemarin! Tolong anggap itu semua tak terjadi! Lupakanlah!" Ucap Malik seraya meraih tangan Kayla.
"Maaf Mas!" Kayla segera menarik tangannya.
"Oh, maaf Kay!" Malik merasa tambah tak enak hati karena sikap lancangnya.
Kayla hanya mengangguk. "Aku akan pergi, istirahatlah!"
Malik pun segera pergi dari rumah Kayla dan menuju bandara. Ia sebenarnya ingin menemani Kayla saat ini, tapi ia juga tak bisa meninggalkan tanggung jawab pekerjaanya di Surabaya begitu saja.
Kayla pun segera kembali ke kamarnya. Ketika ia baru saja merebahkan tubunya, ada yang mengetuk pintu. Ia kembali ke depan untuk melihat tamunya.
Seorang ojek online mengantarkan sekeranjang buah untuk Kayla. Ia berusaha menolak karena tak merasa memesannya, tapi sang ojek memaksanya. Kayla akhirnya menerima kiriman itu.
Dan saat waktu makan siang tiba pun, hal itu kembali terjadi. Bahkan ada dua orang ojek online yang mengantarkan makanan untuk Kayla. Dan itu berlangsung selama Kayla tidak berangkat bekerja. Akan selalu ada ojek online mengantarkan makanan untuknya, atas namanya. Tapi bahkan ia tak pernah memesannya.
Kayla pun bertanya-tanya, siapa gerangan yang berbaik hati mengiriminya makanan setiap waktu makan tiba selama ia dalam keadaan sakit. Karena yang pasti bukan Dea. Kayla sudah memastikan hal itu pada Dea.
...****************...
"Kay!" Panggil Dea saat mereka sedang bersantai di ruang tamu sembari menonton tv.
"Heemm,," Sahut Kayla singkat.
Kondisi Kayla sudah pulih. Ia pun sudah kembali bekerja hari ini.
"Boleh aku tanya sesuatu Kay? Tapi seperinya agak pribadi. Dan kumohon, kamu jangan marah!" Ucap Dea hati-hati.
"Kamu mau tanya apa? Gitu banget?" Celetuk Kayla.
"Sini pinjam ponselmu bentar!" Dea mengambil ponsel Kayla yang tergeletak di antara mereka berdua.
Kayla masih santai memakan slondok yang tadi ia beli di warung camilan. Ia menunggu Dea ingin menanyakan apa.
"Dia siapa Kay? Apa dia Khiana, putrimu?" Ucap Dea seraya menunjukkan foto Khiana yang pernah ia lihat di ponsel Kayla beberapa hari lalu.
sebel lm2 sm keyla
uda diperjuangin pn gak mau
pakek2 sujud segala
sujud itu cm utk allah
gak jmpa hari ini kn msi ada hri esok