Maaf untuk para readers jika kalian merasa bingung saat karya ku ini berganti judul. Setelah aku pikir-pikir judul Izinkan aku mencintaimu kurang pas dengan isinya jadi aku ganti dengan judul Cinta Dalam perjodohan.
Erlangga Bayu Pramuja, anak bungsu dari Egi Pramuja dan Monica Alandra Putri Pramuja, Si Playboy, pemain cinta, dan pecinta one night stand.
Dijodohkan oleh keluarganya dengan perempuan yang polos dan dari keluarga yang sederhana. Akan tetapi siapa sangka Erlangga akan jatuh hati dan dibuat jungkir balik oleh gadis yang jauh dari tipenya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Dekat
Waktu sudah menunjukan pukul empat sore. Jalanan kota juga sudah mulai dipadati oleh kendaraan. Salah satunya adalah mobil yang Erlangga kendarai.
Setelah dari apartemen Erlangga mengantar Alana pulang.
“Janji ya jangan bilang mami soal Mas yang cium aku tadi?” pinta Alana.
“Iya.”
Erlangga merasa jengah berkali-kali mendengar permintaan istrinya yang terkesan konyol. Memang kenapa jika maminya tahu apa yang mereka lakukan? Mereka juga sudah resmi menjadi suami-istri.
“Memang kenapa kalau mami tahu? Mami juga gak akan marah,” ucap Erlangga.
“Aku malu, Mas,” ucap Alana.
“Ngapain malu kita ini suami
-istri bukan pasangan selingkuhan,” ucap Erlangga.
“Iya sih, Mas ....”
“Sudahlah jangan meminta hal yang konyol lagi,” ucap Erlangga seraya mengusap kepala Alana.
“Sekarang kamu harus mulai terbiasa dengan hubungan baru kita,” ucap Erlangga.
“Mas ... di sekolah gak ada yang tahu 'kan tentang pernikahan kita?” tanya Alana. “Aku takut pihak sekolah tahu dan aku akan dikeluarkan dari sekolah.”
“Kamu tenang saja. Gak ada yang tahu kok tentang ini,” ucap Erlangga.
Mobil Erlangga berhenti tepat di dekat gang masuk ke tempat tinggal Alana.
“Mas mau langsung pulang?” tanya Alana.
Ada rasa tidak rela jika Erlangga pulang secepat itu. Alana masih ingin ditemani oleh laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya.
Erlangga berpikir sejenak. Lalu mengedarkan pandangannya ke luar mobil, seolah sedang mencari sesuatu.
“Mas Erlangga nyariin apa sih?” tanya Alana.
“Penjual ayam goreng kremes yang ada di sana buka jam berapa?” tanya Erlangga.
Alana melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangan Erlangga. Waktu masih menunjukan pukul 5 sore.
“Masih dua jam lagi,” jawab Alana. “Mas pengin makan ayam goreng kremes?”
“Iya,” jawab Erlangga.
“Aku nunggu di rumah kamu saja ya,” ucap Erlangga yang langsung dianggukki oleh Alana.
Bibir Alana tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman saat Erlangga masih akan bersamanya lebih lama lagi.
Keduanya turun dari mobil bersama-sama. Erlangga berjalan ke sisi sebelah Alana. Tangannya ia satukan dengan Alana.
Saat pertama kali Erlangga menyatukan tangan mereka, Alana merasa gugup, tetapi tidak dengan saat itu, Alana mulai nyaman dekat dengan Erlangga.
Erlangga dan Alana berjalan menyusuri gang sempit yang akan membawa mereka ke tempat tinggal Alana. Sepanjang perjalanan banyak tetangga yang menyapa mereka.
“Wah pacarnya ganteng banget ya,” puji salah seorang tetangga Alana.
“Iya, tapi keliatan dewasa ya,” imbuh yang lainnya.
“Itu bagus dong, kalau nyari pasangan apalagi suami harus yang dewasa,” sambung yang lain lagi.
Erlangga dan Alana hanya diam seraya menyunggingkan senyum mereka saat melihat perbincangan para ibu-ibu itu.
“Maaf, Bu ... kami permisi dulu,” pamit Alana.
“Eh, awas ya, Alana ... jangan macam-macam. Nenek kamu itu baru seminggu meninggal,” sindir salah seorang tetangga yang bernama ibu Sinta.
Erlangga merasa kesal saat ada orang yang menghina Alana.
“Dia lagi,” batin Erlangga.
Erlangga ingin sekali membalas ucapan wanita paruh baya yang juga pernah berdebat dengan mereka sebelumnya, tetapi Alana menahannya.
“Jangan, Mas. Biarkan saja,” ucap Erlangga.
“Tenang saja Alana kami percaya kok sama kamu. Jangan dengerin ibu shinta ... dia itu gudangnya sirik,” bela salah seorang tetangga Alana.
Alana mengangguk, beruntung tidak semua tetangganya seperti ibu shinta.
“Iya, Bu ... terima kasih untuk kepercayaan ibu,” ucap Alana.
“Kami permisi dulu,” pamit Alana.
“Iya Alana, baik-baik di rumah ya, jangan sedih terus. Nenek kamu pasti sudah tenang di alam sana.”
“Kalau kamu butuh apa-apa bilang sama kami,” imbuh yang lainnya.
“Iya, Bu. Sekali lagi saya berterima kasih pada kalian semua,” ucap Alana.
“Kecuali ibu yang itu.” Mata Erlangga memicik ke arah ibu Sinta.
Alana membuka kunci pintu rumahnya. Setelah terbuka, Alana mempersilahkan Erlangga untuk masuk.
“Ayo masuk, Mas," ajak Alana.
“Aku numpang mandi ya sekalian ya,” ucap Erlangga.
“Iya, Mas ... aku ambilkan handuk dulu,” ucap Alana.
Alana mengambil handuk baru dari dalam lemari yang ada di kamarnya. Lalu memberikannya kepada Erlangga.
“Ini, Mas handuknya.” Alana memberikan handuk kepada Erlangga.
Erlangga menerima handuk yang diberikan oleh Alana.
“Mau mandi bareng gak.” Erlangga mengedipkan satu matanya untuk menggoda Alana.
“Gaklah, Mas. Kamar mandinya 'kan sempit mana muat buat mandi berdua,” ucap Alana.
Erlangga berdecak kesal. Ia lupa jika istrinya itu tidak bisa digoda.
“Astaga .... Alana!”
Erlangga kehabisan kata-katanya saat menghadapai kepolosan Alana.
“Apa sih, Mas?” Alana berucap dengan wajah polos tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
“Gak tahulah.” Erlangga melangkah ke kamar mandi dengan rasa kesalnya. Alana itu bisa melambungkan dirinya dan dalam sekejap membantingnya kembali.
*****
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Alana dan Erlangga bersiap untuk pergi ke restoran di pinggir jalan yang menjual ayam kremes.
“Kita jalan kaki saja ya, Mas,” ajak Alana.
“Jalan kaki? Memang kamu gak capek?” tanya Erlangga.
“Gak kok, Mas. Lebih dekat kalau jalan kaki. Kalau naik mobil malah lebih lama, karena kita harus puter arah dulu,” ucap Alana.
“Oke, kalau begitu,” ucap Erlangga. “Berangkat sekarang!” ajak Erlangga.
“Yuk.” Alana menunjukan senyum manisnya kepada Erlangga.
Erlangga dan Alana kembali ke luar dari rumah Alana. Mereka berjalan dengan tangan yang menyatu, mengisi ruang pada sela jari-jari mereka.
Malam itu adalah kali pertama bagi Erlangga berjalan kaki bersama seorang dengan perempuan. Meskipun Alana umurnya jauh lebih muda, tetapi tingkat kedewasaan gadis itu tidak bisa diragukan lagi. Hanya terkadang kepolosan Alana membuat dirinya kesal sendiri.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit, keduanya sampai di tempat yang mereka tuju. Keduanya mematung saat melihat ramainya tempat itu.
“Yah, ramai banget,” ucap Erlangga.
“Iya, kok tumben rame banget,” sambung Alana.
“Kalau begitu kita makan di rumah saja ya, Mas. Kita gak dapet tempat duduk di sini,” ucap Alana.
“Iye deh, gak apa-apa,” balas Erlangga.
Alana memesan tiga porsi ayam goreng kremes. Mereka menunggu sebentar di samping tempat makan itu. Tidak lama tiga porsi ayam goreng kremes pesanan mereka sudah siap.
Setelah membayar, keduanya kembali pulang. Mereka kembali berjalan kaki untuk kembali ke rumah Alana.
Sepanjang perjalanan mereka mengobrol dan kadang juga mereka tertawa di sela obrolan mereka. Tidak terasa mereka sampai di rumah Alana.
“Alana.”
Erlangga dan Alana menoleh saat mereka mendengar ada yang memanggil nama Alana. Mereka melihat Satria berdiri di depan rumah Alana.
“Satria,” guman Alana dan Erlangga.
“Kamu ngapain di sini?” Ada rasa tidak suka pada nada bicara Erlangga saat melihat keberadaan Satria di sana.
“Aku ada perlu sama Alana,” jawab Satria.
“Ada perlu sama aku? Ada apa ya?” tanya Alana.
“Ini aku mau kasih catatan pelajaran selama satu minggu ini. Biar kamu gak ketinggalan pelajaran.” Satria menyerahkan buku catatan kepada Alana.
Bukan Alana yang menerima buku itu, tetapi Erlangga. Itu pun Erlangga memintanya secara paksa.
“Kedua tangan Alana lagi sibuk, jadi aku yang wakilin,” ucap Erlangga.
Satria melihat ke arah tangan Alana, satu tangannya membawa sebuah bungkusan dan satu tangannya lagi digenggam oleh Erlangga.
“Urusanmu sama Alana sudah selesai, 'kan? Pulang gih! Kami lagi sibuk,” usir Erlangga.
Erlangga menarik tangan Alana, membawa istrinya masuk ke dalam rumah. Erlangga bahkan tidak memberi kesempatan pada istrinya untuk sekedar berterimakasih kepada Satria.