Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Munculnya Sosok Masa Lalu
Untuk mengusir rasa sedih dan kerinduan yang masih tersisa di hati Syafa, serta sekaligus memenuhi janji yang sudah lama terpendam di dalam hatinya sendiri, Aini memutuskan untuk melakukan perjalanan jauh.
Ia akan membawa kedua anaknya ke kota, ke tempat Bu Lilis. Aini ingin mengembalikan cincin emas Bu Lilis. Cincin pengganti yang ia beli dari hasil keringat dan kerja keras berjualan nasi uduk. Aini tidak melupakan kebaikan wanita tua itu, dan sebagai bukti bahwa ia sudah bangkit dari keterpurukan.
Pagi itu, mereka berangkat menaiki bus antarkota yang berdesak-desakan namun cukup nyaman.
Syafa duduk di dekat jendela, wajahnya berseri-seri. Sudah lama ia tidak pergi berjalan-jalan, apalagi akan bertemu dengan Bu Lilis yang sangat ia rindukan. Sepanjang perjalanan, gadis kecil itu tak henti-hentinya berceloteh, bercerita tentang sekolahnya, tentang juara satu yang ia raih, tentang Satria yang sudah pandai berlari, dan segala hal yang terlintas di pikirannya. Aini hanya tersenyum, sesekali mengangguk atau menjawab singkat, namun hatinya terasa lebih tenang. Melihat putrinya ceria kembali adalah hadiah terindah baginya.
Satria duduk di pangkuan ibunya, sesekali tertawa melihat pemandangan pohon dan rumah yang bergerak mundur di luar jendela. Perjalanan itu terasa menyenangkan, membawa mereka menjauh dari desa yang penuh kenangan manis dan pahit tentang Jaja, kini.....mereka menuju tempat di mana semuanya bermula.
Menjelang siang, bus itu sampai di terminal kota. Aini menggandeng tangan Syafa dengan erat, sementara tangan kirinya menggendong Satria yang mulai rewel karena lelah. Mereka berjalan keluar menuju halte di pinggir jalan, tempat biasa para penumpang menunggu kendaraan berikutnya.
Namun hari itu, sepi sekali. Biasanya banyak ojek yang hilir mudik menawarkan jasa, tapi entah mengapa sudah hampir setengah jam mereka menunggu, tak ada satu pun pengendara yang lewat. Matahari terasa makin terik membakar kulit, debu jalanan beterbangan ditiup angin. Syafa mulai gelisah, kakinya bergesekan tidak sabar. Satria mulai merengek minta minum dan minta digendong lebih nyaman.
"Ibu... kapan kita berangkat lagi? Panas sekali di sini," keluh Syafa sambil mengipasi wajahnya dengan tangannya yang kecil.
"Sabar ya, Nak. Sebentar lagi pasti ada yang lewat. Kita istirahat dulu di bawah pohon ini," jawab Aini lembut, meski ia sendiri juga mulai merasa cemas dan kepanasan. Ia memandang ke kiri kanan jalan raya yang cukup ramai kendaraan, tapi semuanya lewat begitu saja tanpa berhenti.
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam berukuran besar dan tampak mewah melaju kencang dari arah belakang mereka, melewati halte itu tanpa memperlambat laju. Aini hanya melirik sekilas, tidak terlalu mempedulikannya. Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat jantungnya hampir berhenti berdetak.
Mobil itu, yang sudah lewat cukup jauh di depan, tiba-tiba menyalakan lampu sein dan perlahan menepi ke pinggir jalan. Ban mobil berdecit pelan, lalu bergerak mundur perlahan-lahan kembali ke arah halte tempat mereka berdiri. Berhenti tepat di depan pohon tempat Aini dan anak-anaknya berteduh.
Hati Aini seketika berdegup kencang. Darahnya terasa berhenti mengalir, wajahnya memucat drastis. Ingatannya langsung melayang kembali ke masa lalu yang kelam, ke rasa takut yang paling dalam, ke sosok yang selama ini menjadi mimpi buruknya...... Dimas.
"Siapa lagi? Siapa lagi yang akan mencari kami di sini? Jangan-jangan dia... jangan-jangan Dimas sudah tahu kami ada di sini. Dia datang membawa orang... dia mau mengambil anak-anakku..."
Ketakutan yang dulu pernah ia rasakan saat lari membawa anak-anak di tengah hujan deras, ketakutan saat rumahnya digeledah, ketakutan akan kehilangan Syafa dan Satria... semuanya kembali menyerbu masuk seketika.
Tangan Aini gemetar hebat, ia langsung menarik kedua anaknya ke belakang tubuhnya, memeluk mereka erat-erat seolah ingin menyembunyikan mereka di balik badannya yang kurus. Matanya menatap tajam dan penuh waspada ke arah jendela mobil yang gelap itu, bersiap lari atau berteriak minta tolong jika perlu.
Pintu mobil terbuka perlahan dari sisi pengemudi. Sepasang sepatu pantofel yang mengkilap menginjak tanah berdebu. Lalu keluarlah sosok laki-laki yang gagah, tegap, dan sangat berwibawa. Berpakaian dinas yang sangat rapi, bersih, dengan penampilan yang sangat terawat.
Aini menahan napasnya. Matanya membelalak lebar, tak percaya! Rasa takutnya seketika lenyap, digantikan oleh keterkejutan yang luar biasa, kebingungan, dan rasa haru yang mendadak muncul begitu saja.
Bukan Dimas.
Laki-laki yang turun itu adalah wajah yang sangat ia kenal, namun sudah lama sekali tidak ia temui. Wajah yang melekat dalam ingatannya sebagai sosok penyelamat pertama, sosok yang mengantar mereka ke desa yang aman dua tahun lalu. Sosok yang membayarkan rumah, yang menjamin keamanan mereka, yang pergi begitu saja tanpa pernah menyebutkan namanya.
Komandan Sejiwa
Laki-laki itu berdiri di sana, tatapan matanya yang tajam namun teduh langsung tertuju pada Aini dan kedua anaknya. Wajahnya masih sama.....tegas, gagah, dan memancarkan aura kekuatan serta kebaikan yang sulit dijelaskan.
Aini terpaku di tempatnya. Mulutnya terbuka sedikit, tapi tak ada suara yang keluar. Ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu laki-laki ini di sini, di tempat ini, di saat ini. Laki-laki yang ia anggap sebagai malaikat tak bersayap, laki-laki yang ia berhutang nyawa dan masa depan anak-anaknya, namun yang sampai detik ini ia masih tidak tahu nama lengkapnya, tidak tahu alamatnya, dan tidak tahu siapa dia sebenarnya selain panggilan "Komandan" yang terdengar begitu hormat.
Komandan Sejiwa tersenyum tipis, senyum yang ramah dan menenangkan, lalu melangkah mendekat perlahan agar tidak mengejutkan mereka lebih jauh.
"Bu Aini?" suaranya masih sama, berat, tenang, dan berwibawa.
"Benar ini Bu Aini ya? Saya hampir tidak yakin, tapi saat melihat dari kaca mobil... saya rasa itu pasti Ibu."
Aini masih diam, air mata tiba-tiba menggenang di matanya, campuran antara rasa kaget, rasa bahagia, dan rasa terharu yang tak terkira. Ia melepaskan pelukannya pada anak-anaknya sedikit, namun tangannya masih erat menggenggam tangan Syafa.
"Pak... Komandan..." gumam Aini pelan, suaranya bergetar. "Bapak... Bapak ada di sini? Apa... apa kabar Bapak? Saya... saya tidak menyangka sama sekali akan bertemu Bapak lagi."
Laki-laki itu mengangguk sopan, menatap Aini lekat-lekat, memperhatikan perubahan yang ada pada wanita itu. Ia melihat Aini terlihat lebih sehat dan cerah. Tapi mata itu ....seperti menyimpan luka yang dalam. Ia juga melihat Syafa yang sudah tumbuh lebih besar dan cantik, serta Satria yang kini sudah bisa berdiri tegap.
"Kabar saya baik, Bu. Alhamdulillah," jawab Komandan Sejiwa tenang.
"Saya sedang ada urusan dinas di daerah sini, kebetulan lewat jalan ini. Dan sungguh... saya tidak menyangka akan melihat Ibu dan anak-anak di sini. Sehat semua ya?"
Aini mengangguk cepat, air matanya mulai menetes jatuh membasahi pipinya.
"Sehat, Pak. Kami sehat semua. Semua berkat kebaikan Bapak. Berkat Bapak, kami bisa hidup tenang, bisa makan, bisa punya tempat berteduh... Saya... saya tidak tahu harus bilang apa lagi, Pak. Saya sudah berniat kalau ada rezeki lebih, saya mau cari Bapak... mau berterima kasih lagi... tapi saya tidak tahu siapa nama Bapak sebenarnya, tidak tahu ke mana harus mencarinya..."
Komandan Sejiwa tersenyum makin lembut, mengangkat tangan memberi isyarat agar Aini tenang.
"Sudah, Bu. Tidak perlu menangis. Tidak perlu berterima kasih lagi. Semua itu sudah menjadi kewajiban saya saat itu, dan saya sangat bersyukur melihat kalian baik-baik saja dan hidup bahagia. Itu sudah cukup menjadi balasan terbesar bagi saya."
Ia menatap ke arah jalan yang masih sepi dari ojek, lalu menatap matahari yang makin panas.
"Kalian mau ke mana? Menunggu kendaraan ya? Ayo, naik saja ke mobil saya. Saya antar sampai ke tujuan. Tidak pantas rasanya kalau saya lewat begitu saja sementara kalian menunggu kepanasan di sini. Ayo, bawa anak-anaknya masuk ke dalam, di dalam adem kok."
Aini menatap laki-laki itu sejenak.....ragu, namun rasa percaya yang besar, rasa aman yang dulu pernah ia rasakan, kembali hadir sepenuhnya. Di depannya bukan orang asing, melainkan orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Ia menoleh ke Syafa yang menatap laki-laki gagah itu dengan mata berbinar, lalu ke Satria yang seolah merasa aman saja melihat wajah itu.
Akhirnya Aini mengangguk, menyeka air matanya dan tersenyum haru.
"Terima kasih... terima kasih banyak Pak Komandan. Kalau begitu... kami numpang lagi ya. Maaf.....merepotkan Bapak lagi."
"Tidak ada yang merepotkan, Bu. Mari... silakan," jawab Komandan Sejiwa sambil membukakan pintu belakang mobil dengan sangat sopan.
Saat mereka masuk ke dalam mobil yang dingin dan nyaman, Aini kembali menatap punggung laki-laki yang sedang duduk di kursi pengemudi. Di dalam hatinya, rasa syukur tak berhenti. Di saat ia merasa kehilangan Jaja, di saat ia merasakan kesepian dan penyesalan yang berat, Tuhan kembali mengirimkan sosok ini. Sosok yang penuh misteri, yang nama aslinya pun ia tak tahu, namun selalu hadir di saat-saat penting dan sulit dalam hidupnya.
Dan di dalam hati Komandan Sejiwa sendiri, ada rasa lega yang mendalam. Ia melihat betapa hebatnya wanita ini bertahan. Ia melihat betapa indahnya hasil perjuangan Aini membesarkan kedua anaknya.
Mobil itu pun melaju pelan, membawa mereka ke pinggir kota......menuju rumah Bu Lilis.
********