Siap, ini deskripsi singkat yang diambil dari naskah yang kamu kirim (lebih sesuai dengan konflik, karakter, dan tensinya):
Dalam sebuah perjanjian yang tak bisa dihindari, Talia harus menerima takdirnya untuk menikah dengan Etnan—pria dingin, penuh kuasa, dan menyimpan banyak sisi yang tak terduga.
Di balik hubungan yang terlihat formal, terselip ketegangan, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap. Kehadiran Sophia yang obsesif, serta perasaan tersembunyi dari orang-orang di sekitar mereka, membuat hubungan itu semakin rumit.
Namun di antara sindiran, sentuhan yang tak diinginkan, dan emosi yang saling ditahan—perlahan tumbuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kewajiban.
Cinta yang seharusnya tidak ada… justru mulai mengikat mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Bentuk Perlindungan
Ethan yang kini sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah megah milik keluarganya, melangkah masuk dengan pasti.
Ketika sampai di ruang keluarga, ia melihat mami dan papinya sedang duduk berbincang, hingga menyadari kepulangan sang anak yang memang sudah dinanti-nantikan.
“Kau sudah pulang, Nak,” sapa sang ibu, Isabella Taylor.
Ethan menyambutnya dengan ciuman di pipi sang ibu, sementara tangan kanannya menyentuh pinggang ibunya dengan hangat.
“Ya.”
“Bagaimana, Nak?” ucap Bella antusias, tangannya tak melepaskan tangan Ethan.
“Ya, begitulah.”
“Apanya yang begitu?”
“Seperti yang kalian lihat di berita,” jawab Ethan singkat.
“Berita tentang kau mencium seorang wanita?” tanya Noah, yang sejak tadi diam.
Ethan membalasnya dengan anggukan.
“Di hari pertama kau bertemu dengannya, kau malah menciumnya? Apa kau tidak waras, Ethan?”
“Biar cepat, Pa. Bukankah semakin cepat semakin baik?”
“Tapi tidak seperti itu juga caranya.”
“Aku akan mengikuti perjanjian itu, tapi bukan berarti aku juga akan mengikuti semua peraturannya. Semua akan berjalan dengan aturanku,” ucap Ethan dengan tatapan sinis. Ia jelas tidak menerima keputusan ini.
Noah tidak menjawab. Tatapan mereka saling bertemu tajam, seolah sedang memberi batas teritorial masing-masing.
“Aku mau istirahat,” ujar Ethan, lalu memutus tatapan itu dan pergi meninggalkan keduanya.
“Aku semakin takut melihat anakmu, Bella,” ucap Noah.
“Dia itu fotokopianmu, Sayang. Kau juga begitu, tidak suka ada yang mengusik wilayahmu.”
“Aku? Hahaha, mana ada aku begitu. Aku ini pria lembut.”
“Iya, saking lembutnya kau tidak berkedip saat menembak kepala seseorang yang mengkhianatimu.”
“Itu lain lagi.”
“Sama saja.”
“Apa kau sedang mengejekku, Sayang?” tanya Noah yang terus disindir.
Noah lalu menggelitik Bella hingga wanita itu kegelian.
“Sudah cukup, Noah. Malu jika Ethan melihatnya.”
“Bagus kalau dia lihat. Biar dia berpikir kalau menikah itu enak dan bisa seperti ini setiap saat.”
“Tapi awalnya kau juga seperti Ethan, yang tidak menyukaiku. Bahkan kau—”
Belum selesai Bella berbicara, Noah sudah membungkam bibir istrinya dengan ciuman dalam. Kemudian ia menyandarkan kepalanya di lekuk leher wanita itu.
“Tolong... jangan ungkit cerita menyakitkan itu, Bella. Aku tahu kau ahli dalam sejarah, tapi aku tidak ingin kau mengingat luka yang pernah kuberikan padamu,” ucap Noah lirih.
Bella tersenyum dan membelai rambut suaminya yang mulai memutih.
“Baiklah, Sayang. Aku tidak akan mengungkitnya lagi.”
Ia memegang wajah sang suami, lalu melihat ada bercak air mata di pipinya. Bella mengusap lembut air mata itu, kemudian mencium pipi suaminya dengan sangat romantis.
Walau mereka sudah menua, mereka tetap sangat romantis. Bahkan ketika hanya berdua, Noah bisa berubah seperti kekasih yang manja. Namun jika di depan orang lain, ia akan menjadi sosok alpha yang tak tersentuh.
Begitu pula dengan Ethan. Benar kata Bella, Ethan mewarisi semua sifat papinya. Karena itu, Bella sedikit khawatir jika Ethan akan melakukan hal yang sama seperti yang ia alami di awal pernikahannya.
Di kamar dengan nuansa gelap, elegan, dan mewah, Ethan berdiri di balkon sambil menghisap rokoknya.
Ia menatap lurus dengan pandangan kosong, mengingat beberapa kejadian yang telah ia lalui bersama Talia. Kemudian ia teringat ciuman yang terjadi di taman.
Bohong jika ia tidak menikmatinya.
Nyatanya, kini ia ingin merasakan ciuman itu lagi.
***
Di sudut lain kota metropolis, di sebuah ruangan rahasia yang terletak di bawah gedung Taylor Group, atmosfer terasa mencekam sedingin es. Tidak ada lagi setelan jas formal yang rapi; Ethan Noah Taylor kini hanya mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga sebatas siku, memancarkan aura kegelapan mutlak sebagai seorang ketua mafia.
Di atas meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni gelap, sebuah bongkahan batu berlumuran noda darah kering—batu yang tadi melukai Talia—tergeletak di bawah sorot lampu meja yang temaram.
Di depan meja, tiga orang anak buah kepercayaannya berdiri menunduk dengan tubuh gemetar, menahan napas di bawah tatapan kelam Ethan yang mampu membekukan darah siapa pun.
"Dua jam," suara Ethan terdengar sangat rendah, serak, namun sarat akan ancaman kematian yang nyata. "Aku memberi kalian waktu dua jam, dan kalian bahkan tidak bisa membawa kepala keparat yang berani melempar batu itu ke hadapanku?"
"Ma-maaf, Tuan Taylor," salah satu anak buahnya memberanikan diri angkat bicara dengan suara bergetar. "Pelaku tampaknya sudah terlatih. Dia memanfaatkan kerumunan pengunjung di Tivoli Garden dan langsung menghilang ke dalam area buta tanpa kamera CCTV. Namun, berdasarkan potongan rekaman sekilas, kami menduga..."
"Katakan," desis Ethan, matanya menyipit tajam.
"Pelaku menggunakan emblem kecil berbentuk ular beludru di jaketnya. Itu... itu adalah orang-orang dari faksi luar yang tidak menyukai aliansi pernikahan Anda dengan keluarga Smith, Tuan."
Brak!
Ethan menggebrak meja marmer di sampingnya hingga cangkir kopi di atasnya berdenting keras. Rahangnya mengetat sempurna hingga urat lehernya menyembul. Seringai kejam yang mematikan perlahan terukir di sudut bibirnya.
Mengingat bagaimana kulit pucat Talia yang kontras dengan pakaian dalam hitamnya tadi di dalam mobil, serta bagaimana ketenangan gadis itu saat menantang egonya, membuat insting posesif di dalam dada Ethan bergejolak hebat. Orang-orang bodoh di luar sana mengira Talia adalah mangsa yang lemah, tanpa tahu bahwa dengan menyentuh seujung kuku Natalia Oliver Smith, mereka baru saja membangunkan iblis yang paling kejam di dunia bawah.
"Cari bajingan itu sampai ke lubang cacing sekalipun," perintah Ethan, suaranya sedingin malaikat maut. "Bawa dia hidup-hidup ke hadapanku. Aku sendiri yang akan menguliti tangannya yang sudah berani menyentuh calon istriku."
Ia menjilat bekas luka gigitan yang diberikan Talia padanya.
***