Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.
Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.
Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.
Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.
Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?
[Ding!]
[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Pembalasan Yang Epik
Arjuna berdiri di hadapan Komandan Wiryo dengan tubuh yang masih bergerak-gerak, dan nafas terputus karena meridian rusak parah.
Bagas sudah mundur jauh ke belakang Komandan Wiryo. Matanya berkilau dengan ketakutan, dan perhitungan.
"Jadi ini akhirnya," ucap Arjuna, suaranya tenang meskipun kondisinya sangat kritis. "Tiga tahun menghina, dan sekarang kau harus menghadapi apa yang sudah kau ciptakan.”
Komandan Wiryo turun perlahan, aura biru cahayanya membentuk pola yang indah, tetapi menakutkan di sekujur udara.
"Arjuna …," balas Komandan Wiryo, suaranya datar seperti penilaian akhir hidup. "Kau adalah penyimpangan. Manusia murni yang seharusnya tidak ada di tempat ini."
"Penyimpangan?" timpal Arjuna, senyuman licik muncul di sudut bibirnya. "Atau aku adalah bukti bahwa Prefektur Ethereal tidak sesempurna seperti yang kalian pikir?"
Bagas bergerak maju dari belakang Komandan Wiryo. Dia mencoba mengepung Arjuna dari dua sisi dengan energi biru yang membara.
"Diam kau!" bentak Bagas, suaranya penuh kemarahan dan kegilaan. "Sekarang kami akan mengakhiri ini, untuk selamanya. Bersiaplah menuju neraka!”
Arjuna melangkah mundur perlahan, matanya mengikuti gerakan keduanya dengan presisi kalkulasi yang menakutkan.
"Kalian sudah mengerti belum?" balas Arjuna, suaranya bergema di antara pohon-pohon. "Aku tidak datang sendirian. Aku hanya menunggu momen yang tepat."
Komandan Wiryo mengernyit, mata biru miliknya menyipit dengan curiga, dan ketidakpercayaan.
"Apa maksudmu?" tanya Komandan, dan ada keraguan di nada suaranya untuk pertama kalinya.
"Maksudku adalah aku sudah membuat perjanjian dengan pihak lain," lanjut Arjuna, matanya berkilau dengan kejahatan yang tersembunyi. "Pihak yang sangat tertarik dengan keadaan Prefektur Ethereal saat ini. Keadaan militer yang sangat lemah, karena dipimpin oleh Komandan yang sangat lemah."
“Spirit Realm Fist!”
Bagas bergerak menyerang dengan pukulan yang brutal, tapi tiba-tiba ledakan energi merah gelap muncul dari arah utara perbatasan.
Cahaya itu berwarna merah darah, berbeda jauh dari cahaya biru ras Ethereal pada umumnya atau cahaya aura merah milik Arjuna.
Komandan Wiryo membentangkan sayap biru miliknya, melindungi Bagas, dan prajurit lain yang sudah muncul belakangnya.
"Demonia," desah Komandan Wiryo, suaranya berubah dingin, dan penuh waspada. "Mereka menyerang perbatasan."
Dari kegelapan hutan, sosok-sosok bersayap merah gelap mulai muncul dengan tanduk hitam berkilau di kepala mereka, dan energi yang memancar terasa jauh lebih brutal serta gelap.
Ledakan demi ledakan energi merah menerangi hutan malam membuat pertempuran yang sangat kacau dimulai.
Arjuna tersenyum licik, melihat momen yang sempurna itu tiba. Ia tidak mengundang mereka semua, dan semua perkataan sebelumnya itu hanya manipulasi untuk mengulur waktu.
Namun kenyataan malah mendukung pernyataannya bahwa ada pihak lain, dan sekarang pihak lain itu telah datang.
"Sekarang," bisik Arjuna, dan dia mulai bergerak dengan kecepatan yang tersembunyi.
Dengan tubuh yang masih terluka, Arjuna memanfaatkan setiap detik kekacauan itu untuk menyerang prajurit Ethereal satu per satu. Sementara perhatian mereka terpusat pada serangan ras Demonia yang brutal.
Prajurit pertama bernama Karya tidak melihat Arjuna datang dari belakang, tangan merah Arjuna menyentuh lehernya dengan sentuhan ringan namun fatal.
[Venom Fang Poison Aktif]]
Racun mengalir langsung ke dalam tubuh Karya, meridiannya mulai terbakar dari dalam, dan dia terjatuh dengan teriakan yang tersembunyi di antara ledakan pertempuran.
“Aaakh! I-ini …,” jeritnya parau.
Prajurit kedua bernama Surya mencoba melawan, tapi racun bekerja terlalu cepat, dan tubuhnya roboh sebelum sempat memohon ampun dengan darah membanjiri sudut bibirnya.
Prajurit ketiga, Adi, menyadari pola serangan Arjuna dan berusaha lawan dengan energi biru yang membara. Namun tubuhnya sudah terlalu terganggu oleh pertempuran dengan Demonia di sekitarnya.
“Ti-tidak …,” bisik Adi.
Arjuna bergerak dengan presisi licik, dan menargetkan titik-titik vital yang sudah dia hafal dari tiga tahun observasi prajurit ras Ethereal.
Sentuhan Arjuna pada dada Adi cukup untuk mengirimkan racun yang menghancurkan meridiannya, dan prajurit itu terjatuh dengan jeritan yang memilukan.
“Bajingan! Aaakh!”
Bagas menyadari pola Arjuna dan berusaha melawan, tapi energinya sudah terganggu oleh pertempuran dengan Demonia di sekitarnya.
Arjuna bergerak dengan perhitungan matang, dan menargetkan setiap titik vital di tubuh Bagas dengan presisi mengerikan hanya dengan setiap sentuhan ujung jari.
"Tidak mungkin?!" jerit Bagas, tubuhnya mulai menunjukkan tanda keracunan yang parah. Ruam akar ungu yang menonjol menyebar cepat. "Kau ... menggunakan racun terlarang?"
"Kalkulasi," jawab Arjuna, matanya menatap Bagas dengan ekspresi kosong penuh kebiadaban. "Satu-satunya cara mengalahkan yang lebih kuat adalah tidak melawan secara langsung."
“Kalian hanya prajurit yang mengandalkan otot, tapi otak kalian kosong.”
Bagas terjatuh bergelimpangan di tanah dengan darah mengalir dari setiap celah tubuhnya, dan tubuhnya bergerak-gerak dalam penderitaan yang tidak terbayangkan.
Arjuna melanjutkan dengan menargetkan temannya yang masih hidup. Satu per satu dengan gerakan terukur, dan presisi yang menakutkan.
Setiap kematian, dan setiap jantung yang dikumpulkan, Arjuna merasakan energi baru mengalir ke tubuhnya.
Cahaya panel hologram muncul di antara pertempuran yang brutal.
[Kemajuan Misi: 10/10 jantung Etherion dikumpulkan]
[Misi: Balasan — Complete]
[Hadiah terbuka: Teknik Kultivasi Devil Dragon Destiny]
[Kemajuan Kultivasi: Mortal Frame Realm, Lapisan 2: Silver Star — 0% menuju 5%]
Arjuna menutup panel hologram dengan cepat untuk memusatkan perhatian pada Komandan Wiryo yang masih bertempur sengit dengan pemimpin Demonia.
Komandan terlihat sibuk mempertahankan perbatasan dari serangan gelombang demi gelombang. Sayap biru miliknya bergerak dengan cepat mengusir musuh.
Arjuna melihat kesempatan emas itu, dan mulai bergerak mundur perlahan. Memanfaatkan kekacauan pertempuran untuk menghilang di antara pohon-pohon hutan yang gelap.
Komandan Wiryo menyadari kehadiran Arjuna hilang di tengah pertempuran, dan itu membuat matanya membulat dengan realisasi yang mengerikan.
“Kemana bedebah itu pergi?” batinnya.
Dia berhenti sebentar, mengabaikan Demonia, dan menatap ke arah dimana Arjuna menghilang.
Dia memahami sekarang apa yang baru saja terjadi. Arjuna sudah merencanakan segalanya dengan sempurna. Layaknya bidak catur yang sudah ia susun sejak awal.
Setelah pertempuran dengan Demonia berakhir dengan kerugian besar, Komandan Wiryo berkumpul dengan Bagas dan prajurit lain yang masih hidup di antara mayat-mayat yang berserakan.
Mereka semua terbaring dengan meridian rusak, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa mendesah dalam kesakitan.
Komandan berdiri di tengah mereka, wajahnya gelap seperti badai yang akan meledak setiap saat.
"Arjuna …!" teriak Komandan, suaranya bergema dengan realisasi pahit dan marah. "Dia bekerja sama, dengan Demonia sejak awal. Dia adalah pengkhianat.”
Komandan membuka komunikator hologram yang berada di lengan mekanis kirinya dengan tangan yang bergetar, dan mulai merekam laporan resminya dengan nada yang penuh kemarahan.
"Laporan darurat ke markas pusat," ucap Komandan, suaranya formal, tapi penuh dengan emosi yang meledak-ledak. "Prajurit Arjuna Sasrabahu telah mengkhianati Prefektur Ethereal. Dia bekerja sama dengan Prefektur Demonia untuk mengatur serangan terkoordinasi terhadap perbatasan kami.”
“Semua bukti menunjukkan dia adalah mata-mata yang telah merencanakan ini sejak lama. Dia harus ditangkap dan dieksekusi dengan segera sebelum dia menyebabkan lebih banyak kerusakan."
Komandan menutup komunikator dengan kasar, dan marah dalam kesunyian malam yang kelam.
Di tempat lain, tersembunyi di dalam hutan gelap yang penuh dengan cahaya bintang, Arjuna sedang merasakan perubahan tubuhnya yang fundamental.
Energi Devil Dragon System bekerja pada kapasitas maksimal, menyerap sisa-sisa energi vital dari sepuluh jantung yang telah dikumpulkan, dan mulai mengubah seluruh struktur tubuhnya.
Dia tidak tahu bahwa Komandan Wiryo baru saja membuat laporan yang akan mengubah statusnya selamanya menjadi mata-mata Demonia yang dicari oleh seluruh Prefektur Ethereal.
Dia tidak tahu bahwa tuduhan palsu itu akan membuka jalan bagi pihak Demonia untuk memanfaatkan situasi dengan cara yang jauh lebih licik dan berbahaya darinya.
Arjuna hanya tersenyum di kegelapan, dan merasakan kekuatan baru yang mengalir seperti air terjun di seluruh tubuhnya.
"Mereka tidak akan pernah mengerti," bisik Arjuna untuk dirinya sendiri, tawa licik keluar dari bibirnya. "Aku tidak bekerja untuk siapa pun. Aku hanya menjalankan kalkulasi milikku sendiri …. Hahahaha ….”
Akan tetapi dia tidak tahu bahwa kalkulasi jauh lebih besar sudah dimulai tanpa sepengetahuannya, dan pemain-pemain baru dari Prefektur Demonia sudah mulai bergerak di balik layar dengan rencana mereka sendiri.