"Ya Allah ... tolong izinkan abah lebaran sekali lagi."
Doa seorang anak di tengah kesunyian malam. Tak banyak yang dia inginkan untuk lebaran kali ini, hanya kebersamaan dengan Abah saja yang dipintanya.
Nur, seorang anak kecil dari keluarga sederhana yang tak banyak mengeluh. Kehidupan yang sulit tak menjadikan Nur menjadi anak yang murung. Ia tetap percaya diri pergi ke sekolah meksipun sepatunya telah rusak.
Kisah sebuah keluarga sederhana di era 90-an. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kumat Lagi
"Abah!" Aku memekik saat melihat abah yang limbung hendak jatuh. Beruntung, ia dekat dengan tembok mushola. Meski meraba di mana tembok itu, akhirnya abah dapat meraihnya.
Napasnya pendek-pendek, sembari memegangi bagian dadanya abah mencari udara sebanyak-banyaknya.
Aku berlari dan segera memegangi tangannya yang terasa gemetar.
"Abah!" lirihku terdengar bergetar ingin menangis. Aku bahkan sudah terisak walau air mata belum menetes.
Kupegangi sebelah tangannya yang aku lingkarkan di leher kecilku. Tangan abah yang lain masih memegangi bagian dada. Napasnya pendek dan berat. Ya Allah ....
Kupapah abah berjalan mendekati rumah. Anak-anak yang sedang berlarian pun turut berhenti untuk menonton aku yang sedang memapah abah.
"Emak!" panggilku bergetar. Padahal langkah belum sampai di dekat rumah, dan suaraku pun hanya terdengar lirih saja.
"Emak!" Lagi, aku memanggil mak masih dengan nada bergetar. Dan kali ini, dibarengi dengan air mataku yang tumpah.
Abah masih bernapas dengan tersengal.
"Emak!" Sedikit kuangkat suaraku agar mak bergegas membukakan pintu untuk kami.
Tak lama pintu dibuka dengan cepat, aku tahu. Mungkin mak cemas mendengar suaraku yang bergetar karena menangis.
"Nur?" panggil mak saat pintu sudah terbuka. Mata mak membesar saat melihat abah yang kupapah.
"Abah!" pekiknya seraya memegangi tangan lain abah dan membawa masuk ke rumah. Aku dan mak membantu abah untuk duduk bersandar di tembok.
Mak meninggalkan kami menuju dapur dan kembali dengan segelas air hangat di tangannya. Aku membantu menyeka keringat abah yang terus bercucuran di sekitar wajahnya.
"Minum dulu, Bah!" pinta mak, abah melirik gelas yang disodorkan mak. Baru saja mulutnya akan meneguk air itu, batuk sudah menyerangnya. Alot dan lama.
Kubantu Abah dengan cara menepuk-nepuk punggungnya pelan, lalu mengusap-usapnya agar batuk abah segera pergi.
Seteguk darah keluar dari sela bibirnya. Aku membersihkannya, sambil terus menangis bersama mak. Entahlah. Bagaimana perasaanku saat itu. Yang pasti, takut dan cemas menghantuiku.
"Abah ... kenapa bisa begini?" kata mak gemetar. Mak melipat bibir agar tak terlihat gemetar. Ia pun menangis sama sepertiku.
Tas abah? Aku tidak peduli. Aku panik melihat kondisi abah yang semakin payah.
Abah masih mengatur napasnya, belum bisa untuk mengeluarkan kata dari lidahnya. Matanya yang sayu menatap mak dan aku bergantian.
"Di mah-nah A-ceng?" tanya abah dengan susah payah. Mak kembali menyodorkan gelas di tangannya pada abah.
"Minum dulu, Bah! Aceng di rumah Puji," jawab mak menahan diri untuk menghentikan tangisnya.
Mak membantu abah meneguk air di gelas itu. Perlahan, napas abah kembali normal meski masih terlihat berat.
Aku duduk di sampingnya, memijat-mijat tangan dan kaki abah. Tanpa kualihkan mataku darinya yang masih berusaha mencari udara sebanyak-banyaknya.
Mak pergi keluar untuk memanggil Aceng. Satu yang ada di pikiran kami saat itu, abah sedang sekarat. Wajahnya pucat seperti tak memiliki darah, lidahnya tak jelas saat berkata, kakinya dingin saat kusentuh.
Ya Allah ... jika tak ada harapan lagi untuk abah sembuh, maka segera panggil ia. Akhiri sakitnya yang membuatku tak tega saat melihatnya.
Batinku menangis, ingin aku meraung dan memeluk abah erat. Ingin kukatakan padanya jangan pernah pergi dari hidupku. Jangan pernah meninggalkan aku. Aku masih sangat ingin menghabiskan waktu bermain bersamanya. Aku masih ingin mencuri ilmunya untukku.
Sapuan tangan abah di rambutku membuat tangisku semakin menjadi. Kutundukkan kepala dalam-dalam, walau isak tangisku tak dapat kusembunyikan darinya karena tubuhnya yang terguncang.
"Kenapa nangis?" tanya abah serak. Aku tak kuasa mendengar suaranya. Pasti tenggorokannya sakit terasa. Baru saja mengeluarkan darah dari dalam sana.
Aku menggeleng keras, menolak abah yang memintaku mengangkat wajah.
"Abah!" Suara kecil Aceng terdengar kaget. Ia masuk dan duduk di samping abah yang lain bersama mak.
"Abah sakit lagi?" tanyanya sedikit lirih. Kulirik tangan kecilnya memegangi kaki abah.
"Kaki Abah dingin," katanya. Aku mengangkat wajah dan melihat Aceng yang menoleh ke belakang melihat mak.
Wanita sabar itu melipat bibir yang gemetar ingin menangis. Ia tak boleh menangis di depan anak laki-lakinya.
Aceng kembali menoleh pada abah, tapi sebelumnya ia melirikku yang juga tengah menatapnya.
"Teteh, nangis?" tanyanya. Aku menggeleng, tapi cairan dalam hidung yang kuhirup lagi saat akan keluar menjadi bukti aku baru saja menangis.
Aceng memeluk tubuh abah dari sisi kanan, ikut kujatuhkan tubuhku dan memeluknya dari sisi kiri. Abah melingkarkan tangan memeluk kami berdua.
Dadanya masih naik-turun dengan ritme detak jantung yang tak karuan. Persis seperti suara kuda berlari di pacuan kuda. Tak beraturan dan cepat tidak normal.
"Di mana tas Abah, Mak?" tanya abah menanyakan tas slempangnya yang tadi dibawa mak.
Mak berdiri dan mengambil tas yang disimpannya di dekat televisi. Abah melepas pelukannya dan kami menjauhkan tubuh darinya saat abah menerima tas dari mak.
Abah membuka tasnya, mengeluarkan dua buah cokelat batang yang terkenal merk-nya.
"Wah ... silv*r*uin!" pekik Aceng seraya menerima coklat itu dari abah. Aku pun ikut menerima coklat yang diberikan abah padaku.
Kulihat abah tersenyum melihat Aceng yang membuka bungkus dan memakan coklat tersebut.
"Nur sama Aceng udah mitrah belum?" tanya abah sedikit membenarkan posisi duduknya.
"Belum, Bah. Kata Mak nanti besok aja sama Aceng," jawabku menatap abah yang terus tersenyum.
Mendengar jawabanku, abah menoleh menatap mak.
"Ada berasnya, Mak?" tanya abah pada mak.
Mak mengangguk. "Insya Allah ada, Bah," sahut mak tersenyum meski terlihat getir.
Abah mengusap kepala kami berdua, menatap bergantian kedua anaknya yang masih membutuhkan buaian.
"Kalau besok Abah mendingan, kita ke pameran, ya," ucap abah membuat Aceng membelalak senang.
Aku ikut tersenyum walau hambar. Ini janji kedua yang kutunggu. Abah selalu menunaikan setiap ucapan yang sudah keluar dari mulutnya. Ia menganggapnya sebagai amanah yang harus ditunaikan.
Jika kerbau dipegang talinya, maka manusia dipegang ucapannya. Begitu kata mak.
"Mak, makan sama apa? Abah baru minum air putih aja," tanya abah. Dengan lirih mak menjawab, "Cuma ada goreng terasi, Bah!"
Kulihat abah langsung berubah sendu. Bukan pada dirinya, tapi pada kedua anaknya yang harus mengalami pahitnya hidup.
Ia menatap kami sendu, lalu kembali menatap mak yang juga bermuka sedih. Detik kemudian, abah tersenyum. Apa pun yang dapat dimakan, itu yang harus disyukuri.
"Gak apa-apa, Mak. Abah lapar mau makan. Itu ... ada ikan sedikit dikasih bos. Besok makan sama ikan gak sama terasi lagi," ucap abah tersenyum senang membuat kami ikut bersyukur atas rezeki yang kami dapatkan. Apa pun itu rupanya.
Baik ikan atau terasi, sama saja enak. Sama saja dapat dinikmati saat kondisi tubuh sehat. Nikmat yang tak terkira dari Allah.
Rela tidak beli baju baru mendahulukan keinginan anak2nya.
Ah,sungguh indah masa dulu ya author.
Dan aq skrg ngalamin ngedahulukan keinginan anak dan aku mengerti skrg gmn perasaan orgtua hanya utk melihat anaknya tersenyum tulus ketika ngucapkan kata2 "Terimakasih" dan memeluk kita.
Baru tau setelah punya anak itu namanya celana mambo.. hehehe
dan sangat bermanfaat sekali
untuk saya Thor
👍👍🤩🤩🤩🤩🤩
malahan kebalik beliau yang sering kasih uang ke aku kalau datang ke rumah
katanya, ini buat jajan cucu2nya
Alhamdulillah saya juga masih belajar pakai hijab
padahal anak udah 3😥