NovelToon NovelToon
Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Status: tamat
Genre:Teen / Sistem / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.

Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:

[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]

Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.

Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.

Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.

Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?

Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7: Engkong Datang

"Berarti gue harus lebih dekat sama Xavier?"

Dua minggu setelah Keira mengucapkan kalimat itu pada Nokia tua, ia menemukan fakta baru: mendekat pada Xavier Sia ternyata tidak selalu membutuhkan strategi.

Kadang hidup sendiri yang mendorongnya sampai hampir menabrak pintu.

Misi outfit tujuh hari akhirnya selesai dengan susah payah. Keira bertahan dari tatapan kampus, komentar @unparfess, dan Kevin yang setiap kali melihatnya selalu memasang wajah ingin berpidato tentang takdir fashion. Angka di Nokia naik pelan. Tidak sebesar yang ia harapkan, tetapi cukup untuk membuatnya terus percaya bahwa semua kegilaan ini ada gunanya.

Masalahnya, setelah seminggu berpakaian mengikuti Xavier, lemari Keira berubah menjadi tempat berkumpulnya warna netral. Putih, hitam, abu-abu, navy. Bahkan Celine pernah mengirim pesan:

`Kei, lemari lo sekarang kayak pengacara magang.`

Keira membalas:

`Minimal kelihatan punya masa depan.`

Padahal masa depannya masih sangat bergantung pada HP Nokia yang tidak bisa mati.

Hari Sabtu itu, The Springs lantai 16 terasa tenang. Angela sedang di Jakarta. Keira baru selesai menerima paket bahan gambar dan hendak turun membeli roti, memakai kaus putih longgar, jaket navy, celana jeans gelap, dan sneakers putih.

Gaya aman.

Gaya Xavier.

Ia baru menutup pintu unitnya ketika suara pria tua terdengar dari arah lift.

"Permisi, Nak. Unit Xavier Sia yang mana ya?"

Keira menoleh.

Seorang lelaki tua berdiri di koridor dengan tongkat kayu gelap di tangan. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tetapi punggungnya tegak. Kemeja batiknya rapi, jam tangannya berkilau halus, dan di belakangnya seorang sopir membawa koper kecil. Wajahnya ramah, tetapi ada sesuatu pada cara ia berdiri yang membuat koridor apartemen terasa seperti lobi hotel bintang lima.

Keira otomatis menegakkan badan.

"Unitnya di depan saya, Om."

Lelaki tua itu tersenyum lebar. "Om?"

Keira langsung panik. Tionghoa tua, cari Xavier Sia, mungkin keluarga. Apa harus `Engkong`? Tapi memanggil orang tua asing Engkong tanpa izin juga terasa sok akrab.

"Maaf, maksud saya..."

"Tidak apa-apa. Panggil Engkong saja." Matanya menyipit hangat. "Kamu tetangga Xav?"

Keira mengangguk. "Iya, Engkong. Saya tinggal di unit seberang."

Tatapan Engkong turun sekilas ke pakaian Keira, lalu ke pintu Xavier, lalu kembali ke wajahnya. Senyumnya berubah. Lebih cerah. Terlalu cerah.

"Oh," katanya pelan, seperti baru menemukan jawaban teka-teki keluarga. "Tetangga seberang."

Keira merasa harus menjelaskan sesuatu, meskipun ia tidak tahu apa yang salah. "Saya cuma kebetulan keluar."

"Pakaiannya juga kebetulan mirip gaya Xav?"

Jantung Keira tersandung.

Sopir di belakang Engkong menunduk untuk menyembunyikan senyum.

"Saya..." Keira mencari kalimat yang tidak terdengar seperti pengakuan kriminal. "Akhir-akhir ini memang suka warna gelap."

"Bagus. Xav juga begitu. Cocok."

Cocok.

Kata itu berputar di kepala Keira seperti alarm.

Engkong sudah melangkah ke depan pintu Xavier. Sebelum ia sempat menekan bel, pintu itu terbuka dari dalam.

Xavier muncul dengan hoodie abu-abu gelap, wajah santai yang langsung berubah waspada begitu melihat siapa yang berdiri di depannya.

"Engkong?"

"Kenapa kaget?" Engkong membuka tangan. "Engkong datang dari Jakarta mau lihat cucu sendiri, harus pakai appointment dulu?"

Xavier cepat-cepat mengambil koper dari sopir. "Bukan begitu. Kenapa nggak bilang?"

"Kalau bilang, nanti kamu kabur."

"Aku bukan anak kecil."

"Justru karena sudah besar, kaburnya lebih pintar."

Keira pelan-pelan mundur, berharap bisa menghilang sebelum percakapan keluarga ini menyeretnya masuk. Sayangnya, Engkong menoleh lagi.

"Xav, kamu tidak mau kenalkan?"

Xavier baru seperti menyadari Keira masih ada di sana. Mata mereka bertemu. Ada satu detik hening yang sangat buruk.

"Ini Keira," kata Xavier akhirnya. "Tetangga seberang."

"Cuma tetangga?" Engkong bertanya terlalu cepat.

Keira terbatuk kecil.

Xavier menegang. "Engkong."

Engkong menatap Keira dari ujung rambut sampai sepatu, bukan dengan cara menghakimi, lebih seperti orang yang sedang mencocokkan daftar harapan. "Cantik. Sopan. Tinggal seberang. Pakaiannya juga cocok dengan kamu."

"Engkong, itu tidak ada hubungannya."

"Ada." Engkong mengangguk mantap. "Kalau orang tua sudah lihat, biasanya ada hubungannya."

Keira hampir tersedak udara.

"Engkong salah paham," kata Xavier datar, tetapi suaranya tidak setegas biasanya.

Engkong mengangkat alis. "Jadi ini bukan pacarmu?"

Kalimat itu keluar begitu saja di koridor. Seorang ibu muda yang lewat sambil membawa kantong belanja melambat setengah langkah, jelas pura-pura tidak mendengar.

Wajah Keira panas.

Xavier membuka mulut.

Sebelum ia bicara, Engkong menambahkan dengan suara lebih pelan, "Xav, kalau punya pacar kenapa tidak cerita ke Engkong? Engkong kira kamu cuma pacaran sama buku hukum dan kucing."

Ada nada bahagia yang tidak bisa disembunyikan. Bukan sekadar menggoda. Benar-benar bahagia, seolah ia sudah lama menunggu bukti bahwa cucunya tidak hidup sebagai patung es.

Xavier melihat ekspresi itu.

Dan ia ragu.

Keira melihatnya. Keraguan kecil di mata Xavier, sangat cepat, tetapi cukup jelas. Ia bukan tipe orang yang sulit mengatakan tidak. Ia bisa menolak cewek di depan satu fakultas dengan kalimat narsis tanpa berkedip. Tapi sekarang, di depan Engkong, bibirnya menutup lagi.

Engkong menangkap jeda itu.

Senyumnya makin lebar. "Jadi benar?"

"Engkong masuk dulu," kata Xavier, mengalihkan. "Perjalanan jauh."

"Jawab dulu."

"Nanti."

"Berarti benar."

"Engkong."

Keira harus pergi. Ia harus segera turun membeli roti, atau pura-pura menerima telepon, atau pura-pura pingsan. Pilihan terakhir terlalu realistis, jadi sebaiknya tidak.

"Saya permisi dulu," katanya cepat. "Senang bertemu Engkong."

"Sebentar, Nak." Engkong mengangkat tangan. "Kalau memang kamu dekat dengan Xav, masuk dulu. Temani Engkong ngobrol. Engkong ingin tahu cucu ini kalau di Bandung bagaimana kelakuannya."

Keira membeku.

Xavier menoleh padanya. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya bergerak, seperti menghitung kemungkinan bencana.

"Engkong," katanya pelan, "aku bicara sebentar dengan Keira."

Tanpa menunggu jawaban, Xavier melangkah mendekat dan menarik Keira sedikit ke samping, cukup jauh dari pintu agar Engkong tidak mendengar. Sentuhan jarinya di pergelangan tangan Keira ringan, tapi tetap membuat seluruh kulitnya sadar.

"Maaf," kata Xavier lirih.

Keira menatapnya. "Ini apa?"

"Engkong salah paham."

"Itu aku tahu."

"Dia sudah lama... khawatir soal aku." Xavier melirik ke arah pintu, tempat Engkong masih berdiri dengan wajah terlalu puas. "Kalau aku bantah sekarang, dia akan kecewa. Dan mungkin bertanya lebih banyak."

"Jadi?"

Xavier menatap langsung ke matanya. Untuk pertama kalinya, suara dinginnya melunak.

"Tolong bantu aku sekali ini saja."

Keira merasakan jantungnya memukul rusuk.

Di kepalanya, layar Nokia seperti menyala ulang.

Semakin dekat hubungan dengan target, semakin efektif imitasi.

Ini kesempatan. Ini bencana. Ini dua-duanya.

"Bantu bagaimana?" bisiknya, walaupun ia sudah tahu.

Xavier menunduk sedikit agar suaranya tidak terdengar Engkong.

"Pura-pura jadi pacarku di depan Engkong."

Keira menahan napas.

Xavier menatapnya, kali ini tidak bercanda, tidak sinis, tidak menjaga jarak seperti biasa.

"Aku janji," katanya, suara lebih lembut dari yang pernah Keira dengar, "tidak akan lama."

Jantung Keira seperti dipukul dari dalam.

1
Evelyn Sharon
Mereka yang kasmaran kenapa jadi aku yang salting yak🫠
Evelyn Sharon
mulai suka nihh 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!