Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.
Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.
Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.
Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.
Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:
Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 016
Pernikahan Michelle
Hari pernikahan Michelle membuat seluruh rumah Hartono bangun sebelum matahari.
Di lantai utama, pelayan membawa kotak hantaran, rangkaian bunga, dan baki teh ceremony dengan langkah cepat. Tante Chen hampir tidak duduk sejak pagi. Wajahnya lelah, tetapi matanya bersinar. Hari itu putrinya menikah, dan semua orang di lingkaran keluarga besar akan melihat bahwa cabang mereka masih punya tempat terhormat.
Seline berdiri di kamar belakang, menatap gaun yang digantung di pintu lemari.
Gaun itu warna champagne muda, potongannya sederhana, lengan pendek dengan kerah halus. Bukan pakaian paling mahal di rumah ini, tetapi jauh lebih baik dari apa pun yang ia bawa dari Surabaya dua tahun lalu. Jessica yang memilihnya.
"Jangan pakai warna yang membuatmu seperti wallpaper," kata Jessica kemarin. "Kamu akan duduk dekat keluarga. Setidaknya terlihat seperti manusia yang sengaja diundang."
Seline memprotes, tetapi Jessica tidak peduli.
Sekarang, setelah mengenakannya, Seline hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Rambutnya diikat rendah, beberapa helai dibiarkan membingkai wajah. Gelang giok dari Oma melingkar di pergelangan tangan, dingin dan akrab. Liontin lama tetap tersembunyi di balik gaun.
Darren mengetuk pintu, lalu masuk dengan setelan jas remaja yang sedikit membuatnya tidak nyaman.
"Kakak cantik."
Seline menoleh. "Kamu juga rapi."
"Aku merasa seperti mau ujian pidato."
"Hari ini tugasmu hanya makan sopan dan jangan menginjak kaki orang."
"Kalau orangnya Vivian?"
"Darren."
Ia tertawa kecil, lalu tiba-tiba serius. "Banyak tamu ya?"
"Banyak."
"Kalau ada yang tanya kita siapa?"
Seline merapikan dasinya. "Jawab saja, keluarga Hartono dari pihak Tante Chen."
Darren menatapnya. "Tapi kita bukan benar-benar..."
"Hari ini bukan hari untuk menjelaskan semuanya."
Anak itu mengangguk, walau wajahnya menunjukkan ia belum puas.
Acara pemberkatan keluarga dan tea ceremony berlangsung di hotel milik Hartono Group. Ruang ballroom dihias bunga putih, lampion modern, dan layar besar dengan nama Michelle. Tamu datang dalam gelombang yang tidak berhenti: kerabat Tionghoa-Indonesia, rekan bisnis, ibu-ibu sosialita, pria-pria berjas yang bicara angka sambil tersenyum.
Seline berdiri di sisi Oma Mei, membantu menyerahkan cangkir teh dan amplop kecil sesuai urutan. Dua tahun di samping Oma membuatnya hafal kapan harus maju, kapan harus mundur, dan kapan cukup menunduk tanpa bicara.
"Jangan terlalu jauh," kata Oma pelan saat Seline hendak mundur setelah satu prosesi.
Seline sedikit terkejut. "Iya, Oma."
Oma tidak menjelaskan. Namun hanya dengan kalimat itu, posisi Seline di ballroom berubah. Beberapa tamu yang tadinya menatapnya seperti asisten muda mulai menatap lagi, kali ini dengan pertanyaan baru.
Siapa gadis yang berdiri sedekat itu dengan Oma Mei?
Pertanyaan itu menyebar tanpa suara.
Vivian tentu melihatnya. Ia datang dengan dress merah muda pucat, cantik seperti biasa, dan langsung berdiri di dekat kelompok sepupu muda. Saat mata mereka bertemu, Vivian tersenyum.
"Gaunmu bagus, Seline. Jessica yang pilih?"
"Iya."
"Pantas." Vivian menatapnya dari kepala sampai kaki. "Kalau kamu pilih sendiri, mungkin terlalu sederhana."
Jessica yang berdiri di sebelah Seline langsung berkata, "Sederhana bukan dosa. Terlalu sibuk menilai orang lain baru melelahkan."
Vivian tertawa ringan. "Aku cuma memuji."
"Pujiannya perlu kursus."
Seline menyentuh lengan Jessica, memberi tanda cukup. Hari ini hari Michelle. Ia tidak ingin menjadi sumber keributan.
Namun ia tidak bisa menghentikan tatapan orang lain.
Saat resepsi dimulai, Seline beberapa kali menyadari tamu pria muda menoleh ke arahnya. Bukan terang-terangan tidak sopan, lebih pada rasa ingin tahu. Mungkin karena gaun itu. Mungkin karena ia berdiri dekat Oma. Mungkin karena dua tahun bertahan di rumah Hartono tanpa ia sadari telah mengubah cara ia membawa diri.
Ia tidak lagi menunduk seperti anak yang takut diusir.
Kevin datang terlambat seperti biasa.
Ballroom yang ramai tetap memberi ruang untuknya. Ia memakai setelan hitam, wajah dingin, berjalan di samping William. Beberapa orang langsung menyapa. Kevin menjawab pendek. Saat melewati area keluarga, matanya sempat berhenti pada Seline.
Hanya sekejap.
Tetapi cukup membuat Seline ingat bahwa dulu ia berdiri di depan gerbang dengan koper tua, dan pria itu melihatnya seperti benda asing. Hari ini, tatapannya tidak sama. Masih dingin, masih sulit dibaca, tetapi bukan lagi tanpa ingatan.
"Jangan lihat terlalu lama," bisik Jessica.
Seline tersentak. "Aku tidak..."
"Aku belum bilang lihat siapa."
Seline memilih mengambil gelas air dan pura-pura tidak mendengar.
Tidak lama kemudian, Michelle memanggilnya dari sisi panggung kecil.
"Seline, bisa bantu pegang ekor gaun sebentar? Aku mau foto dengan Oma."
Permintaan itu sederhana, tetapi cukup membuat beberapa tante dari keluarga mempelai pria menoleh. Michelle punya banyak sepupu kandung dan sahabat lama, namun ia memanggil Seline di tengah acara utama. Seline maju tanpa ragu, menunduk sebentar, lalu merapikan bagian belakang gaun pengantin Michelle agar tidak tersangkut karpet.
"Terima kasih," bisik Michelle.
"Pelan-pelan, Ci. Bagian kiri agak berat."
Michelle tersenyum lelah. "Aku baru tahu menikah bisa seperti latihan fisik."
Seline menahan tawa. Oma Mei yang melihat dari kursi depan ikut tersenyum, lalu memberi tanda agar Seline berdiri dekat saat foto keluarga tambahan diambil.
Kilatan kamera menyala beberapa kali.
Seline tidak berada di tengah, tentu saja. Namun ia ada di bingkai itu, di sisi Oma, cukup terlihat bagi orang-orang yang tahu cara membaca posisi dalam keluarga besar.
Di sisi lain ballroom, seorang pria muda baru saja masuk bersama rombongan tamu dari keluarga Wijaya. Bryan Wijaya sebenarnya datang mewakili Opa Herman yang berhalangan hadir sampai sesi malam. Ia tidak berharap menemukan sesuatu selain kewajiban sosial, salam bisnis, dan makanan hotel yang rasanya selalu sama.
Lalu ia melihat gadis di dekat Oma Mei.
Langkah Bryan berhenti.
Gelas teh kecil di tangannya miring. Cairan hangat hampir tumpah ke punggung tangannya sebelum seseorang di sampingnya menegur pelan.
"Ko Bryan?"
Bryan tidak menjawab.
Wajah gadis itu bukan wajah yang ia kenal. Ia jelas bukan Christine muda sepenuhnya. Bentuk matanya berbeda, garis rahangnya lebih halus, dan caranya berdiri menunjukkan ia dibesarkan dalam dunia yang tidak mudah.
Namun ada sesuatu.
Sesuatu pada cara gadis itu menoleh ketika Oma Mei memanggil namanya. Sesuatu pada lengkung alis, pada jarak antara mata dan senyum kecil yang ia tahan. Sesuatu yang menghantam dada Bryan begitu keras sampai suaranya hilang.
Seline.
Ia mendengar seseorang memanggil nama itu.
Bukan Taotao.
Tetapi dadanya tetap sakit.
Di seberang ruangan, Seline merasakan tatapan itu sebelum melihat orangnya. Ia menoleh sedikit dan menemukan seorang pria asing berdiri di antara tamu, memegang gelas teh dengan tangan yang terlalu kaku.
Tatapan pria itu bukan tatapan pria yang melihat perempuan cantik di pesta.
Tatapan itu seperti seseorang yang sedang memastikan apakah mimpi buruk delapan belas tahun akhirnya berdiri di depannya.