NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14 Selir yang Diam

Arjuna tidak langsung menjawab.

Hujan di luar masih turun, tetapi guntur sudah menjauh. Pelita di kamar Anindya menyala stabil. Wulan berdiri dekat pintu, berpura-pura sibuk merapikan nampan, padahal jelas menunggu jawaban yang sama.

Arjuna menatap kain kecil di meja, lalu kembali pada Anindya.

"Aku memperhatikanmu," katanya akhirnya.

Jawaban itu terlalu sederhana.

Anindya tidak sepenuhnya percaya. Namun cara Arjuna mengatakannya membuat pertanyaan berikutnya tersangkut. Bila ia menekan lebih jauh, ia takut akan menemukan sesuatu yang belum siap ia dengar.

"Sejak kapan?" tanyanya pelan.

"Sejak aku sadar aku terlalu lama tidak memperhatikan."

Ada penyesalan di suaranya. Bukan penyesalan kecil karena terlambat membawa wedang atau lupa bertanya kabar. Penyesalan itu dalam, seperti sumur yang tidak terlihat dasarnya.

Anindya menggenggam cangkir lebih erat. "Yang Mulia sering berkata seperti orang yang sudah mengenal hamba lama."

"Mungkin aku berharap bisa begitu."

Ia berdiri sebelum rahasianya bocor lebih banyak.

"Istirahatlah. Besok kau harus bertemu Selir Utama Larasati. Ia yang mengatur banyak urusan harian di bagian dalam keraton."

Anindya menahan pertanyaan. "Apakah beliau dekat dengan Permaisuri?"

"Tidak ada yang benar-benar dekat dengan Permaisuri Ratih tanpa terluka."

Kalimat itu menjadi bekal yang dingin untuk malamnya.

***

Keesokan paginya, Selir Utama Larasati menerima Anindya di pendopo kecil dekat Puri Candra.

Ia tidak tampak seperti perempuan yang memegang urusan harian bagian dalam keraton. Kebayanya cokelat muda, perhiasannya tipis, suaranya rendah. Bila ia duduk di antara banyak selir lain, mungkin orang akan melewatinya tanpa menoleh.

Namun meja di depannya penuh buku persediaan, daftar dapur, catatan kain, jadwal dayang, dan laporan kesehatan para penghuni istana. Semua rapi. Terlalu rapi untuk dikerjakan orang bodoh.

"Gusti Putri tidak perlu tegang," kata Larasati lembut. "Hamba hanya ingin memperkenalkan beberapa aturan harian agar Puri Timur tidak mudah dimasuki orang yang membawa alasan baik."

Anindya teringat Anggraini dan Sinta. "Hamba berterima kasih atas perhatian Selir Utama."

"Panggil saja Larasati bila kita tidak sedang di hadapan Baginda atau Permaisuri."

Nada itu hangat, tetapi tetap menjaga jarak.

Pangeran Satria, seorang anak laki-laki yang masih muda, muncul sebentar di pintu. Ia membawa buku kecil dan tampak ragu masuk.

"Ibu, guru menunggu."

Larasati menoleh. Wajahnya yang tadi datar melembut seketika. "Pergilah dulu. Jangan berlari di koridor."

"Baik, Ibu."

Satria memberi hormat pada Anindya, lalu pergi. Mata Larasati mengikuti punggung anak itu sampai menghilang. Hanya satu napas, tetapi Anindya menangkapnya. Ada cinta, ada takut, dan ada bayangan kehilangan yang tidak selesai.

"Pangeran Satria tampak patuh," kata Anindya.

"Ia belajar patuh karena keraton tidak ramah pada anak yang terlalu bebas."

Kalimat itu diucapkan dengan senyum tipis. Anindya tidak tahu harus menjawab apa.

Larasati membuka satu buku. "Ini daftar orang yang boleh masuk Puri Timur tanpa undangan khusus. Hamba sudah menghapus beberapa nama lama setelah mendengar kejadian dua hari terakhir."

Anindya menatap daftar itu. Ada nama dayang dari Puri Candra, beberapa pelayan Ratih, dan satu nama yang diberi tanda kecil.

"Raden Ayu Anggraini?"

"Ia terlalu sering mencari pintu yang bukan miliknya."

Untuk pertama kalinya, Anindya benar-benar menatap Larasati.

Selir itu tetap menunduk, jemarinya menyusun kertas. Tidak ada perubahan wajah. Namun Anindya mulai memahami mengapa Arjuna menyebutnya pengatur urusan harian. Perempuan ini melihat semuanya, menyimpan semuanya, dan memilih kapan harus bicara.

"Selir Utama membantu Puri Timur karena perintah Yang Mulia?" tanya Anindya.

"Sebagian."

"Sebagian lain?"

Larasati menutup buku perlahan. "Karena hamba tidak menyukai perempuan muda didorong masuk ke sarang ular tanpa diberi lampu."

Jawaban itu membuat punggung Anindya dingin.

Sebelum ia sempat bertanya, seorang dayang masuk membawa nampan jamu. Larasati mengangkat satu cangkir, menciumnya sekilas, lalu menyerahkannya kembali.

"Terlalu pekat. Buang. Buat ulang."

Dayang itu pucat. "Baik, Selir Utama."

Anindya melihatnya. "Selir Utama mengenali jamu hanya dari aromanya?"

"Orang yang pernah kehilangan karena satu mangkuk jamu akan belajar membedakan aroma."

Ruangan sunyi.

Larasati seolah baru menyadari kalimatnya sendiri. Ia tersenyum sopan, kembali menjadi perempuan yang tenang dan tidak berbahaya.

"Maaf, Gusti Putri. Hamba terlalu banyak bicara."

Namun Anindya tahu, itu bukan terlalu banyak. Itu justru terlalu sedikit.

Sebelum Anindya pamit, Larasati menyerahkan satu lembar daftar tabib yang boleh dipanggil ke Puri Timur.

"Nama Ki Ageng Suryomentaram tidak ada di sini," kata Anindya, teringat nama sarjana tua yang dulu pernah dipuji Eyang Jaya.

Jemari Larasati berhenti sesaat. "Beliau ayah hamba. Setelah anak hamba wafat, beliau terlalu banyak bertanya. Pertanyaan di keraton sering dibayar dengan jabatan."

"Beliau dibuang dari istana?"

"Diturunkan, dijauhkan, lalu dilupakan. Itu cara paling halus untuk membunuh orang yang masih bernapas."

Anindya tidak lagi melihat Larasati sebagai perempuan diam. Ia melihat bara yang ditutup abu.

***

Malamnya, setelah semua laporan selesai, Larasati kembali ke ruang pribadinya.

Di sana tidak ada banyak perhiasan. Hanya sebuah kotak kecil di bawah meja sembahyang keluarga, sehelai kain bayi yang dilipat rapi, dan papan nama kecil tanpa gelar. Anak keduanya tidak pernah tumbuh cukup lama untuk diberi tempat layak dalam catatan istana.

Larasati duduk di lantai.

Wajahnya yang seharian lembut berubah kosong. Ia membuka kotak itu dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan gelap. Botol itu tidak besar, hanya sebesar ibu jari, tetapi saat menyentuhnya, jari Larasati berhenti gemetar.

Di luar, suara langkah penjaga menjauh.

Ia menatap kain bayi itu.

"Anakku," bisiknya, begitu pelan hingga hampir tertelan malam, "Ibu tidak lupa."

Larasati menggenggam botol kecil itu lebih erat.

"Ibu tidak akan pernah lupa."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!