Nasib Celina yang yatim piatu bertambah malang karena suatu malam ia diculik dan diperkosa oleh 3 orang pria..
"Aku tidak pantas untuk mu.. Aku sudah kotor! Bahkan sangat kotor. Kau bisa mendapatkan yang lebih baik lagi dari diriku!."
Bagaimana nasib Celina setelah kejadian itu?
Akankah dia membalaskan dendam nya pada ketiga pria keji tersebut?
Cerita ini hanyalah fiksi belaka dan mengandung unsur kekerasan, pembaca diharap bijak dalam menyikapinya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanda Anastasia Adam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
"Hai Celina."
Celina menatap bingung lelaki yang berdiri di samping ranjangnya.
"Apa kabarmu hari ini?."
Celina diam merasa aneh karena suara lelaki ini selalu dia dengar dalam mimpi-mimpi nya.
Tidak seperti respon yang dia berikan pada dokter yang memeriksa dirinya kemarin, Celina justru merasa tidak asing dengan lelaki itu.
"Kau pasti bertanya-tanya siapa aku bukan?."
Mario tersenyum hangat sehangat mentari pagi, bahkan bisa dirasakan oleh Celina.
"Aku Mario Domin. Aku yang menyelamatkan mu dihutan waktu itu Celina."
Celina membelalak mendengar ucapan Mario. Dia mulai terlihat gelisah dengan pandangan mata yang ketakutan.
Mario yang berpikir sudah salah bicara semakin mendekat kearah Celina.
"Jangan takut Celina. aku bukan orang jahat. Tenang lah."
Celina tampak mulai sedikit tenang saat melihat dua bola mata cokelat muda, berwarna seperti bola matanya. Ada rasa yang tidak biasa saat melihat tatapan mata Mario padanya.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengingatkan kamu tentang kejadian waktu itu. Tapi, mulai saat ini kau tidak perlu takut apapun. Aku akan selalu menjaga dan melindungi mu untuk selamanya."
Mario kembali tersenyum memberi rasa hangat di hati Celina.
"Se.. selamanya?."
Untuk pertama kalinya Celina bersuara meski sedikit terbata-bata.
Mario mengangguk dan tersenyum bahagia karena melihat adik perempuan nya mulai bisa menerima dirinya, meski dia masih sedikit menjaga jarak.
"Benar Celina, karena aku adalah kakak mu. Aku adalah keluarga jauh mu."
Celina tersentak.
"Kakak?."
"Iya Celina. Dan mulai saat ini kau akan memanggil ku dengan sebutan itu. Kau mau kan?."
Celina hanya diam tidak menjawab, dia masih bingung dengan kenyataan yang baru saja di dengarnya.
Pasalnya selama ini, dia tidak pernah tahu kalau dia memiliki keluarga jauh. Apalagi selama ini Celina tinggal di Spanyol bersama keluarga nya, dan bukan di kota asing ini.
"Sudahlah. Kau belum boleh terlalu banyak berpikir Celina! Mulai saat ini, jika kau membutuhkan sesuatu. Kau bisa mengatakan nya padaku! Aku pasti akan selalu menyanggupi semua permintaan mu Celina."
Celina masih diam.
"Besok kita akan memulai kan terapi untuk menyembuhkan trauma mu Celina. Dan aku harap kau mau mengikuti terapi itu dengan sungguh-sungguh, agar kau bisa cepat sembuh dan keluar dari rumah sakit ini. Kau mau bukan Celina?."
Celina akhirnya mengangguk menanggapi pertanyaan Mario padanya.
Meski hanya berupa anggukan, namun Mario sangat senang karena Celina tidak bersikap histeris seperti pada dokter yang memeriksa nya waktu itu.
Dia yakin kalau Celina perlahan akan bisa menerima dirinya sebagai kakak laki-laki yang akan selalu menjaga dan melindungi adik perempuan nya.
......* * *......
Setelah berkonsultasi dan mengikuti terapi bersama seorang psikiater perempuan bernama Moly selama sebulan. Celina mulai bisa menerima keadaan dirinya yang menurut dia sudah kotor dan menjijikan.
Wanita cantik itu kini juga mulai bisa menenangkan emosi dirinya, meski terkadang dia masih sering menangis sesegukan saat mengingat kejadian memilukan itu.
Celina juga sudah tidak lagi menyakiti dirinya sendiri seperti tempo hari, dimana dia sering menjambak-jambak rambut panjang nya.
"Aku sangat senang melihat perkembangan mu Celina."
Moly yang sedang duduk bersama Celina menatap bahagia adik perempuan Mario Domin.
"Terima kasih Moly. Ini juga berkat bantuan mu selama ini padaku."
Celina tersenyum sangat manis melihat Moly yang sudah dianggap seperti sahabat baiknya. Moly benar-benar memperlakukan dirinya dengan baik selama dia mengikuti kelas terapi.
"No Celina. Aku hanya mengarahkan dan sekedar memberi penguatan padamu. Kau tidak akan mungkin seperti sekarang kalau kau tidak memiliki kemauan untuk bisa bangkit dari keterpurukan mu waktu itu. Kau harus berjanji pada aku dan dirimu sendiri nanti, kalau kau akan hidup dengan lebih baik lagi kedepannya Celina. Lepaskan masa lalu buruk itu, agar kau bisa melangkah menuju masa depan yang lebih baik."
Moly mengusap lembut tangan halus Celina, terus memberi semangat dan dorongan agar wanita cantik di depannya itu tidak akan lagi terpuruk dengan cerita kelam di hidupnya.
"Ya.. aku akan terus berusaha Moly."
Pembicaraan mereka terhenti saat Mario masuk kedalam ruang perawatan Celina. Dia memang masih berada di rumah sakit saat ini, karena Mario ingin agar Celina bisa benar-benar sembuh sebelum bisa pulang ke mansion keluarga Domin.
Mario juga belum bisa memberi tahukan pada Celina tentang jati diri wanita itu sebenarnya.
"Baiklah. Aku permisi dulu Mario. Sampai jumpa besok Celina."
Moly tersenyum dan beranjak dari sana. Celina mengangguk dan melambaikan tangan untuk mengantar kepergian Moly sang psikiater. Sedangkan Mario hanya mengangguk sopan padanya.
"Kau ingin minum Celina?."
"Yes thank you."
Celina tersenyum tipis saat melihat senyuman Mario yang selalu bisa membuat hatinya terasa tenang dan damai.
"Cepatlah sembuh agar aku bisa membawa mu pada grandma Celina."
Celina hampir tersedak saat mendengar ucapan Mario.
"Grandma? Apa aku masih memiliki grandma Ka Mario?."
Celina memanggil Mario dengan sebutan kakak sesuai permintaan lelaki bertubuh tegap itu.
"Yes Celina. Grandma pasti akan sangat bahagia bisa bertemu dengan mu nanti. Dia sudah lama ingin menemui mu.
Celina sumringah mendapati bahwa kini dia benar-benar tidak lagi sendiri di dunia ini.
"Benarkah itu Ka? Aku juga tidak sabar menunggu saat itu tiba."
Mario tersenyum.
"Makanya kau harus segera sembuh agar kita bisa berkumpul bersama lagi."
Celina mengangguk.
"Iya Ka. Celina akan berusaha agar bisa cepat sembuh dan keluar dari sini! Aku juga sudah sangat bosan berlama-lama di rumah sakit."
Celina sedikit manyun diakhir ucapan nya, membuat Mario gemas pada adik perempuan nya itu.
"That's my good sister."
Mario mengacak lembut rambut panjang cokelat Celina.
Meski belum bisa menceritakan kenyataan yang sebenarnya, tapi lelaki itu berharap Celina mau menerima keluarga baru dia nantinya.
...* * *...
Setelah melakukan terapi dengan psikiater Moly selama 2 bulan, perlahan Celina sudah kembali menjadi dirinya sendiri.
Meski Celina masih harus meminum obat untuk mengatasi rasa panik yang sering menyerang dirinya, namun Moly sudah bisa memastikan keadaan Celina sudah jauh lebih baik dari saat pertama mereka mengikuti sesi terapi bersama.
Mario begitu bahagia mendengar kabar kesembuhan adik perempuan nya. Dan hari ini, dia akan membawa Celina pulang ke Mansion keluarga Domin untuk yang pertama kalinya.
Mario juga sudah memberi tahukan grandma mereka semalam melalui sambungan telepon, kalau dia sudah menemukan adik perempuan yang selama ini mereka cari.
Grandma terdengar sangat bahagia saat mendengar perkataan Mario tentang Ruby yang telah ditemukan setelah menghilang selama 22 tahun lamanya.
"Mulai sekarang nama mu adalah Ruby Domin dan bukan lagi Celina Morales!."
Celina tersentak mendengar ucapan Mario dalam perjalanan mereka menuju Mansion.
"Kenapa Ka?."
"Iya, orang akan mengenal mu dengan nama itu sekarang. Aku sengaja mengubah nama mu agar kau bisa memulai semuanya dari awal adik ku!."
Mario tersenyum lembut mengusap sayang kepala Celina.
"Baiklah Ka. Aku ikut maunya Ka Mario saja."
"Good girl."
...**∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆...
Dukung terus karya Author yaa 🤗
Jangan lupa tinggalkan Coment terbaik kalian guys
Like and Vote please 🌹**
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
tdk setimpal...