Apa-apa yang bukan takdirmu, akan terlewati begitu saja. Namun tidak dengan apa yang sudah menjadi takdirmu, sebesar usahamu melewati sebesar itu pula ia menjumpai 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Widiawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Ajeng POV
Pagi ini aku berkunjung ke rumah Ibu, sudah beberapa hari ini aku absen mengunjungi Ibu karena Ningrum memintaku untuk menginap di rumah Mama, rindu katanya.
Tiga hari di rumah membuatku benar-benar tak ingin beranjak pergi dari sana, aku benar-benar merasakan menjadi anak kembali, begitu di perhatikan, dimanja dan dilayani dengan kasih oleh Mama dan Bapak.
Tiga hari pula aku mengintili Mama ke sekolah, melihat bagaimana dia mengajar anak-anak, mengajaknya bermain, tanya jawab, mendampingi mengerjakan tugas, membimbing, mengarahkan dan memberi reward yang membuat mereka bersorak gembira.
Aku tak pernah menyangka ada begitu anak kecil yang sangat menyayangi Mamaku, memeluknya, menceritakan apa yang mereka mau dengan respon dari Mama yang sangat ekspresif, memberi hadiah kecil meskipun berupa tulisan yang belum sempurna namun bisa di artikan dengan baik oleh Mama. Aaahhh bahagianya mereka.
Belum lagi rekan-rekan Mama yang sangat baik padaku, Bu Ria, Evi dan Retno. Mereka begitu welcome padaku. Memperlakukan dengan istimewa. Memperkenalkan aku kepada anak-anak didik mereka dengan suka cita.
Ada rasa iri saat aku lihat mereka, sepertinya mereka selalu bahagia, seperti tidak ada beban sama sekali ketika berhadapan dengan anak-anak. Aku yang hanya menonton pun ikut terbawa suasana. Tertawa melihat kelakuan para guru dan murid yang membuat hatiku menyadari satu hal. Bahagia kita yang ciptakan, bukan dia atau mereka.
Aku datang pagi-pagi, membawa bahan puding yang akan kami buat bersama, rencana yang sudah di susun beberapa hari belakang ini namun selalu tertunda.
Menjadi pengangguran selama 6 bulan tanpa aktifitas rutin atau kesibukan yang berarti, membuat aku mempunyai waktu untuk diriku sendiri. Dari mulai beberes rumah dibantu dengan Mbak Nur tentu saja, pergi merefleksikan badan dan fikiran ke salon, pergi ke mall hanya untuk membuang waktu dan sekedar makan. Sendirian!
Strong banget aku ya ternyata! hahahah.
Alhamdulillah kepergian Mas Reno sama sekali tak membuatku terbebani untuk urusan ekonomi. Apa yang Mas Reno miliki dari mulai tabungan reksadana, saham sampai beberapa tanah yang tersebar di beberapa titik, otomatis langsung pindah menjadi nama dan miliku sebagai ahli warisnya.
Tanpa harus bekerja pun aku tidak akan menjadi miskin tiba-tiba. Tapi aku juga butuh aktivitas yang bisa mengalihkan fikiranku, aku butuh dunia baru untuk menggoreskan tinta kehidupanku, mecoretnya dengan sebaik mungkin agar menjadi sebuah kehidupan yang bermakna.
Sebenarnya Ibu memintaku untuk mengurus butiknya, dia sudah terlalu lelah katanya mengurus butik. Tapi aku masih gamang, aku juga sadar diri bahwa aku sekarang ibarat orang lain untuk keluarga Mas Reno, tanpa adanya anak, membuat aku seakan lepas ikatan dari keluarganya. Tapi sepertinya tidak dengan Ibu. Ibu selalu saja menelpon ku setiap hari, hanya sekedar menanyakan kabar, berbasa basi dan selalu meminta aku untuk berkunjung.
Aku tiba di rumah saat Ibu sedang menyiram tanaman di halaman. Ku parkiran mobilku dengan cantik agar tak menghalangi jalan.
"Asalamualaikum anak Ibu" Ibu menyambutku dengan hangat.
"Asalamualaikum Ibu" Salam yang kami ucapkan bersamaan, pun juga dengan jawaban salamnya, membuat aku dan Ibu tertawa bersama.
Aku memasuki rumah besar itu, meletakan tas dan bahan puding ke dapur. Rumah terlihat sangat sepi, kemana perginya Mbok War? oya, Mbok War adalah orang yang bekerja di rumah Ibu, membantu Ibu untuk mengurus rumah.
"Mbok War kemana bu? " Aku kembali ke halaman menyusul Ibu yang masih asyik menyiram dan menyiangi daun yang menguning.
"Kepasar tadi di anter pak Anto, sekalian Ibu suruh antar barang ke butik"
"Oh" Jawabku pendek.
Tak berselang lama ku lihat ada sebuah taksi online berhenti di depan rumah, aku fikir Mbok War. Tapi mustahil sekali Mbok War bisa pesen taksi online. Kutuskan untuk kembali fokus ke tanaman Ibu, hingga terdengar suara wanita menghampiri kami.
Anita, wanita yang yang menjadi tunangan Barata. Ah Barata, nama itu selalu membuat jantungku tak pernah normal, bahkan hanya mengingat namanya pun jantungku langsung bereaksi berlebihan.
Ibu memepersilakan Anita untuk duduk, sementara Ibu menyuruhku untuk meminta tolong Mbok War membuat minum. Hem mungkin Ibu lupa kalau baru saja bercerita Mbok War ke pasar di antar pak Anto yang mau mampir ke butik. Biasa orang tua, hingga akhirnya aku sendiri yang membuatkannya teh.
Entah mengapa tatapan dia kepadaku terlihat mengintimidasi, bahkan dapat aku lihat jelas kebencian di matanya kepadaku. Tapi entahlah mungkin itu hanya perasaanku. Astaghfirullah!
Ku antar teh ke depannya sembari mempersilaknnya untuk diminum, kemudian berlalu kembali ke dalam dapur mempersiapkan bahan dan alat yang di butuhkan.
Dan tak berselang lama Ibu ke belakang.
"Loh di tinggal sendiri Bu?" tanyaku saat melihat Ibu di dapur.
"Gak papa, dia lagi telpon sama Barata. " Jawab ibu.
"Ajeng bawa lapis legit, bisa buat suguhan Anita bu" Kataku sambil menyusunnya di atas piring. Baru ingat aku bawa lapis legit.
"Duh anak Ibu repot-repot banget si, bikin seneng Ibu aja" Kami tertawa bersama.
"Yaudah ibu yang anter aja, kamu terusin nyiapin bahan-bahannya ya, nanti Ibu ajak Anita sekalian biar kita masak bertiga" Ujar Ibu sambil keluar dari dapur.
Namun baru sekian detik, suara piring jatuh terdengar, aku langsung mematikan kompor dan berlari kedepan.
Kulihat piring sudah bececer sementara Ibu sedang duduk bersama dengan Anita yang sudah mulai menangis.
Aku segera membersihkan pecahan piring yang tercecer, takut mengenai kaki Ibu.
"Sudah lama bu, setiap Barata pulang kita juga selalu melakukannya, aku selalu menolak, namun Barata selalu bilang bahwa dia kangen dan kita juga akan segera menikah. Itu yang selalu Barata janjikan kalau dia akan melakukannya. Tetapi setelah semua terjadi, dia kembali ke mode cueknya, mengulur-ulur waktu."
Aku hanya mampu menyimak pembicaraan mereka dengan tangan dan hati yang bergetar hebat. Barata? Astaghfirullah.
Rasanya sakit sekaliiii, aku beristighfar berkali-kali. Aku menahan air mata agar jangan sampai tumpah, yang nantinya akan membuat dadaku semakin sesak. Tanganku rasanya kebas, bergetar begitu saja, sulit menggapai pecahan piring yang berserakan tersebut.
Suara ponsel menghentikan obrolan mereka, membuat Anita berpamitan kepada Ibu dan di antar oleh Ibu ke depan.
Ibu kembali dengan muka pucat pasi, menangis tersedu hingga lemas tak sadarkan diri. Beruntung Mbok War datang membantuku membawa Ibu ke kamar.
Aku tertidur di sampinya, dan terbangun saat kurasakan ada pergerakan dari tubuh kuyunya. Ibu terbangun dan segera ku beri air minum, tak berselang lama, aku meninggalkannya menuju ke dapur, menyiapkan makan siang untuknya.
Cukup lama aku di dapur, menunggu Mbok War yang sedari tadi sedang memasak. Mbok War menyiapkan makanan dengan cekatan. Sementara aku hanya melihat dia, sesekali menimpali perkataannya.
"Sudah siap Mbak" Ujarnya sambil menyerahkan nampan kepadaku.
Setelah berucap terimakasih, aku langsung membawanya kepada Ibu, menyuapinya dengan telaten tanpa tahu bahwa sebetulnya ada seseorang yang memperhatikan gerak geriku. Ya, aku tidak tahu kalau Ibu sedang melakukan panggilan vidio dengan Barata, yang berakhir dengan kekecewaan Ibu atas sikapnya. Dan Bara langsung menyanggupi untuk menikah dengan Anita, membuat pengajuan pernikahan secepatnya kepada sang komandan. Panggilan yang terputus sekaligus mengakhiri ***** makan siang Ibu.
Ibu terlihat sangat terpukul, aku mencoba untuk menenangkan hatinya. Meminta Ibu untuk terus beristighfar hingga kemudian mengalihkan fikiran ibu dengan mengenang cerita-cerita lucu masa lampau.
Aku bisa merasakan bagaimana diposisi Ibu, aku tau Ibu tidak menginginkan hal seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? semuanya sudah terjadi. Semua harus di jalani. Tidak bisa menyalahi takdir.
Aku bertekad akan mendampingi Ibu semampuku, membersamainya dengan penuh cinta dan kasih. Bagaimana pun juga, salah satu anaknya sudah begitu berjasa padaku.
"Kita lanjutin puding yang tadi bu? " tanyaku.
"Ibu rasanya mengantuk sekali sayang, bisakah kamu selesaikan sendiri dan biarkan wanita tua ini istirahat?" ucapnya dengan gerakan mata yang membuat aku terkikik geli.
"Baiklah wanita tua, silahkan anda beristirahat. Biar wanita muda ini yang menyelesaikannya " Aku membalas perkataan Ibu yang di jawab dengan gelak tawanya, ahh bahagia sekali rasanya melihat Ibu tertawa seperti ini.
Aku membantu membetulkan posisi Ibu, mengatur suhu AC agar Ibu merasa nyaman dan menutupi kaki Ibu dengan selembar kain yang berada di ujung ranjang.
"Terimakasih sayang" Ucapnya tulus padaku.
Aku membiarkan Ibu untuk beristirahat, aku faham dengan apa yang dia rasa. Hanya saja jika dibiarkan berlarut-larut, takutnya akan membuat Ibu depresi. Harus terus didampingi dan diberikan motivasi hidup, agar lebih bergairah kembali dalam melewati hari.
Ibuku Sayang Ibuku Malang❤
Hayoooo siapa yang mau kondangan ke Barata nih?
Maunya Barata sama Ajeng apa Anita?
Siapin amplop yang banyak yaa😁
Ajeng masih Jomblowan. Kira-kira masih ada jodoh lagi nggak buat Ajeng??
Apa Barata yang jadi jodohnya Ajeng🙈
Semoga kalian bisa menikmati cerita ini ya, meskipun mungkin menurut kalian ini terlalu lama dan berbelit, tapi aku ingin kalian juga mengetahui perasaan per tokohnya masing-masing. Agar tidak terjadi kesimpang siuran nantinya.
Terimakasih untuk segala dukungan like dan komentar yang selalu mensupport aku. Alhamdulillah aku amat sangat merasa terdukung dengan komentar kalian🤗
Jangan pernah berhenti untuk memotivasi 😘
peluk dan ketjuphhh dari jauh🤗🤗🤗😘😘😘
akhirrnyaaa