Bumi Pranadipta Abadi, diusianya yang baru menginjak 20 tahun ia sudah memiliki seorang bayi. Tak ayal setiap gadis yang dikencaninyapun menjauh.
5 tahun berlalu, takdir mempertemukannya dengan wanita berhijab yang menjadi OB di tempatnya bekerja.
Siapa sangka Khalea Azalea Zuri, 27 tahun. Wanita muda yang telah memiliki putra berusia 7 tahun hasil pelecehan yang menimpanya bertahun silam mampu menggetarkan hatinya.
Apa yang terjadi jika keadaan memaksa 2 insan itu bersatu?
Mampukah mereka membuka hatinya kembali?
Akankah cerita kelam masa lalu akan menjadi penghalang keduanya untuk tetap bersama?
Bagaimana Bumi menyikapi takdir yang mempertemukan Kanaya dengan orang tua kandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah Masa Lalu
🐣POV RANA
Setelah sekian lama, akhirnya Selfie mau kuajak menjalani proses bayi tabung. Selama ini memang Selfie enggan mengikuti program tersebut. Masih ingin berusaha alami saja, begitu menurutnya.
Namun melihat telah 6 tahun kami bersama dalam ikatan ini, waktu yang sudah cukup lama. Agaknya Selfie mulai sadar sebuah langkah harus diambil untuk memuluskan harapan kami, terlebih usia kami terus bertambah.
Dan setelah beberapa proses kami jalani, hari ini kami akan melihat kondisi janin kami dalam rahim selfie.
Salimar, Sp.OG, adalah dokter kandungan yang kami pilih untuk menangani permasalahan kami. Dan kami sudah di ruangan wanita berusia sekitar 40 tahun itu saat ini.
Sebuah Gell tampak dioleskan di perut bagian bawah Selfie oleh seorang perawat, yang setelahnya sebuah ruang gelap tampak terlihat dalam layar monitor, USG memang akan membaca semua yang ada dalam rahim Selfie.
Dan kini dokter tampak tertegun dengan yang dilihatnya, benih yang telah dimasukkan ke rahim Selfie beberapa waktu lalu tampak tak bergerak, sebuah titik dalam ruang kosong seakan tak bergeming, setelah melakukan beberapa pengecekan, dokter Salimar tampak menghela nafas panjang.
"Ada apa Dok?" tannyaku melihat wajah dokter yang berubah dari beberapa saat kedatangan kami tadi.
Dokter Salimar melihat wajahku dan Selfie bergantian, baru kemudian ia berujar ...
"Maaf Pak Rana, janin ada tidak bertahan," lirih sang dokter.
"Apa masalahnya Dok, bukankah saat itu dokter mengatakan embrio saya bagus?" tegas mas Rana.
"Ibu Selfie memiliki dinding rahim yang tipis sehingga tidak responsif terhadap perawatan. Ketika embrio dipindahkan dan dinding rahim tidak memadai, embrio akan gagal untuk melakukan implantasi," ujar dokter Salimar.(dikutip dari laman website Enter for Human Reproduction/penyebab kegagalan bayi tabung.)
Itulah yang terjadi siang tadi hingga kini membuat Selfie istriku terus menangis, ia menyalahkan dirinya. Berkali-kali kukuatkan bahwa semua yang terjadi tak lepas dari rencana Sang Kholiq, dan bahkan ada saatnya nanti kami akan memiliki buah hati, tapi tetap tak meredam kepedihan Selfie.
Keinginannya memiliki anak sudah sangat kuat, bahkan ia sudah sangat yakin jika program bayi tabung yang kami jalani akan berhasil dan dalam beberapa bulan kedepan akan ada bayi dalam rumah tangga kami. Dan pernyataan dokter siang tadi, membuat awang-awang Selfie sirna seketika.
Waktu menunjukkan pukul 23:05 saat Selfie akhirnya bisa terpejam. Kutatap wajah rapuhnya kini, wanita ini ... wanita yang sejak SMP telah memiliki hatiku.
Pandanganku pada Selfie membuat ingatanku melanglang jauh ke peristiwa bertahun silam awal-awal ketertarikanku pada Selfie ...
●FLASHBACK:
Selfie Rahmania Salim, wanita tinggi semampai dengan tubuh ramping yang sudah menjadi pusat perhatianku sejak SMP. Entah berapa puluh surat pernyataan cintaku yang kukirimkan pada gadis cantik yang tiada banding dimataku tersebut, namun tak jua ada balasan dari Selfie.
Hingga saat SMA aku masih mengikutinya kemanapun ia pergi. Demi Selfi aku rela memilih SMA PERSATUAN yang berjarak lumayan jauh dari kediamanku demi satu sekolah dengan Selfie. Dan aku masih seperti dulu, mengiriminya surat.
Aku yang terkesan playboy saat di sekolah agaknya membuat Selfie ragu untuk memilihku. Padahal sesungguhnya itu hanya rumor, aku tidak benar-benar menyukai wanita-wanita yang sering mencari perhatian padaku tersebut. Hanya ada Selfie satu-satunya wanita dihatiku.
Hingga suatu malam aku menyelamatkannya dari gangguan para lelaki kurang akal karena obat-obatan yang dipakainya. Selfie nyaris ternoda jika aku tak datang dan menjadi pahlawan untuknya malam itu.
Dan semenjak itu, Selfie mulai membuka dirinya padaku. Hingga 2 bulan kemudian saat kelulusan kami, Selfie menerima dan membuka hatinya untukku. Dan jangan ditanya bagaimana kebahagiannku saat itu.
Setelah lulus Selfie memilih sekolah model di Surabaya, dan lagi-lagi aku mengikuti kekasihku untuk mengambil kuliah perhotelan di Surabaya pula. Hubungan kami berjalan baik, Aku selalu siap mengantar dan menjemput Selfie, hingga 2 tahun semua berjalan normal, lulus seperti jalan tol tanpa hambatan.
Aku selalu menjaga dan melindungi Selfie, hubungan pacaran yang sehat dengan batasan yang mampu kami jaga. Lebih tepatnya mampu kutahan, karena aku memang tidak mau merusak Selfie, cukup kiss-kiss manis yang Selfie beri membawaku terbang ke awan saat itu.
Waktu berlalu ... 1 tahun tahun kemudian Selfie telah beralih menjadi model. Dari model majalah hingga banyak ajang fashion Show kerap memakai Selfie untuk menggunakan pakaian rancangannya. Dan aku masih tetap kuliah dengan skripsi yang tak kelar-kelar karena sibuk mengantar dan menjemput Selfie.
Hingga di suatu pesta aku melihat Selfie bercumbu mesra dengan seorang pria, kaget dan cemburu kurasa saat itu. Sebab Selfie ternyata diam-diam menduakanku dengan managernya. Setelah kubuat sang manager babak belur, kuputuskan Selfie saat itu.
Dan sejak itu hidupku hancur, kuhabiskan malam-malamku untuk berkumpul dengan rekan-rekanku yang kurang akal di Cafe. Gulungan-gulungan obat sudah menjadi candu untukku.
Aku sudah tak bersemangat ke kampus, bude Roro tempatku bernaung mulai gerah melihat kelakuanku yang hanya menghabiskan waktunya untuk tidur dan pergi di sore hari hingga pagi baru kembali.
Aku yang mulai gerah pula dengan ocehan budeku, akhirnya ikut tinggal di kossan rekan kurang akalku. Ibu dan Mbak Sekar yang sering meneleponku terus kuabaikan, bahkan ponselku sering sengaja kumatikan untuk menghindari orang-orang yang tidak menyukai kesenanganku.
Akupun mulai bergaul dengan gadis-gadis nakal pinggiran, 200rbu semalam yang kuberi sudah membuat mereka senang. Nyatanya semua aman karena mereka dengan pekerjaannya selalu meminum pil-pil anti mengandung itu. Dan semua kulakukan semua hanya karena kemarahanku pada Selfie ...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🐢Segini dulu😊
🐢Happy reading❤❤