Bercerita tentang seorang perempuan yang membuat janji kepada dua orang sahabatnya. Janji itu cukup tidak masuk akal dan mereka membuat penjanjian itu di umur yang masih kecil. Akankah janji itu terus berjalan hingga mereka beranjak dewasa? atau justru mereka melupakan semua dan menjadikan perjanjian itu tak berkisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fifizulfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Parkir
Daniel menghampiri Kayla dan Ardan yang sedang duduk berhadapan. Ia sudah tidak memperdulikan Monica yang tadi ikut berjalan dengannya. Daniel melangkahkan kakinya dengan santai, walaupun sebenarnya ia sangat geram lagi-lagi harus melihat sahabatnya itu dekat dengan orang lain.
"Lagi ngapain nih?" tanya Daniel dan langsung duduk tepat di samping Kayla, membuat gadis itu harus menggeser tubuhnya untuk berbagi tempat. "Tangan kamu kenapa, Ay?" tanyanya lagi.
"Tadi waktu olahraga sempat keseleo." jawab Kayla
"Kebiasaan"
"Kamu nggak sama Monica, Dan?"
Daniel menoleh ke belakang, celingukan mencari Monica. Jelas-jelas tadi dia bersama wanita itu, tapi kenapa Monica hilang dan tidak mengikutinya.
"Tadi dia ikut lho, di belakang aku. Nggak tau deh sekarang kemana." ucapnya menoleh bergantian pada Kayla juga Ardan. Dan tatapannya berhenti pada lelaki itu, Ardan terlihat sedang memikirkan sesuatu setelah apa yang Daniel katakan.
"Emm ... bentar ya aku ke kamar mandi dulu." ujar Ardan berdiri dan akan melangkahkan kakinya.
Daniel mengeryitkan kening, ia merasa Ardan berbohong jika hendak ke kamar mandi. "Ay, aku tinggal bentar ya. di sini aja kamu jangan kemana-mana."
"Mau kemana?"
"Bentar aja kok."
Sekarang Kayla lah yang merasa kebingungan. Ia sangat yakin ada hal yang disembunyikan.
...
Monica terus melangkahkan kakinya tanpa tujuan, tubuhnya memang sedang terlihat biasa. Akan tetapi tidak dengan pikiran dan perasaannya. Pikirannya terus memaksa memahami keadaan sedangkan perasaannya sudah jelas sedang tidak terkendali.
Tiba-tiba seseorang mencekal lengannya. Monica berhenti dan menoleh, ia mendapati Ardan sudah berdiri menatap dirinya. Namun dia berusaha menarik tangan dari genggaman lelaki itu, hasilnya nihil Ardan begitu kuat untuk tidak melepaskan.
“Apa yang kamu lihat?”
“Kamu masih tanya apa yang aku lihat?” sergah Monica.
“Aku nggak mau ada salah paham, Ka.”
“Aku udah salah paham, Ar. Aku udah nggak ngerti lagi sama kamu. Kamu makin aneh, aku baru tahu kamu bisa sebegitu dekat sama cewek lain.”
“Siapa? Perempuan tadi? Itu namanya Kayla, dia sekelas sama aku. Tadi aku juga cuma bantuin dia buat makan, karena tangan kanannya keseleo.”
“Harus kamu?” tanya Monica masih bimbang dengan penjelasan lelaki itu. Karena sebelumnya Ardan pernah mengungkapkan dirinya sebagai teman dihadapan Daniel, dan pada saat dia mengajak Ardan masuk ke Rumah Sakit yang dia sengaja dan tahu pasti di dalam ada Kayla dan Daniel, ia melihat Ardan gugup walaupun tidak terlalu kentara. Tapi dia sangat tahu bagaimana sifat kekasihnya.
“Kamu kenapa sih jadi kayak gini.”
“Ada yang salah? Aku pacar kamu loh, Ar. Aku berhak berpikir lain atas apa yang aku lihat tadi.”
“Yang Ardan bilang benar kok.”
Secara bersamaan Ardan dan Monica menoleh kala mendengar suara seseorang seperti menyapa pembicaraan mereka. Kayla dan Daniel sudah berdiri tidak jauh, akan tetapi sepertinya bukan hanya mereka yang kaget, melainkan Daniel yang juga menoleh melihat Kayla sudah berada di belakangnya. Ia tidak habis pikir Kayla akan mengikuti dirinya.
“Tenang aja, Ka. Aku nggak ada apa-apa kok sama Ardan. Kebetulan dulu di kelas yang dia kenal pertama kali aku.” jelas Kayla sambil mencoba tersenyum, walau sebenarnya ia juga dibuat bingung dengan apa yang ada dihadapannya. Tidak mau berlama-lama Kayla memutuskan berbalik dan pergi dari sana.
“Kayla!” panggil Daniel lirih yang jelas tidak digubris. Daniel menatap sekilas ke Ardan, ia tidak habis pikir hal seperti ini bisa terjadi. Tapi sekarang yang terpenting adalah Kayla, ia sangat yakin walaupun tidak ada hubungan apa-apa pasti sahabatnya juga merasa dibohongi.
Sekarang Daniel tengah mengikuti kemanapun Kayla melangkah. Padahal bisa saja ia menghentikan wanita itu, tapi biarlah dari pada ia harus memaksa.
Ternyata Kayla hanya pergi ke kelasnya, untung saja di dalam sepi, jadi ia makin leluasa. Daniel melangkah mendekat, menarik kursi untuk bisa duduk di samping Kayla. Tapi setelah itu keduanya hanya saling diam dengan pemikiran masing-masing.
Dan tak lama Daniel lah yang membuka pembicaraan, "Katanya nggak ada hubungan apa-apa kok cemberut."
"Apasih ... Ngapain kamu ngikutin aku." jawab Kayla mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Nggak usah dipikirin, lagian kalau masalah cowok, masih ada aku."
"Dihhh! Pergi sana ih, bentar lagi mau masuk."
"Masih lama, orang aku aja baru keluar istirahat. Ke kantin aja yuk, tadi batagor kamu belum dimakan loh. Ayo!" ucap Daniel menarik tangan Kayla.
"Daniel! SAKIT!!!" teriak Kayla.
Spontan Daniel melepaskan cekalannya, ia baru sadar bahwa yang ia tarik tadi ialah tangan Kayla yang terluka. "Maaf, maaf Ay. Sakit ya?"
"Sakit lah peak, pakai nanya lagi."
"Iya maaf ... sini lihat."
Kayla menyodorkan tangannya yang terkilir tadi pada Daniel, dan lelaki itu melihat lebih dekat, hingga sesekali mengusap luka yang terbalut perban. Karena itu tiba-tiba Kayla teringat pada Ardan yang tadi begitu perhatian mengobati lukanya. Ia tidak tau kenapa dirinya merasa sakit hati saat melihat kejadian tadi.
"Daniel."
"Hm?" deham Daniel tanpa menoleh pada Kayla.
"Aku udah ngrusak hubungan mereka ya?"
Barulah sepenuhnya Daniel menatap Kayla yang juga menatapnya lekat. "Mereka?"
"Ardan sama Monica."
"Enggak lah, kok kamu mikir gitu."
"Buktinya tadi mereka bertengkar karena aku kan."
"Kamu kan nggak tau kalau mereka punya hubungan."
Kayla mengalihkan pandangannya dan menarik tangan yang sedari tadi masih berapa digenggaman Daniel. Lantas ia berkata ingin pergi dengan beralasan mengganti pakaiannya.
"Kamu balik sana, aku mau ganti seragam." ucap Kayla yang hanya dibalas anggukan oleh Daniel. Ia pun mengambil seragamnya di laci bawah meja dan berlalu pergi meninggalkan Daniel di kelas.
Tidak sengaja Kayla bertemu dengan Ardan saat ia akan keluar dari kelasnya, namun ia bersikap acuh dan langsung melenggang pergi. Di sana tentu saja Daniel melihatnya. Setelah Kayla benar-benar sudah hilang dari pandangan, Daniel menghampiri Ardan.
"Gue perlu bicara sama Lo." ucap Daniel yang langsung melangkahkan kakinya. Jelas Ardan sangat mengerti maksud Daniel untuk mengikutinya.
Dengan jarak yang cukup jauh Ardan tetap mengikuti kemana Daniel membawanya. Wajah Ardan sangat jelas terlihat sedah resah, bukan karena Daniel yang tiba-tiba ingin berbicara dengannya, melainkan Kayla yang mungkin akan menjauhinya setelah ini dan juga Monica yang pasti merasa sakit hati jika dia tahu kebenaran bahwa dirinya sudah meletakkan hati pada orang lain.
Tempat parkir mungkin pilihan yang tepat bagi Daniel untuk berbicara empat mata dengan Ardan. Karena yang ia tahu saat jam seperti ini tempat parkir di sekolahnya yang paling sepi. Daniel menghentikan langkahnya dan berbalik memperhatikan Ardan yang masih berjalan untuk mendekat.
"Gue butuh penjelasan Lo." kata Daniel tanpa basa basi setelah Ardan sepenuhnya sudah di depannya.
Jgn lupa mampir dan dukung karya ku Thor! Rahsia dibalik tirai.😁
"Rahasia dibalik tirai" 😘