Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32
Bertemu Sekar, Adalah Keberuntunganku
Sekar tidak tahu bahwa dirinya baru saja menjadi arah dari sebuah janji.
Ia masih sibuk menghitung piring, menyelamatkan sisa kue dari Darren, dan memarahi Rio karena diam-diam memasukkan potongan kue kedua ke kotak obat.
"Dok, itu bukan kotak bekal."
"Ini pencegahan hipoglikemia pribadi."
"Dokter tidak boleh menyalahgunakan istilah medis untuk mencuri kue."
Rio menatap Ardian yang baru masuk dari teras. "Pasienmu galak."
Ardian menjawab datar, "Aku tahu."
Sekar menoleh. "Saya bukan pasien."
"Bukan. Kamu pengasuh yang memarahi dokter."
"Karena dokternya mencuri kue."
Darren memegang piring dengan wajah polos. "Kalau aku mencuri, boleh dimarahi juga?"
"Pak Darren, Bapak sudah makan empat sosis, dua potong kue, dan satu burger sisa kemarin."
"Aku menghargai makanan."
"Bapak menghancurkan statistik dapur."
Rumah Tan yang dulu dingin kini penuh suara kecil seperti itu. Bukan suara besar. Bukan pesta mewah. Hanya piring yang disusun, kursi digeser, orang saling meledek, dan seekor kucing oranye yang tidur di luar tanpa tahu ia baru saja masuk album keluarga.
Ardian duduk di dekat meja makan, melihat semuanya.
Sekar akhirnya membawa piring kecil berisi potongan kue yang paling rapi kepadanya.
"Ini bagian yang tidak terlalu manis. Saya kurangi gula."
"Kamu membuat kue ulang tahun tanpa gula?"
"Dengan gula lebih sedikit. Saya tidak sekejam itu."
Ardian mengambil garpu. Krimnya tidak sempurna. Teksturnya sedikit padat. Tapi saat ia menggigit, ada rasa pisang, vanila, dan usaha yang jujur.
"Bagaimana?" tanya Sekar.
"Bisa dimakan."
Darren langsung protes dari dapur. "Koko, itu pujian tertinggi darinya!"
Sekar tampak puas. "Berarti berhasil."
Ardian menatap kue itu lagi. "Ini ulang tahun paling bahagia yang pernah kujalani."
Kalimat itu keluar pelan, tanpa persiapan.
Sekar yang sedang mengambil tisu berhenti.
Darren juga berhenti mengunyah.
Rio menurunkan kotak obat berisi kue.
Ardian tidak menarik kembali kalimatnya. Ia hanya menatap kue di piring, seolah dengan begitu ia tidak perlu melihat reaksi orang lain.
Sekar meletakkan tisu di meja dengan lebih hati-hati. "Kalau begitu tahun depan harus lebih bagus."
Tahun depan.
Dua kata itu membuat sesuatu di dada Ardian bergerak lembut.
"Kamu sudah merencanakan tahun depan?" tanyanya.
"Kalau kontrak saya masih aktif dan pasiennya tidak memecat saya."
Ardian menatapnya.
Sekar buru-buru menambahkan, "Bercanda. Jangan lihat saya seperti mau membuat addendum kontrak."
"Bisa dibuat."
"Tidak perlu!"
Darren berbisik pada Rio, "Koko mau mengikat dengan kontrak."
Rio berbisik balik, "Itu gaya romantis keluarga Tan rupanya."
Ardian menatap mereka berdua. Keduanya langsung pura-pura sibuk.
Malam itu selesai dengan cara sederhana. Rio pulang membawa kotak kue yang akhirnya disahkan. Darren naik ke kamar sambil memeluk sisa sosis seperti harta nasional. Staf rumah membersihkan halaman. Sekar memastikan gelas kumur pink-biru masih di tempatnya, lalu pura-pura tidak tahu kenapa gelas itu membuatnya sedikit canggung.
Saat jadwal kompres hangat terakhir selesai, Sekar duduk di kursi kecil dekat ruang terapi sambil meregangkan bahu.
"Capek?" tanya Ardian.
"Sedikit. Tapi capek yang menyenangkan."
"Kamu bisa libur besok."
Sekar langsung menegakkan tubuh. "Dipotong gaji?"
Ardian menatapnya.
"Tidak."
Mata Sekar berbinar seketika. "Serius?"
"Satu hari."
"Penuh?"
"Penuh."
"Tidak dihitung cuti tahunan?"
"Tidak."
Sekar menutup mulut, seperti baru mendapat hadiah besar. "Pak Tan, ini sangat membahagiakan."
Ardian terdiam.
Ia baru saja menerima kembang api, kue, pesta kecil, gelang keluarga, dan janji masa depan dari ibunya. Namun bagi Sekar, satu hari libur tanpa potong gaji bisa membuat wajahnya secerah itu.
Ia merasa hatinya seperti diremas halus.
"Semudah itu kamu bahagia?" tanyanya.
"Tidak mudah," jawab Sekar jujur. "Makanya kalau ada, harus dihargai."
Kalimat itu sederhana, tetapi menempel lama.
"Handi akan atur mobil untuk mengantar kamu pulang kalau mau ke Depok," kata Ardian.
Sekar langsung menoleh. "Libur termasuk transportasi?"
"Kontrakmu mencantumkan transportasi."
"Tapi ini libur."
"Masih pegawai."
Sekar menatapnya seperti baru menemukan celah hukum yang indah. "Pak Tan, saya mulai mengerti kenapa orang suka kerja di perusahaan besar."
"Karena transportasi?"
"Karena ada pasal yang bisa menyelamatkan ongkos."
Ardian hampir tersenyum. "Kamu sangat mudah dibeli dengan fasilitas dasar."
"Saya tidak dibeli. Saya dihargai secara administratif."
Darren yang lewat sambil membawa botol air langsung berkata, "Mbak Sekar, kalau begitu Koko harus kasih bonus administrasi kebahagiaan."
"Naik," kata Ardian.
Darren memeluk botol airnya dan mundur. "Aku cuma lewat."
Ardian melihatnya merapikan botol kompres, mencatat suhu kulit, lalu memasang sticky note untuk jadwal besok meski ia libur. Gadis itu selalu mengurus hal-hal kecil seolah dunia bisa lebih tertib jika satu sticky note ditempel di tempat yang tepat.
Di saat itulah Ardian berpikir, tanpa suara:
Bertemu Budiman Sekar, adalah keberuntunganku.
Keesokan siang, saat hari liburnya dimulai, Sekar tetap muncul sebentar di dapur untuk memastikan obat pagi sudah benar. Ardian menatapnya dari pintu.
"Katanya libur."
"Saya cuma lewat."
"Dengan membawa map jadwal?"
"Kebiasaan."
Ponsel Sekar berbunyi. Ia membaca pesan, wajahnya berubah sedikit.
"Ada apa?" tanya Ardian.
"Teman SMA bikin reuni kecil akhir pekan ini di Club Bintang."
Ardian tidak terlalu tertarik sampai Sekar menambahkan, "Denny juga datang."
Udara di ruang makan berubah tipis.
Ardian mengingat dua kata di buku catatan kulit cokelat.
Gunawan Denny. HRD.