Awal Judul Ada & Tiada
Berawal dari kesurupan massal di malam puncak penerimaan mahasiswa/i baru menjadi titik awal temu mereka. Saling menyadari bahwa mereka sama, sama-sama hidup diantara mereka yang tiada namun sebenarnya ada.
Kisah tentang perjalanan sekelompok anak muda yang memiliki kemampuan sixth sense, melihat apa yang semestinya tidak terlihat, dan merasakan kehadiran mereka yang tak tersentuh.
Akankah mereka bisa menjalani hidup normal seperti orang lain?
Kisah mereka akan hadir setiap hari pukul tujuh malam. Jangan baca sendiri, siapa tahu kau sedang tak sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Arin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Menggoda
Dewa kebingungan saat melihat Arindita dan Keenan menghampirinya, kakak-beradik itu pun duduk mengapit Dewa. Senyuman Arindita terukir di wajah nya, adegan tersebut terlihat jelas bagi Keenan.
"Ekhem, Awan bilang kau ingin membicarakan sesuatu dengan kami?" tanya Keenan mencoba memecah suasana canggung di antara mereka.
"Aku? Aku tidak ...." ucapan Dewa tertahan, awalnya dia bingung dengan pertanyaan Keenan, tapi kini ia sadar apa maksud dari semua itu.
"Sial kau Wan!" umpat Dewa dalam hati saat menyadari dalang dibalik semuanya. Arindita yang menyadari ketidak tahuan Dewa, ia pun mencoba membantu menjelaskan.
"Kakak haus? Kakak mau minum apa?" tanya Arindita memotong. Kebetulan Keenan juga merasa haus.
"Apa saja Dek, bebas." balas Keenan, sementara Arindita pergi mengambil minuman, Keenan mengambil kesempatan untuk berbicara empat mata dengan kekasih baru adiknya itu.
"Aku ingin bicara dengan mu sebagai seorang kakak, bukan sebagai karyawan ke atasan. Dewa, bisakah kau berjanji untuk tidak menyakiti adik ku? Aku tahu kalian baru saja bersama, aku hanya ingin memastikan kau tidak akan menyakiti adik ku. Aku sungguh tidak menyangka jika Arindita kini sudah bisa kembali terang, kembali bangkit dari keterpurukan dan ingatan masa lalu. Bisakah kau berjanji satu hal itu kepada ku?" ujar Keenan.
Keenan menatap wajah Dewa lekat-lekat, ia ingin memastikan sendiri tidak ada suatu kebohongan yang terpancar dari wajah kekasih sang adik.
"Aku manusia biasa, aku tidak bisa memprediksi masa depan, satu hal yang bisa kau pegang dari ucapan ku sebagai seorang pria. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyakiti hati Arindita, aku mencintai nya Kak, dan aku tidak main-main." jelas Dewa ke Keenan. Ada sedikit rasa lega dalam hati pria itu mendengar jawaban yang Dewa ucapkan.
"Kau tahu bukan dimana letak kehormatan seorang pria?" tanya Keenan lagi.
"Ya, i know for sure. Kehormatan seorang pria terletak pada ucapannya." balas Dewa dengan penuh keyakinan. Kini Keenan benar-benar lega mendengar jawaban Dewa. Tak lama Arindita pun muncul dengan minuman di tangan nya. Salah satu tangan nya memberikan minuman tersebut untuk Keenan.
"Terima kasih." ujar Keenan sambil tersenyum. Arindita duduk kembali, ia menangkap kecanggungan antara Dewa dan Keenan, seperti habis membicarakan sesuatu yang sifatnya rahasia.
"Kalian sedang membahas apa?" tanya Arindita penasaran, ia menatap kedua pria yang tengah membicarakan sesuatu.
"Ah, ini, hanya membahas tentang proyek pekerjaan saja Dek. Ya kan Wa?" jawab Keenan sambil mengedip-ngedipkan matanya ke arah Dewa.
"Ah ya Kak, benar kita lagi bahas pekerjaan." timpal Dewa, Arindita tahu mereka kompak berbohong untuk mengalihkan ucapannya.
Tiba-tiba suara telepon Arindita berdering dan menampak kan nama Ocha disana. Arindita yang terheran pun mencoba untuk menjawab telepon itu.
"Ar, apa ada Ochi disana? Aku coba menghubungi anak itu dan Rara tapi tak ada tanggapan, bisa kah kau sampaikan ke mereka kalau mobil ku mogok di sekitaran kampus, tolong jemput soalnya mobil mau dibawa oleh pihak asuransi." ujar Ocha yang panik karena mobilnya mogok tepat di sekitaran kuburan warga dekat area kampus.
"Kamu share lokasi mu Cha, aku akan menjemput mu ke sana. Tunggu Cha!" timpal Arindita ke Ocha, obrolan itu pun berakhir. Arindita yang syok melihat isi pesan lokasi Ocha pun tercengang, hal ini sontak membuat Keenan dan Dewa penasaran.
"Ada apa Ar?" tanya Dewa kebingungan.
"Mobil Ocha mogok di sekitaran kampus, tapi lokasinya di Tempat Pemakaman Umum (TPU)" ujar Arindita sambil menunjukkan layar ponsel nya ke Dewa dan sang kakak.
"Biar aku yang kesana!" ucap Keenan langsung berdiri dan menepuk punggung Dewa dan berlalu pergi. Arindita yang melihat tingkah sang kakak pun terheran-heran, tidak pernah Keenan se-khawatir itu dengan perempuan lain selain dirinya. Kedua bola mata Aridnita dan Dewa bergerak mengikuti jejak Keenan yang berjalan terburu-buru pergi dan keluar dari basecamp Black Shadow.
"Kenapa Kakak mu ...." ucapan Dewa terhenti saat Aridnita menoleh ke arah nya dan tersenyum. Dewa semakin aneh melihat tingkah kakak-beradik yang sama-sama bertingkah aneh.
"Apa kau tidak ingin mengantar ku pulang?" tanya Arindita sambil tersenyum dan mengedipkan salah satu matanya, Dewa yang tidak pernah melihat tingkah imut Arindita hatunya terasa luluh begitu saja.
Arindita berdiri dan berpamitan ke yang lain. Mereka yang masih bertahan untuk stay di basecamp menatap keduanya dengan tatapan penuh tanya.
"Oia Kak Awan, nanti tolong antarkan Ochi pulang ya, karena Ocha tadi telepon dia tidak bisa mengantar Ochi dan Haura pulang, mobil Ocha mogok." kata Arindita. Ochi yang mendengar itu pun kaget dan langsung meraih ponsel nya, melihat apakah Ocha sudah menghubunginya terlebih dahulu atau belum, dan ternyata sudah sepuluh panggilan tak terjawab memenuhi beranda ponsel miliknya.
"Ya Tuhan aku lupa, ponsel ku masih dalam mode silent." rutuk Ochi sambil memegang keningnya.
"Tenang saja, kebetulan Kak Keenan ada urusan disekitaran sana jadi sekalian jemput Ocha. Kau dan Haura bisa pulang pakai mobil Awan, bukan begitu Wan?" sindir Dewa ke Awan, Awan yang tidak mengerti dengan kode mata sahabatnya itu hanya bisa menjawab dengan dehaman.
"Hmm, aku dan Aldi akan mengantarkan mereka berdua pulang." ujar Awan canggung. Ochi dan Haura kompak menatap Awan yang tidak disangka-sangka akan mengiyakan tawaran Dewa.
"Aku antar Arindita pulang dulu. Semuanya kalian boleh sampai jam berapapun disini, nanti kalau sudah selesai aku akan kembali lagi." ujar Dewa, ia melambaikan tangan nya lalu pergi, begitupun Arindita.
Keduanya kini sudah berada di depan cafe dan bersiap untuk pergi.
"Nanti di lampu merah depan kita belok kanan saja." ujar Arindita, mereka berdua sedang terdiam menunggu lampu merah.
"Belok kanan? Bukankah arah ke rumah mu seharusnya lurus?" tanya Dewa penasaran, Dewa menoleh ke arah Arindita yang tengah melihat pemandangan Bandung di malam hari.
Arindita menoleh dan tersenyum ke Dewa, Dewa yang begitu polos dan tidak mengerti maksud Aridnita hanya bisa mengerutkan kening nya.
"Kau yakin tidak ingin menemaniku jalan-jalan? Bukankah Tuhan sedang memberi kita kesempatan untuk berbagi kisah cinta berdua?" ujar Arindita sambil mengelus punggung Dewa.
Lagi-lagi sikap Arindita membuatnya semakin dimabuk asmara. Lampu merah pun sudah berganti hijau yang artinya pengendara sudah bisa melanjutkan perjalanan mereka. Bunyi klakson saling bersahutan untuk menyadarkan Dewa agar beranjak dari tempatnya.
"Sudah hijau sayang." ujar Arindita sambil tersenyum, entah mengapa Arindita sangat suka meledek atau menjahili Dewa, karena setiap kali ia meledek Dewa dan bersikap lembut, telinga Dewa memerah tanda tersipu malu, Dewa pun langsung bergegas pergi, senyuman penuh kebahagiaan terpancar dari wajahnya terlebih saat mendengar panggilan sayang dari Arindita.
Bagaimana kisah Keenan dan Ocha ya?
Tunggu kelanjutan nya besok jam 6 sore 🖤
See you ..
semangat Kaka Arin...lanjuttt yaaa
kalo Ari suka Haura Krn sbg adik saja kan
TPI aku terharu Aldi bisa juga mengikhlaskan Anita dan TDK menganggap Haura bayangan nya Anita...